Romansa Di Makara Jingga

Romansa Di Makara Jingga
Ain't Gold Digger


__ADS_3

^Bukan Perempuan Materialistis


Senin pagi saat bangun tidur, Vira baru menyadari bahwa tugas resensi film Asia Selatan yang ditugaskan Mba Evi, dosennya, sama sekali belum dikerjakan. Pekerjaan magang dan peristiwa yang terjadi kemarin sama sekali membuatnya lupa untuk mengerjakan tugas kuliah. Tidak pernah sekalipun Vira tidak menyerahkan tugas-tugas


kuliahnya. Meski resensi film kali ini hanya memiliki bobot lima persen tapi tetap saja tugas yang harus ia kerjakan. Vira berjanji pada Mamah Papah tidak akan meninggalkan tugas kuliah apapun alasannya.


Vira sengaja berangkat kuliah pagi-pagi, jam enam teng karena kampus menyediakan hotspot gratis. Senin pagi menonton film India dengan suasana hati yang galau memang sesuatu sekali. Untung saja Vira membawa tumbler berisi teh hangat ditambah dengan dua lontong isi dan tempe goreng.


Durasi filmnya cukup panjang, sekitar dua setengah jam. Ada beberapa yang sengaja dilewatkan seperti tari-tarian karena tidak memiliki korelasi dengan indikator dari resensi yang harus dibahas. Baru kali ini Vira hanya membahas film dengan tidak menambahkan banyak analisis dari jurnal-jurnal yang dianjurkan. Yang penting baginya adalah menyelesaikan tugasnya tepat waktu karena e-system yang digunakan untuk pengumpulan tugas akan secara otomatis tertutup pukul sembilan pagi.


Vira baru masuk kelas pukul delapan tiga puluh karena baru selesai mengerjakan resensinya. Kelas Mba Evi termasuk kelas yang cukup banyak peminatnya. Meski tugasnya banyak tapi nilai A minus tidak terlalu susah untuk didapat. Mba Evi tampak tidak terlalu peduli dengan mahasiswa yang datang terlambat, kelasnya juga tidak terlalu banyak aturan. Pokoknya selama tidak ribut dan mengganggu kelasnya, apapun tidak menjadi masalah.


Kelas Mba Evi berakhir tepat pukul setengah sebelas. Dimasukkannya laptop ukuran 10 inchi itu ke dalam tas rajut coklatnya. Seperti biasa dirinya selalu terakhir yang keluar kelas. Lebih nyaman rasanya tidak berdesakan keluar kelas dan mengantri elevator yang jumlahnya hanya dua.


“Hey, Vira, masih inget gue gak?” seru seorang lelaki yang muncul tiba-tiba di depan pintu kelasnya.


“Semalam kita ketemu. Di meja yang sama. Ingat gak?”


“Aah, iya,” ujar Vira pelan. Hatinya merutuk kenapa juga lelaki ini datang segala ke kampus. Kenapa bisa sampai tau Vira kuliah apa. Aneh sekali. Tapi Vira tidak terlalu peduli. Bergegas dirinya menuju elevator, namun lelaki itu mengejarnya.


“Vir, tunggu sebentar. Koq kabur sih?”


“Apaan sih? Kamu mau ketemu siapa? Saya? Memangnya kita janjian?” tanya Vira seraya mendongakkan kepalanya ke arah lelaki itu


“Koq, elu galak banget sih. Gue emang ingin ketemu sama elu.”


“Urusan apa? Perasaan kita gak kenal-kenal amat, ngapain juga ketemu saya?”


“Gue cuma pengen ngomong tentang Kakak gue, Adjie. Elu pasti kenal baik siapa dia.”


“Gue gak kenal cowok yang namanya Adjie. Ada Adjie Massaid, aktor tapi sudah meninggal,” elak Vira yang kini sudah mengubah gaya bicara saking kesalnya.


“Elu kenal koq. Mungkin elu kenalnya dengan nama Cokro dan kemarin di pesta, gue liat elu ngobrol sama Mas Adjie beberapa kali.”


Vira terdiam dan dengan nada ketus menjawab “Gue gak kenal kakak lo.”


Vira tidak sabar menunggu elevator yang tak kunjung kosong, karena hampir seluruh kelas keluar di jam yang sama. Mahasiswa sudah berdesakan antri. Vira lalu setengah berlari menuruni anak tangga satu persatu untuk menuju lantai bawah dan lelaki itu mengejarnya di belakang.


Sesampainya di lantai bawah, lelaki itu mencekal tangan Vira. “Sebentar, please. Sebentar aja. Gue cuma pengen ngomong sebentar sama elu. Gue janji cuma sebentar dan gak bakal ganggu elu lagi.”


Beberapa mata memandang ke arah mereka. Lelaki ini tampaknya seperti senior di kampus dan tangannya yang memegang lengan Vira bisa jadi menimbulkan gossip tak sedap. Vira memang tidak terkenal di kampus tapi mahasiswa lain mungkin mengingatnya sebagai pacar Kosa.


“Lepasin tangan gue dan tolong jangan seenaknya pegang tangan orang, gak sopan!” cetus Vira dengan nada yang sudah begitu kesal.


Lelaki itu kemudian membebaskan Vira dari cekalannya. “Please, sebentar saja ya!”


Vira terdiam. Entah apa yang dibicarakan dengan lelaki ini, Vira sama sekali tidak bisa membayangkannya. Apakah adik lelaki Mas Cokro ini akan mengancamnya atau menjadi pembawa pesan dari kakaknya.


“Tapi gue gak mau bicara di sini,” tegas Vira.


“Terserah lo mau di mana aja, gue ikut. Bawa kendaraan?”


“Gue bisa naik ojek online,” jawab Vira.


“Elu bisa ikut gue kalau mau. Gue bawa motor," ajak lelaki itu yang entah kenapa dianggukkan oleh Vira tanda setuju.


Vira mengikuti langkah lelaki itu menuju parkiran motor yang terletak persis di sebelah Gedung H ini. Menyusuri jalan kecil yang merupakan jalan pintas yang biasa dilewati oleh mahasiswa alih-alih melewati jalan yang sudah disediakan.


Ternyata lelaki itu membawa motor sport dan membuat Vira mengeluh pelan.


“Gue mending naik ojek online aja kayaknya,” sahut Vira.


“Kenapa?”


“Susah naik turunnya deh, bikin ribet aja!” Tetiba Vira membayangkan begitu enaknya naik vespa Kosa. Kursi jok belakang yang luas dan sejajar, tidak menukik ke depan seperti ini.

__ADS_1


“Sebentar aja, gak apa-apa. Nanti pulangnya lo bisa naik taksi. Ada yang penting banget yang harus gue bicarain sama elu. Kita bikin cepat aja supaya elu juga gak merasa terganggu.”


Vira akhirnya setuju. Sepertinya menyelesaikan masalah ini lebih cepat lebih baik. Kalau tidak, akan menumpuk rasa sakit di kepalanya.


Sungguh Vira merasa tidak nyaman naik motor sport dengan lelaki yang baru dikenalnya semalam ini. Meskipun dihalangi oleh tas rajutnya sebagai pembatas tetapi tetap saja Vira terpaksa memeluk lelaki itu agar tidak terjatuh saat motor melaju cepat menembus jalan raya Margonda yang tidak terlalu padat. Vira sedikit ketar-ketir karena dirinya tidak memakai helmet dan takut bila ditilang oleh polisi.


Suasana Margocity tidak terlalu ramai karena belum masuk jam makan siang. Lelaki itu memesankan segelas cold brew untuknya dan cappuccino untuk Vira di kedai kopi yang terletak di dekat pintu masuk mall. Sengaja memilih tempat yang terpencil, di pojokan yang lumayan nyaman untuk tempat bicara.


“Sebenarnya gue lupa nama lo,” ucap Vira jujur ketika lelaki itu membawakan segelas cappuccino dingin untuknya.


“Bagas. Sambara Bagas, elu bisa panggil gue Bara atau Bagas. Terserah elu aja.”


“Koq elu bisa tau kelas gue dimana? Gue gak pernah lihat elu di kampus,”


“Gw anak manajemen, MM-MBA, pascasarjana,” jawabnya yang membuat Vira mengangguk. Salah satu jurusan dengan biaya yang cukup mahal untuk program master.


“Karena elu senior meski beda fakultas, gue gak harus manggil elu kakak kan? Gue males manggil Mas atau saya kamu,” cetus Vira terus terang.


“Santai aja,” jawab Bagas sambil menyeruput cold brew dan kemudian mencecapkan mulutnya.


“Jadi, niat lo nemuin gue buat apa? Mas Cokro yang nyuruh?” tanya Vira langsung.


Bagas tertawa dan membuat Vira mengernyitkan dahinya. “Hahaha, elu itu emang beneran galak ya?”


Vira terdiam dan lebih memilih menyeruput cappucinonya. Rasa minuman yang terkenal enak ini setidaknya cukup ampuh untuk mengendalikan emosinya yang tidak terlalu baik sejak kemarin.


“Elu sudah dikasih apa saja sama Mas Adjie?” tanya Bagas tiba-tiba yang membuat Vira nyaris tersedak.


“Hah, gila lo nanya gitu ke gue. Sembarangan!” Tetiba amarah Vira memuncak mendengar pertanyaan Bagas.


“Biasa aja dan elu gak perlu marah. Gue cuma nanya dan bukan menghakimi elu. Gue cuma ingin ngobrol biasa, take it easy.”


“Sepenting apa sih elu harus urusin masalah Kakak lo itu? Elu gak ngerti arti privacy?”


“Hahaha, sebenarnya ini bukan urusan Kakak gue, tapi ini menyangkut urusan keluarga gue. Gue gak bermaksud nakutin elu, tapi mungkin elu akan terseret masalah yang lebih besar,” ucap Bagas.


“Kemarin malam pas di rumah, Mas Adjie bilang ke Bapak Ibu kalau dia akan memutuskan pertunangan dengan Mba Lydia. Selama ini Kakak gue itu gak pernah sekalipun mutusin pertunangan. Selalu ceweknya yang mutusin karena Mas Adjie gak pedulian orangnya. Mas Adjie itu gak pernah dekat sama cewek manapun setelah Mba Ayu meninggal. Dan ketika Mas Adjie ngobrol sama elu, keluarga gue sudah berasumsi bahwa elu penyebabnya kenapa Mas Adjie mengambil keputusan itu.”


“Koq gue? Sebentar, sebentar. Maksud lo Mas Cokro mau mutusin pertunangan dengan Mba Lydia? Beneran?” tanya Vira mencoba untuk mendapatkan kepastian. Diteguknya cappuccino miliknya untuk mengurangi kegelisahan yang ada.


“Elu senang kalau Kakak gue milih elu daripada Mba Lydia?”


“Hah, pertanyaan bego. Kayaknya udah kebiasaan elu ya kalo ngomong sembarangan.”


Bagas tertawa ngakak. Baru kali ini dirinya disebut bego dan itu oleh mahasiswa sarjana yang belum lulus. Entah, Bagas merasa perempuan di hadapannya ini tidak seperti yang ia kira sebelumnya.


“Gue kasih tau sama elu. Gue ketemu Kakak lo itu di gunung, bukan di Mall, Butik, apalagi tempat dugem. Lo bisa lihat sendiri style gue kayak gimana. Mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki gak ada satu pun yang mewah. Lo tanya Kakak lo ngasih apa ke gue? Banyak. Cincin berlian, baju, kue, bunga, cokelat. Cincinnya main kasih aja ke gue tanpa gue minta. Sudah gue balikin tapi dia minta gue simpan. Tapi catet ya buat elu kalau gak pernah sekalipun gue minta apa-apa ke Kakak lo. Sorry, gue bukan perempuan matre.”


Bagas tersenyum lebar dengan ucapan Vira yang dilontarkan dengan nada ketus. Terlihat seperti perempuan yang sedang mempertahankan harga dirinya.


“Elu ngapain senyum lebar segala? Asal elu tau kalau gue sama Mas Cokro gak ada hubungan apa-apa. Sama sekali. Gue udah punya pacar, in case elu nanya.”


“Hahahaha……. Bagas tertawa lepas dengan wajah menengadah ke atas. Membuat Vira menjadi makin sebal melihatnya. Ingin rasanya Vira menutup mulut lelaki itu agar berhenti tertawa. Toh, suasana kedai kopi ini masih terlihat sepi, belum banyak pengunjung, jika Vira harus bertengkar sekalipun tidak akan ada yang merasa terganggu.


“Sorry…sorry Vir. Gue gak bermaksud bikin elu kesal tapi gue gak bohong kalau pas tadi elu ngomong itu muka lo lucu banget.”


“Sumpah deh, elu itu memang gak sopan banget jadi cowok. Muka gue itu gak lucu.”


“Hahaha, elu yang marah, elu yang ngatain gue bego, dan elu bilang gue yang gak sopan.”


Vira semakin kesal dan dirinya beranjak untuk pergi namun dengan sigap bagas memegang tangannya, menahan dirinya untuk tetap duduk.


“Maaf Vir, maaf. Gue minta maaf. Gue gak akan ngetawain elu lagi. Tapi masih banyak yang ingin gue obrolin sama elu tentang masalah ini. Please, jangan pergi!”


Vira mendengus kesal. Baru kali ini dia bertemu dengan lelaki yang begitu menyebalkan. Ingin rasanya meninggalkan kedai kopi ini meski agak sedikit sayang karena cappuccinonya masih tersisa cukup banyak. Namun dirinya pun ingin menyelesaikan masalah ini secepatnya tanpa harus bertemu dengan Mas Cokro langsung.

__ADS_1


“Vir, gue harap kalau gue tanya apapun itu, elu jangan marah. Gue sama sekali gak bermaksud gak sopan, menghina elu atau bikin lo kesal. Karena ini urusan yang cukup penting buat keluarga gue. Hubungan dua keluarga, bisnis keluarga, perasaan ibu gue. Gue juga gak ingin elu dianggap sebagai penyebabnya. Ibu gue itu sudah tau siapa elu Vir!” terang Bagas.


Vira terdiam. Kepalanya tetiba menjadi sedikit pening. Kenapa urusannya dengan Mas Cokro menjadi rumit seperti ini. Bahkan dirinya bukan kekasih Mas Cokro, kenapa bisa segala adik dan ibunya jadi terlibat urusan ini. Bisnis keluarga? Hubungan keluarga? Ah, membayangkannya itu membuatnya sakit kepala. Diseruputnya cappuccino hingga tandas untuk mengurangi sakitnya.


“Gue lapar. Gue mau makan dulu. Lo mau ikut apa nunggu di sini?” tanya Vira tiba-tiba. Pertanyaan yang membuat Bagas kaget dan heran.


“Elu gak bisa makan kue aja? Nanti gue beliin pastry. Lo bisa ngobrol sambil makan di sini.”


“Gak bisa, gak kenyang gue makan begituan. Kalau elu mau ikut, elu yang bayar. Tapi kalau elu gak mau ikut, tungguin gue di sini. Satu jam lagi gue balik,” sahut Vira.


“Eh, jangan. Gue ikut. Kita makan bareng aja!” seru Bagas yang kemudian mengambil ponsel dan kunci motornya yang tergeletak di meja.


Vira berjalan sebentar menuju restoran yang menyajikan makanan khas Nusantara dan Bagas mengikutinya dari belakang. Letaknya hanya beberapa meter tak jauh dari kedai kopi yang mereka singgahi. Vira langsung duduk di meja yang kosong dan memesan makanan.


“Lo gak nanya gue mau makan apa? Kan gue yang bayar.”


“Lo gak mau bayar juga gak masalah. Gue gak miskin-miskin amat buat bayar makanan gue sendiri,” dengus Vira.


Ingin rasanya Bagas tertawa lagi namun diurungkan niatnya. Ternyata perempuan di hadapannya ini memang aneh. Entah apa yang menyebabkan Mas Adjie sampai tertarik. Sosok yang berbeda dengan Mba Ayu, bekas kakak iparnya itu.


Bagas terperangah ketika menu yang mereka pesan datang. Semakin terperangah ketika melihat Vira yang makan lahap dengan porsi besar.


“Lo kalau makan sebanyak ini ya? Setiap hari kayak gini? Di depan Mas Adjie juga makan sebanyak ini?” tanya Bagas dengan nada tak cukup yakin.


Vira tak menjawab dan tetap fokus pada makanannya. Dirinya memang makan dalam porsi besar apalagi dalam keadaan stress. Beruntung metabolisme tubuhnya bekerja cepat di usianya yang masih muda sehingga makanan yang masuk diubah menjadi energi.


“Gue lihat di pesta kemarin kayaknya elu makan gak sesadis ini deh!”


“Hey weirdo, mind your own business [hei orang aneh, jangan suka ngurusin orang],” tukas Vira.


Sontak Bagas tertawa keras mendengarnya. Tak pernah dirinya mendapati perempuan yang memperlakukannya sekasar ini. Ini yang pertama untuknya.


Vira meregangkan tubuhnya setelah makan. Diselonjorkan kakinya dan kemudian dipejamkan matanya. Aaah, sesaat Vira merasa hidupnya begitu damai, tanpa masalah sampai Bagas mengucapkan sesuatu yang membuat kepalanya kembali berdenyut.


“Gani bilang dia bukan pacar lo. Koq bisa datang ke pesta?”


“Dulu dia pernah ngelamar gue, cuma gue tolak,” sahut Vira sambil memejamkan matanya.


“Hahaha, gue suka gaya elu becanda. Sadisnya keterlaluan,” ucap Bagas santai.


“Whatever [terserah],” sahut Vira tak kalah santai.


“Kenapa lo tolak? Gani pintar, tajir, sopan, alim, idaman semua perempuan.”


“Gue gak kenal Gani dan gue gak cinta.”


“Hahaha, beneran deh, becandaan elu asyik! Pacar lo siapa?”


“Kosa, senior di kampus, setahun di atas gue.”


“Ooh”


“Lo kenal?”


“Siapa dia sampai gue harus kenal?” tanya Bagas balik.


“Ngapain juga lo tanya siapa pacar gue?” balas Vira.


“Lo emang punya bakat jadi preman,” sindir Bagas.


“Terima kasih.”


Vira memejamkan matanya dan menguap. Dengan perut yang kenyang, benang kusut di kepalanya terurai rapi kembali. Hari senin memang tidak terlalu banyak yang datang ke Mall sehingga dirinya tak perlu merasa terburu-buru keluar dari restoran untuk bergantian dengan pelanggan yang lain.


“Vir, ngantuk? Mau cari tempat enak buat tidur? Gue bisa pesan kamar di hotel sebelah kalau elu mau.”

__ADS_1


“Dasar cowok kurang ajar. Sinting!” dumel Vira menanggapi tawaran Bagas.


__ADS_2