
^Bujukan
Kosa merebahkan dirinya di atas kasur tanpa dipan dalam kamar kost-nya. Pandangannya lurus menatap lampu dengan cahaya kuning yang berpendar. Pandangan yang nyaris kosong karena isi kepalanya berputar-putar mengenai pembicaraan Vira satu jam lalu di Café Gerimis.
“Abang….” ucap Vira lirih.
Kosa langsung mendongakkan kepalanya dan menatap Vira yang sedari tadi diam. Dilihatnya Vira menghela napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya. Entah kenapa Kosa memiliki firasat yang tidak terlalu baik menghadapi Vira saat ini.
“Abang, kita putus saja ya?” ucap Vira dengan nada pelan nyaris tak terdengar.
Kosa menatap Vira dengan wajah yang pasrah. Wajah Vira terlihat menunduk usai mengucapkan kalimat yang membuat Kosa terhenyak sejenak. Kedua tangan Vira sibuk memainkan kuku-kukunya yang pendek dan bersih.
“Kenapa?” tanya Kosa pendek. Hanya satu kata saja yang mampu terucap dari mulutnya. Masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar.
Vira hanya diam, tapi buliran air di matanya menandakan kesedihan. Mulutnya terkatup rapat dan tidak ada satu kata pun yang terucap sebagai sebuah jawaban atas apa yang Kosa tanyakan. Suasana tidak nyaman mulai mendera dan tampak Vira ingin segera pergi. Kosa hanya memandangi keanehan yang tampak dalam gestur perempuannya ini. Entah apa yang terjadi tapi Kosa tidak ingin memperpanjang kesedihan Vira.
“Kalau itu memang yang Vira mau,” Ucapan Kosa terhenti. Sepertinya ada banyak kata yang terdekat dari mulutnya dan tak mampu untuk dikeluarkan.
Buliran air di mata Vira semakin deras turun meski tidak ada suara isak tangis. Ingin rasanya Kosa merengkuh Vira dan mendekapnya seperti sebelumnya. Membiarkan wajah manis Vira tersuruk di dadanya. Membagi kehangatan yang bisa meredakan kesedihan, tapi kali ini tidak bisa. Kosa hanya bisa terdiam dan berulang kali menghela napas panjang, memandang langit-langit ruang Café yang terbuat dari kayu.
Kosa mengantar Vira kembali ke rumah kos-nya dan mereka berjalan pulang dalam diam, suasana yang sama ketika mereka pergi tadi. Tak ada kata-kata yang terucap ketika mereka berpisah, hanya dua raut wajah yang menandakan kesedihan.
Dalam kamarnya Kosa mencoba mencari-cari jawaban atas apa yang telah terjadi barusan. Kesalahan apa yang sudah diperbuatnya kepada Vira. Merunut peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelumya dan menyusun kepingan puzzle dan berharap mendapatkan satu gambaran besar.
Sekelebat bayangan lelaki yang pernah ditemuinya saat menginap di rumah Vira, lalu sosok lelaki lain yang mengantar Vira pulang ke rumah kos, dan lelaki lain lagi yang memboncengi Vira di motor sportnya. Ada tiga lelaki yang Kosa tau belakangan ini hadir dalam hidup Vira selain dirinya meski hanya satu lelaki yang begitu dikhawatirkannya. Vira tidak bercerita banyak tentang mereka sehingga Kosa pun tidak yakin benar dengan dugaannya itu.
Kembali teringat dirinya yang hanya bisa menerima permintaan putus tanpa ada jawaban atas pertanyaan yang Kosa ajukan. Kosa melihat kesedihan yang begitu dalam dari raut wajah Vira yang tersirat. Saat itu yang dipikirkan hanya lah agar Vira bahagia. Jika memang putus darinya bisa membuat Vira lebih baik maka itulah yang harus dilakukan meskipun dirinya tidak menginginkan itu.
----------------------------
Sementara itu, Vira pun menangis tak henti sesampainya di kamar kos. Perasaan bersalahnya begitu mempengaruhi dirinya. Penyesalan luar biasa menyerang dirinya karena keputusannya berpisah dari Kosa.
Sungguh bukan seperti ini yang Vira inginkan dan entah mengapa kata-kata putus itu terlontar dari mulutnya yang bahkan tidak ditentang Kosa sama sekali. Vira pun sama sekali tidak menyangka dengan reaksi datar yang diberikan Kosa. Tidak ada penentangan atau bahkan penolakan. Yang Vira inginkan hanyalah menghilangkan perasaan bersalahnya kepada Kosa atas semua yang terjadi. Kosa terlalu baik untuknya dan pantas mendapatkan yang lebih baik daripada bersama Vira.
Mata Vira begitu sembab dan begitu berat. Namun kepalanya berdenyut tak henti. Susah untuknya untuk terlelap apalagi tubuhnya terasa lengket. Diambilnya handuk dan rintik deras dari pancuran kamar mandi mulai membasahi rambut dan tubuh Vira. Sengaja ia menggosok kulit dengan kuat seperti ingin menghapus noda-noda yang sudah lama berkerak. Mandi ternyata bisa membuatnya lebih segar namun ternyata tidak bisa menghilangkan rasa lapar yang tetiba mendera.
Masih pukul sepuluh malam, Vira bergegas mengenakan jilbab kausnya dan pergi mencari makanan. Mustahil dirinya tidur dalam keadaan lapar seperti ini. Teringat olehnya terakhir makan siang hari di Margocity bersama adiknya Mas Cokro yang kini terlupakan lagi namanya. Bahkan tadi saat bersama Kosa, Vira hanya mencecap sedikit teh hangat yang dipesankan untuknya. Aah, Vira…Vira, bahkan dalam suasana sedih seperti ini sekalipun, perutmu tidak bisa diajak kompromi untuk ikut menderita, batin Vira meringis.
Tampak dari kejauhan warung tenda Cak Wit langganannya masih ramai. Sepertinya makan pecel ayam bisa cukup membuat perutnya nyaman untuk dibawa tidur. Tapi ternyata bukan keputusan yang tepat untuk ke sana karena Vira terlupa bahwa warung tenda itu juga langganan banyak temannya bahkan juga Kosa.
“Vir, hey Vira,” terdengar suara familiar yang memanggilnya saat dirinya hendak memesan dan membuat mata Vira bergerak mencari arah suara itu berasal. Ternyata Danu yang memanggilnya. Danu sedang duduk bersama tiga orang perempuan yang merupakan juniornya dan sampai sekarang Vira lupa namanya dan bahkan juga ada Kosa di sana. Vira hanya tersenyum kecil namun tidak menyapa balik dan tidak juga menghampiri. Terlihat jelas oleh matanya, Kosa sengaja tidak melihat dirinya dan sibuk mengunyah makanannya.
Ada banyak rasa yang bergulat dalam dirinya. Rasa bersalah karena memutuskan hubungan dengan Kosa secara sepihak, rasa heran melihat sepertinya Kosa biasa-biasa saja dan tidak seperti dirinya yang begitu sembab matanya, rasa kesal ketika Kosa masih bisa makan-makan enak dengan Danu dan junior mereka padahal mereka baru putus dua jam lalu. Rasa yang membuat Vira ingin bergegas meninggalkan warung tenda ini. Rasa sesak yang muncul tiba-tiba mengisi relung hatinya.
__ADS_1
Menunggu pesanan pecel ayam terasa begitu lama. Begitu pesanannya jadi, Vira langsung mengayun langkahnya setengah berlari menuju rumah kost-nya. Tak ingin berlama-lama ada di sana. Tak ingin rasa sesaknya makin menyelimuti hati gundah Vira. Namun siapa sangka langkah Vira terhenti ketika ada tangan kekar yang menarik pergelangan lengan kanannya.
“Vir, tunggu,” seru Kosa dengan napas yang sedikit tersengal.
“Abang,” ucap Vira pelan menatap laki-laki yang sesaat tadi membuatnya sesak.
“Vir, sebentar… sebentar. Abang mau bicara sekarang. Kita harus bicara, harus bicara sekarang.” Ucapan Kosa begitu memaksa dan tanpa persetujuan Kosa menarik tangan Vira menuju suatu tempat.
“Abang, mau kemana?” tanya Vira.
Tidak ada jawaban. Dengan satu tangan yang menggenggam plastik berisi pecel ayam dan satu tangan yang digenggam Kosa, Vira menyadari kemana kakinya melangkah.
----------------------------
Kini hanya Vira dan Kosa yang ada dalam kamar berukuran kecil dengan pintu setengah terbuka. Tidak tau apa yang sedang Vira pikirkan yang membuat dirinya mau saja diajak masuk ke kamar kos yang pernah disambanginya dulu.
Kosa mengambil piring melamin dan sendok bersih yang terletak di laci bawah meja belajarnya. Dibukanya bungkusan pecel ayam dan kemudian disodorkan ke arah Vira.
“Makan dulu!” perintah Kosa.
Vira seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, mengikuti apa yang dipinta Kosa. Vira makan perlahan tanpa bicara dengan Kosa yang hanya duduk memandangnya. Kosa menunggunya dengan sabar sampai Vira menghabiskan suapan terakhirnya. Memang ada banyak yang harus dibicarakan antara dirinya dengan Kosa. Bukan hanya sekedar pembicaraan sekilas dalam keadaan sedih dan emosional. Mungkin alasan ini yang membuatnya ada di sini.
“Vir, Abang minta maaf ya? Abang tadi bingung gak tau mau ngomong apa saat Vira minta putus. Abang cuma gak ingin kita putus dengan cara seperti ini. Abang gak tau Vira kenapa dan Abang juga gak tau salah Abang itu apa. Kita bicarakan ini lagi ya? Dengan cara yang baik!” ucap Kosa pelan dengan tatapan langsung ke arah Vira.
“Maksud Vira apa dengan mengatakan kalau putus itu lebih baik buat Abang?” tanya Kosa
Pertanyaan Kosa itu membuat mata Vira berkaca-kaca dan perlahan butiran air mata mengalir di sudut matanya. “Vira itu jahat sama Abang, Vira gak tau mau ngomong bagaimana lagi. Pokoknya Vira tuh ngerasa gak pantes sama Abang!”
“Kenapa koq Vira ngomongnya begitu? Abang gak pernah anggap Vira jahat. Vira mau cerita ke Abang kenapa bisa sampai berpikir seperti itu?”
Vira terdiam seperti orang yang kesulitan mencari kata-kata. Lama tak bersuara namun Kosa sabar menunggu jawaban. Kosa mengelus kepala Vira dengan lembut.
“Kalau memang Vira gak mau cerita, ya gak apa-apa. Tapi Abang gak mau putus dengan Vira. Abang gak bisa. Abang gak bisa pisah dari Vira.”
Tetiba Vira terisak dengan suara samar dan membuat Kosa merengkuh tubuh Vira untuk dekat dengannya. Kosa menciumi kerudung Vira secara lembut. Agak sedikit lembab dengan aroma shampoo yang menguar lembut dan harum. Kosa memperat pelukannya. Meskipun kipas angin berputar dan pintu kamar yang setengah terbuka namun suasana kamar Kosa berubah intens. Suhu tubuh Kosa terasa meningkat. Ingin rasanya Kosa menghujani Vira dengan kasih sayang agar isak tangisnya berhenti. Ingin rasanya Kosa menunjukkan rasa cintanya agar Vira menjadi miliknya.
“Vir, ayo keluar Vir. Jam berapa sekarang? Nanti dikunciin.” Tetiba Kosa bangun dan mengajak Vira untuk keluar dari kamar kost-nya. Digenggamnya tangan Vira dengan erat dan menuntunnya menuju arah keluar rumah kost yang masih dipenuhi dengan anak muda yang sedang asyik bercengkerama.
Dua anak muda ini menyusuri jalan yang menapaki langkah mereka ke rumah kost Vira. Tidak tampak tergesa dan tidak juga sengaja melambatkan kaki.
“Abang, ini bagaimana? Pintunya sudah dikunciin sama bibi. Vira tidur dimana?” ucap Vira kebingungan setibanya sampai di rumah kost tampak pintu pagar tertutup rapat dengan gembok besar yang terkunci.
“Coba telpon bibinya, ini cuma lewat sepuluh menit. Pasti si bibi belum tidur,” ujar Kosa mencoba menenangkan Vira yang terlihat panik.
__ADS_1
“Vira gak bawa ponsel. Ada di kamar. Tadi cuma bawa uang buat beli pecel ayam sama kunci kamar doang! Aduh, ini jadinya bagaimana?” Vira terlihat semakin panik dan bingung.
“Yaudah, ini pakai ponsel Abang aja.” Kosa menyodorkan ponselnya ke arah Vira.
“Vira gak inget nomor si bibi. Abang tau sendiri kalau Vira gak pernah inget sama nomor-nomor.”
Vira memandang pagar rumah kost yang tinggi dengan ujung-ujungnya seperti tombak yang tajam. Tampaknya mustahil pula bagi dirinya atau Kosa memanjat pagar ini. Pun kamar si bibi terletak di bagian belakang. Teriakan suaranya tak akan sampai menembus jarak sejauh itu.
“Jadi, bagaimana? Vira mau diantar ke kost Mirna?” tanya Kosa.
“Hubungi Mirna dulu Bang. Takutnya lagi gak di Depok. Tadi sih Mirna pesan gak jadi nganterin oleh-oleh dari Mama karena dosennya ngebatalin kuliah hari ini.”
Ternyata benar dugaan Vira. Mirna, adiknya sedang berada di Bekasi. Mirna menjawab dengan suara yang pelan dan tidak fokus. Sepertinya terpaksa bangun hanya untuk menjawab telpon.
“Untung Mirna kalau ditelpon cepat diangkat, beda sama kamu Vir,” ucap Kosa.
“Apaan sih Abang, udah situasi kayak gini koq pake nyindir Vira sih. Vira jadinya tidur dimana? Lagian Abang pakai ajak-ajak Vira ke sana segala sih. Kenapa gak ngobrolnya di kost-an Vira saja?” sungut Vira dengan nada sedikit kesal dan manja.
“Vira mau diantar ke Bekasi? Abang bisa koq. Satu jam sampai sana dan Abang balik ke Depok satu jam. Paling lambat jam tiga lah sampai sini lagi,” tawar Kosa.
“Tas, dompet, sama ponsel Vira ada di sini, jadi ribet kalau harus ke Bekasi lagi,” tolak Vira.
“Mau Abang pesanin hotel di sini? Mau di mana? Margo, Savero, atau Santika?” Kosa sekali lagi mencoba menawarkan solusi.
“Pakai KTP siapa masuknya? Abang? Malam-malam gini ke hotel pakai KTP Abang sama Vira yang kucel gini. Iihh, kalau ada yang tau dan viral, malu-maluin aja. Gak mau ah!”
“Jadi Vira mau tidur dimana? Di kamar Abang? Abang sih dari tadi mau aja nemenin Vira. Tapi Abang gak jamin kalau Vira gak Abang apa-apain di sana.”
“Abang ah, yaudah biar Vira tidur di sana sendirian, Abang cari tempat lain buat tidur malam ini. Abang ke tempatnya Danu aja. Kan tadi makan sama Danu. Dekat sini juga bukan tempatnya?”
“Apa nanti kata orang kalau kamu nginep di tempat Abang? Akan sama viralnya kalau tertangkap basah check-in di hotel. Di sini malah akan banyak saksi mata yang melihat dan menyebarkan gossip. Abang sih gak masalah, tapi Vira sendiri bagaimana? Di sini masuk ke kamar cowok sebentar tidak masalah, tapi kalau sudah menginap lain soal.”
“Vira tidur di Masjid dekat sini aja deh kalau begitu,” ucap Vira pasrah.
“Sebentar Vir, Abang telpon Danu dulu ya! Kamu mau nginep di tempat Trisha?”
“Trisha? Yang tadi makan sama Abang? Mahasiswa baru itu?” tanya Vira.
“Iya, gak masalah kan? Vira juga kenal Trisha, waktu itu bukannya pernah kenalan juga?” tanya Kosa balik.
“Gak dekat sih, cuma suka lihat aja Trisha jalan sama Danu. Abang kenapa harus hubungi Danu dulu, kenapa gak langsung hubungi Trisha?”
“Danu lagi pedekate sama Trisha, Abang gak enak kalau hubungi Trisha langsung, takut Danu salah paham,” ucap Kosa.
__ADS_1
Vira mengangguk dan Kosa langsung menghubungi Danu untuk menanyakan Trisha dan maksudnya. Ketika pembicaraan di ponsel selesai, terlihat oleh Vira senyuman Kosa yang menandakan Vira bisa menginap di tempat Trisha.