
Jam tujuh pagi, Ashok mengantarkan mereka berjalan kaki menuju Kanti Path, jalan utama yang letaknya tidak terlalu jauh dari Thamel Marg. Di jalan raya tersebut, sudah berjejer beberapa bus yang dinaiki oleh para pendaki dengan rute berbeda.
Ashok mengatakan nanti di terminal bus Pokhara, akan ada pihak hotel yang menjemputnya. Diberikan pula kartu nama hotel dengan alamat dan nomor telepon yang tertera jelas dengan tinta hitam.
Vira duduk di dekat kaca deretan kursi paling belakang. Bis berjalan perlahan dan mengambil penumpang di beberapa titik. Melewati sudut-sudut kota Kathmandu yang terlihat kumuh dengan sisa debu bekas gempa dan pembangunan yang belum selesai.
Beberapa kali bis melewati kuil-kuil keagamaan yang cukup besar dan pasar yang ramai. Tampak pula di beberapa tempat, kerumunan laki-laki dan perempuan berpakaian rapi yang sepertinya sedang menunggu jemputan menuju tempat kerjanya.
Perjalanan menuju Pokhara cukup menantang. Dengan jalanan antarkota yang sempit, hanya ada satu lajur untuk masing-masing arah dan didominasi oleh bis dan truk besar, membuat Vira seringkali berdoa memohon keselamatan. Bis yang ditumpanginya pun tipe bis yang digunakan di Indonesia tahun 90-an, mirip juga seperti yang dilihatnya dalam film-film Bollywood.
Bis berhenti dua kali untuk makan yaitu jam sepuluh pagi dan jam satu siang. Makanan di restoran pinggir jalan ini didominasi dengan citarasa bumbu kari dan sayuran. Daging yang disediakan terbatas hanya ayam dan ikan saja.
Selain itu bis berhenti dua kali hanya sebentar di toilet umum pinggir jalan. Jalanan antarkota yang menyusuri sungai besar dan jalur pegunungan ditempuh dengan waktu yang cukup lama. Jam empat sore, mereka tiba di Pokhara, kota yang bersih dan dingin.
Sesampainya di hotel, Bobby mengajak Vira berjalan-jalan menyusuri Danau Phewa yang menjadi ikon kota ini. Mas Dody sibuk menelpon Dita. Mas Une dan Mas Cokro langsung mencari bar untuk minum-minum.
Sepanjang jalan yang disusuri Bobby dan Vira, terlihat beberapa penginapan mewah dan toko-toko yang menjual kain cashmere berjejer di seberang danau. Ingin rasanya Vira memborong kain-kain halus tersebut untuk dibagikan pada keluarganya tapi belum saatnya belanja. Mas Une wanti-wanti nanti akan ada sesi belanja pasca pendakian. Akhirnya Vira hanya mengambil beberapa foto di sudut-sudut menarik kota Pokhara.
Sebenarnya, mereka ingin pergi ke Museum Gunung yang ada di pusat kota yang sudah direncanakan. Tapi sayang, sudah tutup sore ini. Sepertinya baru bisa mereka kunjungi setelah pendakian usai.
Malam hari di Pokhara terasa dinginnya lebih menggigit. Sepertinya lebih dingin dari Bandung. Ditariknya selimut tebal dan dirinya mulai membuka media sosial miliknya. Diunggahnya beberapa foto perjalanan dari Kathmandu menuju Pokhara dan suasana di danau. Foto-foto pemandangan tanpa dirinya. Ditulisnya deskripsi yang cukup singkat. Ingin bersama dirimu di sini.
Sengaja Vira tidak menautkan postingannya ini kepada Kosa. Membiarkannya Kosa menebak siapa yang dimaksud dengan dirimu membuatnya tersenyum.
Dibukanya sedikit gorden jendela kamarnya yang terletak di lantai dua. Vira mengintip dari balik gorden untuk melihat suasana luar. Terlihat lampu-lampu bar di depan hotelnya masih menyala dengan pendaran warna ungu dan putih kekuningan. Tampak Mas Une dan Mas Cokro tertawa-tawa sambil merokok di beranda bar depan dengan dua botol bir merk lokal di depannya.
Terdengar suara pintu diketuk pelan. “Vir, udah tidur?’
“Belum. Sebentar……” Dipakainya kembali jilbab kausnya. Ternyata Bobby.
“Vir, ngobrol yuk!” ajak Bobby.
“Emang Mas Dody kemana?’ tanya Vira.
“Lagi sibuk telponan sama istrinya. Tadinya gue mau tidur tapi gak enak ganggu.”
__ADS_1
“Iya, Dita lagi hamil muda, maunya dengar suara Mas Dody mulu kayaknya.”
“Pantes. Gue ngobrol aja sama elu. Une sama Cokro doyan banget ngebir sama ngudut. Kalo gue gabung bisa mabok gue, gawat itu.”
Bobby langsung masuk merebahkan diri di atas kasur dan membuat Vira menjadi salah tingkah.
“Bi, ngobrol di luar aja yuk!” ajak Vira
Tidak ada jawaban. Bobby juga tampak tidak bergerak dengan mata terpejam.
“Bi…Obi…Bi…..Obi,” panggil Vira berulang-ulang dan tetap tidak ada jawaban.
Tetiba ada suara napas berat yang keluar dari mulut Bobby. Ternyata Bobby tertidur. Vira menjadi serba salah. Terlihat wajah Boby yang lelah membuatnya urung untuk membangunkannya.
Dibukanya pintu kamar lebar-lebar. Vira berharap Mas Une dan Mas Cokro yang kamarnya persis di depan kamarnya akan datang dan dirinya bisa meminta bantuan membangunkan Bobby.
Vira bingung hanya melihat Bobby tidur, menunggunya bangun, dan tidak melakukan apa-apa.
Dengan hati-hati diambilnya ponsel Vira yang terletak di sebelah tubuh Bobby. Ketika dinyalakan ternyata ada banyak notifikasi terutama di aplikasi pesan. Beberapa chat dari grup yang Vira ikuti, dari Natha yang mengingatkan sweater cashmere yang dipesannya dan dari Mama yang mengingatkan jangan lupa sholat dan makan.
Dilihatnya jam analog yang terpasang di dinding kamar hotelnya menunjukkan pukul 10 malam. Berarti di Indonesia bagian barat masih jam sembilan malam kurang 15 menit.
Diketiknya pesan untuk Kosa.
V: [Abang lagi ngapain? Vira kangen]
Tiba-tiba ponsel Vira bergetar dan tertera di layar ponselnya permintaan video call dari Kosa. Vira gugup. Langsung saja Vira berlari keluar kamar menuju ke arah tangga yang letaknya tiga kamar dari kamar Vira. Suara dengkuran Bobby semakin keras. Vira takut Kosa berpikiran macam-macam.
“Abang, Vira kangen,” ucapnya ketika tersambung audio visual dengan Kosa.
Wajah Kosa tersenyum bahagia. “Abang juga kangen Vir? Kamu sehat? Bagaimana Nepal?”
“Sehat bang, Gimana gak sehat, dari kemarin Vira tuh kerjaannya makan melulu. Makanan India terus sampe mabok.”
“Mulai dakinya kapan?” tanya Kosa
__ADS_1
“Besok bang, ngurus administrasinya di Nayapul trus daki sampai ke Ulleri. Katanya sih trek hari pertama gak gitu susah. Doain Vira kuat ya bang!”
“Kamu tidurnya harus cukup. Jam segini koq masih melek?”
“Eeeh, iya bang. Ini tadi mau tidur cuma keingetan abang terus.”
“IIh Vira udah bisa ngegombal,” seloroh Kosa lalu tertawa terbahak-bahak.
Ada hal-hal kecil yang ditanyakan keduanya, hanya sekedar memperpanjang durasi percakapan untuk saling melepas rasa. Saling berbagi kerinduan. Saling mendamba asa.
“Abang kangen sama Vira. Jaga diri baik-baik ya Vir.” Kosa pun mengakhiri percakapan ini.
Vira lalu melongok kamarnya dan tampak Bobby tetap tertidur pulas dengan suara dengkuran yang cukup kencang terdengar. Sudah hampir satu jam Vira membiarkannya sampai akhirnya tak tahan lagi.
Ditelponnya Mas Une yang masih asyik ngobrol dengan Mas Cokro di Bar depan hotel. Tidak ada jawaban. Berulang kali dicoba tapi tetap tidak ada jawaban.
Akhirnya Vira mengetuk kamar Mas Dody.
“Mas …. Mas Dody, ini Vira.”
“Iya sebentar.”
Tampak pintu terbuka dan Mas Dody yang masih mengenakan singlet dan celana bokser pendek. Tangan kanannya masih memegang ponsel dengan layar terpampang wajah Dita, sepupunya.
“Halo Dit, maaf ya Dit, gue butuh bantuan laki lu bentar. Ntar disambung lagi ya Dit! Mas Dody bantuin Vira dong! Itu Bobby ada di kamar Vira lagi tidur pules. Bingung banguninnya.”
“Honey, kayaknya si Vira lagi perlu banget, ntar abang telpon lagi ya hun!” ucap Mas Dody ke Dita dan kemudian memutuskan percakapan mereka.
“Koq bisa sih tidur di kamar kamu Vir?” tanya Mas Dody.
“Iya, tadi ngetok kamar Vira katanya mau ngobrol tapi tiba-tiba tidur gitu,” jawab Vira.
“Tadi sih dia bilang mau ke luar, ngobrol sama Une dan Cokro. Ternyata nih bocah malah ke kamar elu.”
Ternyata membangunkan Bobby tidak semudah yang dibayangkan. Sampai akhirnya Mas Dody terpaksa menyeret Bobby kembali ke kamar mereka.
__ADS_1
“what a night,” batin Vira menghela napas panjang lalu tersenyum.