
Kosa
Sudah dua hari ini Kosa tidak bertemu Vira. Susah sekali padahal perasaan Kosa kian menggebu ingin melihat wajah Vira setiap saat.
Senin kemarin Vira kuliah sampai sore dan Kosa ada rapat bersama Kimmy, Danu, dan Mas Syahran terkait persiapan penelitian lapangan di kabupaten Bekasi dan Karawang. Vira menolak untuk menunggu dirinya sampai selesai rapat. Padahal Kosa juga mengajaknya ikut rapat bersama namun ditolak dengan alasan malu karena tidak ada kepentingan.
Selasa ketika jadual Kosa longgar, Vira malah tidak ke kampus karena dosennya sedang ada konferensi di luar negeri jadi kelasnya libur.
Menelpon Vira bukanlah ide yang baik. Sudah berkali-kali Kosa menelpon Vira tapi jarang diangkat. Vira punya kebiasaan membisukan nada deringnya dan jarang membalas pesannya. Sekalinya dibalas hanya dengan kalimat-kalimat pendek.
Kadang Kosa berpikir sepertinya gaya berpacaran dengan Vira tidak seperti yang pernah ia lakukan sebelumnya. Winda pacarnya di SMA rajin sekali mengirimkan pesan untuknya. Mengingatkan sholat, menanyakan sudah makan atau belum, menanyakan PR sekolah atau menanyakan lagi main game apa. Rossa yang mahasiswi komunikasi juga sama perhatiannya dengan Winda bahkan Siska yang mahasiswi FKG mendominasi semua jadual hariannya dengan acara-acara yang disusun Siska secara sepihak.
Kosa menghela napas. Terlihat olehnya pesan untuk Vira masih tercentang dua dengan warna abu-abu. Padahal pesan itu dikirim sejak dua jam lalu.
“Aaah, seperti sedang tidak pacaran saja,” batin Kosa merutuk.
Tetiba teringat Kosa dengan media sosialnya Vira. Dibukanya aplikasi yang didominasi warna biru dan jarinya meluncur membuka akun Kinan, nama Vira di dunia maya. Ada foto profil dengan rupa harimau bermata tajam. Teringat olehnya tentang cerita Vira yang menyukai harimau, sang pengelana hutan. Sampul profil Vira dihiasi foto gunung berwarna putih berselimut salju. Kosa ingat ini adalah gunung Aconcagua di Argentina yang menjadi salah satu tujuan Vira.
Dilihatnya jejak cerita Vira yang hampir semuanya berisi tentang perjalanannya mendaki gunung. Foto gunung, hutan, dan suasana perkemahan. Tidak ada yang lain. Tidak tampak foto Vira sendiri atau teman-teman sesama pendaki secara utuh. Hanya ada foto-foto pendaki yang diambil dari jarak jauh sehingga tidak terlihat jelas wajahnya.
Kosa melihat kembali pesan untuk Vira yang masih belum berubah warnanya. Diteruskan kembali ibu jarinya yang mengusap pelan ke arah atas akun medsos Vira. Sampai satu ketika dirinya menangkap foto dua orang yang tertawa lepas di depan tenda. Vira dengan jilbab berwarna merah muda, tertawa dengan mata yang mengarah kepada lelaki berambut keriting. Tertulis tiga tahun lalu di Gunung Argopuro dengan deskripsi perjalanan panjang yang membangun rasa.
Ada rasa tidak suka di hati Kosa melihat foto ini. Dari seluruh rekam jejak status Vira yang dilihatnya, hanya foto ini yang menunjukkan diri Vira berdua dengan laki-laki. Bahkan tidak ada foto Vira bersama Mas Dody dan Mas Une yang pernah ditemuinya sabtu lalu.
__ADS_1
Tanda tanya menggelayut dalam pikiran Kosa tentang foto Vira dan lelaki tanpa nama itu. Tidak ada jejak di akun medsos Vira yang mengarah ke akun medsos lelaki yang menurutnya biasa saja itu. Bahkan komentar-komentar teman Vira tidak menyebutkan dan menandai lelaki itu. Rasa ingin tahu yang besar datang tiba-tiba.
Apakah lelaki itu pacar Vira sebelum dirinya? Kuliah dimana atau sudah kerja? Apakah Vira masih suka bertemu dengannya? Apakah lelaki itu mengetahui bahwa Vira sudah menjadi pacar Kosa? Apakah Vira akan ke Annapurna bersama lelaki ini? Ada begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk di benaknya.
Kosa menghela napasnya. Dilihatnya kembali pesan untuk Vira dan sepertinya masih belum dibaca. Prasangka mendatangi Kosa. Terlintas dalam pikirannya Vira sedang menghabiskan waktu bersama lelaki ini. Mungkin saja. Ah, tidak. Vira tidak mungkin melakukan perbuatan itu pada dirinya. Dadanya sedikit sesak dan suhu tubuhnya terasa panas. Ah, ini kah yang namanya cemburu, batin Kosa meradang.
‐--‐------------------------------
Vira
Setelah senin berjibaku dengan padatnya kuliah di kampus, esoknya Vira memilih di rumah saja. Kebetulan Bu Riani, dosennya sedang ada konferensi di luar negeri. Kelasnya ditiadakan dan diberi tugas menulis critical review tentang artikel yang sudah diberikan sejak minggu lalu.
Artikel tentang resolusi konflik etnis ini sudah dua kali dibaca oleh Vira tapi tak satu pun diingatnya.
Vira memandang wajahnya di cermin yang terletak di sudut kamarnya. Baru kali ini sepertinya Vira serius memandang rupanya. Mematut dirinya lekat-lekat pada bayangan nyata yang terpampang di depan matanya. Diyakinkan kembali bahwa dirinya cantik dan manis seperti yang seringkali diucapkan Mama dan Natha, kakaknya. Tapi ternyata tidak cukup yakin.
Vira merebahkan dirinya di atas Kasur. Ada sedikit penyesalan kenapa dirinya menerima Kosa yang ternyata salah satu idola kampus. Seandainya Kosa lelaki biasa saja pasti Vira tak perlu merasa rendah diri dengan membandingkan dirinya dengan para mantan Kosa itu.
Dihela napasnya panjang-panjang sambil memejamkan mata. Sesaat matanya terbuka. Aaah, dirinya perlu semacam semangat untuk melanjutkan hari ini. Dibukanya situs pemutar video di laptopnya dan Vira menyetel lagu Pretty’s on the Inside dari Chloe Adams. Lirik lagunya seolah menjawab perasaan Vira hari ini.
That pretty’s on the inside
See it in your own eyes
__ADS_1
Look a little closer in the mirror tonight
That pretty’s on the inside
But I can’t tell my own mind
Maybe if I look a little harder I’ll find
That pretty’s on the inside
Pretty’s on the inside
Pretty’s on the inside
Pretty’s on the inside
Cause mama she said to me
Don’t live in jealousy oooh
And mama she said to me
You’ll see it eventually
__ADS_1