Romansa Di Makara Jingga

Romansa Di Makara Jingga
Di Ujung Perjalanan Part 2


__ADS_3

Bis dari Pokhara menuju Kathmandu berangkat jam delapan pagi. Bis akan melewati jalur yang sama.


Jalan raya antar kota yang hanya muat satu mobil di setiap arahnya. Bersisian dengan sungai besar berwarna coklat dan berarus tenang. Pembatas jalannya hanya berupa besi kecil yang membuat Vira takut.


Selama perjalanan sudah tiga kali Vira melihat truk yang terperosok ke sisian sungai dan membuatnya bergidik ngeri.


“Udah ke Himalaya masih ngeri liat begituan?” tanya Bobby yang duduk di samping Vira.


“Yee, ngeri mah ngeri aja kali Bi, gak ada hubungannya sama Himalaya,” kilah Vira.


Bis berhenti makan dua kali, jam sepuluh dan jam satu siang. Sama persis turunnya di rumah makan yang mereka singgahi ketika perjalanan menuju Pokhara lalu. Seperti mengulang hari. Hanya saja Vira duduk berdua dengan Bobby kali ini.


Mereka sampai di Kathmandu pukul lima sore. Namun supir bis tidak menurunkan mereka di Kanti Path, jalan raya yang dekat dengan Thamel Marg. Mereka diturunkan di pusat kota. Suasana terlihat kacau karena macet. Mobil-mobil berhenti seenaknya mengambil penumpang karena ternyata bertepatan dengan jam pulang kerja. Sandeep mengatakan bahwa ini sudah biasa di Kathmandu.


Sandeep memesankan taksi online yang datang setelah setengah jam menunggu. Jaraknya tidak terlalu jauh namun taksi berjalan lambat tersendat. Taksi menepi di jalan Thamel Marg dan memaksa mereka berjalan kaki menuju motelnya Ashok.


Ada tiga kunci kamar yang diberikan Sandeep. Vira bersyukur mendapatkan kamar queen bed dengan air conditioner. Dirinya membayangkan begitu nyaman tidurnya malam ini.


“Vir, kalo si Obi ngetok pintu kamar lu, jangan pernah dibuka ya!” goda Mas Dody.


“Hahaha, gak bakal Mas, jangan harap Obi bisa masuk kamar Vira.”


 


Ini malam terakhir di Kathmandu karena penerbangan mereka menuju Suvarnabhumi esok hari jam setengah dua siang.


Sandeep izin untuk kembali ke rumahnya karena harus istirahat. Sandeep menolak ketika diajak makan malam bersama sebagai tanda perpisahan. Sandeep yakin bahwa mereka akan kembali ke Nepal dan bertemu dengan dirinya lagi.


Setelah mengurus pengembalian thermal sleeping bag dan down jacket, Mas Une mengajak Vira ikut bersamanya.


“Vir, bentaran ikut gue ya. Stella minta dibeliin sandal gunung merk lokal sini.”


“Kenapa mesti ngajak Vira Mas?” tanyanya keheranan


“Stella ribet dia kalo nitip, minta saran elu, kan sama-sama cewek.”


“Ukuran kaki Mb Stella berapa Mas?”


“Kaki Stella gede, 40. Gue cuma minta saran pilihin warnanya aja Vir.”


Akhirnya bukan hanya Vira, tapi semuanya ikut bersama Mas Une.


Ternyata bukan hanya pilihan warna saja tetapi juga model yang tersedia membuat mereka berada lama di toko sepatu dan membuat Bobby mengeluh lapar.


Vira baru tersadar juga bahwa dirinya lupa membeli cashmere untuk Natha dan Mama. Sedangkan gantungan kunci untuk Mirna sudah dibelinya sejak hari pertama di Kathmandu.


Vira tidak terlalu lama memilih sweater cashmere warna pastel untuk Natha dan pashmina cashmere berwarna biru untuk Mama.


Bahkan Vira juga membeli pashmina juga untuk Melati sahabatnya dan Mb Ratih guru ngajinya. Pengajian rutinnya memang terhenti sejak liburan dan baru akan dimulai lagi ketika semester baru tiba.

__ADS_1


Akhirnya makan malam baru di mulai jam sepuluh malam. Jalan di Thamel meskipun sudah malam namun masih ramai. Justru pagi-pagi terasa sepi karena toko-toko baru buka di atas jam 10 pagi. Dipastikan mereka tidak bisa belanja esok karena Ashok akan mengantarkan mereka ke Bandara Tribhuvan jam sebelas siang.


 


Karena perbedaan waktu, mereka sampai di Bangkok jam setengah tujuh malam. Transit yang terlalu lama nyaris 14 jam membuat mereka kembali menginap di hotel seputaran Bang Kapi, dekat Suvarnabhumi.


Mereka terlebih dahulu mencetak boarding pass secara otomatis agar terhindar dari pajak masuk Bandara keesokan harinya. Mas Une pernah cerita pengalamannya transit dan keluar Bandara tanpa memilik boarding pass yang menyebabkan dirinya harus membayar pajak sebesar 700 baht.


Maskapai penerbangan gajah putih ini terbang dari Suvarnabhumi menuju Jakarta jam delapan pagi. Perkiraan tiba sekitar jam setengah dua belas siang.


Yang mengejutkan ternyata Mas Cokro dan Bobby tidak kembali ke Surabaya. Mereka justru ke Jakarta, menggunakan maskapai yang sama dengan Vira.


“Koq bisa sih Bi ke Jakarta?” tanya Vira


“Ya bisa lah, rumah gue kan di Jakarta!”


“Bukan di Surabaya?”


“Rumah gue juga sih, cuma gue tempatin pas kuliah aja.”


“Ortu lu dimana Bi?”


“Jakarta semuanya.”


“Pantes ya Bi, logat lu gaul juga. Gak mirip sama Mas Cokro.”


“Trus Mas Cokro sendiri mo ngapain?”


“Iiih gitu amat si lu Bi, kan gue nanya sama elu.”


“Iih Vir, tumben elu kepo amat urusannya Mas Coky.”


“Au ah,”


Sepanjang perjalanan, Vira teringat kenangan sebelum Ashok mengantarkan mereka ke Bandara Tribhuvan, ada upacara penghormatan untuk para pendaki dan mendoakan agar kembali lagi ke Nepal. Upacara penghormatan sekaligus pelepasan dengan menggunakan ritual Hindu khas Nepal


Ashok memberikan scarf berwarna kuning marigold yang bertuliskan huruf Sanskrit untuk semuanya dan mas-mas pendaki diberikan peci penutup kepala dengan motif tenun khas Nepal berwarna merah muda campur abu-abu.


Mengenang masa-masa pendakian yang baru saja berlalu membuat ada sedikit perasaan asing dan juga kerinduan yang melingkupi perasaan Vira dan mas-mas pendaki.


“Kangen pengen daki lagi ya Vir?” tanya Mas Une yang mendapat kursi di sebelah Vira.


“Hahaha, iya Mas. Ketauan banget ya. Nih kaki gak bisa diem Mas. Daritadi pengen jalan aja bawaannya.”


“Elu nabung dulu aja yang banyak. Ntar gue ajak ke gunung yang asyik lagi.”


Pembicaraan mereka terusik oleh pramugari yang datang menawarkan mereka minuman. Vira meminta segelas jus apel dan Mas Une meminta vodka orange.


“Gak apa-apa Mas minum alkohol pagi-pagi?” tanya Vira.

__ADS_1


“Biasa ini Vir.”


“Gak mabok?”


“Justru bikin seger Vir.”


“Koq bisa seger sih Mas?”


“Hahaha, jangan samain gue sama elu Vir. Buset dah, elu minum seuprit aja langsung mabok parah.”


Mas Une tertawa geli membayangkan kejadian Vira mabuk yang direkam. Vira sendiri tertawa nyengir lalu menyesap jus apelnya perlahan.


 


Setelah mengurus administrasi kepulangan di Imigrasi, mereka menuju ke baggage claim area dekat pintu keluar 2D. Semua terlihat sibuk dengan dengan gadget-nya masing-masing dan sesekali melihat ke baggage conveyor untuk memeriksa bagasi. Sudah 10 menit menunggu namun belum satu pun ada bagasi yang keluar dari sana.


Vira mengecek kembali pesan chat dari Kosa yang sudah mengabarkan dirinya tengah menunggu di pintu kedatangan sejak setengah jam yang lalu.


“Mas Dody ikut sama Vira aja ya Mas. Bang Kosa jemput di luar.”


“Oke. Eh Ne, lu mau ikut gak? Ntar suruh lakinya Vira nurunin elu di stasiun Tanjung Barat. Biar sekalian,” tawar Mas Dody.


“Mas Cokro sama Bobby ikutan juga?” tanya Vira.


“Gue ke arah Ancol Vir, bareng sama Mas Coky.”


“Oh, oke,” sahut Vira pendek lalu melirik ke arah conveyor, ban berjalan yang mulai mengeluarkan bagasi penumpang satu per satu.


Mereka keluar bersamaan di pintu 2D. Di sana tampak Kosa yang terlihat begitu tampan dengan kacamata hitamnya. Membuat senyum Vira begitu mengembang dan berjalan cepat menghampirinya.


“Abaaaaang.”


Kosa menghampiri dan kemudian hanya menepuk pundak Vira karena tampak ragu ingin memeluknya. Bersama Vira ada empat lelaki dengan ransel tinggi yang juga menatap ke arahnya.


“Mas Une, Mas Dody,” ucap Kosa sambil menganggukkan kepala.


“Sa, ini kenalin tim dari Surabaya. Yang brewokan si Cokro dan yang kayak boyband Kepop si Obi, ujar Mas Une mengenalkan dan disambut uluran tangan Kosa.


Mas Cokro dan Bobby tersenyum dan menyambut uluran tangan Kosa. Tidak ada yang terjadi seperti yang ditakutkan Vira sesaat.


“Nanti kapan-kapan ikut Mas,” ucap Bobby yang disambut dengan senyuman Kosa.


“Bang, ntar Mas Dody sama Mas Une bareng di mobil ya!”


“Oke. Mau makan dulu gak?” tanya Kosa sambil menunjuk rumah makan yang terdekat.


“Pulang aja Sa, si Dita dari kemarin nyuruh pulang cepet. Makannya di rumah aja Vir. Si Une juga ditanyain mulu sama anaknya,” jawab Mas Dody mewakili Vira.


“Oke Mas.”

__ADS_1


Mereka berpisah. Mas Cokro dan Bobby kemudian menaiki mobil sedan mewah berwarna hitam metalik sedangkan Kosa berjalan di depan Vira dan Mas Une serta Mas Dody menuju tempat parkir.


__ADS_2