Romansa Di Makara Jingga

Romansa Di Makara Jingga
Perpisahan Bobby


__ADS_3

Hanya sekitar tiga puluh lima menit perjalanan dari kantor magangnya menuju tempat pertemuan dengan Bobby. Tidak ada kemacetan yang berarti karena tol dalam kota menuju Ancol memang nyaris selalu lancar. Vira membelikan tiket masuk mobil dan juga supirnya agar diantarkan tepat di depan restoran seafood yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pintu masuk.


Setelah turun, Vira menelpon Bobby yang kemudian menyuruhnya masuk ke dalam restoran. Bobby sudah memesan tempat yang agak menjorok dan langsung berbatasan dengan laut. Vira berjalan melalui tempat seafood segar yang diletakkan di depan, melewati kasir, dan dapur terbuka menuju tempat pertemuan. Dari arah kejauhan terlihat Bobby melambaikan tangan ke arah Vira yang disambut dengan senyuman lebarnya.


Bobby langsung memeluk Vira dengan erat dan membuat Vira risih.


“Iiih apaan sih Bi, sembarangan meluk-meluk orang, lepasin ah,” ujar Vira sambil mendorong dada Bobby dengan kedua tangannya.


“Si Obi mah emang modus mulu kalo ketemu Vira,” celetuk Mas Une yang tiba-tiba ada di belakang Vira.


“Aaah Mas Une, Mas Dody juga ada di sini. Koq bisa?” ujar Vira merasa terkejut.


“Hahaha, si Vira maunya diundang berduaan aja Bi sama elu,” Mas Dody ikut menimpali.


“Iiih bukan gitu, apaan sih Mas Dody,” elak Vira.


“Makanya pesan grup itu dibuka, dibaca, jangan sombong!” sindir Mas Une.


“Iiiih Mas Une gitu deh, riweuh Mas, sibuk semester baru,” elak Vira lagi.


“Bisa aja ngelesnya,” sahut Mas Une sambil menguyel-uyel kepala Vira.


Tiba-tiba Mas Dody melambai ke arah belakang Vira. “Cok, sini Cok! Waah komplet nih semua sudah datang.”


Sekejap, ketika mendengar nama itu, jantung Vira berdegup lebih kencang. Suhu tubuhnya mulai meningkat. Ada rasa panas yang menjalar ke sekujur tubuhnya.


Tanpa menengok ke belakang, Vira memutuskan langsung duduk di kursinya. Lalu melihat dengan senyum ketika Mas Une, Mas Dody, Obi bergantian saling memeluk Mas Cokro dan menepuk pundaknya.


“Vir, sini peluk Mas Coky juga dong!” seru Obi.


“Apaan sih lu Bi, parah lu ah!” sungut Vira.


“Yeee, Coky mah gak gitu Bi, gak bakalan meluk-meluk cewek kayak elu,” sindir Mas Dody sambil tersenyum.


Vira menelan salivanya. Terbayang sekelebat tidak hanya pelukan yang pernah dilakukan Mas Cokro terhadapnya namun lebih dari itu. Vira kemudian tersenyum mengangguk ketika Mas Cokro melemparkan senyum ke arahnya. Sepertinya bulu-bulu di wajah Mas Cokro mulai dibiarkan tumbuh, mengingatkan Vira pada wajahnya saat di Annapurna.


Suasana begitu ramai ketika mereka semua duduk di meja makan. Bobby benar-benar mengadakan pesta perpisahan luar biasa. Semua makanan dan jenis seafood dipesannya. Semua meja penuh terisi. Pas di saat perut Vira memang harus diisi. Teringat ia hanya makan crackers untuk mengganjal perutnya ketika makan siang tadi.


Bobby sengaja memilih tempat duduk di sampingnya, dan di sampingnya lagi ada Mas Dody. Menyisakan Mas Une dan Mas Cokro yang duduk berhadap-hadapan dengan dirinya.


Berulang kali Bobby memberikan isi kerang dan daging kepiting kepada Vira. Ini kembali membuat dirinya menjadi bahan ledekan Mas-mas yang lain. Namun dilihatnya Mas Cokro hanya tersenyum seperti biasa dan nyaris tidak pernah menatap Vira.


Vira berusaha untuk bersikap biasa meskipun perasaan kacau balau melingkupi benaknya. Rasa tidak nyaman ini membuat perut Vira terasa penuh padahal dirinya baru makan sedikit. Bahkan belum menyentuh nasi sedikit pun. Vira bangkit dari duduknya dan izin ke toilet.


“Beneran Vir? Baru segini aja udah ke belakang? Mana Vira yang dulu?” ledek Mas Une yang membuat Vira cengengesan.


“Udah jadi cewek beneran kali, pake diet-dietan segala,” Mas Dody pun menimpali ledekan Mas Une.


“Jangan dimuntahin ya Vir, badan lu udah kerempeng soalnya, gue gak demen,” timpal Bobby.


“Si Obi demen sama yang chubby, Vir.”


Vira langsung ngeloyor pergi ke arah depan. Menghindar secepat mungkin dari ledekan yang tak kunjung berhenti. Sengaja mencari toilet yang letaknya agak jauh. Sepertinya Vira perlu menjauh sejenak, menghirup udara segar. Di toilet justru Vira hanya terdiam. Hanya membasuh wajahnya yang kemudian dikeringkan dengan tisu lembut yang dibawanya.


Vira kemudian melihat wadah-wadah yang berisi seafood hidup dan pegawai yang sibuk menimbang berat seafood yang dipesan pelanggan untuk dapat diolah. Dirinya kemudian menuju arah luar, menatap ke arah pintu gerbang. Sepertinya ingin secepatnya keluar dari sini.

__ADS_1


Vira memandang ke arah dalam ruangan. Dirinya sudah berjanji kepada Bobby akan datang dan menikmati pesta perpisahannya. Mungkin ini pertemuan terakhirnya. Tidak ada yang mengetahui masa mendatang. Vira menghembuskan napasnya panjang dan memutar tubuhnya untuk melangkah masuk. Dilihatnya meja tempat mereka makan masih ramai dengan obrolan yang tidak putusnya.


“Ayo Vir, makan lagi, makan yang banyak, perut lu kan udah kosong,” sahut Mas Dody.


“Makan Vir, apa aja yang elu mau pesen aja!” ujar Bobby.


Vira mengangguk dan tersenyum ceria. Mencoba bersikap biasa saja. Dirinya tidak ingin merusak suasana pesta perpisahan Bobby.


“Kapan elu berangkat Bi? Ke kota apa sih? Ngambil apa?” tanya Vira membuka percakapan sambil mengambil ikan kerapu bakar utuh yang dipadukan dengan nasi putihnya.


“Besok malam gue berangkat naik JAL ke Kansai terus lanjut ke Kyoto. Elu mau nganterin gue Vir?”


“Oh elu ke Kyoto, gue kira ke Tokyo Bi. Kalo ke Tokyo bisa ke Gunung Fuji Bi, sekalian ke Shinjuku dan Akihabara, belanja dan hepi-hepi” ucap Vira.


“Pokoknya kalo elu datang ngunjungin gue, gue ajak jalan-jalan ke sana, cingcay lah, pasti gue bikin hepi!”


“Lumayan nih Bi, kalau elu di Jepang kita bisa ke Gunung Fuji dan bisa hemat biaya penginapan,” sahut Mas Une.


“Jauh Mas, Gunung Fuji mah di Tokyo. Jarak dari Kyoto ke Tokyo kayak Jakarta ke Semarang. Tapi cingcay lah! Gue siap koq Mas kerja keras di sana demi bayarin biaya penginapan kalian,” ujar Bobby sambil terkekeh.


“Sombong, sombong, sombong.” Mas-mas lain saling meledek Obi.


“Belagu loh Bi, kita minta penginapan paling mahal pokoknya.”


“Yang tradisional, yang ada onsen-nya Bi. Gue juga mau ditemenin Geisha,” ujar Mas Dody.


“Iiih Mas Dody genit, Vira laporin Dita nih! Mau jadi Bapak tapi kelakuan mirip kayak Om-om genit sih!”


“Kan cuma ditemenin doang Vir, paling minum teh bareng. Lu berburuk sangka aja sih sama gue.”


“Elu kan juga setipe sama gue Ne, sesama Om-om gak usah ribut.”


Bobby melambai ke arah pegawai yang melintas tak jauh dari mejanya. Meminta tambahan minum dan makanan ringan. Dipesannya kelapa kopyor dan dua porsi tahu goreng isi udang dan sayuran. Bobby juga meminta pegawai itu untuk mengisi ulang teko berisi es teh manis.


Waktu berlalu tak terasa, senja yang memerah di ujung laut sudah menghilang dari tadi. Perut yang kenyang dan pembicaraan yang silih berganti hadir menghabiskan detik demi detik.


“Mas Dody, pulangnya Vira ikut bareng Mas Dody ya!”


“Yah Vir, gue lupa ngasih tau kalau si Dita lagi nunggu di Putri Duyung Cottage. Gue nginep dua hari di sana, balik minggu.”


“Koq gak diajak ke sini sih Mas? Kan enak sekalian makan-makan,” tanya Vira


“Dia lagi pantang makan seafood, takut sama kadar logamnya ngaruh ke janin Vir. Kayaknya lagi asyik males-malesan di kamar,” jelas Mas Dody.


“Mas Une, Vira nebeng ya sampe stasiun terdekat.”


“Gue naik motor Vir, dan gue janji sama Stella gak bakal bonceng siapapun apalagi cewek.”


“Hahaha, Kak Stella kan kenal sama Vira, Mas. Pasti boleh koq!”


“Yaudah gue anter pulang Vir, gampang lah lewat tol langsung bablas,” sahut Bobby.


“Biar gue aja yang antar,” tetiba Mas Cokro bersuara.


“Eh, biar Obi aja Mas yang anter, lewat tol cepat koq,” sergah Vira cepat, menolak halus Mas Cokro.

__ADS_1


“Obi harus siap-siap buat besok, jangan egois,” ucap Mas Cokro tajam.


“Woohooo, tuh Vir, jangan egois sama Obi. Tajem banget sih Cok ngomongnya, pantes Vira kayaknya takut sama elu,” sahut Mas Dody.


“Gak apa-apa koq Mas, seharian ini kosong. Besok berangkatnya juga jam delapan malam. Dari rumah ke Bandara juga cuma lima belas menit. Biar Obi aja yang antar,” sergah Bobby berusaha untuk meyakinkan.


“Eeh gak usah Bi, daripada ribet biar gue naik taksi online kayak tadi aja. Gampang lah!” ujar Vira menengahi.


“Tidak apa, biar Vira gue yang antar,” ujar Mas Cokro bersikeras seperti tidak ingin dibantah.


“Kalo si Coky udah ngomong gini, udah gak bisa dilawan Bi,” sahut Mas Une yang dibalas dengan anggukan Bobby.


Sepertinya sudah ada kesepakatan final bahwa Vira akan diantar pulang oleh Mas Cokro. Vira merutuki mengapa tadi dirinya membuka pembicaraan tentang pulang dengan Mas Dody. Dan kini Vira harus bersama dengan orang yang selama ini mati-matian ia hindari.


--------------------------------


Setelah memastikan Mas Une, Mas Dody, dan Bobby pulang, Mas Cokro mengajak Vira untuk berjalan mengikutinya menuju tempat parkiran di dekat Pantai.


“Mas Cokro, Vira biar pulang sendirian aja. Gak apa-apa koq Mas, Vira sudah biasa!” ucap Vira lalu berhenti dan tidak mengikuti jejak langkah Cokro.


Cokro menyadari dan menghentikan langkahnya. Ia kemudian berjalan mendekati Vira. Tanpa bicara, diambilnya tangan Vira dan dituntunnya menuju tempat parkiran. Dan seperti biasa, Vira tidak memiliki kuasa untuk melepaskan tangan kekar dengan bulu-bulu hitam tipis yang menyelimuti. Vira membiarkannya.


Cokro membukakan pintu untuk Vira. Seketika itu juga kelebatan dirinya yang dulu berada dalam mobil hitam metalik ini melintasi pikirannya. Ada rasa takut yang muncul memenuhi benaknya. Sesaat setelah duduk, Vira memalingkan wajahnya melihat ke jendela ketika Mas Cokro masuk ke dalam mobilnya.


Vira memperhatikan jalan dari sisi kiri jendelanya. Perasaan khawatir semakin menjadi ketika dirinya menyadari bahwa mobil yang dikendarai Cokro justru tidak juga menuju ke arah pintu keluar. Mobilnya berputar dan masuk semakin dalam melewati Pasar Seni.


“Mas, mau kemana? Kenapa gak langsung pulang?” tanya Vira dengan nada cemas.


“Mas mau bicara sebentar,” ujar Cokro pendek dengan tatapan yang lurus ke depan.


“Mas, Vira mau pulang. Mas janji mau antar Vira pulang. Kita bicara di jalan saja.”


Cokro memarkirkan mobilnya tak jauh dari bibir pantai. Ada beberapa pasangan yang tampak asyik mengobrol dan menikmati hembusan angin laut yang sejuk di malam hari.


“Mau keluar?” tanya Mas Cokro.


“Mau pulang!” jawab Vira pendek tanpa melihat Mas Cokro


Cokro memandangi perempuan di sampingnya yang sedari tadi enggan melihatnya. Perlahan Cokro menggapai tangan kanan Vira yang langsung ditepis. Tepisan yang membuatnya diam sesaat. Cokro membuka pintu dan keluar dari mobilnya. Bersandar di mobil dan mengeluarkan rokoknya. Dihisapnya dalam-dalam rokok filter. Asapnya hilang dihembuskan angin malam.


Vira berulang kali mencuri pandang ke arah Cokro yang sudah menghabiskan dua batang filter. Tidak tampak Cokro akan kembali masuk ke dalam mobil. Tatapan Cokro hanya lurus ke pantai dan sesekali ke atas, entah apa yang dipikirkannya. Vira menjadi tidak sabar.


Dibukanya pintu mobil dan perlahan Vira mendekati Cokro. “Mas, sampai kapan kita di sini? Sudah malam Mas. Vira mau pulang,” pinta Vira dengan nada penuh kecemasan.


Terdengar pelan bunyi bip..bip..bip. Cokro mengunci pintu mobilnya lalu melangkah menuju pantai. Ini membuat Vira terkejut. Tas rajut dan ponselnya ada di dalam mobil. Vira bingung, entah harus bagaimana. Tak mungkin dirinya hanya menunggu di depan mobil dengan suasana sunyi. Terpaksa Vira menyusul Cokro yang sudah cukup jauh berjalan di depannya.


Cokro berdiri di atas tumpukan bebatuan. Matanya lurus memandang redup lampu perahu nelayan yang sudah jauh melaut. Vira menatap punggung yang dilapisi jaket denim dengan gusar. Melirik jam digitalnya yang menunjukkan pertambahan angka-angkanya. Sepertinya pemilik jaket denim biru pudar ini tidak memiliki keinginan sedikit pun untuk mengantarkan Vira pulang ke rumah, meski berulang kali Vira memintanya.


Vira berjalan pelan, memantapkan jejak kakinya di bebatuan. Berjalan ke samping Cokro. Lelaki itu menolehnya dan tetiba melepaskan jaket denimnya. Tanpa diduga, Cokro menyampirkan jaket denim itu ke Vira, mengalungkan kedua lengannya untuk membantu memasangkannya. Ini membuat Vira terkejut dan posisinya berdirinya goyah. Sekejap Cokro mendekapnya erat.


“Jangan. Jangan bergerak, nanti jatuh. Ini batu dan bahaya,” ucap Cokro dengan suara parau.


Vira diam, membiarkan Cokro menahan tubuhnya dalam dekapan. Menahannya agar tidak jatuh. Samar aroma kekayuan yang dikenalnya melintasi hidung bangir Vira, bercampur dengan aroma laut. Sungguh terasa oleh Vira ketika dekapan itu kian erat.


“Mas kangen Vira,” bisik Cokro pelan, dengan suara parau yang nyaris tak terdengar.

__ADS_1


__ADS_2