Romansa Di Makara Jingga

Romansa Di Makara Jingga
Saturday Night Fever


__ADS_3

^Demam Malam Minggu


Gani tidak lama di rumah Vira. Selesai makan, dirinya pamit untuk pulang. Pesawat dari Bandara Schipol, Belanda yang ditumpangi Pak Herman dan Bu Ruth mendarat pukul empat sore. Gani berjanji akan menjemput alih-alih Pak Yadi, supir mereka.


Kepulangan Gani membuat Natha dan Mirna menatap Vira dengan tatapan yang membuatnya jengah. Seolah menjadi pesakitan yang dituduh bersalah.


“Kalian koq gitu banget sih lihat gue. Kayak gue apaan aja!” ujar Vira dengan nada sedikit kesal.


“Koq bisa lo kenal sama Gani? Dan koq bisa dia tau rumah kita?” tanya Natha heran.


“Padahal Kak Vira gak cakep-cakep amat, tapi cowoknya kenapa cakep semua, aneh banget!” ucap Mirna heran campur sinis.


“Iih Mir, gue cakep kali Mir, mata lo aja yang rabun,” balas Vira.


“Itu Nath, ingat gak pas gue cerita ke elo kalau ada Ikhwan yang mau ngelamar gue pakai proposal. Nah, itu ya Gani, Nath. Ternyata Gani itu anaknya Pak Herman, anggota Dewan di kantor gue magang. Gila kan? Siapa yang nyangka?”


“Koq elu bisa tau kalau Gani Ikhwan itu, koq Gani bisa tau itu elu, katanya elu langsung pulangin proposalnya!”


“Nah itu dia Nath, Gani main ke kantor Bapaknya pas gue lagi di sana dan dia ingat gue. Katanya dia itu kirim proposal karena memang kenal gue. Kenal wajah gue karena sering ketemu di perpus pusat sama masjid. Gue aja heran, koq ya bisa kejadiannya kayak gini. Kayak sinetron aja!” tukas Vira.


“Jadi sebenarnya elu bingung bukan cuma soal Kosa dan Cokro, tapi juga Gani ya?” tanya Natha


Vira terdiam heran. “Maksud lo Nath?”


“Tiba-tiba Gani jadi dekat sama elo sampai main ke rumah segala dan koq bisa-bisanya dia tau rumah kita?” tanya Natha sekali lagi dengan nada heran.


“Kamis itu gue diajak sama Kakaknya makan siang bareng, ada Gani juga makanya pas pulangnya diantar ke Bekasi. Cuma…. ternyata pas sampai rumah ada mobil Mas Cokro Nath, jadi terpaksa minta Gani nganterin gue balik ke Depok. Gue takut banget!” ungkap Vira.


“Elu makan siang bareng Kakaknya? Sudah sampai sejauh itu?”


“Gue cuma diajak makan siang bareng koq, gitu aja. Gak jauh Nath. Gak ada pembicaraan apa-apa juga. Mungkin juga kakaknya tau siapa gue tapi sama sekali gak ikut campur. Lagian Gani juga minggu depan mau berangkat kerja ke Riau. Dia langsung diterima kerja di perusahaan minyak.”


“Kak Vira pasti nyesel deh, mobilnya aja built in gitu!” sindir Mirna.


“Ya enggak lah. Ngapain juga gue nyesel, gue kan gak cinta sama Gani. Gue kan sudah bilang, gue bukan cewek matre.”


“Kalau Mirna boleh pilih, mending sama Mas Gani aja. Kak Vira ikut ke Riau dan jadi istri yang baik daripada di sini godaannya terlalu banyak,” saran Mirna tanpa diminta.


“Tumben Mir, biasanya jadi pendukung Kosa,” celetuk Natha.


“Mirna gak tau kalau Kak Kosa dulunya suka mutusin cewek. Kayaknya Mas Gani deh yang terbaik!”


“Iiih apaan sih, emang milih cowok tatitut pilih ini aja pilih itu aja. Ini masalah hati kali. Kalian aneh!” tukas Vira kesal.


“Koq lo marah sih Vir, sudah bagus Mirna kasih pendapat. Setiap orang punya perspektifnya masing-masing soal urusan asmara. Gak usah baper, toh nanti elu juga yang milih!”


Vira terdiam. Perutnya tiba-tiba merasa lapar. Teringat tadi hanya memakan dua potong pizza saja dan merelakan saladnya untuk Gani.


“Gue lapar, kalian udah kenyang makan cuma segitu tadi?” tanya Vira sambil mengelus perutnya yang mulai meraung.


“Gue cukup, ntar sore mau jalan sama teman, palingan makan sore dan makan malam di luar,” jawab Natha.


“Mirna sih cukup, gak kenyang sih tapi gak lapar juga. Eeh, Mamah pulang jam berapa sih? Kak Natha pulang jam berapa nanti? Mirna mau reuni sama teman SMA kayaknya hari ini. Barusan Meita kirim chat ngajak jalan.”


“Baru kemarin lulus aja udah pake reunian segala sih Mir,” tukas Vira setengah menyindir.


“Vir, lo gak apa-apa kan sendirian di rumah?” tanya Natha


“Elu nanya kayak gue anak umur sepuluh tahun sih Nath. Lagian nanti Mamah juga pulang. Bagus lah gue bisa puas-puasin tidur. Gak ada yang ganggu.”


Tiba-tiba rasa laparnya menguap begitu saja. Memikirkan kesendirian malam ini membuatnya tidak lagi berselera memikirkan makanan apa untuk mengatasi rasa laparnya ini.


 


Vira tak percaya ketika membuka pintu rumahnya ternyata Mas Yudha, tetangga depannya berdiri dengan gagah. Rambut ala pekerja kantoran, celana jeans, kaus berkerah, dan aroma vanilla dan sedikit kayu menyeruak dari tubuhnya.


“Mas Yudha?” tanya Vira untuk sekedar memastikaan.


“Iih Vira udah besar aja. Lama gak ketemu ya Vir, padahal depan rumah. Gimana kuliahnya?” tanya Mas Yudha.

__ADS_1


“Mas Yudha cari siapa? Papah Mamah gak ada. Natha mau pergi sama temannya. Mirna juga mau keluar.”


Mas Yudha tertawa renyah. “Mau cari Vira aja deh yang ada di depan mata,” goda Mas Yudha.


“Mas Yudha koq jadi ganteng sih? Suka nge-gym ya? Badannya koq jadi berotot gini? Kayaknya terakhir lihat masih kurus banget deh!”


“Kamu merhatiin Mas ya?” goda Mas Yudha lagi.


“Iih Mas Yudha ge-er banget. Mas Yudha kan kalem koq sekarang jadi suka menggoda gini sih!”


“Natha ada Vir?” tanya Mas Yudha.


“Ada di kamarnya. Katanya mau pergi sama temannya. Eeeh, sebentar, sebentar. Jangan-jangan temannya Natha itu Mas Yudha ya?” ujar Vira memandang Mas Yudha dengan tatapan menyelidiki.


Mas Yudha hanya menjawab pertanyaan Vira dengan suara tawa yang renyah.


“Duduk dulu Mas Yudha, biar Vira panggil Natha dulu.” Bergegas Vira ke arah tangga, menuju kamar Natha.


Dilihatnya Natha sedang menyapukan bedak dengan kuas di wajahnya. Make-up Korean Look cocok dengan kulitnya yang cerah. Natha memadukan jeans birunya dengan kaus putih bergambar logo brand ternama.


“Teman yang lo ajak jalan itu Mas Yudha ya Nath? Gak nyangka gue. Bukannya kemarin elu ngetawain emaknya yang nawarin Mas Yudha ke elu?”


Natha tertawa renyah. “Hahaha, gue tadinya ogah Vir, tapi Mas Yudha keukeuh ngajak jalan. Gara-gara di rumah terus, keseringan ngurus taman depan, suka ketemuan sama Mas Yudha deh. Jalan sesekali sama tetangga sendiri gak dosa juga,” ucap Natha memberikan alasan.


"Kayaknya Mas Yudha berubah ya Nath? Agak agresif gitu, perasaan dulu kalem banget. Jangan-jangan karena sekarang udah banyak duitnya jadi pede gitu."


Natha hanya tersenyum dan masih sibuk menyapu kuas blush-on di wajahnya.


“Nonton jam berapa Nath?” tanya Vira.


“Mas Yudha udah pesan tiket jam delapan lewat sepuluh malam sih. Ya mungkin sampai rumah nanti sekitar jam sebelas malam lah!”


“Buset lama amat Nath, ini mah bukan teman lagi. Pacaran kayaknya.”


“Lu mau gue bawain apa?” tanya Natha.


“Mirna kayaknya diajak nginep di rumah Meita deh Vir. Elu jangan tidur dulu sebelum Mamah pulang ya! Kasihan nanti kalau Mamah sampai nunggu di luar,” pinta Natha ke Vira.


“Mamah gak bawa kunci rumah?” tanya Vira.


“Sejak kapan Mamah kita keluar rumah? Mana pernah bawa kunci cadangan. Elu aja yang suka keluyuran gak pernah bawa kunci.”


Vira tertawa miris. Dibayangkan malam ini adalah malam minggunya seorang diri. Menonton film di saluran berbayar sampai tertidur rasanya bukan ide yang buruk. Hanya perlu mempersiapkan camilan yang banyak saja.


 


Vira sudah menyelesaikan dua film Hollywood romantis berturut-turut. Film Serendipity dan Leap Year tidak pernah gagal membuat hatinya berbunga-bunga. Setelah dipotong maghrib dan menyalakan semua lampu-lampu taman dan ruangan, Vira bermaksud melanjutkan kembali acara menontonnya. Kali ini ada beberapa pilihan film Korea romantis terbaru yang disajikan saluran berbayar.


Tiba-tiba bel pintu depan berbunyi. Vira langsung senang mengira Mamah sudah pulang. Terbayang dirinya bisa tidur lebih cepat. Tak peduli masih memakai piyama pendek, Vira langsung berlari membukakan pintu depan.


“Mamaaaaaah,” seru Vira senang.


Namun, tetiba Vira diam terpaku. Bukan perempuan paruh baya yang ada di hadapannya melainkan lelaki yang baru saja dijumpainya kemarin malam. Hanya saja bulu-bulu hitam di wajahnya kini sudah dicukur bersih. Teringat wajah serupa ketika lelaki ini datang pertama kali ke rumahnya.


“Mas…Mas Cokro? Mas Cokro ngapain ke sini?” tanya Vira kaget, lidahnya kini terasa kelu. Badannya kini terasa kaku, hanya mematung berdiri.


Cokro tersenyum begitu bahagia melihat Vira yang membukakan pintu untuknya. Perempuan manis ini pasti tidak mengira kalau dirinya yang datang. Bahkan Vira hanya memakai piyama pendek. Rambut hitamnya kini panjangnya melebihi pundak, membuat Vira bertambah cantik di matanya.


“Mas boleh masuk?” tanya Cokro memecahkan keheningan di pintu depan rumah karena Vira sepertinya masih kaget melihat dirinya.


“Eeh, eh, masuk Mas,” ucap Vira pelan dengan lidah yang masih kelu.


Cokro mengikuti Vira yang kemudian duduk di sofa hijau ruang keluarga. Cokro menatap wajah Vira yang memandang ke layar televisi. Sepertinya kedatangan Cokro membuat Vira gugup dan tidak menyadari sesuatu. Dilihatnya Vira hanya memainkan remote televisi tapi tidak jelas menentukan film apa yang akan ditontonnya.


“Nonton film apa? Koq rumah sepi, Papah Mamah kemana?” tanya Cokro dengan mata memandang sekeliling.


“Papah pergi ke rumah istri keduanya. Mamah pergi sama Tante Hana, Natha jalan sama Mas Yudha, dan Mirna nginep di rumah Meita,” ucap Vira tanpa menoleh ke arah Cokro.


“Kamu cantik. Rambut kamu sekarang semakin panjang. Cocok sama wajah Vira.”

__ADS_1


Vira menoleh ke arah Mas Cokro. Tidak mengerti apa yang diucapkannya barusan. Dirabanya kepala dan tangannya langsung menyentuh rambut hitam lebat. Matanya melihat sepasang kaki yang tanpa penutup sampai di atas lututnya. Seketika Vira menyadari apa yang terjadi dan langsung berlari melesat ke arah tangga dan menuju kamarnya.


Cokro melihat Vira berlari dan membuka pintu kamarnya yang terletak tidak jauh tangga. Dirinya tertawa melihat tingkah laku Vira.


Namun sepertinya lama Vira tidak kunjung turun, membuat Cokro menjadi gelisah, menunggu hanya sendiri di ruang keluarga.


Cokro menyusul naik ke atas. Diketuknya kamar Vira berulang kali. Cokro takut Vira justru tertidur di kamarnya.


“Vir, Vira. Koq Mas ditinggal sendirian di bawah? Vira marah sama Mas?” tanya Cokro sambil tak henti mengetuk pintu kamarnya.


Tak ada jawaban yang didengar oleh Cokro. Tanpa sengaja tangannya memutar kenop pintu kamar Vira. Ingin membuka dan masuk ke dalamnya. Memastikan perempuannya ini tidak kenapa-apa. Namun ternyata Vira mengunci kamarnya. Cokro menghela napasnya.


“Vir, Mas pulang ya!” ucap Cokro pelan.


Sepertinya Vira tertidur atau memang tak ingin menemuinya. Cokro berbalik arah dengan langkah berat menuju anak tangga.


Namun seketika dirinya berbalik lagi ketika mendengar suara pintu yang terbuka. Tampak Vira dengan pakaian rapi keluar dari kamar. Berbalut celana jeans biru dan kaus lengan panjang dan jilbab pendek berwarna senada Vira berjalan menuruni tangga, melewati Cokro tanpa melihatnya. Samar aroma bunga mawar tercium di hidung Cokro.


Cokro mengikuti Vira yang berjalan menuju dapur. Dilihatnya Vira menyiapkan Vietnam dripper untuk menyeduh kopi yang sepertinya dibuat untuk diri Cokro. Senyum Cokro mengembang puas sembari menunggu di kursi bar yang terletak di sana. Tampak Vira dengan sabar menunggu tetesan terakhir dan kemudian langsung diberikan kepada Cokro tanpa tambahan apapun.


Cokro mencium aroma kopi yang mengepul dan kemudian meneguknya pelan. Menikmati hasil tetesan yang sabar ditunggu demi menciptakan kopi kental yang enak.


“Kopinya enak. Ini jenis apa?” tanya Cokro.


“Arabika Wamena,” jawab Vira tanpa menoleh ke arah Cokro


“Kamu pintar meracik kopinya.”


Vira tersenyum simpul dengan mata menatap lantai. Lalu pergi meninggalkan Cokro menuju ruang keluarga. Cokro mengikuti dengan cangkir kopi di tangannya. Vira kembali duduk di sofa hijau dan memainkan remote televisi. Memilih-milih film yang akan ditontonnya.


“Vira mau nonton apa? Dari tadi sepertinya hanya memainkan remote saja. Sudah makan?” tanya Cokro sambil melihat jam analog di dinding yang menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh menit.


“Belum,” jawab Vira yang masih menatap ke arah televisi.


“Mau pesan online atau makan di luar?” tanya Cokro


“Terserah Mas saja.”


“Mau masak berdua?” tanya Cokro lagi yang akhirnya membuat Vira menoleh ke arahnya.


Cokro tersenyum melihat wajah Vira yang akhirnya menatap dirinya. Tatapan dengan raut wajah tidak percaya atas apa yang didengarnya.


Vira tak menyangka Mas Cokro ternyata bisa memasak. Hanya menggunakan bahan-bahan yang ada di kulkas. Steak ayam saus jamur dengan kentang panggang keju yang kini terhidang di meja dapur.


Meski lidah Vira lebih suka dengan masakan khas Indonesia tapi sungguh Vira terpesona melihat Mas Cokro berada di depan kompor. Membuka jamur kalengan, defrost dada ayam di microwave, mencuci kentang, dan menyiapkan bahan-bahan lainnya. Mas Cokro tangannya begitu cepat dan lihai. Vira justru hanya membantu sedikit dan mencuci perabotan saja.


Mereka makan di dapur. Hanya berdua. Tanpa lilin dan hanya ditemani dengan dua gelas jus apel penuh. Sesekali Vira mencuri pandang ke arah Cokro dan membuang pandangan ketika Cokro menatap balik.


Mereka makan dalam keheningan. Tidak ada pembicaraan yang keluar dari kedua mulut yang hanya sibuk mengunyah pelan. Namun Cokro meyakini bahwa Vira tidak lagi mencoba menghindar atau bahkan merasa takut dengan dirinya.


Vira sendiri tak kuasa melepas bayangan Mas Cokro saat memasak tadi. Bayangan Mas Cokro yang membantunya membersihkan piring kotor. Menampilkan sosok yang berbeda. Vira merasa ada yang aneh dengan dirinya dalam memandang Mas Cokro kali ini. Bahkan ketika mereka sedang menonton bersama di ruang keluarga. Perasaan aneh semakin merasukinya.


Dipandanginya Mas Cokro diam-diam.


“Kenapa?” tanya Mas Cokro mengagetkan Vira. Membuat Vira gelagapan.


“Gak apa-apa koq Mas.”


“Ngomong aja, Vira mau Mas pulang?”


“Bukan, bukan Mas. Vira cuma ingin bilang terima kasih atas makan malamnya,” ucap Vira sungkan dan mulai memberanikan diri menatap mata Mas Cokro.


Cokro tersenyum. “It’s my pleasure [dengan senang hati].”


Vira terdiam sejenak namun matanya tak kuasa menatap bibir Mas Cokro yang tersenyum hangat padanya. Perasaan aneh itu semakin merasukinya. Vira mendekati Mas Cokro hingga wajah mereka menjadi begitu dekat. Dirabanya pipi Mas Cokro yang kini tanpa bulu, namun masih terasa kasar. Ujung jemarinya kini menyentuh bibir Mas Cokro yang tanpa disadarinya kini digantikan oleh bibirnya. Vira mengecup pelan bibir dengan rasa keju yang tertinggal. Bukan lagi rasa tembakau. Rasa yang tetiba membuatnya sadar dan menghentikan perilaku yang memalukan ini.


“Maaf, maaf, Vira gak ngerti kenapa Vira begini,” ucap Vira menarik wajahnya menjauh dari Mas Cokro dengan rasa malu yang luar biasa.


Namun Cokro membungkam rasa malu Vira dengan balasan kecupan yang begitu hangat, mengulum bibir Vira seutuhnya. Cokro tidak pernah menyangka bahwa Vira dengan sukarela menerimanya dan membalasnya Sama sekali tidak disangkanya

__ADS_1


__ADS_2