Romansa Di Makara Jingga

Romansa Di Makara Jingga
Mom Knows Best


__ADS_3

^Pilihan Ibu


Dengan mata terpejam, Vira menarik napas panjang. Ingatannya kembali pada percakapan dengan adiknya Mas Cokro beberapa hari lalu. Tak disangka akan terjadi secepat ini. Ditariknya kursi dan perlahan mendudukkan diri di hadapan Ibu Candramaya.


“Apa ada yang bisa saya bantu,” ucap Vira dengan tersenyum pendek. Namun segera disesali ucapannya barusan karena terkesan seperti pramuniaga yang sedang menawarkan produk pada pembeli. Vira lalu mengatur pernapasannya dengan baik, tak ingin dirinya terlihat insecure di hadapan perempuan yang begitu percaya diri ini.


Ibu Candramaya menatap tajam Vira. Dengan kacamata yang masih sedikit turun, matanya menelisik keseluruhan postur Vira seperti hendak memberikan penilaian. Itu membuat Vira jengah.


“Saya tadi ke kampus kamu, tapi kamu tidak ada.”


Vira terdiam sesaat. Tidak menyangka kalau urusan asmara remeh temeh seperti ini menjadi begitu rumit. “Untuk apa Ibu ke kampus saya?”


“Sebenarnya kemarin saya ke rumah kamu dan hanya bertemu dengan Kakak kamu. Sayangnya dia tidak mau bicara sama sekali tentang keberadaan kamu. Makanya saya ke kampus kamu. Saya mau bicara serius soal anak saya. Dan tolong, jangan panggil saya Ibu!”


Kali ini Vira tidak bisa lagi menyembunyikan rasa cemasnya. Wajahnya terlihat begitu khawatir, meski ada rasa sedikit lega yang menyelinap dalam hati bahwa bukan Mamah yang menghadapi perempuan ini tapi Natha.


“Supir saya tadi pernah mengantarkan anak saya Adjie ke rumah kamu. Anak saya Bagas yang kasih tau saya kamu kuliah dan magang di mana. Saya juga minta calon besan saya untuk menghubungi kamu,” ucap Ibu Candramaya dengan tenang.


“Apa yang ingin ibu, maaf Tante. Apa yang Tante ingin bilang ke saya? Supaya saya tidak berhubungan dengan anak Tante, Mas Cokro? Tante tidak usah khawatir, sejak awal sampai sekarang, saya memang tidak punya hubungan apa-apa dengan Mas Cokro,” ucap Vira menjelaskan dengan suara sedikit bergetar.


“Kamu bisa janjiin itu ke saya?”


“Maksud Tante?”


“Saya tau benar siapa anak saya. Kamu bisa saja mengatakan seperti itu, tapi anak saya akan terus menghubungi kamu sampai kamu tidak sanggup lagi menolaknya. Kamu bisa janji kamu akan terus menolaknya? Kamu bisa janjiin itu ke saya?”


Vira terdiam dan dirinya pun paham bagaimana karakter Mas Cokro. Entah apakah benar bisa menjanjikan itu pun membuat dirinya bimbang. Vira mengalihkan pandangan ke arah kaca dengan pemandangan senja yang memerah. Warna yang nyaris serupa dengan netranya yang kini berkaca-kaca.


“Kamu mau minum apa?” tanya Ibu Candramaya memecah heningnya suasana. Namun Vira tetap terdiam, tak ada jawaban.


“Saya pesankan ya!” tawar Ibu Candramaya yang sepertinya tidak membutuhkan jawaban Vira.


Tak lama seorang pramusaji dengan baju seragam dan rambut diikat ketat datang menghampiri. Ibu Candramaya memesan beberapa menu yang menggunakan bahasa asing yang Vira mengerti. Pelayanan cukup cepat mungkin karena belum banyak tamu yang datang. Tersaji satu pot teh racik, minuman dingin dengan citarasa manis dengan sedikit asam yang segar dengan irisan lime dan dua slice cake coklat di tempat terpisah.


“Saya ingin kita bicarakan ini baik-baik. Saya sudah punya cucu dan kamu masih muda. Saya tidak ingin kita berdua menjadi musuh. Tapi ini keluarga saya, dan saya hanya ingin yang terbaik buat mereka.”


“Saya minum ya Tante,” ucap Vira lalu meneguk minuman dingin yang tersaji di depannya. Rongga tenggorokannya yang tadinya tercekat kini menjadi lebih lega dan kekhawatirannya sedikit berkurang.


“Kamu ketemu dengan Adjie dimana?” tanya perempuan dengan kerutan wajah yang menunjukkan kematangan usianya.


“Di Nepal, waktu kami mendaki ke Annapurna,” jawab Vira pelan.


“Baru beberapa bulan kemarin, gumam Ibu Candramaya. Kamu dekat sama Adjie?”


“Tidak. Sampai sekarang pun tidak dekat.”


“Anak saya yang terus mendekati kamu? Benar begitu?”


Vira mengangguk.


“Adjie itu mirip sama Bapaknya. Tidak banyak bicara tapi kalau sudah ada maunya akan terus dikejar sampai dapat. Dulu juga begitu, saya jadi ingat masa lalu,” tiba-tiba Ibu Candramaya tersenyum dan pandangannya menerawang. Senyuman yang membuat Vira mulai merasa sedikit nyaman. Rasa takutnya berhadapan dengan Perempuan paruh baya ini perlahan memudar.


“Bapaknya Adjie itu dulu itu mengejar saya seperti Adjie mengejar kamu. Berani dia menghadapi Bapak saya yang Kolonel. Saya benci dan takut waktu itu. Karena dia, saya putus dengan pacar saya. Tapi benci dan cinta itu memang begitu tipis. Entah apa yang kemudian membuat saya bisa terus bersama dia, saya juga tidak mengerti.”


Vira tersenyum mendengar kisah cinta perempuan ini. Kisah yang sepertinya terulang pada dirinya namun tidak mirip.


“Kamu pasti berpikir kenapa saya ikut campur dengan urusan asmara anak saya, padahal mereka sudah dewasa. Padahal kisah saya pun seperti kamu dan Adjie. Iya kan?”

__ADS_1


“Maaf. Saya memang pernah bilang seperti itu ke Bagas.”


“Anak saya yang pertama Adjeng menikah dengan lelaki yang saya jodohkan. Sebelumnya dia berpacaran dengan teman satu kampusnya. Hanya saja lelaki itu tidak cukup berani menghadapi kami orangtuanya. Dia terlalu rendah diri dan justru itu buruk untuk Adjeng. Saya tidak ingin anak saya berubah untuk lelaki yang tidak bisa menghargai dirinya sendiri. Mental anak saya dipermainkan dan hubungan Adjeng dengan kami memburuk. Kini anak saya bahagia bersama dengan anak teman baik kami. Lelaki pilihan kami dari status yang sama. Suami Adjeng bisa menghargai Adjeng dan kami keluarganya. Mereka maju bersama dan memberikan kami sepasang cucu yang menggemaskan.”


“Tapi tidak dengan Adjie. Jiwa pemberontaknya begitu besar. Selalu ingin menentang kami. Hanya Adjie yang sengaja kuliah di Surabaya untuk menghindari kami. Mengikuti kelompok pecinta alam, merokok, dan bahkan minum minuman keras. Kami sama sekali tidak bisa melarangnya. Sampai dia mengatakan akan menikahi Rahayu teman kampusnya. Perempuan itu memang bukan yang saya bayangkan bisa menjadi istri Adjie. Ayu anak broken home, perokok kuat dan suka minum alkohol. Bahkan ketika menikah Ayu tampak mulai sakit-sakitan. Meskipun sejak awal saya tidak menyetujui pernikahan itu, tapi saya yang membantu Adjie merawat Ayu, membiayai semua pengobatan Ayu. Hanya saja jodoh mereka hanya sebentar saja.”


“Kamu tau Vira? Terkadang saya bersyukur Adjie dipertemukan Ayu dengan cara demikian. Karena sejak saat itu Adjie berubah. Dia tidak lagi melawan saya dan bapaknya dengan begitu frontal. Adjie mau mendengarkan saya lagi sampai dia bertemu kamu.”


Vira terdiam, matanya mengerjap.


“Kemarin untuk pertama kalinya sejak Ayu meninggal, Adjie meminta kami memutuskan pertunangannya dengan anak perempuan keluarga Sasongko. Bahkan Adjie bersedia keluar dari keluarga kami jika tetap memaksanya. Saya tidak ingin Adjie kembali seperti dulu, menjadi pemberontak. Saya juga tidak ingin merusak hubungan keluarga yang sudah kami bangun. Saya mengancam Adjie kalau dia memutuskan pertunangannya maka saya akan bunuh diri di hadapannya. Saya harap kamu mengerti. Saya ingin anak saya kembali menjadi anak saya. Saya ingin keluarga kami tetap utuh bahagia. Saya ingin keluarga kami berkembang menjadi besar dan bukan terpecah belah. Saya tidak ingin menyalahkan kamu sebagai penyebabnya. Tapi saya harap kamu mengerti apa yang saya maksudkan.”


Tiba-tiba dada Vira begitu sesak. Dirinya memahami benar perasaan perempuan paruh baya dihadapannya ini. Kembali Vira menyesap mojito dingin, berharap rasa segarnya membuat dadanya sedikit lega.


“Saya mengerti maksud Tante. Jangan khawatir!” ucap Vira lalu kembali meneguk sedikit lagi minumannya.


“Kamu masih muda. Masih kuliah dan masa depan kamu terbentang panjang. Saya lihat secara ekonomi kamu dalam keluarga yang berkecukupan. Untuk perempuan masa kini, karir menjadi yang utama dan saya rasa kamu pun tidak ingin cepat-cepat berkeluarga.”


Vira mengangguk


“Adjie itu sudah 30 tahun. Sudah cukup umur untuk lelaki membangun keluarga. Ada istri yang mendukungnya. Ada anak yang menjadi tujuan hidupnya.”


“Saya mengerti.”


“Jadi Vira mau berjanji ya, seberapa kuat Adjie mengejar kamu, Vira harus ingat dengan janji kamu. Jangan pernah menerimanya.”


Vira mengangguk.


Meskipun ada perasaan tidak suka dengan pertemuan ini, namun Vira begitu lega bahwa ternyata ini tidak lah semenakutkan yang dirinya bayangkan. Vira sempat mengira akan keluar caci maki yang menyudutkan dirinya ternyata tidak. Setidaknya apa yang disampaikan oleh Perempuan bernama Candramaya itu menghilangkan label yang Vira lekatkan pada dirinya sendiri yaitu sebagai perusak hubungan orang.


------------------------


Sembari menunggu, Ibu Candramaya memesankan menu terbaik untuk makan malam berdua dengan Vira dan menyantapnya sembari bercerita tentang kisah masa mudanya.


“Elu beneran kan gak diapa-apain sama ibu gue?” tanya Bagas mencoba memastikan ketika mereka sudah keluar dari pelataran parkir.


“Ish, apaan sih lo. Ibu lo tuh baik banget tau. Elu koq bisa-bisanya ngegambarin Ibu lo yang bikin gue seram sendiri. Parah!”


“Ibu gue tuh tukang ngatur, bossy banget. Pasti elu disuruh buat ngejauhin Mas Adjie. Iya kan?”


“Itu sih pasti, yakali ibu lo nyuruh gue cepat-cepat kawin sama Kakak lo padahal tunangannya sama orang lain. Gak mungkin banget.”


“Hahahaha, suara tawa Bagas terdengar begitu kuat memenuhi mobil. Tapi benar elu rela melepas Kakak gue begitu aja?” tanya Bagas.


“Elu maunya kayak gimana? Gue kawin lari sama Mas Cokro dan Ibu lo bunuh diri, kuliah gue berantakan, disumpah serapahin sama semua orang? Maksud lo gitu?” tanya Vira balik.


“Ya gak gitu juga. Tapi koq ya lo bisa setakluk itu sama Ibu gue. Gak ada perlawanan sama sekali? Gak seru amat. Gue aja sama Ibu gue tuh pasti lama banget komprominya. Dulu Mas Adjie apalagi, selalu bikin Ibu nangis.”


“Elu mau gue bikin nangis ibu lo? Gila lo! Eeh, jangan belok, lurus aja lewat Prapanca trus ke Antasari nanti lewat tol,” cegah Vira agar Bagas tidak mengambil arah Gatsu.


“Apaan sih lo, macet banget tau di Antasari.”


“Eh Gas, elu emang mau lewat mana? Pasar Minggu, gila itu sampe jam sebelas malem macetnya parah. Mau lewat tol Jagorawi apalagi. Udah bener yang gue bilang lewat Antasari trus masuk tol keluar Kukusan.”


“Koq elu ngatur-ngatur gue sih Vir? Suka-suka gue mau lewat mana. Sudah diantarin pake ngatur segala sih?” protes Bagas.


“Koq elu jawabnya gitu sih Gas. Emangnya gue yang minta diantar. Gue juga bisa pulang sendiri. Lebih cepat lagi. Naik ojol ke Cawang trus naik Kereta sampe deh ke Depok. Sebentaran doang!”

__ADS_1


“Koq elu makin berisik sih? Iya, iya gue antar lewat Antasari, tapi gak jamin bakal cepat sampe. Sekarang aja udah jam sembilan lewat, gak tau sampe Depok jam berapa?” ancam Bagas


“Pokoknya sebelum jam 12 harus sampe kalo gak percuma, gue dikunciin sama Bibi penjaga kos.”


“Bisanya nyuruh aja, elu aja deh yang nyetir. Pengen tau gue secepat apa lo bisa sampe Depok,” tantang Bagas.


“Apaan sih lo, gitu amat,” ucap Vira pelan.


“Bisa gak?” tantang Bagas sekali lagi dengan suara lantang.


“Apaan sih, nyebelin banget,” gumam Vira.


“Gak bisa kan? Atau jangan-jangan lo malah gak bisa nyetir?”


“Emang gue gak bisa nyetir, gak penting banget sih nanyanya,” jawab Vira pelan.


“Eh apa? Lo ngomong apa barusan? Beneran gak bisa nyetir?” tanya Bagas yang kemudian disusul dengan suara tawa yang mengejek Vira. Sepertinya Bagas cukup puas mentertawakan Vira yang saat ini cemberut dan memutuskan untuk diam.


“Gas, nanti turunin gue depan pintu tol ya? Gak usah sampe kost-an gue. Gak enak gue pulang malem jam segini dianterin cowok. Takut diomongin gue.”


“Apaan sih? Gue udah janji sama Ibu nganterin elu selamat sampai tujuan. Ntar kalo kenapa-apa, yang ada gue ribut lagi sama Ibu.”


“Gas, beneran gue. Turunin pintu tol aja, biar gue lanjut sama ojol aja,” pinta Vira.


“Kenapa sih? Elu takut sama pacar lo? Cemburuan banget emangnya? Sadar gak sih tuh cowok kalo wajah lo biasa aja?” ejek Bagas.


“Gak usah lo omongin gue juga tau. Dia sih orangnya baik banget, cuma gue yang gak enakan.”


“Halah, pokoknya gue anter sampai tempat kost. Titik!”


“Gas, janji tapi ya….”


“Apaan sih? Janji apaan?” tanya Bagas heran dengan permintaan Vira yang kurang jelas.


“Lo kan tau kalo gue kost karena menghindari Mas Cokro. Jangan kasih tau dia alamat kost gue ya apapun yang terjadi.”


“Anak kecil deh Vir, ngapain sih pakai menghindar gitu. Hadapin aja kenapa sih?” Hidup lo ribet amat.”


“Kalo ngomong sih gampang Gas, tapi kan elu tau sendiri Mas Cokro bagaimana. Lagipula gue juga janji sama Ibu lo. Beneran ya, janji lo sama gue!”


“Iya...iya, gue janji tapi gak gratisan ya?” tawar Bagas.


“Maksud lo Gas?”


“Suatu saat kalo gue butuh bantuan lo, awas aja kalo bilang gak bisa!”


“Ih koq gitu sih Gas, pake pamrih?”


“Loh mana ada yang gratisan di muka bumi ini.”


“Yaudah ah, iya...iya, gue janji juga, tapi benar ya, jangan kasih tau Mas Cokro.”


“Iya, gue tau, dasar cerewet.”


“Apaan sih Gas, siapa lagi yang cerewet? Kayak sendirinya gak cerewet aja.”


“Nyebelin lo Vir.”

__ADS_1


“Iya, sama kayak elu.”


__ADS_2