
^Andalah yang memutuskan
Sungguh Vira tidak bisa memejamkan matanya dengan nyenyak. Memikirkan kelebatan hubungan antara dirinya, Kosa, dan Mas Cokro bisa serumit ini. Tidak pernah mengira bahwa dirinya akan dihadapkan pada situasi yang begitu menyesakkan pikirannya.
Vira yang mencintai gunung, dan baru pertama kalinya menjalin kasih dengan seniornya tanpa disadarinya telah menciptakan jalinan kusut dalam kisah asmaranya. Jalinan yang ia coba untuk uraikan namun terhadang banyaknya simpul-simpul yang tak sengaja ia ikat.
Ini membuatnya sangat tidak nyaman. Perasaannya menjadi begitu melankolis. Untuk dirinya yang tidak terlalu banyak peduli, situasi ini sungguh tidak mengenakkan. Merasa bersalah dengan Kosa, Mas Cokro, bahkan dirinya sendiri.
Ingin rasanya kembali menjadi mahasiswa yang biasa-biasa saja. Yang hanya mengenal gunung dan buku-buku. Ah, cinta memang sesuatu yang merumitkan.
Pagi-pagi, bersamaan dengan Mirna yang berangkat ke kampus untuk OBM, Vira justru menjejaki kembali langkahnya menuju rumah kos ala Betawi yang kemarin disinggahinya.
Entah berapa lama dirinya menunggu di kursi bambu lusuh yang kemarin ia duduki bersama Kosa sampai ada seorang Bapak tua yang menghampiri dirinya.
“Neng, mau ketemu siapa? Pagi-pagi sudah ke sini!”
“Eh Bapak, maaf ganggu. Saya ada perlu sama anak kos sini yang namanya Kosa. Cuma gak tau nomor kamarnya!” ucap Vira agak sungkan.
“Kosa nyang mana yak?” tanya Bapak tua itu dengan logat Betawi sambil memperlihatkan raut wajah yang sedang berpikir.
Vira terlihat bingung bagaimana cara mengidentifikasi ciri-ciri Kosa.
“Itu Pak, laki-laki, rambutnya pendek lurus dan cakep,” tukasnya bingung.
“Semuanya nyang tinggal di sini sih laki, kalo cakep sih emang semana?”
Vira tertawa. Aduuh, semakin bingung menjawabnya.
“Lah, emang kagak ditelpon dulu?” tanya si Bapak.
“Gak bisa dihubungi Pak!” jawab Vira.
“Sini ikut Bapak. Ketokin aja nyok atu-atu pintunya.”
“Tapi saya gak mau ke KUA Pak,” sahut Vira sambil menunjuk papan putih yang tergantung di tembok teras rumah kos ini.
“Kalo Bapak malah demen ke KUA mulu Neng!” ucapnya terkekeh yang membuat Vira tersenyum kecut.
Ada beberapa kamar yang dilewatinya bersama si Bapak tua itu karena penghuninya masih pulang kampung. Kamar nomor 4 yang diketuknya dibuka oleh laki-laki kurus dengan rambut gondrong bertelanjang dada, hanya mengenakan sarung saja. Vira langsung melengos mengalihkan pandangan.
“Bukan yang ini Pak!” sahut Vira sambil mendongak ke atas, menghindari penglihatannya atas lelaki di hadapannya itu.
Sudah tiga pintu kamar terbuka dan selalu muncul lelaki dengan celana bokser pendek dan kaos kutang yang membuat Vira menjadi malu hati. Mengecek kamar kos lelaki hanya karena ketidaktahuannya tentang Kosa.
Sampai akhirnya muncul wajah Kosa dengan rambut berantakan, mata yang mengantuk dan hanya memakai celana bokser pendek. Tampak sedikit bulu di dadanya namun lebat dari paha sampai kaki.
“Abang?” ujar Vira memastikan bahwa yang di hadapannya ini adalah Kosa.
Lelaki itu mengucek matanya sekali lagi. “Vira? Koq ke sini pagi-pagi?” ucap Kosa terkejut mendapati Vira ada di depan pintu kamar kos-nya.
“Neng, Bapak tinggal dulu yak! Pan udah ketemu demenannya,” ucap si Bapak tua ketika memastikan bahwa Vira sudah menemukan lelaki yang dicarinya.
“Eh, iya Pak. Terima kasih banyak!” sahut Vira sambil membungkukkan setengah badan.
“Masuk Vir!” ajak Kosa melihat Vira hanya berdiri mematung di hadapannya.
“Vira gak mau ke KUA,” ucapnya enggan.
“Apaan sih, gak pernah ada kejadian kayak gitu, cuma papan doang. Ayo masuk!” ajak Kosa meraih tangan Vira dan menariknya lembut masuk ke dalam kamar.
Kosa langsung menyambar handuknya dan gayung berisi peralatan mandi. “Abang bersihin badan dulu ya!” ucap Kosa yang disambut dengan anggukan Vira. Kosa keluar kamarnya menuju kamar mandi yang terletak di ujung dekat dapur.
Dilihatnya sekeliling kamar yang tidak terlalu luas ini. Berbeda dari kamar Natha yang bersih, rapi, dan cukup lengkap. Kamar Kosa ternyata tidak demikian. Kasurnya terletak di bawah tanpa alas dipan, ada meja belajar kayu dengan kursi, lemari pakaian ukuran kecil dengan kaca yang tertempel di salah satu pintunya, dan kipas angin yang masih berputar yang tertempel di dinding kamar.
Vira melihat buku-buku di atas meja belajar dan sebagian di lantai dekat kasur. Semuanya buku tentang teori dan politik Indonesia. Bacaan tipikal Kosa. Di bawah meja belajar ada satu tas daur ulang dengan merk mini market yang berisi beberapa bungkus mie instan, kopi instan, air mineral, dan sebungkus kacang kulit. Tampak di belakang pintu menggantung celana jeans biru lusuh dan kemeja kotak-kotak biru muda.
__ADS_1
Vira mengamati kamar Kosa yang cukup rapi dan wangi pengharum ruangan yang tercium mengalahkan wangi kekayuan lapuk dari kusen jendela dan pintunya. Vira lalu mengambil ponsel Kosa yang terletak di atas meja belajar dan memeriksanya. Ternyata mati. Pantas saja dari tadi Vira menghubungi Kosa tidak nyambung.
Vira merapikan tumpukan buku-buku dan seprai kasur yang terlepas di salah satu ujungnya. Vira lalu merebahkan tubuhnya barang sejenak. Menatap plafon yang warna putihnya sudah mulai memudar. Merasakan aroma tubuh Kosa. Bau lelaki yang samar dengan aroma vanilla dan kopi. Dan kini aroma sabun ikut menyeruak takkala Kosa masuk ke kamar dengan rambut yang masih basah.
Vira buru-buru bangun dan membuat Kosa tertawa geli. “Kenapa Vir? Takut Abang terkam ya?”
“Ih, Abang bahasanya parah, jelek ah!” tukas Vira merengut.
“Koq pagi-pagi udah ke sini sih? Dari Bekasi jam berapa?” tanya Kosa sambil menggosok-gosokkan handuk ke kepalanya.
“Vira gak pulang semalam. Nginep di tempat Natha,” jawabnya.
“Koq nginep? Bertiga di kamar kos Natha? Gak kesempitan?” tanya Kosa kembali dengan nada heran.
“Natha pulang sendirian ke Bekasi.”
“Koq gak ikut? Kalian berantem?” tanya Kosa
Vira terdiam. Dimainkannya ujung jilbab warna violet yang dipakainya sejak kemarin. Ada rasa takut untuk menceritakan yang sebenarnya kepada Kosa. Ketakutan yang sama jika harus bertemu lagi dengan Mas Cokro.
“Vira mau cerita ke Abang?” tanya Kosa sekali lagi menghentikan lamunannya.
“Hhmm, itu…. Itu, Mas Cokro kemarin ke rumah. Nungguin Vira pulang,” ujar Vira dengan nada pelan Ada rasa sesak tertahan di dada yang membuatnya sulit untuk menjelaskannya kepada Kosa.
Sepintas Kosa terdiam. Matanya lurus memandang Vira. Ada kilat amarah dalam tatapannya yang membuat Vira takut.
Kosa menarik tangan Vira dengan keras. Mendekapkan tubuh Vira dalam pelukannya. Mendekatkan wajah dan kemudian me-***** bibir perempuannya ini. Penuh hasrat pelampiasan dan begitu kasar. Membuat Vira terkejut.
Vira mencoba melepaskan mulut Kosa yang membungkamnya. Menyuarakan permohonan untuk segera berhenti yang tak terdengar. Tangannya menekan dada Kosa agar menjauhinya. Namun dirinya kalah tenaga. Tak ada kuasa menghentikannya dan hanya bisa membiarkan buliran air mata jatuh di pipinya.
Entah apa yang menghentikan Kosa. Apakah itu air mata atau terhentinya perlawanan dari Vira. Kosa melepaskan ciumannya namun tetap memeluknya. Aura pelampiasannya berubah menjadi kelembutan. Mengelus lembut kepala Vira.
“Abang minta maaf,” ucap Kosa pelan.
“Abang minta maaf, abang khilaf.”
Berulang kali Kosa meminta maaf yang hanya terjawab oleh isakan Vira. Memeluknya sampai tangisan Vira mereda. Berulang kali pula Kosa menghela napasnya. Menyesal betapa telah membuat perempuannya ini menangis begitu lama.
Sampai kemudian Vira menjadi tenang, Kosa menyodorkan air mineral yang kemudian diteguk Vira. Diaturnya napas baik-baik lalu Vira mengambil buku-buku yang terletak di dekat kasur. Dilemparkannya buku-buku itu ke arah Kosa satu per satu. Membuat Kosa kaget dan bergerak menghindar.
“Eh Vir, jangan lempar,” teriak Kosa.
“Biarin. Abang reseh. Nyebelin. Vira benci.”
“Iya..iya, tapi jangan lempar buku. Itu mahal belinya, nanti rusak.”
“Biarin.”
Dihentikannya kedua tangan Vira. Ditatapnya mata Vira lagi dengan penuh kelembutan.
“Abang minta maaf ya! Tapi jangan lempar buku. Itu nyawa Abang kedua. Vira yang pertama.”
“Abang reseh.”
“Sini Abang peluk lagi,” ujar Kosa yang langsung dijawab Vira dengan dorongan untuk menjauh.
“Abang, kita ngomongnya di luar aja. Di kamar ini bahaya, bisa bikin ke KUA beneran.”
Tjokro Adjie Pambudi
Jam sepuluh pagi, keluarga Sasongko sudah tiba di kediaman Ibu dan Bapak di Kelapa Gading. Mereka hanya berempat. Pak Sasongko dan Istri, Lydia, dan adik lelakinya Ganindra.
Ibu menyambutnya gembira. Wajahnya begitu berbinar ketika melihat Lydia memasuki pintu utama rumah mereka.
“Waaah, tamu penting ini. Terima kasih sudah berkunjung padahal tugas negara sudah menunggu,” ucap Bapak yang menyambut hangat Pak Sasongko.
__ADS_1
Cokro tersenyum ketika mendapati Lydia yang menatap dan menyapanya. Perempuan itu memakai sackdress pastel bermotif bunga tanpa lengan dengan kerah rebah. Penampilan yang sempurna.
“Hi Cokro, good to see you again [senang ketemu elu lagi],” sapa Lydia.
Ganindra memberi salam. Wajah adik lelaki Lydia ini tampak begitu teduh dengan sedikit janggut di dagunya. Tidak banyak bicara seperti halnya Cokro pada pertemuan sebelumnya.
Anak kedua keluarga Sasongko juga tidak bisa hadir karena masih di Birmingham, Inggris. Ibu juga meminta maaf karena hanya ada Cokro dan Sambara saja. Mbak Adjeng ikut suaminya dalam perjalanan bisnis ke Singapura.
Dua keluarga saling bicara panjang lebar dan membiarkan Cokro serta Lydia dalam diamnya. Seolah ini adalah kepentingan dua keluarga yang cukup diwakilkan oleh orang tua saja.
“Mereka ini kalau bukan kita yang bergerak, tidak akan maju-maju ini. Padahal keduanya cocok dan saling tertarik,” ucap Bapak yang diikuti oleh renyahan suara tawa lainnya.
“Bagaimana kalau kita tetapkan saja acara pertunangannya dulu. Biar mereka terikat dan bisa mengenal lebih jauh,” ucap Pak Sasongko.
Baik Cokro maaupun Lydia, keduanya menelan saliva meski wajah mereka tersenyum.
“Bulan September bagaimana?” tanya Pak Sasongko.
“Dad, isn’t it too fast [Pa, bukan kah itu terlalu cepat]?” tiba-tiba Lydia bersuara.
“Ganindra, anak saya yang ketiga ini akan wisuda bulan Agustus dan awal Oktober akan langsung bekerja di perusahaan minyak di Riau. Bagusnya memang sebelum Gani berangkat saja,” ucap Ibu Sasongko.
Bapak dan Ibu tersenyum bahagia. Begitu juga dengan keluarga Sasongko. Hanya Cokro dan Lydia yang terdiam dengan sedikit kecemasan yang terpancar di wajah mereka.
“Why didn’t you say anything back then [koq, elu diam aja sih tadi]?” ujar Lydia dengan nada marah ketika mereka kini berdua saja. Yang sengaja ditinggalkan untuk lebih saling mengenal.
“Made me upset [bikin kesel aja]!” sungutnya lagi.
Cokro terdiam. Dirinya tidak sanggup untuk merusak kebahagiaan Bapak dan Ibu di depan keluarga Sasongko. Hanya itu alasannya.
Kosa menemani Vira berjalan kaki menyusuri rumah-rumah kos di daerah Kukusan Teknik dekat dengan rumah kos-nya.
“Kenapa gak ambil di tempat Natha aja Vir? Kan bagus!” tanya Kosa ketika Vira memintanya untuk ikut mencarikan tempat kos.
“Suasanya gak enak, terlalu sepi.”
“Kamu sudah izin Mama? Kalau kamu kos nanti Mama tinggal sendiri?” tanya Kosa.
“Gak apa-apa, ada Mirna. Pokoknya Vira mau kos!” tandasnya.
“Karena lelaki itu? Mas Cokro?” tanya Kosa yang sebenarnya enggan menyebutkan nama lelaki yang membuatnya kesal sejak kemarin.
Vira memandang wajah Kosa lekat-lekat. “Iya, benar Bang. Vira harus jauh-jauh dari dia!”
“Kamu kan bisa bilang saja ke dia supaya gak usah nemuin kamu lagi,” sahut Kosa.
Vira terdiam. Seandainya bisa bicara itu ke Mas Cokro. Vira menyadari bahwa tipe Mas Cokro itu selalu dengan inisiatifnya sendiri, memutuskan sesuatu tanpa meminta pendapat Vira.
“Pokoknya Vira mau kos dan itu harus dekat dengan Abang!”
“Kenapa harus dekat Abang? Kamu mau pengawasan melekat?”
Vira tertawa nyengir. “Iya, biar Abang gak selingkuh dan tebar pesona sama cewek-cewek lain kayak kemarin!”
“Apaan Vir? Kapan Abang selingkuh?”
“Itu kemarin yang kemarin di Café Gerimis, sama tiga cewek sekaligus,” tuding Vira.
“Itu sih maba Vir. Kemarin kenal di kereta pas penelitian di Yogya. Mereka kos-nya deket sini juga.”
“Sama aja!”
“Bilang aja biar bisa Abang cium lagi trus kita langsung ke KUA, bener kan?”
Vira merengut dan memandang sinis ke arah Kosa. “Dasar laki-laki mesum!”
__ADS_1
Kosa tertawa renyah, merasa keadaan yang tadi membuatnya merasa kesal dan bersalah kini normal kembali. Vira sudah kembali seperti yang dirinya kenal.