
Sebelum berangkat pagi hari dengan jeep, ada briefing dengan Sandeep, guide dan dua orang porter yang akan membawa perlengkapan selama pendakian.
Tidak banyak yang dibicarakan karena Sandeep sepertinya paham kalau Mas Une, ketua tim memang sudah pengalaman soal pendakian. Mas Une justru meminta agar Sandeep berjalan tidak jauh dari Vira karena dirinya perempuan satu-satunya dalam tim.
Ada dua jeep yang membawa mereka dari Pokhara menuju Hille. Tapi Sandeep mengajak ke tempat pengungsian orang Tibet dan sekedar mampir dan memberikan apresiasi atas usaha kerajinan mereka agar tetap bertahan hidup di Nepal.
Mereka diajak melewati jalanan bebatuan dengan berjalan kaki sekitar ima ratus meter. Di depan pintu gerbang terdapat deretan meja yang menjual aneka souvenir yang terbuat dari tali temali, batu-batu berwarna, dan akrilik dengan motif khas Tibet.
Vira membeli gelang dari tali tebal dengan warna monokrom dengan motif sederhana. Sepertinya ini cocok sebagai hadiah untuk Kosa. Sandeep menerjemahkan ucapan si penjual ibahwa motif yang dipilih Vira itu adalah motif umum yang biasa dipakai oleh anak laki-laki.
Setelah membeli, Vira bersama mas-mas pendaki masuk ke asrama pengungsian. Mas Une, Mas Cokro dan Bobby melepas sepatunya lalu masuk ke dalam kuil yang berisi patung Buddha yang cukup besar. Kuil ini terletak persis di samping asrama. Mereka mengikuti ritual singkat meminta doa keselamatan dalam pendakian dengan para biksu berbaju maroon di dalamnya. Vira dan Mas Dody hanya melihat dari luar saja,
Jeep berhenti sebentar di Nayapul untuk mengurus administrasi pendakian. Sandeep mengatakan makan siangnya di pos terakhir pemberhentian mobil, karena setelahnya akan diteruskan dengan berjalan kaki untuk memulai pendakian.
Jalur awal pendakian dari Hille menuju Ulleri awalnya berupa jalanan dari tanah kering padat dan selanjutnya didominasi oleh anak tangga yang tersusun dari batu. Sandeep mengatakan ada sepuluh ribu anak tangga yang mereka naiki hari ini untuk sampai ke Ulleri. Vira tercengang mendengarnya dan lebih tercengang lagi ketika Sandeep mengatakan bahwa setiap harinya mereka akan naik turun dua gunung untuk mencapai Himalaya.
Trek pertama ini menurut Sandeep adalah yang paling mudah. Tapi Vira merasa kecapaian luar biasa. Napasnya tersengal-sengal tidak beraturan padahal hanya berjalan kurang dari 50 meter saja.
Ini yang menyebabkan Vira selalu tertinggal di belakang. Mas Une, Mas Cokro, dan Mas Dody sudah menghilang dari pandangan mata Vira. Hanya Bobby yang setia menunggu di depan.
Setiap Vira naik 50 meter maka dipastikan Bobby ada 50 meter di depan Vira. Terkadang Sandeep berada di depan Vira dan terkadang menghilang dari pandangan mata.
Jalur menuju Ulleri ini melewati beberapa desa dan selalu ada marka untuk menunjukkan arah jalan yang benar.
“Vir, ayo semangaaaaatttt,” teriak Bobby.
“Hahahaha….. ampun Bi, gue udah kayak bocah kemarin sore,” sahut Vira kencang.
“Elu harus punya ritmenya sendiri Vir. Satu, dua, tiga. Satu, dua, tiga. Jangan ambil napas lewat mulut cepat-cepat. Itu yang bikin cepet capek.”
“Hahahaha….” Vira masih sibuk mengatur napasnya.
“Vira, you should manage your time. It’s not good if you take a rest too long, [kamu harus mengatur waktu, jangan kebanyakan istirahatnya]” ucap Sandeep yang berada tepat di sampingnya.
“I get it [aku mengerti], Sandeep.”
Karena masih di trek awal, jalur pendakian masih melewati banyak rumah penduduk. Tampak anak-anak ramai bermain. Vira selalu menyempatkan diri untuk berselfie ria bersama mereka. Trik jitu agar mereka mau difoto dengan senyum mengembang adalah dengan memberikan permen cokelat yang dibawanya dari Indonesia.
“Sandeep, it's okay if you wanna go first to the lodge. I don't wanna miss this moment. I really enjoy the process to go up there [Gak masalah kalau kamu duluan sampai ke penginapan. Aku gak mau kehilangan momen ini. Aku benar-benar menikmati proses pendakian],” ucap Vira ketika Sandeep mengingatkan agar tidak terlalu banyak berhenti untuk memotret.
__ADS_1
Sandeep hanya tersenyum dan Bobby sudah tidak terlihat lagi di depan matanya.
--------------------------------------------
Vira menjadi yang terakhir tiba di penginapan. Para lelaki itu sudah sampai sekitar dua jam sebelum Vira. Mas Une sudah menunggunya di gerbang penginapan dengan wajah segar dan aroma sabun yang keluar dari tubuhnya yang berbalut outlayer.
“Vir, lama amat? Ngapain aja?”
“Hahaha, maaf Mas Une. Tadi foto-foto mulu sama bocah di sepanjang jalan,” jawab Vira.
“Iya, si Bobby cerita. Makanya dia ninggalin elu. Tadinya sih mau barengan.”
“Hahaha, gak apa-apa Mas. Cuma Vira minta maaf aja kalo bikin Sandeep kesel nungguin Vira doang.”
“Santai Vir. Kita nyewa guide emang tujuannya buat jagain elu.”
“Hahaha, Mas Une bisa aja.”
“Vir, elu dapet kamar di lantai dua paling pojok ya, kuncinya minta sama Sandeep. Ada pemanas air di dalam, Cuma panasnya lima menit doang pas elu nyalain. Jadi gak bisa lama-lama mandinya. Dingin banget,” jelas Mas Une
“Nanti kita makan malem di restonya di lantai bawah, jam tujuh ya!” sambung Mas Une.
Vira lalu bergegas menuju kamarnya. Dilihat ranselnya sudah ada di kamar. Ternyata Sakar, porter yang membawa ranselnya berbaik hati meletakkan ranselnya di samping kasur tipis yang dialasi dipan kayu. Ada selimut tebal dan ternyata tidak ada pemanas ruangan.
-------------------------------
Udara malam hari masih sekitar 10 derajat celcius. Vira sengaja hanya mengenakan sweater yang dilapisi outlayer. Restoran di penginapan ini cukup luas, bisa menampung sekitar 30 orang.
“Viraaaaaa…………….” Bobby melambaikan tangannya dari meja paling pojok. Para lelaki pendaki itu sudah hadir semua. Bergegas Vira menuju ke arah mereka.
“Lama banget Vir, duduk sini sebelah gue,” ucap Bobby.
“Maaf mas-masku semua. Abis mandi langsung tidur,” ujar Vira sambil cengengesan.
Vira membuka outlayer karena ternyata di restoran memakai pemanas ruangan. Memakainya membuatnya gerah karena sweater tipis yang dikenakannya cukup hangat.
Semua memesan porsi besar seperti Dal Bhat yang menjadi makanan pokok pilihan pendaki kecuali Vira yang memesan nasi biryani dan lemon jahe madu hangat. Tampak para lelaki pendaki ini makan dengan begitu lahap bahkan sampai menambah nasinya dua kali.
Setelah makan, Vira menghampir Sandeep untuk meminta password wifi. Harganya hanya dua dollar atau dua ratus nepali rupee. Waktu menunjuk di angka delapan dan restoran tutup pukul sepuluh malam. Sinyalnya tidak sampai ke kamar. Vira harus berjibaku dengan waktu yang hanya dua jam untuk menggunakan sinyal internet dengan tepat.
__ADS_1
Pertama yang dilakukan adalah menelpon mama dan mengabarkan kalau Vira baik-baik saja. Rasa kangen Vira kepada mama didominasi oleh kekhawatirannya terhadap kesehatan mama dan rasa rindunya terhadap masakan Mama. Tadinya Vira sekalian mau menelpon Natha dan Mirna tapi sepertinya cukup hanya menitip pesan lewat Mama saja.
Dilihatnya beberapa orang pendaki termasuk Mas Dody sibuk menelpon. Mas Une dan Cokro asyik mengobrol sambil merokok di luar restoran. Entah mengapa mereka berdua bisa tahan di udara luar yang begitu dingin. Sedangkan Bobby sibuk memainkan gadgetnya.
Vira langsung menekan halus tombol video call ke Kosa. Cukup lama aplikasi ini mencoba menyambungkannya namun ternyata tidak ada jawaban. Sudah tiga kali Vira menekan vcall tapi tetap tidak tersambung.
Pendakian hari pertama dengan berbagai rasa yang dialami. Keinginan untuk bercerita tentang rasa lelahnya kepada Kosa. Keinginan untuk berbagi gembira bahwa dirinya sampai ke lodge setelah melewati dua gunung. Dirinya hanya ingin bercerita kepada Kosa. Tapi Kosa tidak menjawabnya.
“Kenapa muka lu sedih gitu sih Vir?” tanya Bobby
Vira mendongak dan mengarahkan pandangannya ke Bobby.
“Ih, kepo aja deh Bi,” sahut Vira.
“Gue ada beberapa foto elu nih, mau gue tag di Ig gak?” ucap Bobby.
“Kagak punya Ig. Adanya fesbuk Bi.”
“Waduh, dah lama gak pake fesbuk. Ntar gue share di grup lah.”
“Japri aja Bi, kalo jelek kan gak jadi konsumsi publik,” canda Vira.
Mendengar ucapan Bobby, Vira teringat dengan medsosnya. Vira langsung segera membuka aplikasi fesbuknya dan memilih beberapa foto layak tayang. Foto-foto pemandangan dan wajah anak-anak Nepali yang dipotretnya dengan wajah ceria karena jasa si permen cokelat. Foto rumah penduduk dan beberapa orang lansia yang sedang duduk di luar rumah mereka. Ditulisnya deskripsi Pendakian hari pertama. Ada banyak yang ingin aku ceritakan kepadamu.
Setelah itu, Vira menulis beberapa pesan kepada Kosa.
[Abang kemana? Vira vcall tidak dijawab?]
[Kangen banget sama abang]
[Hari ini pendakian pertama ke Ulleri. Naik 10 rb anak tangga Bang, capeeeek]
[Foto-fotonya ada di fesbuk ya Bang]
[Abaaaaaang]
[Vira gak bisa lama-lama Bang, internetnya mati jam 10, bentar lagi]
Dilihatnya kembali aplikasi pesan berwarna hijau daun muda. Tidak ada balasan chat dari Kosa. Pesannya hanya centang dua berwarna abu-abu.
__ADS_1
Restoran sudah mulai mematikan beberapa lampu dan beberes. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Mereka mulai mengeluarkan kasur lipat dan selimut dalam jumlah besar. Ternyata restoran diubah menjadi tempat tidur untuk para guide dan porter di malam hari.
Vira merasa dua dollar yang dikeluarkannya untuk dua jam internetan tidak sepadan dengan hasil yang diinginkannya. Vira merasa sedih.