Romansa Di Makara Jingga

Romansa Di Makara Jingga
Once Bitten Twice Shy Part 1


__ADS_3

^Lebih berhati-hati karena sudah terluka sebelumnya


Tjokro Adjie Pambudi


Pertemuan dengan lelaki yang dekat dengan Vira di Bandara sepertinya membekas dalam ingatannya. Sosok lelaki tampan yang menurut dugaannya sering diincar banyak perempuan di kampus tampak ramah saat diperkenalkan Une dengannya dan juga Bobby. Mereka tidak banyak bicara saat diperkenalkan. Ketika Cokro melirik Vira, mata gadis itu begitu berbinar manja menatap kekasihnya.


Cokro mengajak Bobby pulang bersama. Supir keluarga Cokro datang dengan sedan hitam metalik berlogo empat cincin yang saling menyambung. Cokro mengantarkan Bobby dulu ke rumahnya di bilangan pantai Ancol dan setelahnya menuju Kelapa Gading. Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya terdiam, tidak ada satu pun yang bicara dan mereka juga tidak memejamkan mata.


Sesampai di rumah, tidak ada siapapun. Hanya beberapa asisten rumah tangga yang dipekerjakan Ibu. Tampak Mbok Darmi, asisten sepuh yang sudah bekerja sejak Cokro masih kecil menghampirinya.


“Eh, Den Cokro sudah pulang. Habis naik gunung lagi toh Den?”


Dipeluknya perempuan seusia ibunya itu dengan erat. “Sehat Mbok?”


“Alhamdulillah sehat Den. Sudah makan? Si Mbok bikin rawon kesukaan aden, rawon ayam. Ada telur pindangnya juga sama sambal terasi. Pakai cambah dele [tauge dari kedelai] juga, pasti nambah nanti!”


“Ibu kemana Mbok? Bapak?” tanya Mas Cokro melihat keheningan suasana seperti biasa di rumahnya ini.


“Ibu pergi ke rumah Mba Resmi sudah dua hari Den. Bapak sama Den Bara ke Bali, sudah seminggu,” jawab Mbok Darmi.


“Ibu maunya dekat dengan cucunya, Den!” sambung Mbok Darmi pelan, takut menyinggung perasaan Cokro.


“Saya ke kamar dulu ya Mbok. Mau mandi, gerah. Nanti saya turun buat makan.”


“Den Cokro,” panggil Mbok Darmi, menghentikan langkahnya yang sudah mencapai anak tangga.


“Saya dapat pesan dari Ibu kalau pertemuannya dua hari lagi. Aden jangan kemana-mana dulu kata Ibu,” sambung Mbok Darmi.


Cokro tersenyum dan mengangguk. Dilanjutkan kembali langkah kakinya menuju kamarnya yang terletak di lantai dua.


Cokro membuka kamar dengan nuansa putih. Harum kamarnya menunjukkan bahwa kamar tersebut rajin dibersihkan meskipun ia nyaris tidak pernah menempatinya. Cokro lebih suka menghabiskan waktu mengurus bisnisnya di Surabaya. Foto pernikahannya dengan Rahayu sudah tidak lagi terpasang di dinding yang dilapisi wallpaper motif berulang. Diletakkan ranselnya di samping ranjangnya dan kemudian membiarkan tubuhnya rebah barang sesaat.


Berendam air hangat di bathtub melemaskan otot-ototnya yang masih terasa pegal pasca pendakian. Juga menguraikan sedikit pikirannya yang kusut masai. Lantunan Air on G String dari Bach menemaninya. Lantunan musik orkestra kesukaan Rahayu.


Dirabanya mukanya yang penuh dengan bulu-bulu hitam yang mulai memanjang. Rambutnya pun juga tampak tak terurus. Dilihatnya rak toiletries yang kosong dengan kebutuhan pria. Hanya ada sabun cair, shampoo, pasta gigi dan sikat gigi saja.


Selesai mandi, Cokro makan siang sendirian dengan manu rawon ayam komplit yang dimasak oleh Mbok Darmi. Rasa yang luar biasa. Rasa yang sama dengan yang diingatnya sejak dulu. Hanya saja daging sapinya diganti dengan ayam, mengikuti pola diet kesehatannya Rahayu yang tidak makan daging merah.


“Mbok, saya minta kunci motor ya! Mau ke tukang potong rambut di ruko depan sana.”


“Siap Den, biar motornya dipanasin dulu sama Pak Manto. Sudah lama ndak dipake Mas Bara.”


 


Selesai merapikan rambutnya dan bulu-bulu di wajahnya di barber shop dekat rumahnya, Cokro memacu motor sport-nya ke salah satu Mal besar di bilangan Kelapa Gading. Membeli produk kebutuhan lelaki.


Suasana di Mal tampak tidak terlalu ramai. Mungkin karena ini weekdays. Cokro sudah membeli beberapa yang dibutuhkan. Foam, aftershave, electric shaver dan juga parfum beraroma kayu (woody) kesukaannya. Tidak terlalu banyak sehingga cukup dimasukkan ke dalam ransel kecil yang dibawanya.

__ADS_1


Ketika melewati toko perhiasan yang bersinar gemerlap dibandingkan toko lainnya, tak sadar langkah kaki Cokro mengajaknya ke sana. Dilihatnya beberapa model perhiasan keluaran terbaru.


“Ada yang bisa kami bantu Pak?” suara lembut pramuniaganya memecahkan pencarian matanya terhadap perhiasan-perhiasan indah di hadapannya.


“Kami punya motif terbaru yang mungkin sesuai dengan apa yang Bapak cari,” lanjut pramuniaga.


Cokro tersenyum. “Saya ingin klasik dan sederhana. Dia perempuan yang seperti itu.”


“Untuk acara seperti apa Pak? Lamaran atau pernikahan?”


“Baru perkenalan saja. Perempuannya berjilbab, jadi jangan kalung atau anting ya!” ucap Cokro mengingatkan.


“Kami punya koleksi cincin dan gelang klasik sederhana yang mungkin Bapak suka,” ucap pramuniaga yang kemudian mengeluarkan beberapa koleksi dari etalase kacanya.


“Ini ada cincin emas putih dengan motif sehelai daun di tengahnya dan satu mata berlian. Sederhana dan bagus untuk perkenalan.”


Tanpa banyak bicara, Cokro menganggukkan kepalanya. “Oke, saya suka ini.”


 


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Cokro sudah rapi. Mbok Darmi memandangnya dengan heran melihat anak kedua majikannya terlihat lebih muda dan segar.


“Loh sudah rapi Den? Gantengnya sama kayak masih muda dulu. Mbok jadi pangling.”


“Mau main ke rumah teman Bi di Bekasi,” sahut Cokro sambil menyesap kopi pahitnya.


“Sebentar koq Mbok, cuma mau antar barang aja. Kemarin lupa dikasihkan ke orangnya.”


“Mbok, mobilnya saya pake ya, biar Pak Manto istirahat aja di rumah,” sambungnya.


Teringat olehnya saat di Pokhara, selesai makan malam di Chinese food bersama Runello dan Bobby, dirinya mampir ke salah satu toko yang menjual pakaian perempuan berbahan cashmere asli.


“Beli buat siapa Cok? Nyokap?” tanya Une yang heran karena sepanjang mereka di Nepal, hanya Cokro yang tidak pernah membeli apapun untuk oleh-oleh. Cokro hanya tersenyum simpul dan tidak menjawab.


Perjalanan pagi menuju Bekasi memang perjuangan. Menembus kemacetan jalan tol dalam kota yang tersambung dengan tol arah Cikampek. Langit mendung menggelayuti sepanjang perjalanan. Hanya menunggu rintiknya turun membasahi bumi.


Cokro sudah memasukkan alamat Vira dari keterangan daftar pendaki di grup Annapurna ke dalam GPS mobilnya. Dibelokkan arah mobilnya ke depan pintu gerbang perumahan dan masuk ke blok keempat di sisi kanan.


Ketika GPS-nya mengatakan sudah sampai di tempat tujuan, ternyata di sana sudah ada mobil SUV berwarna putih. Di sampingnya, dekat dengan pintu pengemudi, tampak Vira bersama lelaki yang dikenalkannya kemarin di Bandara.


Cokro keluar dari pintu mobil sedannya. Tak lupa membawa tas merah muda yang berisi sweater cashmere yang dibelinya di Pokhara.


Tampak oleh Cokro, baik Vira dan lelaki itu tertegun melihatnya. Cokro membuka kacamatanya agar Vira mudah mengenalinya.


“Halo Vira, apa kabar?” sapa Cokro.


Vira memandangnya dengan wajah tak percaya.

__ADS_1


“Mas Cokro? Eh beneran ini Mas Cokro? Koq bisa?”


Wajahnya mungkin terlihat berbeda setelah potong rambut dan bercukur.


Vira terlihat begitu gugup ketika mencoba memperkenalkannya dengan lelaki itu.


“Bang, kenalin ini Mas Cokro! Eh kemarin sudah kenalan kan?”


Lelaki itu tersenyum dipaksa. Ada ketidaksukaan yang terpancar ketika memandang dirinya. Cokro tidak terlalu peduli.


“Cuma mau antar ini buat Vira,” ucapnya sambil mengulurkan tas merah jambu yang diterima Vira dengan gugup.


Namun, hujan yang turun memaksanya berlari ke arah rumah Vira yang seolah terbuka untuk dirinya. Bersama dengan Vira dan lelaki itu.


‐-----------------------------------


Kosara Dwinanta


Dirinya sama sekali tidak mengira bahwa lelaki yang dikenalnya saat menjemput Vira di Bandara akan datang ke rumah Vira hari ini. Ada yang aneh pikir Kosa. Lelaki itu tampak berbeda. Mungkin karena rambutnya yang terlihat lebih rapi dan tidak lagi ada bulu-bulu di wajahnya.


Ada perasaan tidak suka ketika melihat Vira menerima tas merah jambu dari lelaki yang sepertinya lebih tua beberapa tahun di atasnya. Warna yang menggambarkan kelembutan tapi bukan warna yang disukai Vira.


Dilihatnya wajah Vira yang gugup saat memperkenalkan mereka kembali dan saat menerima tas. Kosa merasa ada sesuatu yang tidak diketahuinya. Sesuatu yang tidak diceritakan Vira kepadanya.


Karena hujan, entah alasan apa yang membuat Kosa berlari kembali masuk ke dalam rumah Vira. Padahal dirinya sudah pamit untuk pulang ke Mama dan Vira. Mungkin karena lelaki itu dan Vira berlari masuk ke arah pintu yang sudah terbuka lebar.


“Tumben Mas, pagi-pagi sudah main ke sini,” sapa Kosa memulai percakapan ketika Vira meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.


“Iya, ada urusan bisnis di Bekasi, sekalian mampir,” jawab Cokro pendek.


“Bisnis apaan Mas?” tanya Kosa.


“Biasa, bisnis kecil-kecilan,” sahut Cokro sambil tersenyum.


Mereka terdiam lama. Seolah waktu berhenti. Detak jam dinding terdengar sangat jelas. Hanya berdua di ruang tamu dengan aura yang saling bertolak belakang. Lelaki di depannya tampak perlente. Berbeda dengannya yang hanya memakai celana katun yang agak kebesaran dan kaos yang masih menguarkan aroma kimiawi khas baju yang baru dibeli di toko. Vira tak kunjung kembali menemui mereka di ruang tamu.


“Sebentar saya ke dalam ya Mas,” ucap Kosa yang kemudian meninggalkan Cokro sendirian di ruang tamu. Cokro memandangnya heran. Matanya mengikuti arah kemana lelaki itu pergi.


Kosa mendapati Vira dengan sikap yang gugup di dapur. Dilihatnya Vira meracik kopi untuk lelaki itu.


“Vir, kamu gak apa-apa?”


Vira menoleh ke arah Kosa. “Abang? Abang ngapain di sini?”


“Tamunya dari tadi ditinggalin, kasihan sendirian!” sahut Kosa pendek.


“Iya Bang, sebentar. Ini kopinya mau Vira antarkan.”

__ADS_1


Kosa membiarkan Vira mengantarkan kopi sendiri dan menemani lelaki itu. Kosa berdiri mematung di dapur dan mulai menganalisis. Vira mengetahui dengan pasti bahwa lelaki yang menunggu di depan itu menyukai kopi hitam pahit.


__ADS_2