
Kabut perlahan mulai menghilang di depan pandangan mata Vira. Namun ketika Vira menoleh ke belakang, masih dan hanya terlihat kabut tebal. Seperti ada dunia yang berbeda dan Vira berdiri di antara keduanya.
Langkah Vira terhenti ketika matanya melihat plang yang bertuliskan Namaste, Welcome to Annapurna Base Camp 4130 dengan huruf besar dan beberapa plang yang bertuliskan huruf Sanskrit yang tidak bisa dibacanya.
Bobby sudah menunggu di sana sambil merapatkan badannya karena udara dingin. Hanya Bobby.
Seketika Bobby menghampiri Vira dengan langkah kaki yang cukup cepat dan memeluknya erat.
“Elu berhasil Vir, elu berhasil. Akhirnya elu sampe Vir,” ujar Bobby semakin mengeratkan pelukannya.
“Bi, sakit Bi.” Vira mencoba mengendurkan pelukan Bobby.
“Gue takut Vir tadi elu kenapa-kenapa. Gue balik nyariin elu dan gak ketemu.”
“Iya Bi, iya. Gue juga takut. Gue panggilin elu gak ada jawaban,” jawab Vira. Ada sedikit isak tangis terdengar dari suaranya.
Bobby tetap memeluknya dengan erat. Memberikan sedikit kehangatan pada tubuhnya yang menggigil sejak tadi.
Bobby menggandengnya melewati gapura melengkung yang dihiasi oleh jerami dari tanaman barley yang sudah kering. Berjalan menuju anak tangga yang mengarah ke lodge tempat penginapan mereka.
Sandeep menyambut mereka di pintu masuk lodge. Bobby dan Vira langsung bergabung dengan dengan tim yang sudah menempati meja di dekat pintu masuk dapur. Sudah tersedia dua gelas lemon madu jahe panas di atas meja. Untuknya dan Bobby. Sandeep yang memesankan.
Vira masih menggigil meski sudah satu gelas lemon madu jahe hangat diteguknya. Vira meminta Sandeep memesankannya kembali. Sudah habis dua gelas namun badan Vira masih menggigil.
“Vir, lu gak apa-apa kan?” tanya Mas Dody memperhatikan Vira yang giginya saling bergemeletuk.
“Ne, liat si Vira. Kayaknya dia ada tanda-tanda hipotermia deh,” ujar Mas Dody ke Mas Une.
“Outer layer¬-nya itu dibuka dulu Bi, tolongin. Trus Dod, minta Sarkar bongkar ransel Vira, ambil down jacket-nya. Cok, minyak angin yang tadi elu pakai mana? Itu bantuin balurin ke punggung dan perutnya. Gue beli rum dulu,” perintah Mas Une yang membuat satu tim bergerak.
Mas Dody menghampiri Sarkar yang sedang duduk di area dapur dan kemudian Sarkar setengah berlari keluar ruangan.
Tanpa izin Vira, tangan Mas Cokro yang sudah dikucuri minyak angin mulai bergerak mengolesi ke punggung dan perut Vira. Masuk menelusup ke dalam baju Vira dan menyentuh kulit Vira yang dingin. Bobby hanya diam melihatnya.
Sarkar masuk ke ruangan dan memberikan down jacket berwarna hijau army untuk dikenakan Vira. Bobby yang memasangkannya.
Mas Une datang dan menghampiri mereka, membawa sebotol kecil rum dan satu gelas sloki. Dituangkannya rum hanya seperempat sloki.
“Minum Vir, ini bikin badan lu anget,” perintah Mas Une.
“Gak mau Mas, Vira gak boleh minum itu,” tolak Vira.
“Minum cepat, ini yang paling cepat pengaruhnya. Kalau enggak, ntar badan lu bisa drop, bisa gagal jantung gara-gara paru-paru lu rusak,” perintah Mas Une dengan nada keras.
“Mas, gak bisa mas,” tolak Vira sambil terus menggemeletukkan giginya karena menggigil.
“Minum,” perintah Mas Une sekali lagi dengan nada tinggi yang mengisyaratkan tidak ingin ada penolakan dari Vira.
Vira akhirnya memaksakan diri meminum rum dengan wajah mengernyit. Pahit. Vira tidak suka. Semua mas-mas pendaki, termasuk Sandeep, Sarkar, dan Satya melihat dan memperhatikan dirinya. Agak sedikit jengah. Bobby sekali lagi memeluknya dari arah samping.
__ADS_1
Vira merasakan efeknya dengan cepat. Hanya dalam beberapa menit, tiba-tiba tubuhnya menghangat. Dilepaskan pelukan Bobby dan down jacket¬ yang membuatnya gerah. Dan menyisakan tubuh kurusnya yang hanya berbalut base layer yang lekat di kulitnya.
“Udah enakan?” tanya Mas Une
Vira mengangguk dan tersenyum.
“Buset deh, Ne, itu tadi si Vira elu kasih berapa sloki?” tanya Mas Dody ke Une sambil tertawa, memperhatikan kelakuan Vira yang berubah menjadi hiperaktif.
“Gw kasih seperempat sloki,” jawab Mas Une sambil nyengir.
“Tuh anak gak pernah minum kayaknya, koq jadi genit kayak gitu,” sahut Mas Dody tertawa.
Vira menggelendot manja di bahu Bobby. Memainkan jemari Bobby sambil tertawa, meracau tak jelas. Bicara tentang semuanya. Tentang Kosa, tentang kerinduannya pada Mama, tentang kekesalannya pada Papa, tentang Bobby, tentang semuanya yang ada di pikirannya.
“Bi, ayo Bi kita tidur,” ajak Vira manja sambil menarik-narik outer layer yang dipakai Bobby.
“Nih anak, kalau ngajak gue tidur pas lagi gak mabok, udah gue kerjain nih!” dengus Bobby.
“Bi, ayo tidur, tidur, ayooo, tapi nanti jangan cium Vira lagi. Pokoknya mau tidur, gak mau dicium, ayo,” racau Vira sambil menarik-narik lengan Bobby.
Tampak Sandeep, Sakar dan Satya bahkan nyaris semua orang yang berada di restoran lodge mulai tertawa, memperhatikan tingkah laku Vira yang mabuk dan bergaya manja.
“Buset Bi, lu gila ya, mainin anak orang sembarangan. Udah ada cowoknya Bi si Vira. Jangan main gila ah,” tukas Mas Une yang kaget mendengar racauan Vira.
“Eh, bukan Mas, sumpah, kagak gue apa-apain nih anak,” elak Bobby membela diri.
“Buset deh Vir, kelakuan lu macam ayam kampus aja sih gelendotan kayak gini,” sungut Bobby.
“Vir, yuk kita ke kamar aja. Bangun cepetan, jangan gelendotan mulu, pegel nih bahu gue.”
“Vir, bangun.”
“Vir.”
“Kayaknya si Vira udah tidur Bi, udah gak bergerak tuh anak,” sahut Mas Dody.
“Buset, iya tidur ternyata.”
“Parah nih pake ngorok segala.”
Entah apa yang terjadi semalam, Vira sama sekali lupa. Samar hanya teringat dirinya terpaksa minum rum karena tubuhnya masih menggigil.
Pagi ini Vira bangun dalam kondisi segar bugar. Meskipun dingin karena di sekeliling lodge-nya terbentang jejeran gunung Annapurna yang berselimut salju, namun sama sekali tidak dirasakan. Tidak ada rasa kantuk sedikit pun yang tersisa.
Setelah membersihkan diri di toilet, Vira bergegas kembali ke kamar membangunkan mas-mas pendaki lainnya.
__ADS_1
“Mas Une, bangun, bentaran sunrise [matahari terbit]!”
“Obi, buruan bangun. Tidur mulu sih kerjaannya. Mas Dody, Mas Cokro, ayo bangun!”
Vira keluar kamar dan mulai sedikit mendaki ke tempat yang lebih tinggi. Ke arah tugu penanda yang berhiaskan kain berwarna-warni yang berisi mantra dan doa dari agama yang dianut penduduk lokal. Sudah banyak pendaki lain yang berada di sini untuk menunggu matahari terbit.
Matahari mulai keluar perlahan-lahan. Sinarnya memberi terang pada puncak gunung terlebih dahulu. Suasana sekitar lodge dan tugu penanda masih agak gelap. Ketika bulatan matahari sudah muncul dari balik Annapurna, semua menjadi terang benderang.
Tampak di depan lodge, di bawah kaki Annapurna, Mas Cokro sedang menatap Vira.
Vira merasa begitu puas. Pendakiannya di Annapurna berhasil sempurna. Aura kebahagiaan terpancar dari wajahnya. Seharian Vira bersenandung.
Bahkan setelah sunrise Vira langsung melakukan call ke Kosa. Ternyata masih subuh di sana dan sinyal di desa tidak terlalu kuat, suara yang diterima juga terputus-putus. Akhirnya Vira lebih banyak menuliskan pesan dan menyertakan foto-foto
[Abang, Vira berhasil sampai di Annapurna Base Camp]
Ada beberapa foto yang dikirim ke Kosa. Kebanyakan foto dengan latar belakang gunung yang bersalju yang jaraknya tampak begitu dekat. Seperti satu jengkal saja ketika dilihat dari foto.
Saat sarapan, nafsu makan Vira kembali memuncak. Dipesannya nasi goreng tuna dengan topping telur ceplok mata sapi dan teh manis hangat.
Disapanya mas-mas pendaki semuanya, dan juga Mas Cokro meski Vira masih mengingat rasa tembakau di bibirnya. Tak lupa Sandeep, Sarkar dan Satya pun disapanya.
“Bahagia amat Vir, kayak abis menang lotere,” ucap Mas Une sambil menguap.
Tidak hanya Mas Une yang terlihat masih mengantuk. Tapi juga Mas Dody dan Bobby. Hanya mas Cokro yang terlihat rapi dan bugar.
Ternyata masih terlalu pagi untuk bangun, karena menurut Sandeep, perjalanan menuruni Annapurna menuju daerah Bamboo bisa dimulai pukul 10 pagi karena jalur pulang lebih cepat dan singkat. Pantas saja mereka masih berleha-leha.
Beberapa pendaki asing mulai sarapan dan ransel-ransel mereka sudah tersusun rapi di salah satu sudut restoran. Mereka sepertinya sudah siap untuk turun.
“Vira, are you ready to go down? You can go down with helicopter, it cost four hundred dollars. I will reserve it if you want to [Vira, kamu siap untuk turun? Kamu bisa naik helikopter, biayanya 400 dolar, nanti saya pesankan jika kamu mau],” ujar Sandeep.
“No way Sandeep, I better go to this mountain again rather than loose my money for helicopter [Ogah, Sandeep. Mending naik gunung lagi deh daripada ngabisin duit buat naik helikopter],” jawab Vira sambil meringis membayangkan betapa mahalnya ongkos naik helikopter.
“I’m okay Sandeep, don’t worry [Saya sehat koq, jangan khawatir],” sambung Vira lagi.
“Bener Vir, daripada duitnya buat helikopter mending buat traktir kita-kita,” celetuk Bobby.
“Maksudnya Bi?” Vira tidak mengerti
“Buat ongkos tutup mulut,” ucap Bobby yang membuat mas-mas pendaki tertawa terbahak-bahak.
“Gila lu Bi, anak orang dikerjain,” sahut Mas Une.
“Ngomong apa sih kalian?” Vira semakin tidak mengerti.
“Yaudah makannya dihabisin sana. Ntar juga ngerti,” balas Bobby.
__ADS_1
“Iiih, nyebelin banget sih Bi.” Vira merengut manja.