Romansa Di Makara Jingga

Romansa Di Makara Jingga
Sebuah Penjelasan


__ADS_3

Sepeninggal Lydia, suasana yang menyelimuti ruang makan privat ini menjadi terasa aneh. Vira hanya menyesap kuah sup tahu pedas dari sendoknya sedikit demi sedikit.


Dan tiba-tiba Gani secara cepat membalikkan daging yang dibakarnya membuat Vira terkejut dengan tindakan spontannya itu.


“Aduuh, ini dagingnya lupa dibalik jadi agak hangus,” ucap Gani dengan nada sedikit menyesal.


Tampak beberapa potong daging dengan warna lebih gelap dipindahkan Gani ke piring kecil kosong.


“Eeeh sini Mas Gani, biar buat saya saja. Sayang ini, dagingnya mahal dan enak,” sahut Vira seraya mengambil piring kecil itu.


“Jangan Vir, tidak bagus makan yang agak hangus seperti ini. Mengandung senyawa yang bisa menyebabkan kanker,” sergah Gani.


“Vira gak peduli sih Mas senyawa penyebab kanker tapi yang Vira tau banyak nyawa yang diselamatkan dengan harga daging ini. Jadi sayang kalau dibuang,” kilah Vira.


Gani tersenyum dan kemudian dengan cekatan mulai membalik-balikkan daging bersamaan dengan jamur shiitake dan irisan bawang Bombay.


“Mas Gani, ini koq dari tadi buat Vira terus dagingnya sih! Jangan gitu Mas, sama-sama aja makannya.”


“Oh, tidak apa-apa koq Vira, kamu makan aja yang banyak!”


“Mas Gani, itu…. Itu. Maaf ya Mas kalau saya nanya ini. Tapi tadi Mba Lydia yang ngajak saya ke sini dan Mba Lydia sekarang sudah pergi. Saya cuma mau mastiin sama Mas Gani kalau mungkin nanti kita bisa bayar bill-nya berdua ya! Maksud saya saya sebenarnya gak pesan daging ini hanya sup tahu pedas dan teh hijau. Yang pesan banyak itu Mba Lydia, jadi mungkin Mas Gani ngerti,” ucap Vira terbata-bata menjelaskannya.


Gani melihat ke arah Vira dan tetiba tertawa lepas. Tak pernah Vira melihatnya seperti itu. Tak pernah terbayang juga lelaki lembut dengan wajah teduh bisa tertawa dengan suara yang terdengar di telinga Vira.


“Mas Gani koq ketawa? Vira serius loh Mas! Bukannya Vira gak mau bayar semuanya, dan bukannya Vira gak punya uang. Tapi, tapi, ya itu Mas, maksudnya kalau bayar berdua kan enak buat kita, kayak waktu makan di Pujasera dulu Mas, kan kita bayar masing-masing,” Vira berusaha menjelaskan.


Gani berhenti tertawa dan tersenyum. “Maaf ya Vir, maaf. Bukan maksudnya mentertawakan Vira tapi Vira tenang saja. Ini sudah dibayar sama Kak Lydia koq!” jelas Gani.


“Beneran? Semuanya sudah dibayar?” tanya Vira berusaha meyakinkan dirinya lagi.


Gani mengangguk dan tersenyum.


“Mas Gani pasti mikir Vira gak punya uang untuk bayar ini ya?” ucap Vira pelan.


“Vira jangan berprasangka, saya tidak pernah mikir kayak gitu.”


“Bukan Mas, bukan itu maksudnya, tapi pasti lah kepikiran begitu. Vira gak pernah nemuin orang yang traktir makanan mahal begitu aja. Eh, pernah sih tapi sedikit orang. Ya gitu deh Mas, Vira ngerasa aneh aja.”


Gani tidak menjawab. Vira melihat Gani tersenyum dengan wajah yang sedikit menunduk, hanya melihat ke arah piringnya dan sesekali membolak-balikkan daging di atas panggangan.


“Mas Gani kata Mba Lydia tadi rapat di sekitar sini ya?” tanya Vira agar suasana lebih cair. Terus terang Gani memang lebih banyak diam.


“Eh, iya, tadi pagi diminta datang, ada rapat persiapan di kantor pusat.”


“Rapat apaan Mas?” tetiba rasa penasaran Vira keluar.


“Oh, itu, persiapan buat ke Riau.”


“Mas Gani ke Riau mau ngapain?” tanya Vira yang tidak bisa berhenti memuaskan rasa ingin taunya.


“Kebetulan dapat panggilan kerja di sana.”


“Eh, bukannya Mas Gani kemarin baru wisuda? Bulan Agustus kemarin kan? Keren ih Mas udah langsung dapet kerja gitu. Pasti pinter banget deh. Tapi kerja koq jauh-jauh banget sih Mas, kenapa gak di sini aja? Orang daerah aja yang kuliah di daerah atau di ibukota pasti pas lulus cari kerjanya di Jakarta. Eh Mas Gani malah ke daerah,” seloroh Vira.


“Vira kalau lulus mau tinggal di daerah?”


“Gak tau juga deh Mas, belum kepikiran mau kerja di mana. Semester depan baru ambil skripsi.”


“Katanya kamu suka naik gunung ya?”


Vira membelalakkan matanya karena kaget. Terkejut mengapa Gani bisa mengetahui hal itu padahal Vira tidak pernah bergabung dengan mahasiswa pencinta alam di kampusnya.

__ADS_1


“Koq Mas Gani bisa tau?” tanya Vira dengan mata yang menatap lurus ke Gani. Vira merasa ini aneh karena menurutnya Gani terlalu banyak tau tentang dirinya.


“Sepertinya di Riau tidak banyak gunung. Eh Vir, boleh tanya sesuatu?” tanya Gani.


“Eh, boleh Mas. Tapi Mas Gani kenapa bisa tau Vira suka naik gunung?”


Gani terdiam sesaat. Menghela napasnya pelan-pelan. Dimatikannya alat panggangan di depan mereka. Hanya tersisa irisan bawang Bombay dan dua iris daging sapi wagyu yang sudah matang.


“Vir, maaf kalau bertanya ini. Tapi apakah kamu benar tidak ingat sama saya? Sama sekali?”


“Eeh maksudnya?”


“Iya, Kamu kayaknya memang sama sekali tidak ingat sama saya ya? Jadi mungkin juga kamu tiba-tiba merasa aneh kenapa kita tiba-tiba bisa ketemu di sini dan kenapa Kak Lydia juga ngajak kamu makan siang?”


“Mas Gani ngomong apa? Maksud Vira, memangnya kita pernah ketemu sebelumnya ya Mas? Eh, Vira itu gak pernah main ke Fakultas Teknik Mas, karena memang gak punya teman juga di sana. Kita ketemuan di mana ya Mas?” wajah Vira mengkerut memikirkan sesuatu yang tak kunjung ada jawabannya.


“Saya suka melihat kamu di selasar Masjid setiap jumat pagi dan kamu suka ke Perpustakaan Pusat.”


“Eeh, maaf Mas. Vira gak tau. Vira gak pernah kenalan sama anak Masjid lainnya atau pengunjung Perpus apalagi dari Fakultas lain. Maaf,” ucap Vira yang masih heran.


Dalam hatinya berpikir ngapain juga dirinya sampai harus tau semua yang hadir di Masjid atau Perpustakaan, itu kan aneh.


“Bukan, bukan itu maksud saya. Tapi saya pernah mencoba melamar kamu beberapa bulan yang lalu.”


Mata Vira membulat karena kaget luar biasa. “Apa Mas? Maksudnya?” ucap Vira tergagap.


“Saya pernah mengirimkan proposal perkenalan ke kamu. Tujuannya memang untuk melamar kamu. Tapi ya kamu menolak dan mengembalikan proposalnya,” ujar Gani pelan.


Vira merasa tenggorokannya tersekat, bukan karena kering. Tangannya langsung mengambil gelas yang berisi teh hijau yang baru diisi ulang. Diminumnya langsung dalam sekejap seperti orang yang kehausan karena berpuasa.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Gani melihat Vira yang memegang lehernya dengan wajah agak pucat.


Vira menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dirinya sama sekali tidak menyangka bahwa Gani akan mengatakan itu. Mengulik kembali hal yang sudah dilupakannya karena tidak pernah menganggapnya sama sekali. Dihelanya napas panjang-panjang sebelum melihat wajah Gani kembali. Wajah yang terlihat bingung dengan apa yang dilihatnya.


“Vira minta maaf ya Mas, Vira sungguh-sungguh minta maaf.”


“Vir, jangan minta maaf. Kamu berhak menolak koq. Tidak ada yang bisa memaksa jika memang tidak berkenan,” ujar Gani mencoba menenangkan Vira yang matanya sudah mulai memerah.


Gani mengusap lehernya. Ingin rasanya memeluk Vira untuk menenangkannya tapi tidak bisa karena Vira bukan istrinya, bukan miliknya. Dibiarkannya sesaat tanpa melakukan apa-apa. Hanya air mata yang keluar tanpa ada suara isakan. Seperti ucapan permohonan maaf yang begitu dalam.


Vira akhirnya bisa menenangkan kembali dirinya. Hembusan napasnya sudah kembali dengan ritma yang beraturan. Sudah ada banyak kata-kata yang berkumpul di kepalanya untuk segera disampaikan kepada Gani. Sebuah penjelasan.


“Mas Gani,” ucap Vira membuka percakapan yang sempat terhenti. Ditatapnya Gani meski lelaki berwajah teduh itu menundukkan kepalanya.


“Vira benar-benar minta maaf. Bukan karena Vira menolak proposal itu, tapi permintaan maaf Vira ini terkait dengan cara Vira menolak ajakan Mas Gani.”


Gani mengangkat kepalanya dan kemudian menatap Vira. “Maksud Vira?”


“Vira langsung menolak proposal Mas Gani tanpa membacanya dulu. Vira bahkan tidak tahu nama Mas Gani. Vira tidak menjelaskan apapun ke Mba Ratih. Vira baru tau Mas Gani pas bertemu di kantor Bapak. Mohon maaf ya Mas. Seharusnya Vira lebih menghargai maksud baik Mas Gani. Seharusnya Vira membaca proposal itu. Seharusnya Vira memberikan alasan yang baik ketika menolaknya agar Mas Gani mengerti.”


Gani tersenyum. Sepertinya Gani memahami apa yang terjadi. Pun Vira menjadi paham mengapa Gani seakan mengenalnya dan mendekatinya.


“Maaf sekali lagi ya Mas!”


“Tidak apa-apa Vir. Yang lalu biarlah berlalu. Jangan dipikirkan lagi.”


“Kamu mau balik ke kantor atau mau langsung pulang?” tanya Gani tiba-tiba. Sepertinya memang sudah terlalu lama mereka berdua di ruangan ini.


Vira melihat jam digitalnya dan ternyata sudah menunjukkan pukul empat sore.


“Ya ampun Mas, Vira belum bilang sama Bu Fatmah pergi selama ini. Kirain tadi cuma sebentar buat makan siang aja. Aduuuh gimana ya? Vira gak tau nomor telpon Bu Fatmah, cuma tau nomor Pak Faisal aja. Bu Fatmah udah pulang belum ya?”

__ADS_1


“Pakai ponsel saya saja Vir,” Gani langsung menyodorkan ponsel miliknya dengan logo buah yang sudah digigit itu ke Vira.


“Jangan Mas, pakai punya saya saja. Minta nomor telpon Bu Fatmah aja Mas!”


Vira mengetikkan nomor Bu Fatmah dan melakukan sambungan melalui telpon. Tidak diangkat sama sekali. Berulang kali tidak diangkat. Vira memandang layar ponselnya dengan raut wajah cemas.


Gani memutuskan untuk juga menelpon Bu Fatmah dan ternyata langsung diangkat.


“Assalamualaikum Bu Fatmah. Ini saya Gani. Lagi di mana Bu?”


“Ooh, iya baik Bu. Jadi tidak perlu ke sana ya Bu?”


“Oh baik Bu. Terima kasih banyak Bu, hati-hati di jalan. Wassalamualaikum.”


Vira menatap Gani dengan wajah was-was. “Bu Fatmah sudah pulang ya Mas?”


“Kak Lydia tadi sudah menelpon Bu Fatmah, sudah bilang kalau kamu sama saya dan mungkin tidak kembali ke kantor. Jadi Bu Fatmah sudah pulang dari jam setengah empat sore tadi.”


Vira sedikit lega tapi ada perasaan takut yang menghampiri. Takut dengan anggapan Bu Fatmah yang menganggap dirinya tidak bekerja dengan baik dan malah main-main dengan anak bos-nya. Tapi kayaknya gak mungkin juga Bu Fatmah melakukan itu, karena sepertinya Bu Fatmah sudah sangat dekat dengan anak-anak Pak Herman.


“Kenapa Vir, koq wajahnya kayak masih takut gitu?”


“Gak apa-apa Mas!”


“Mau pulang ke Bekasi? Sholat ashar dulu yuk!” ajak Gani. Vira mengangguk.


Gani mengajak Vira ke musholla yang terletak di lantai tiga. Sudah banyak pengunjung yang datang untuk segera menunaikan ibadah sholat ashar. Vira segera menuju tempat wudhu khusus perempuan dan sholat di tempat khusus yang disediakan. Terpisah dari laki-laki.


Usai sholat, Vira mendapati Gani yang menunggunya tak jauh dari pintu keluar ruang sholat perempuan. Rambutnya masih agak sedikit basah.


“Ke sini Vir. Kebetulan saya parkir di lantai tiga, jadi dekat!” ajak Gani menunjuk ke arah parkiran.


“Eh Mas, jangan diantar. Saya biar naik bis kota atau kereta aja. Gak apa-apa koq. Nanti saya bisa turun sendiri ke lobby dan naik bis di depan!” elak Vira berusaha menolak ajakan Gani.


“Tidak apa-apa Vir. Kerjaan saya sudah beres tadi, ke Bekasi juga tidak seberapa lama,” keukeuh Gani yang tetap ingin mengantarkan Vira.


“Ih Mas Gani belum pernah ke Bekasi ya? Ampun deh Mas macetnya parah banget. Nanti nyesel deh bakal stres di jalan,” elaknya lagi mencoba memengaruhi agar Gani tidak perlu mengantarnya pulang.


“Tidak apa-apa koq. Sekalian latihan. Sudah lama tidak menyetir jarak jauh.”


Akhirnya Vira tak punya alasan lagi agar Gani tidak mengantarnya pulang. Ingin ke Depok tapi juga malas karena sepi di sana. Lebih baik pulang ke Bekasi saja pikirnya. Bisa bertemu Mama dan Natha.


Gani membukakan pintu mobil sedan seri 5 miliknya yang berwarna abu tua metalik. Vira langsung meringis. Mobil buatan Jerman ini membuatnya enggan untuk melangkah masuk dan merebahkan tubuhnya di kursi berlapis kulit yang terlihat begitu nyaman.


“Kenapa Vir? Koq tidak masuk malah diam?” tanya Gani heran.


“Mobilnya kebagusan Mas Gani, rasanya gimana gitu,” ujar Vira jujur.


“Mobilnya cuma ada ini di rumah Vir. Punya Papa. Maaf ya! Ada mobil MPV cuma dipinjam sama Pak Yadi, supir Papa buat jalan-jalan sama keluarganya. Maklum Papa kan lagi dinas ajak Mama juga. Jadi gak ada siapa-siapa di rumah.”


“Eh gak apa-apa Mas Gani, bukan itu maksudnya, cuma ya gimana gitu naik mobil mewah. Takutnya lama-lama jadi ingin punya kan gawat Mas. Masih kuliah soalnya.”


Gani tertawa renyah. “Kamu itu selalu bisa bikin saya tertawa.”


Perjalanan menuju Bekasi benar-benar sesuai dengan yang diperkirakan. Macet luar biasa. Namun rasa kesal tidak tampak pada diri Vira dan Gani. Vira merasa tidaklah mungkin dirinya merasa kesal ketika berada di dalam mobil senyaman ini. Begitu pula Gani yang merasa senang bisa mengantarkan Vira pulang meski jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam.


“Belok kanan Mas, masuk ke gerbang perumahan,” ucap Vira mengarahkan Gani menuju rumahnya.


“Nanti lurus sampai blok keempat baru belok kanan ya Mas,” sambungnya.


Ketika mobil Gani mulai belok ke arah yang tadi disebutkan, wajah Vira berubah pucat. Tampak mobil sedan metalik hitam dengan logo empat cincin saling menyambung yang ia kenal dengan amat baik terparkir di depan rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2