
Setelah sholat subuh, Vira tidak lagi tidur-tiduran meski udara pagi begitu menggigit.
Dibereskannya kembali semua peralatan untuk dimasukkan ke dalam ransel sebelum Sakar, porter-nya membawanya. Vira hanya membawa tas ransel ukuran 20-liter yang berisi dokumen, permen cokelat, cemilan granola dan kacang, serta dua botol air ukuran setengah liter.
Karena kemarin sore sudah mandi, Vira merasa badannya masih segar dan tidak perlu mandi lagi. Cukup cuci muka dan sikat gigi saja. Sarapan mulai pukul tujuh pagi dan mereka akan memulai pendakian menuju Ghorepani jam delapan. Karena tidak tidur lagi, Vira langsung menuju restoran yang sudah buka sejak jam enam pagi ini.
Diletakkannya ransel Vira di bawah meja, tempat Sandeep, Sarkar dan Satya makan. Mereka memang selalu memisahkan diri dan cenderung bergabung bersama guide dan porter lainnya. Dilihatnya belum ada tanda-tanda ransel dari mas-mas pendaki lainnya.
“Sandeep, have my friends came down already [apakah teman-teman saya sudah turun ke sini]?” tanya Vira.
Sakar dan Satya melemparkan senyum malu-malunya ke arah Vira sambil terus mengunyah makanannya. Mereka murah senyum namun hanya bicara sepatah dua patah kata saja dalam bahasa Inggris yang sepertinya belum dikuasai mereka.
“Not yet, you are the first. You can order breakfast now [Belum, kamu yang pertama datang. Kamu bisa memesan sarapan duluan],” jawab Sandeep.
Vira memesan momo, sejenis dimsum khas Nepal berisi daging ayam dan sayuran, hanya saja kulitnya lebih tebal dari yang biasa Vira makan. Sengaja Vira juga memesan nasi goreng yang ternyata rasanya ada perpaduan kecap asin dan bumbu kari. Meskipun aneh rasanya, tapi tetap disantapnya.
Mas Une, Mas Dody, Mas Cokro, dan Bobby datang bersamaan ketika Vira sedang menyantap nasi gorengnya.
“Buset, bangun jam berapa lu Vir, jam segini udah sarapan aja,” sapa Mas Une.
“Koq kalian bisa sih datangnya barengan gini?” tanya Vira.
“Kan kita sekamar berempat. Itu si Obi mah buseet ngoroknya udah kayak babi,” ucap Mas Une yang disambut dengan cengiran Bobby.
“Si Vira mah udah tau kali Ne suara ngoroknya si Bobby,” celetuk Mas Dody yang membuat Vira langsung terkikik.
“Loh koq bisa?” tanya Mas Une.
“Dia pernah tepar di kamarnya Vira pas di Pokhara kemarin. Anjrit dah berat banget nyeret nih asu,” jawab Mas Dody.
Vira tertawa dan hampir tersedak mengingat kejadian itu. Semua ikut tertawa dan hanya Mas Cokro yang diam, seperti tidak peduli atau tidak suka. Entahlah. Sejak awal Mas Cokro memang nyaris tak pernah bicara.
Beruntung Vira memesan makanan lebih dulu sehingga selesai lebih cepat dan mengistirahatkan perutnya sebentar sebelum memulai pendakian. Vira memilih duduk di luar selagi mas-mas pendaki menikmati sarapannya.
__ADS_1
Dilihatnya pesan dari Kosa yang masih centang abu-abu. Ah lupa, ternyata tidak ada sinyal wifi dan harus bayar dua dolar lagi. Tiga puluh menit lagi jam delapan dan mereka akan segera berangkat mendaki. Vira memutuskan membiarkannya.
---------------------------------
Perjalanan menuju Ghorepani melewati beberapa trek yang berbeda. Awalnya memang tangga dari bebatuan tapi tidak terlalu banyak. Hanya sekitar tiga ribu anak tangga menurut Sandeep. Vira meringis, tiga ribu koq dibilang tidak terlalu banyak. Di kampus saja, dirinya selalu naik elevator jika kedapatan kuliah di lantai empat atau lima.
Di trek awal ini masih dijumpai rumah-rumah penduduk, warung-warung kecil dan anak-anak Nepali yang sedang asyik bermain.
Trek selanjutnya melewati hutan yang mirip sekali dengan dengan hutan yang ada di film-film fiksi seperti Hobbit. Jalan tanah setapak yang sisi kanan dan kirinya dipenuhi oleh pepohonan hijau dengan bunga-bunga berwarna merah sedikit ungu. Perpaduan warna yang membuat mata menjadi sejuk memandangnya.
“What’s the name of this flower [apa nama bunga ini], Sandeep?” tanya Vira kepada Sandeep yang berjalan tidak jauh di depannya.
“This is Rhododendron, Nepali national flower. Beautiful isn’t it [Ini bunga Rododendron, bunga nasionalnya orang Nepal. Indah bukan]?” jawab Sandeep.
“I feel like I’m in heaven [Saya merasa sedang berada di surga],” ucap Vira dengan kagum.
Sandeep tersenyum. Awalnya memang sedikit kesal karena Vira berjalan begitu lambat sedangkan semua temannya yang lelaki berjalan begitu cepat. Sandeep awalnya merasa bukan seperti guide tapi seperti baby sitter [pengasuh bayi]. Tapi seiring perjalanan menuju Ghorepani, Sandeep justru nyaman membuka dirinya kepada Vira.
“I can speak five languages [saya bisa lima bahasa],” jawab Sandeep tanpa menunjukkan kesombongan sedikit pun.
“Whaaaaat, are you kidding me [apaaaa, beneran nih]?” pekik Vira nyaris tidak percaya.
“I can speak Nepali, Hindi, English, French, and German. It’s common for guides. Every guide in Nepali should speak more than three languages [Saya bisa bicara Nepal, India, Inggris, Prancis, dan Jerman. Ini biasa untuk para guide. Setiap guide di Nepal setidaknya harus bisa menguasai lebih dari tiga bahasa],” jelas Sandeep.
“I never accept client from east Asia because I can speak none of them [Saya tidak pernah menerima pendaki dari Asia Timur karena memang tidak bisa bahasa mereka],” sambung Sandeep.
“Where are you from Sandeep [Asal kamu dari mana Sandeep]?”
“I’m from Gorkha. My father was a Gorkha Soldier. I live in Kathmandu now [Saya dari Gorkha. Ayah saya Tentara Gorkha. Saya tinggal di Kathmandu sekarang],” jelas Sandeep.
“Vira, for you to know, I ‘m a widower, been divorced since ten years ago [untuk kamu ketahui, saya ini duda, sudah bercerai sejak sepuluh tahun lalu].”
“Why you say that [Kenapa ngomong begitu]?” tanya Vira
__ADS_1
“It’s okay. Since you asking many question about my self, i don’t mind to tell you this [Gak apa-apa. karena kamu banyak bertanya tentang saya, ya saya ceritain saja ke kamu].”
“Why did you divorce [Kenapa kamu bercerai]?” tanya Vira penasaran.
“Me with this job, yeaaah. Maybe she’s lonely and more comfortable with other man [Dengan pekerjaan saya ini, mungkin istri saya kesepian dan lebih nyaman dengan lelaki lain], jawab Sandeep sendu.
Vira merasa bersalah. Dirinya diam sejenak. Tidak lagi banyak bicara seperti sebelumnya. Merasa dirinya terlalu penasaran dengan kehidupan orang lain.
“Hey Vira, what is with this silent? This jungle is dead without your voice [Hei Vira, koq diam sih? Hutan ini terlalu sepi tanpa suara kamu],” ucap Sandeep memecahkan keheningan.
“Oh, Sandeep, sorry to hear that. Let’s talk about food, or movies, anything [maafkan saya, Kita bicara hal lain saja ya seperti makanan, film, apa saja],” pinta Vira.
Sandeep tertawa mendengarnya. Mereka pun bicara tentang makanan Nepal yang dipengaruhi oleh masakan India dan China serta gempuran film India di Nepal. Betapa Sandeep menyukai film-film yang dibintangi Amir Khan karena selalu memiliki pesan positif.
Mereka bertemu di warung makan bercat biru yang berada di tepi jurang dengan pemandangan luar biasa. Vira bersama Sandeep terlambat satu jam. Mas-mas pendaki sudah selesai makan. Mas Une, Mas Cokro, dan Mas Dody siap berangkat lagi bersama Sakar dan Satya. Mereka harus naik dan turun satu gunung lagi untuk sampai di lodge untuk bermalam.
“Gue barengan aja sama Vira, Mas. Masih mau leyeh-leyeh di sini. Enak nih suasananya!” ucap Bobby ke teman lainnya.
Di meja yang sama, bersama Bobby dan Sandeep, Vira merasakan suasana pertemanan baru. Baru kali ini Bobby menemaninya dan tidak meninggalkannya berdua dengan Sandeep. Bicara bertiga selama perjalanan. Berjalan hanya dengan jarak paling jauh dua puluh meter.
“You know Sandeep, you should come to Indonesia and we will treat you well [Kamu harus datang ke Indonesia dan kami akan menjamu kamu dengan baik],” ucap Bobby sungguh-sungguh
“All accommodation is free [akomodasinya gratis],” sambung Vira.
Sandeep tertawa terbahak-bahak sambil mengacungkan kedua jempolnya.
Tak terasa mereka akhirnya sampai di Tourist police office untuk check point, pemeriksaan terkait turis yang singgah untuk menuju ke Annapurna Base Camp. Sandeep yang mengurus semua. Vira dan Bobby dengan langkah gontai berjalan ke arah penginapan yang masih berjarak satu kilometer lagi.
“Bi, besok pagi kayaknya gue gak ikut ke Poon Hill deh buat liat sunrise. Gue mo tidur aja, bilangin ke Mas Une ya!” pinta Vira.
“Jam empat subuh berangkatnya Vir, gue mikir-mikir juga kali ya, Tiga jam bolak-balik.”
Mereka berdua pun tertawa miris karena lelah.
__ADS_1