Romansa Di Makara Jingga

Romansa Di Makara Jingga
Get Down to Business


__ADS_3

^Tidak usah basa basi


Pagi ini, Vira berangkat lebih pagi ke Senayan. Ada banyak yang harus dilakukan sebelum masa reses yang akan dimulai minggu depan. Pak Faisal berencana mengadakan briefing perihal jadwal kerja yang semakin padat. Ada rapat kerja komisi dan dengar pendapat dalam seminggu ini. Pekan depan menurut pesan chat dari Pak Faisal, Pak Herman berbaik hati mengajak mahasiswa magang untuk ikut dalam kunjungan ke daerah pemilihannya di Yogyakarta.


Ternyata Vira datang terlalu pagi. Bahkan Bu Fatmah saja belum tampak kehadirannya. Terlihat beberapa office boy masih sibuk membersihkan ruangan. Vira berjalan dengan jinjit menuju meja kerjanya dengan maksud agar jejak sepatunya tidak membekas di lantai yang baru saja dibersihkan. Tas rajut berwarna coklatnya diletakkan di bagian bawah meja dan kemudian telunjuk kanannya menekan tombol komputer di hadapannya. Komputer personal di ruangan ini bekerja tidak terlalu cepat, setidaknya perlu beberapa menit untuk booting dan baru bisa digunakan. Tidak heran Pak Faisal cenderung menggunakan laptop untuk bekerja.


Vira membuka beberapa file yang tersedia untuk membuat analisis komparatif kasus-kasus dan hasil rapat dengar dengan stakeholder. Sebenarnya Vira hanya mengisi kolom-kolom yang sudah disediakan oleh Mba Putu, asisten Pak Herman yang sedang cuti melahirkan. Jadi tidak terlalu sukar baginya untuk mengerjakan ini karena hanya melanjutkan saja. Hanya saja kejadian beberapa hari belakangan ini membuat Vira sama sekali tidak bisa konsentrasi. Perasaan sedihnya begitu mendominasi dan menghambat laju otaknya untuk berpikir.


Vira menatap ke arah pintu yang tertutup ketika ada suara ketukan yang berasal dari sana. Tanpa menunggu jawaban, pintu tebal berwarna coklat berpelitur terbuka. Tampak sosok lelaki berkulit putih dengan perawakan tinggi sedang dan rambut ikal sebahu tersenyum padanya sambil menganggukkan kepala.


“Selamat pagi Mba!”


“Selamat pagi! jawab Vira dengan wajah sedikit curiga karena tidak mengenali sosok yang ada di depannya ini. Mas mau cari siapa ya?”


“Eh, saya magang di sini Mba, saya mahasiswa IISIP,” ujar lelaki setengah gondrong tersebut.


“Ya ampun, iya…iya, saya tau. Yang dari IISIP Lenteng itu ya?” seru Vira.


“Hehehe, iya Mba. Kenalkan saya Asep!” tangan lelaki itu terjulur ke arah Vira dengan sudut bibir yang mengembang.


“Saya Vira, mahasiswa magang juga dari FISIP UI. Bu Fatmah juga pernah ngasih tau di awal cuma kita kan memang belum pernah ketemu karena jadwalnya beda,” sahut Vira.


“Salam kenal Mba Vira. Iya, Pak Faisal minta saya datang pagi ini. Katanya mau bicara soal reses minggu depan.”


“Wah samaan dong. Mas Asep Berarti kita perginya bareng ya!”


“Hehehe, iya Mba, permisi, “ucap lelaki gondrong yang kemudian berjalan menuju meja di hadapan Vira.


Sebenarnya Vira ingin mengajak ngobrol teman sesama mahasiswanya ini, namun dilihatnya Asep sibuk menyalakan komputer dan sesekali melihat ponselnya. Tatapan matanya tidak sekali pun tertangkap ke arah Vira. Urung mengajak bicara, Vira melanjutkan mengisi kolom-kolom dengan data yang tersedia.


Tak lama setelah Bu Fatmah, datang menyusul Pak Faisal dengan membawa segelas kopi dengan merek Kedai Kopi lokal yang ada di lantai bawah.

__ADS_1


“Wuih, ternyata sudah hadir semua ya?” seru Pak Faisal dengan wajah ceria.


“Eh, Vir … kamu katanya datang ya ke acara tunangannya anak Pak Herman? tanya Pak Faisal tiba-tiba . Saya saja gak diundang. Koq kamu bisa sih?”


Vira terbelalak kaget mendengar pertanyaan Pak Faisal yang tak disangkanya. “Eh, itu Pak, saya diajak sama Gani.”


“Loh Mba Vira ikut acaranya Mba Lydia juga? Jangan-jangan Mba Vira ini pacarnya Mas Gani ya? Kayaknya dari kemarin-kemarin ketemuan sama Mas Gani terus ya?” tukas Bu Fatmah.


“Eh bukan Bu, saya teman baik Mas Gani, bukan pacar,” elak Vira.


“Walah, kirain. Rame gak Mba Vira acaranya?” tanya Bu Fatmah.


“Cuma sedikit Bu, kayaknya gak sampai sepuluh meja,” jawab Vira.


“Wah pantes gak ngundang-ngundang. Tapi Pak Herman itu memang gak suka rame-rame orangnya, ucap Bu Fatmah. Tapi Mba Vira keren juga, baru sebentar di sini sudah langsung ikut acara keluarga Pak Herman,” sambung Bu Fatmah lagi.


“Vir, kamu sudah kenalan sama Asep?” tanya Pak Faisal mengubah topik pembicaraan.


“Eh sudah Pak, tadi baru saja,” jawab Vira yang dibarengi dengan anggukan Asep.


“Pak, ke Yogyakarta kita naik apa? Dapat sangu gak Pak?” tanya Asep lugu.


“Naik pesawat dan sayangnya kalian gak dapat sangu, tapi urusan makan, hotel, pokoknya akomodasi selama perjalanan ditanggung Pak Herman. Nanti kita susun itinerary-nya,” jelas Pak Faisal.


“Pak Faisal, nanti saya bisa minta surat dari Setjen untuk izin reses buat kampus dan keluarga?” tanya Vira.


“Gak usah dari Setjen. Itu nanti biar Bu Fatmah saja yang bikin,” jawab Pak Faisal.


Kedua mahasiswa magang di tempat Pak Herman Sasongko itu mencatat semua yang dibicarakan. Kunjungan ke daerah pemilihan di Yogyakarta mencakup ke beberapa kota dan kabupaten dan pihak-pihak yang akan terlibat dalam acara yang dibuat. Pak Faisal juga bilang kalau jumat siang Pak Herman akan berkunjung juga ke Kali Progo, untuk membicarakan bisnisnya. Baik Vira maupun Asep sepakat untuk mengikuti keseluruhan rangkaian jadwal yang disusun ini.


 

__ADS_1


Setelah jam makan siang Vira dan Asep bergegas mengikuti Pak Faisal untuk datang Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Badan Narkotika Nasional yang bertempat di Ruang Rapat Komisi 3 di Gedung Nusantara II Paripurna Lantai 1. Pak Herman langsung ke lokasi dan tidak naik ke kantor. Tampak para pejabat yang mengenakan jas formal dan kemeja batik lengan panjang mulai mengisi kursi yang tersedia di bagian depan sedangkan para staf ahli dan mahasiswa magang mengisi tempat tersisa di belakang.


Penyampaian data kenaikan jumlah kasus narkotika di Indonesia di atas 10% membawa kekhawatiran sendiri terutama maraknya jalur-jalur baru yang digunakan untuk peredaran narkoba. Komisi III memang bermaksud untuk meninjau kembali Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 yang dianggap perlu penyesuaian seiring dengan data-data terbaru yang belum terakomodasi dalam regulasi yang ada. Rapat ini memang bertujuan untuk menyaring data, masukan, dari pihak-pihak terkait yang memiliki fokus dan tujuan yang sama.


Seharian berada di Gedung Parlemen ini memang menguras tenaga Vira dan Asep apalagi untuk minggu ini mereka berdua diminta untuk hadir di hari yang sama karena jadwal rapat anggota dewan semakin padat sebelum masa reses.


Ada es kopi susu yang dipesankan Bu Fatmah ketika rapat selesai. Meskipun saat rapat tersedia snack dan minuman botol tapi es kopi susu ini sungguh memberikan kesegaran yang bisa mengembalikan stamina Vira dan Asep, apalagi setelahnya mereka harus menembus padatnya jalur transportasi ibukota menuju daerah penyangga.


“Saya pulang dulu yaa, jangan lupa besok pagi kita ketemu lagi. Bu Fatmah, jangan lupa pesan tiket pesawat buat selasa pagi, ambil yang jam 10 dan yang dari Surabaya jam dua siang. Khusus Pak Herman, ambil bisnis seperti biasa ya Bu!” ucap Pak Faisal mengingatkan.


“Vir, tadi Bu Ruth, istrinya Pak Herman kirim pesan katanya pulang kantor ada yang ingin bertemu. Nanti ada yang jemput kamu katanya,” sambung Pak Faisal sebelum keluar pintu.


“Eeh, maksudnya Pak?” tanya Vira heran. Namun sayang Pak Faisal sudah keluar dan tidak bisa menjawab keheranan Vira.


Vira dan Asep baru keluar kantor setelah menunggu Bu Fatmah menyelesaikan urusan tiket yang sedikit agak merepotkan. Untuk Pak Herman yang anggota Dewan dan Pak Faisal yang merupakan Staf Ahli, pembiayaannya oleh anggaran negara dan memiliki rekanan khusus yang bekerja sama di level institusional. Sedangkan untuk tiket Vira dan Asep, biaya dibebankan pada Pak Herman pribadi. Namun demikian memang masing-masing anggota dewan di masa reses ini diberikan anggaran cukup besar untuk kunjungan ke daerah pemilihannya, jadi tidak terlalu masalah apalagi Pak Herman sendiri merupakan politisi sekaligus pengusaha sukses.


“Hhmm, maaf, Mba Vira ya?” tanya seorang lelaki dengan kulit coklat sawo matang yang menghampiri ketika Vira keluar pintu utama Gedung Nusantara II.


“Eh, saya? Vira sedikit terkejut mendapati dirinya disapa oleh lelaki yang tidak dikenalnya namun ingatannya kembali memutar kata-kata Pak Faisal puluhan menit lalu. Orangnya Bu Ruth ya?” tanya Vira ingin memastikan kembali.


Lelaki tersebut mengangguk dan mengatakan ada yang ingin bertemu dengannya di salah satu restoran di bilangan Sudirman. Vira menduga Ibu Ruth yang ingin bertemu dan mungkin ingin membicarakan perihal Gani meskipun ada sedikit keraguan tentang itu.


Mobil Alphard berwarna white pearl itu berjalan pelan mengikuti irama kemacetan Jakarta saat pulang kantor. Lokasi restoran yang terletak di salah satu Gedung Perkantoran ini cukup dekat dengan Gedung Parlemen ditambah suasana dalam mobil membuat Vira melupakan rutinitas pekerja kerah putih yang melelahkan saat pulang kerja. Lelaki yang memperkenalkan diri dengan nama Darmanto ini mengantar Vira menuju restoran yang dituju.


Suasana dalam restoran masih sepi. Belum banyak pengunjung yang datang. Chandelier yang bergantung di beberapa titik pagu belum terlalu berpendar karena langit biru yang terlihat dari kaca-kaca besar disekelilingnya masih memberikan sinar.


Ada perempuan paruh baya yang duduk seorang diri. Wajahnya sibuk memperhatikan gadget yang ada ditangannya dan kemudian mendongak ke depan. Kacamata yang tersambang dengan rantai berwarna emas sedikit diturunkan ketika Vira dan lelaki bernama Darmanto ini berjalan menuju meja yang terletak di sudut ruangan. Perempuan yang disanggul cepol itu tersenyum dan Pak Darmanto mengangguk lalu meninggalkan Vira di sana.


“Silakan duduk. Vira ya namanya?”


Vira terdiam. Dikiranya Bu Ruth yang akan menemuinya tapi ternyata bukan. Namun samar dirinya pernah melihat wajah perempuan paruh baya ini di suatu tempat.

__ADS_1


“Pak Faisal bilang Bu Ruth ingin bertemu saya tapi sepertinya saya tidak mengenal Ibu. Maaf!” ujar Vira dengan posisi tetap berdiri.


Mendengar ucapan Vira, Perempuan itu berdiri. “Candramaya Pambudi. Saya ibunya Tjokro Adjie Pambudi. Silakan Vira duduk dulu, ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu.”


__ADS_2