Romansa Di Makara Jingga

Romansa Di Makara Jingga
Curiosity Killed the Cat


__ADS_3

Kosa menikmati sekali suasana tenang di rumah Vira. Memberikan kenyamanan. Serasa berada di rumah dengan sentuhan seorang ibu yang lama tidak dirasakannya.


Orang tua Kosa sudah bercerai sejak dirinya masih kecil. Kosa dan Mas Andri tinggal di rumah neneknya sampai kemudian nenek kakeknya meninggal. Mas Andri memilih tinggal sendiri di Bekasi dan Kosa tinggal di kost dekat kampus.


Aroma pisang masak dan keju yang dipanggang memenuhi ruangan dan menusuk hidung. Membangkitkan selera Kosa. Tak lama kemudian, Mama Vira datang membawa satu piring dan menyuguhkan empat cup besar muffin yang masih hangat terasa.


“Maaf Tante, jadi ngerepotin, ucap Kosa dengan sungkan.


“Ah, gak apa-apa. Ini bikinnya cuma sebentar jadi koq. Dihabisin ya nak Kosa,” ujar Mama Vira yang kemudian pergi meninggalkan mereka berdua kembali.


Tanpa malu-malu, Kosa mengambil satu cup muffin pisang bertabur keju panggang dan memakannya dengan lahap. Vira menatapnya dengan tersenyum. Mudah sekali Kosa mengakrabkan diri dengan Vira. Padahal tadi seharian Vira dipusingkan oleh Kosa. Masih memikirkan apa yang menarik dari dirinya bagi Kosa. Takut, jika Kosa hanya sekedar mempermainkannya.


Vira sendiri sebenarnya tidak terlalu yakin apakah keputusannya menerima Kosa adalah keputusan yang tepat. Vira memang belum merasa jatuh cinta kepada Kosa, tapi belakangan ini memang hanya Kosa lelaki yang mendominasi pikirannya. Rasa takut untuk bertemu, rasa sungkan, rasa terima kasih, rasa sedih, dan rasa gembira yang hadir dalam dirinya tiga bulan belakangan ini selalu berkaitan dengan Kosa.


“Kak Kosa,” panggil Vira pelan.


“Panggil Abang aja Vir!” balas Kosa.


“Eh, belum terbiasa Kak. Maaf.” Vira tersipu malu.


“Dibiasakan dari sekarang ya!” Kosa menatap Vira lembut.


Seketika Vira menjadi gugup dengan tatapan Kosa. Dilekatkannya jemari kedua tangannya. “Iya, Bang,” jawab Vira pelan dan malu-malu.


Belum sempat Vira bertanya kembali kepada Kosa tentang apa yang dipikirkannya, terdengar suara dari perempuan dari arah luar.


“Assalamualaikum.” Suara pintu depan terbuka dan Vira bergegas berdiri ke arah ruang tamu.


“Sebentar Bang!”


“Vir, itu vespa siapa di depan? Mirip sama punya Papa. Papa beli lagi?” tanya Natha ketika Vira menyambutnya di ruang tamu.


“Bukan, itu..itu….yang punya ada di dalam,” jawab Vira pelan dan malu-malu.


“Siapa?” Natha langsung menuju ruang keluarga.

__ADS_1


“Eh, elu Sa, mau ketemu sama gue? Ngapain ke rumah segala?” Natha terkejut ketika mendapati Kosa di rumahnya dan di ruang keluarga pula sambil menikmati kue dengan lahap.


“Eh, elu Nath. Koq bisa di sini?” Kosa tidak kalah kagetnya


“Ya iyalah, ini kan rumah gue.” Natha balik kaget.


Vira jadi meringis sendiri melihat adegan ini. Tidak menyangka ternyata Kosa dan Natha saling mengenal. Meskipun satu angkatan, Kosa dan Natha berbeda jurusan. Dengan jumlah mahasiswa lebih dari 500 orang per angkatan memang belum tentu bisa kenal semua apalagi beda jurusan.


“Nath, itu…itu..Bang Kosa tamu gue,” ucap Vira setengah berbisik di dekat telinga Natha.


Natha menoleh ke arah Vira dengan mata membulat. “Oh pantes. Waktu itu elu pernah nanya gosip tentang Kosa. Itu elu ya?” ujar Natha dengan nada setengah berbisik.


“Sa, elu pacaran sama adek gue ya?” todong Natha langsung dengan tatapan tajam ke Kosa


“Iya Nath, udah jalan semingguan,” jawab Kosa dengan tenang dan percaya diri.


“Oh, jaga adek gue ya, Sa!” pinta Natha ke Kosa lalu menoleh ke arah Vira.


“Gue ke kamar dulu, Vir. Pegel nih, capek di jalan. Kereta penuh banget tadi,” lanjut Natha.


“Iya, Abang baru tau? Itu kan ada foto Natha sama Vira, bang,” sahut Vira seraya menunjuk ke arah foto keluarga.


“Itu foto berapa tahun lalu Vir, beda banget sama sekarang. Kamu aja gak pakai jilbab di sana,” kilah Kosa.


Vira tertawa.


“Lagian muka kamu sama Natha gak mirip Vir, jadi ya gak kepikiran,” tambah Kosa.


Vira tertawa lagi. “Natha cantik ya, bang?” tanya Vira ke Kosa


“Cantikan kamu, Vir.”


“Abang bohong ah.”


“Bener koq.”

__ADS_1


“Natha bilang kalo Natha lebih cantik dari Vira.”


“Buat Abang, Vira yang paling cantik.”


Vira tertawa tergelak-gelak. Belum pernah dirinya merasa seperti ini, bergombal ria dengan lelaki. Tapi adegan seperti ini familiar dalam cerita-cerita relasi antara lelaki dan perempuan.


Ini membuat Kosa menatapnya keheranan. Biasanya perempuan akan merona malu-malu tapi Vira malah tertawa lebar. Mau tidak mau Kosa jadi ikutan tertawa lebar.


“Bang, hhmm,” panggil Vira pelan. Ada hal penting yang mau Vira tanya ke Abang. Tapi Abang jujur ya ke Vira!”


“Hmm, apaan Vir? Kayaknya serius banget.” Kosa menyorongkan wajahnya dekat ke wajah Vira.


“Iih apaan sih Bang, mukanya jauhan ah!” Vira menggeser posisi badannya ke belakang, menjauh sedikit dari Kosa.


“eeh, sorry Vir. Maaf, tadi suara Vira pelan. Takut gak kedengeran,” dalih Kosa sembari membetulkan posisi duduknya. Jarak mereka berdua sekarang lebih jauh dari sebelumnya.


“Sebentar,” ucap Vira lalu menghela napasnya panjang-panjang lalu diam sesaat. “Kenapa Vira, Bang?”


“Maksudnya?” tanya Kosa dengan wajah sedikit bingung.


“Kenapa Abang minta Vira jadi pacar?”


“Ooooh, kirain apa Vir.” Raut wajah Kosa mengendur menampakkan kelegaan.


“Koq gitu sih Bang jawabnya!” Wajah Vira menjadi serius mengharapkan jawaban lebih dari sekedar itu.


“Kita kan udah pacaran semingguan, ngobrol lama beberapa kali tapi koq baru nanya sekarang? Lagian apa perlu ditanyakan alasannya? Abang jadi bingung jawabnya.”


“Eh, itu Bang, soalnya itu ……………………… hhmm….. Vira gugup sendiri. Vira diam.


“Kalau Abang boleh jujur ke Vira. Sejak Vira presentasi di kelas Mas Syahran, Abang mulai tertarik sama Vira. Lalu penelitian di Bekasi itu dan banyak obrolan kita bikin Abang merasa jadi dekat sama Vira. Abang mau tidur, bangun tidur, di Kampus ingat sama Vira terus. Perasaan itu datang dan semakin lama semakin kuat. Abang gak tau ini apa tapi Abang mau selalu ada dekat Vira,” ucap Kosa pelan dengan tatapan meyakinkan ke arah Vira yang tertunduk.


Vira lalu bangun dari duduknya. Ditinggalkan Kosa menuju dapur. Terdengar suara air mengalir dari keran dispenser dan sesapan air yang diteguk cepat. Ada nada lega yang sayup terdengar di telinga Kosa.


Vira masuk ke ruang keluarga dan duduk kembali di samping Kosa. Kegugupannya menguap dan terganti dengan senyuman yang selalu didamba Kosa.

__ADS_1


Sepertinya Vira sudah mendapatkan jawaban yang diinginkan. Tidak perlu menanyakan Kosa tentang Rossa dan Siska. Tidak perlu menegaskan dirinya yang bukan tipe Kosa. Apapun itu. Kini yang Vira tau bahwa apa yang dirasakannya juga dirasakan Kosa.


__ADS_2