
Vira membaca pesan di ponselnya. Jadual mengajinya diubah menjadi senin pagi sebelum kuliahnya dimulai padahal biasanya setiap jumat siang.
Anak tahun ketiga seperti Vira biasanya jadual kuliahnya dimulai jam 11 siang karena jadual jam delapan pagi selalu diambil oleh mahasiswa baru.
Vira menyatakan bisa hadir karena Kak Ratih mengatakan ada pembicaraan khusus dengan dirinya. Vira mengikuti pengajian terbatas dengan beberapa teman di Fakultas. Hanya lima mahasiswi termasuk dirinya yang ikut dalam pengajian kecil ini.
Kadang pengajian di adakan di Masjid Salam dan mengambil tempat di sudut selasar kiri dekat pintu keluar, kadang di tempat kost temannya, atau kadang di tempat Kak Ratih.
Vira tidak lah seperti akhwat lain kebanyakan yang menggunakan gamis, berjilbab panjang, dan cenderung feminin. Dirinya biasa saja, terkadang pakai rok, terkadang pakai celana jeans yang dipadu dengan baju tunik atau kaos longgar dan jilbab sebatas dada.
Kesukaannya mendaki gunung dan traveling membuat dirinya fleksibel dalam menghadapi banyak hal termasuk cara berbusana. Vira kadang mendaki gunung hanya dengan teman-temannya yang lelaki saja, bahkan traveling bersama orang yang baru dikenalnya.
Tidak masalah karena Vira bisa menjaga diri dengan baik berkat nasehat yang selalu diberikan orang tuanya. Selain itu, Vira tetap belajar agama untuk menambah pengetahuannya.
Selesai materi dan setoran hapalan, Vira dipanggil Kak Ratih, murobbi-nya secara khusus.
__ADS_1
Teman-teman lainnya sudah pamit untuk kembali menuju kampus. Masih ada satu jam sebelum kuliah dimulai dan jarak antara Masjid ke fakultasnya hanya sekitar kurang dari sepuluh menit berjalan kaki.
Disodorkannya sebuah map berwarna hijau di hadapan Vira oleh Kak Ratih.
“Bismillah, Vir, ini ada yang ingin ta’aruf. Anak elektro yang lagi ambil skripsi namanya Gani. Kemarin magang di perusahaan minyak dan katanya selesai skripsi mungkin akan melanjutkan ke perusahaan yang sama. Insya Allah masa depannya baik, aamiin.”
Vira terdiam sesaat. Dikembalikannya map hijau itu tanpa dibukanya.
“Afwan Kak Ratih. Saya masih ingin kuliah dan belum ingin berumah tangga. Sudah dua kali ini saya menolak permintaan ta’aruf. Kak Ratih pasti tahu sebabnya. Saya tidak seperti akhowat yang lain. Saya tidak bisa dekat dengan orang yang tidak saya kenal sebelumnya.” Vira memberikan penjelasan singkat.
“Bukan begitu Kak," elak Vira.
“Anti masih ingat sama Nugie? tanya Kak Ratih yang menohok dada Vira. Kalau anti pakai cara itu nanti yang ada akan kecewa lagi.
Vira tersenyum lirih. Teringat dulu ketika dirinya jatuh cinta dengan Nugie, teman satu angkatan lain fakultas. Teman dekatnya sejak sekolah lanjutan atas. Ketika dirinya menyatakan rasa sukanya, ternyata ditolak. Semua teman pengajiannya bahkan mengetahui penolakan tersebut.
__ADS_1
Terinspirasi dengan Khadijah yang mendekati Rasulullah terlebih dahulu, ternyata itu bukan cara yang baik di negara patriarkis seperti Indonesia ini. Tidak terlalu malu sebenarnya tapi tidak menyangka Nugie yang Vira kira ikhwan yang mampu menjaga perasaannya ternyata justru sebaliknya.
Aaah, sudahlah. Sudah lebih satu tahun dirinya mengubur rasa sukanya dari Nugie. Tidak mudah memang apalagi itu adalah pertama kali dirinya menyukai lawan jenis.
Murobbi-nya yang sudah dua kali menyodorkan permintaan ta’aruf pun ditolaknya. Vira meyakini bahwa penolakannya bukan karena masih memendam rasa dengan Nugie tapi karena memang dirinya yang harus merasakan cinta dengan lelaki yang akan menjadi pasangannya itu.
“Baiklah kalau begitu. Anti itu memang berbeda. Tetap jaga diri ya dan temukan orang yang bisa membuat anti bahagia,” pesan Kak Ratih lalu memeluknya erat.
Masih ada sekitar setengah jam menuju kelas. Dari arah masjid menuju kampus bermakara jingga memang dekat namun demikian sepanjang perjalanan kepala Vira dipenuhi dengan berbagai pertanyaan mengapa dirinya yang diajak ta’aruf.
Apakah lelaki itu mengetahui siapa dirinya? Apakah lelaki itu pernah melihat dirinya? Mengapa dia dan bukan teman pengajian lain yang shalihah?
Dengan langkah pelan, Vira menyusuri jalan setapak melewati taman korea, menyusuri selasar gedung Kuncara lalu melewati depan Musholla dan baru masuk ke gedung E.
Ada mata kuliah antar prodi tentang gender yang diambilnya. Meskipun waktu belum menunjukkan jam sebelas, Vira sengaja datang lebih cepat agar bisa duduk di depan.
__ADS_1
Vira tidak mengetahui ada lelaki yang menunggunya di salah satu sudut kampus makara jingga ini.