
^Menyelesaikan masalah agar tidak bertambah buruk nantinya
Vira tak tau harus memakai baju apa. Nyaris semua baju dicobanya dan tak ada yang sesuai. Vira bingung Mas Cokro akan mengajaknya kemana. Dirinya hanya tak ingin salah kostum. Kalau bersama Kosa, Vira dengan mudahnya memakai baju kasual ala mahasiswa. Tapi sepertinya untuk Mas Cokro yang terlihat dewasa tidak bisa demikian.
Vira teringat dua hari lalu saat Mas Cokro datang ke rumahnya. Meski memakai jeans hitam dan kaos putih polos tapi terlihat semi formal dan dewasa karena dipadankan dengan jas kasualnya. Belum pernah Vira melihatnya sekeren itu karena selama di Nepal outfit yang dipakai para pendaki itu nyaris semuanya sama saja.
“Iiih apaan sih, koq jadi mikirin pakaiannya Mas Cokro sih,” rutuk Vira sebal.
Vira menuju kamar Mirna, adik perempuan satu-satunya yang semalam baru pulang dari Bali.
“Mir, pinjem baju dong!”
“Emang Kakak mau kemana? Jalan sama Kak Kosa?” tanya Mirna.
“Bukan. Punya baju yang cakepan gak? Yang semi formil gitu deh!”
“Emangnya Mirna mbak-mbak pake semi formil. Tuh adanya kemeja OSIS, mau pinjem gak?”
“Ish, koq isinya kaos semua sih Mir?” ujar Vira ketika melihat isi lemari Mirna.
“Pinjem sama Kak Natha aja, bajunya dia cakep-cakep semua.”
Tapi Natha belum pulang dari penelitiannya di rumah singgah dan Vira enggan masuk ke kamarnya atau memeriksa isi lemarinya. Ia menghormati privasi Natha.
Dilihatnya kembali jejeran baju yang tergantung di lemarinya. Hanya ada kardigan dan tunik yang sering dipakainya untuk kuliah. Vira lalu mengambil celana jeans bootcut warna hitam yang panjangnya semata kaki dan kemudian matanya tertumbuk pada bungkusan plastik bening. Pullover Cashmere, hadiah dari Mas Cokro.
Padu padan celana jeans hitam, pullover abu-abu muda, dan jilbab putih menghasilkan gradasi warna monokrom klasik yang elegan. Vira tersenyum melihat dirinya di cermin. Dilihatnya kembali wajahnya yang sudah diberi sedikit sentuhan make-up. Membuat wajahnya lebih cerah.
Tiba-tiba Mirna membuka pintu dan masuk begitu saja. Terengah-engah seperti habis berlari.
“Kak Vira, itu ada yang nyariin di depan. Cowok. Ganteng banget kayak pemain film,” ucap Mirna.
“Bilang tunggu sebentar Mir!” sahut Vira.
“Ih apaan sih, bilang sendiri aja,” sungut Mirna menampakkan wajah sedikit kesal.
“Kak Vira selingkuh ya? Udah putus sama Kak Kosa? Koq jalannya sama cowok lain sih? Emangnya Kak Kosa gak marah?” tanya Mirna bertubi-tubi sambil menatap aneh ke Vira.
“Apaan sih, orang cuma temenan doang!”
Vira melangkah turun menuju ruang tamu. Tampak di sana Mama sedang menemani Mas Cokro duduk dan mengobrol ringan.
Vira tersenyum ke arah Mas Cokro yang menatapnya.
“Maaf lama menunggu ya Mas!”
“Baru sebentar koq Vir. Ini baru juga ngobrol sama mama!”
“Langsung aja yuk Mas!” ajak Vira.
__ADS_1
“Ma, izin ajak Vira keluar dulu ya!” ucap mas Cokro pamit dengan setengah membungkuk yang disambut dengan anggukan Mama.
"Hati-hati di jalan!"
Mama memperhatikan Vira yang berjalan menuju mobil sedan hitam metalik. Pria yang bernama Cokro itu membukakan pintu mobilnya untuk Vira.
“Kamu cantik pakai baju itu!” ucap Mas Cokro sambil menyetir dengan tatapan lurus ke depan.
Vira diam saja. Tidak menjawab dan tidak juga tersenyum meski Vira menyadari bahwa dirinya memang merasa cantik dengan pullover ini.
Mas Cokro melajukan mobilnya ke arah tol dalam kota dan keluar Semanggi lalu menuju ke Bundaran Hotel Indonesia. Ternyata mereka menuju salah satu mal besar yang terletak di sana.
“Mas, gak kejauhan?” tanya Vira
“Tempatnya enak. Suka Japanese food?”
“Suka,” jawab Vira.
Mas Cokro mengajak Vira berjalan menuju lantai dua. Tampak ada sedikit antrian di restoran sushi yang mereka tuju.
“Tidak apa-apa ya tunggu sebentar. It’s worth to wait [tidak akan rugi]!”
Mas Cokro memesan banyak. Vira terkesima bukan hanya dengan desain interiornya yang indah. Langit-langit dengan hiasan putih dan tanaman bonsai khas Jepang yang tertata cantik di sudut yang tepat. Tampilan makanan yang disuguhkan juga begitu artistik membangkitkan selera makan.
Menu ultimate sashimi yang diletakkan di rak kayu berundak memberikan kesan yang menarik. Mas Cokro juga memesankan kaisen salad, salmon avocado roll dan chawan mushi special dengan topping telur ikan salmon dan daging kepiting. Pesanan Vira hanya minuman es teh yuzu yang memilki citarasa jeruk khas Jepang. Mas Cokro sendiri lebih memilih ocha hangat. Meja mereka kini penuh terisi.
“Kamu kan makannya banyak,” seloroh Mas Cokro yang membuat Vira tertawa.
Mereka makan perlahan. Menikmati setiap sajian yang tersedia.
“Kemarin bagaimana?” tanya Mas Cokro sambil menyesap teh hijaunya.
“Apanya yang bagaimana Mas?” Vira balik bertanya
“Pacar kamu,” jawab Mas Cokro pendek.
“Ya begitulah.” Vira sepertinya enggan menceritakan lebih jauh lagi tentang ini. Bahkan sampai sekarang, sejak pertemuan di rumah Vira, Kosa belum lagi menghubunginya.
“Kenapa cincinnya tidak dipakai? Tidak pas di jari?”
Vira tetiba langsung menghentikan makannya lalu mengambil tasnya dan mengeluarkan kotak hitam yang terbuat dari kain satin. Disodorkannya kotak itu ke arah Mas Cokro.
“Maaf Mas, Vira gak bisa terima ini.”
“Kenapa tidak bisa? Kamu pakai baju yang Mas kasih. Kenapa cincin tidak?”
“Kesannya tidak baik Mas. Kita kan cuma teman. Tidak ada teman yang dikasih cincin semahal itu.”
__ADS_1
“Itu bukan cincin lamaran atau pernikahan. Kenapa harus sungkan?”
Mas Cokro membuka kotak satin hitam itu dan mengeluarkan cincin dengan motif sehelai daun dan satu butir berlian. Diraihnya tangan kiri Vira dan kemudian Mas Cokro menyematkan cincin itu di jari manis Vira.
“Jangan dikembalikan. Ini cantik di jari kamu.”
Vira terdiam.
“Kenapa? Kamu takut sama pacar kamu?” tanya Mas Cokro pelan.
“Gak takut, Vira cuma menghargai perasaannya.”
“Kalau dia sayang sama kamu, dia tidak akan mengekang kamu apalagi membuat kamu takut.”
“Abang gak pernah bikin takut. Vira yang takut Mas!”
“Kamu takut jatuh cinta sama Mas?” tanya Mas Cokro pelan dan menatap Vira dengan tajam. Membuat Vira terdiam.
“Mas Cokro kapan kembali ke Surabaya?” tanya Vira mengalihkan pembicaraan.
“Kenapa tidak dijawab?” tanya Mas Cokro sedikit menuntut.
“Mas Cokro akan kembali ke Surabaya. Vira juga masih kuliah di sini. Kita itu gak akan ketemu lagi Mas. Jadi gak perlu dipersulit karena memang gak ada hubungan apa-apa,” ucap Vira menegaskan.
Mas Cokro terdiam. Mungkin benar apa yang dikatakan Vira bahwa seiring waktu rasa yang pernah ditimbulkan Vira pada dirinya akan berangsur menghilang. Kesibukannya di Surabaya, urusannya dengan keluarga Sasongko, dan juga ketidakhadiran Vira akan mengikis sedikit rasa yang mulai ada sampai hilang tak berbekas.
Mereka berdua melanjutkan makan dalam diam. Vira bersikeras untuk menghabiskan makanannya meski selera makan sudah menurun. Hanya karena Vira tak terbiasa membuang makanan yang ada.
“Besok Mas kembali ke Surabaya, pesawatnya jam enam pagi,” ucap Mas Cokro memberitahu saat mereka di mobil. Masih di tempat parkir lantai basement.
“Semoga lancar perjalanannya Mas!”
“Vir.”
“Iya Mas?”
“Apakah Mas sekali lagi boleh mencium Vira? Hanya untuk memastikan perasaan Mas ke Vira.”
“Sebaiknya jangan Mas,” tolak Vira halus.
“Hanya sekali ini, dan Mas janji setelahnya kita akan berpisah baik-baik.”
Vira terdiam dan bingung hendak berkata apa.
Namun Mas Cokro mengartikan diamnya Vira sebagai sebuah penerimaan.
Tubuh dengan harum kekayuan itu mendekati Vira. Bibir Mas Cokro mulai menyapu halus pipi Vira lalu bergerak perlahan menuju sudut bibirnya. Mengecupnya pelan dan kemudian memagut keseluruhan. Begitu lembut dan dalam.
Vira ingin segera mengakhirinya namun ada bagian dari dirinya yang ingin mengetahui kelanjutan rasa ini. Vira membalasnya, memagut bibir dengan rasa tembakau yang pernah diingatnya dulu. Namun kini ada rasa manis yang tercecap. Vira merasakan napas Mas Cokro menderu panas di wajahnya. Deru yang mampu membakar tubuhnya.
__ADS_1
Tanpa disadari, air mata menetes dari sudut mata Vira. Turun dan membasahi pipi Mas Cokro yang menyatu erat dengan pipinya. Mas Cokro melepaskan bibirnya dan kemudian merengkuh Vira. Memeluknya dengan hangat dan mengusap lembut kain yang menutupi rambut Vira.