
^Memulai sesuatu yang baru
Semester baru sudah dimulai. Vira sudah mulai menempati kamar kos-nya di Kukusan Teknik, tidak terlalu jauh dari rumah ala Betawi yang ditempati Kosa. Sebenarnya Vira mau saja menempati kamar kos Natha tapi ternyata Mirna masih ingin tinggal di kamar kos Natha dulu di bulan pertamanya kuliah. Tidak mungkin tinggal berdua dalam satu kamar kos.
Vira hanya mengambil tiga mata kuliah saja semester ini. Seminar pilihan masalah, mata kuliah pilihan Politik di Asia Selatan, dan Magang Politik. Meskipun tiga namun slot mata kuliah magang sebesar enam sks dan mengambil porsi waktu Vira paling besar dalam seminggu.
Bu Chandra sebagai fasilitator Magang Politik membagikan daftar institusi dan narahubung yang diperoleh masing-masing mahasiswa semester tujuh ini.
Vira membacanya sekali lagi daftar dari Bu Chandra, ternyata Vira ditempatkan di Komisi 3 DPR di bawah bimbingan anggota dewan Bapak Herman. Vira harus menghubungi staf ahli Pak Herman terlebih dahulu yaitu Pak Faisal di nomor dengan provider kartu yang sama dengannya.
“Vir, dapat di mana?” tanya Melati temannya yang satu jurusan.
“Komisi tiga, Mel. Kalo elu di mana?” tanya Vira balik.
“Komisi satu. Gue mintanya di sini soalnya gue udah kenal sama Mba Deta, staf ahlinya Bu Muthia,” jawab Melati.
“Gue kemarin datanya kosong, gak kenal siapa-siapa soalnya Mel. Satu mahasiswa itu satu anggota dewan ya?”
“Iya, biar fokus kerjanya kata Bu Chandra, tapi katanya ada juga yang disatuin sama mahasiswa dari universitas lain,” jelas Melati.
“Mel, kapan mulai hubungi staf ahlinya?”
“Semakin cepat sih semakin baik. Biar cepat kerjanya. Perjanjian magangnya kan tiga bulan. Kalau gue sih duluan aja biar nilai cepat keluar. Jadi pas akhir semester gue bisa fokus ke makalah seminar pilihan masalah.”
“Iya juga ya Mel. Tapi elu enak udah kenal staf ahlinya, jadi gampang lah. Gue takut ditolak nih!”
“Ya gak bakal lah, kan udah ada MoU-nya. Kalo ditolak biar dukun yang bertindak,” sahut Melati dengan nada bercanda.
“Eh, gimana pashmina yang gue kirim? Koq gak dipake sih?” tanya Vira
“Ya ampun Vir, itu emak gue saban ke pengajian yang dipake itu lagi itu lagi, boro-boro gue yang pake!” tandas Melati yang membuat Vira tertawa.
Ketika Melati menyinggung soal pengajian membuat Vira jadi teringat akan kelompok mengajinya di kampus ini.
“Eh, kapan kita mulai ngaji lagi Mel? Kebanyakan liburan nih, gue udah kebanyakan dosa.”
“Lupa Vir gue ngasih tau elu. Kak Ratih ikut suaminya ke Bandung dan kayaknya nanti ada yang gantiin deh! Itu juga kalau elu mau nerusin. Gue masih nyocokin sama jadual kuliah dan magang dulu deh!”
“Iya, semester ini kayaknya bakal sibuk berat ya Mel apalagi soal magang. Gue takutnya dapat anggota dewan yang ribet dan nyuruh gue ke sana kemari,” keluh Vira tak berdasar.
“Kan ada job description¬-nya Vir, yakali kita anak SMA magang kerjaannya disuruh-suruh begitu. Kemarin sih Kak Kimmy cerita kalau dia kerjaannya bantuin pas masa sidang, analisis naskah akademik buat Undang-Undang apa gitu terus ikut ke dapil pas masa reses. Lumayan Vir bisa jalan-jalan sekalian cari data,” sahut Melati dengan penuh semangat.
__ADS_1
“Vir, kayaknya elu sama sekali blank ya tentang magang politik. Emang gak nanya sama Kosa? Elu masih jadian kan sama dia?” tanya Melati heran mendapati Vira yang masih bingung.
“Hahaha, iya Mel, liburan kemarin gue banyak kerjaan dan gak kepikiran soal magang. Parah ya!”
“Sedikit aneh sih buat gue, kayak bukan elu aja.”
Hari pertama kuliah Seminar Pilihan Masalah oleh Pak Irsyam juga ternyata sangat memudahkan. Mengingat mahasiswa semester tujuh pasti akan disibukkan dengan magang politik maka kelas SPM ini hanya mengharuskan mahasiswa masuk dua kali saja selama satu semester. Satu kali maju saat jadual presentasinya sebelum ujian tengah semester dan satu kali maju untuk presentasi perbaikan proposal sebelum ujian akhir semester. Benar-benar memudahkan.
Kuliah Politik di Asia Selatan juga menarik karena Mba Evi lebih banyak menyajikan isu-isu strategis yang berpihak pada kelompok marjinal seperti kasta dalit dan kelompok perempuan di India.
Vira mendapatkan bocoran dari senior katanya kelas Mba Evi ini banyak menonton film Bollywood sebagai unit kajian analisis isunya dan nilainya sangat mudah. Jika mahasiswa mengerjakan semua komponen perkuliahan maka bisa dipastikan nilai yang diberikan Mba Evi akan mendongkrak indeks prestasi mahasiswa.
Semuanya tidak masalah, kecuali magang politik yang memang membuat hati Vira sedikit ketar-ketir.
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memang menghubungi Pak Faisal terlebih dahulu agar semuanya lebih mudah. Diambilnya ponsel dan kemudian Vira mulai mengetik pesan yang dimaksudkan.
Selamat siang Pak Faisal, perkenalkan saya Elvira Kinanti, peserta program magang dari jurusan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Alhamdulillah saya ditempatkan di Komisi 3 DPR untuk bekerja pada Bapak Herman Sasongko. Mohon arahan dan bimbingan Pak Faisal. Terima kasih dan salam hormat.
Vira membaca kembali pesan yang akan ia kirimkan kepada Pak Faisal. Tampaknya cukup sopan dan singkat sebagai perkenalan awal. Tak ragu kemudian Vira menekan ikon panah yang berarti mengirimkan pesan. Dilihatnya pesan sudah centang dua namun masih berwarna abu-abu.
Lama Vira menunggu tidak ada kabar bahkan sepertinya tidak dibaca juga pesannya oleh Pak Faisal. Ketakutan Vira mulai muncul kembali. Jangan-jangan benar ditolak.
Ditelponnya Melati, sahabatnya. Ternyata Melati sudah mendapatkan jawaban dari Staf Ahli Ibu Muthia di Komisi 1 dan akan bertemu dengan Mba Deta esok hari. Kabar ini justru membuat Vira jadi semakin kalut.
Ditelponnya Kosa yang memang sudah mengambil mata kuliah magang tahun lalu. Vira berharap jawaban Kosa bisa menenangkan dirinya.
Tapi ternyata tidak. Jawaban Kosa sama dengan Melati. Kosa ternyata memiliki jaringan yang bagus dengan alumni yang bekerja sebagai staf ahli di DPR sehingga mudah untuk koordinasi.
Vira merasa menyesal tidak memiliki koneksi yang bagus dengan alumni. Ini karena dirinya yang tidak mudah bergaul selama ini dan cenderung berteman dengan buku saja.
Baru pada jam tujuh malam pesan Vira kepada Pak Faisal centangnya berubah menjadi warna biru. Tanda pesan sudah dibaca. Awalnya membuat Vira bisa bernapas lega namun ternyata tidak ada tanda-tanda Pak Faisal membalasnya. Ini membuat Vira semakin gelisah.
Vira berbaring di atas springbed yang kawat per-nya tidak terlalu bagus. Sedikit terasa di tulangnya. Dilihatnya plafon kamar kosnya yang rendah. Semakin mengukung kesendiriannya di kamar ini. Rasanya ingin teriak namun tersadar bahwa kamar kos yang ditempatinya berdinding tipis dan tembus suara. Bahkan kemarin ketika Vira menyetel musik sedikit kencang saja akan ada bunyi ketukan di dinding sebagai bentuk peringatan.
Bosan hanya di kamar, Vira menghubungi Kosa dan mengajaknya keluar.
“Tumben koq makannya lama?” tanya Kosa saat menemani Vira makan malam di kedai bakmi yang terletak di antara rumah kos mereka berdua.
Dilihatnya porsi bakmi ayam jamur Vira masih cukup banyak tersisa. Sumpit Vira hanya mengambil uraian mie sedikit saja.
__ADS_1
“Masih mikirin soal magang?” tanya Kosa kembali. Vira mengangguk.
“Santai aja, nanti juga dibalas. Gak bakal ditolak koq. Anggota dewan itu justru senang ada mahasiswa magang, banyak dibantu soalnya!”
“Tapi itu pesannya udah dibaca Bang, emang selama apa sih bales pesan? Kan bisa bilang oke akan saya tindak lanjuti. Kayaknya koq sok sibuk banget sih?” gerutu Vira dengan menampakkan wajah antara kesal, sedih, dan gelisah.
“Kamu juga gitu koq. Paling susah ditepon dan bales pesan. Jadi tau kan gimana rasanya sekarang?”
“Ih Abang koq gitu sih, koq jadi Vira sih? Ini kan lagi ngomongin Pak Faisal. Nyebelin deh!” tukas Vira kesal.
Kosa tertawa. “Yasudah habisin sana makannya, mau di sini sampai jam berapa?”
Vira merengut dan kemudian menyantap bakmi ayam jamurnya meski tidak terlalu berselera.
________________________________
Vira bangun terlambat karena semalam dirinya terlalu khawatir menunggu balasan pesan dari Pak Faisal sehingga sulit tidur. Tak disangka pagi ini ternyata kekhawatiran Vira berubah menjadi kepanikan yang luar biasa. Pak Faisal membalas pesannya pagi ini.
Saya sudah mendapat pemberitahuannya dari Setjen. Silakan datang menemui saya di kantor Pak Herman jam 9 pagi ini. Bawa semua dokumen. Tks.
Disambarnya handuk dan Vira langsung mandi dengan cepat. Dipakainya celana hitam katun yang baru dibelinya dan kemeja berwarna biru. Vira memadankan dengan jilbab hitam yang tidak sempat disetrikanya lagi agar licin. Semua dokumen magang dimasukkan ke dalam tas rajut coklat pemberian Kosa.
Ojek online yang dipesannya mengantar cepat ke Stasiun Pondok Cina. Tampak antrian penumpang memenuhi sepanjang peron menuju arah Jakarta. Vira menghela napas panjang.
Dilihatnya lagi jam digitalnya yang sudah menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit. Dari kejauhan sudah terlihat kereta yang akan memasuki Stasiun Pondok Cina dari arah Depok Baru.
Desakan para penumpang di gerbong khusus perempuan ini membuat Vira sedikit berkeringat. Posisinya terjepit di tengah tanpa bisa meraih pegangan apapun yang bisa membuatnya berdiri stabil. Tubuhnya seketika berpindah tempat mengikuti dorongan penumpang lain yang mendesak masuk atau pun yang keluar.
Dengan bergegas, Vira turun di Stasiun Cawang dan kemudian melanjutkan dengan bis kota yang menuju Grogol. Jalanan Jakarta begitu padat merayap. Ditambah dengan pembangunan jembatan flyover di beberapa titik membuat perjalanan Vira menuju Kompleks Parlemen Senayan menjadi semakin panjang.
Kepenatan sepanjang perjalanan diperparah dengan bunyi diperutnya karena tidak sempat sarapan dan bahkan belum meneguk air barang setetes pun. Menyesal Vira tidak menyempatkan diri membeli roti dan air mineral saat di Stasiun tadi.
Jam delapan empat puluh Vira sampai di gerbang depan dan tampak banyak anak muda berpakaian formil juga bergegas masuk ke kompleks yang sama.
Setelah bertanya kepada petugas di lobby depan dan mendapat tanda pengenal untuk izin masuk, Vira melewati ruang rapat utama dan beberapa bilik kantor tertutup untuk sampai ke kantor Pak Herman.
Dengan napas yang masih tersengal, diketuknya pintu kayu mahoni dengan nomor kode dan nama anggota dewan yang terpasang. Ada perempuan yang berumur sekitar empat puluh tahun membukanya.
“Silakan masuk Mba, ada perlu dengan siapa ya?” tanya perempuan itu dengan ramah.
‘Selamat pagi Bu. Saya Elvira Kinanti, mahasiswa magang dari Politik UI, hari ini disuruh datang untuk bertemu Pak Faisal jam sembilan,” ucap Vira menyampaikan maksud kedatangannya.
__ADS_1
“Wah, Mba Elvira terlambat. Pak Faisal baru saja pergi. Katanya mau antar Pak Herman ke Bandara,” sahut perempuan itu lagi.
Vira terdiam terpaku. Dilihatnya jam analog yang terpatri di dinding kantor yang berhawa sejuk ini menunjukkan pukul sembilan kurang lima menit.