Romansa Di Makara Jingga

Romansa Di Makara Jingga
Bukan Tipenya


__ADS_3

Kuliah senin selalu membuat Vira semangat. Jam sebelas dirinya mengambil kuliah tentang sosiologi gender dan jam dua tentang komunikasi gender. Kedua mata kuliah ini membuka perspektif baru dalam melihat relasi antara laki-laki dan perempuan.


Sebelum masuk ke kelas sosiologi gender, dilihatnya beberapa mahasiswa berbisik-bisik sambil menatap dirinya. Masih teringat kasus suapan nasi Imbi di Takor dahulu yang efeknya sama seperti yang dilihatnya sekarang. Apakah ini ada kaitannya dengan jalinan kasih yang baru saja terjadi antara dirinya dengan Kosa?


Rasa tidak nyaman diperhatikan dengan cara seperti ini hadir kembali. Agak sedikit jengah. Dirinya bertanya-tanya apakah mereka melihatnya seperti itu karena faktor Kosa atau karena memang dirinya. Apakah Kosa segitu terkenalnya di kampus sehingga setiap hal terkait Kosa selalu menjadi perhatian seisi kampus? Ataukah Vira sendiri yang dianggap menyebalkan sehingga membuat orang tampak tidak terlalu suka saat memandangnya? Entahlah.


Pundaknya ditepuk oleh Dini, temannya dari jurusan Sosiologi. “Eh, Vir, jadian sama Kosa ya?” tanya Dini langsung tanpa basa-basi sambil duduk di samping dirinya.


“Gila, cepat amat beritanya. Koq elu bisa tau Din?” Vira balik bertanya.


“Ya tau la, ada di WAG angkatan. Pake tagar hari patah hati segala. Kak Kosa itu cecepeannya angkatan kita Vir, kayak elu gak tau aja,” seloroh Vira.


“Hahaha, segitunya ah. Gue juga gak tau pas kamis kemarin Kak Kosa nembak gue. Kayaknya gue juga bingung kenapa gue terima ya,” jelas Vira agak sedikit acuh tak acuh.


“Gila lu pake bingung segala. Banyak tau yang nanya koq bisa Kak Kosa jadian sama elu, Vir.”


“Emang kenapa sih? Koq kayaknya pada gak yakin banget kalo Kak Kosa minta gue jadi pacarnya.”


“Bukan gitu Vir, cuma ya aneh aja.”


“Maksud lo Din, gue ini aneh gitu?”

__ADS_1


“Bukan Vir. Iiih elu gitu deh. Ya asal elu tau aja sih kalo elu itu bukan tipenya Kak Kosa.”


“Maksudnya?” Vira menatap Dini.


Pernyataan terakhir yang dilontarkan Dini mengusik dirinya. Sebelum Vira mendapat jawaban dari Dini, terlihat Bu Ida, sang dosen memasuki ruangan dan duduk di meja dosen yang persis terletak di depan kursi Vira dan Dini.


Bahasan Bu Ida mengenai relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan di negara-negara dunia ketiga mengalihkan sejenak pikiran Vira mengenai Kosa.


Pembahasannya menyadarkan Vira bahwa ketimpangan perempuan di dunia patriarkis seperti Indonesia seringkali terjadi karena adanya peran perempuan itu sendiri yang melanggengkannya.


Perempuan dipaksa utuk tetap berada di ranah privat karena tekanan dari ibunya sendiri dan ketika si perempuan menjadi ibu maka dirinya menekan anaknya untuk berperilaku sebagai perempuan yang hanya bekerja di ranah itu.


Tradisi yang sulit didobrak karena kuatnya nilai-nilai perempuan asia yang selalu tersubordinat atas nama budaya.


Vira mulai menganalisis dirinya sendiri. Kulitnya yang cokelat sawo matang kah? Wajahnya yang manis seperti artis Kajol dari India kah seperti yang sering dikatakan oleh Mamanya? Keberadaannya yang dianggap biasa-biasa saja kah? Mengapa penilaian selalu dilekatkan kepada perempuan. Ada banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam diri Vira.


Bu Ida menyelesaikan kuliahnya lebih cepat tiga puluh menit dari biasanya. Dini langsung memberikan kode kepada Vira untuk tetap tinggal di kelas. Beberapa mahasiswa masih tinggal di kelas sambil mengobrol. Vira dan Dini masih diam sembari menunggu kelas sepi.


“Vir, elu tau gak kalo Kak Kosa dulu pacarnya siapa?” tanya Dini seolah Vira punya jawaban untuk itu.


“Mana gue tau. Gue aja baru kenal dekat sekitar tiga bulan lalu.”

__ADS_1


“Nah itu juga Vir, yang jadi masalah. Elu itu kan gak deket sama Kak Kosa koq ya bisa pacaran sih?”


“Pusing kepala gue Din,” ucap Vira sembari menekan pinggir keningnya dengan jari telunjuk.


“Sejak awal masuk kuliah di sini, Kak Kosa itu udah dua kali pacaran Vir. Nah, elu itu yang ketiga.”


“So what?” Vira mulai tidak sabar.


“Pacar pertamanya anak Komunikasi seangkatan sih. Cuma setahun. Ganti sama anak FKG, seangkatan juga. Tapi ya itu Vir, dua-duanya gak pake jilbab, cantik banget dan kulitnya putih gitu deh,” jelas Dini yang secara tidak langsung membangkitkan rasa ketidaksukaan Vira saat mendengarnya.


“Maksudnya Din? Gue pakai jilbab, gak putih, gak cantik kayak mereka itu?”


“Bukan itu maksud gue Vir. Cuma ya banyak yang bilang kalo elu itu bukan tipe cewek yang bakal dipacarin sama Kak Kosa aja sih. Jangan marah ya!” rajuk Dini.


“Apaan sih. Gue juga gak tau koq kenapa Kak Kosa nembak gue. Kalo mau tau ya tanya Kak Kosa aja kenapa dia suka sama gue yang bukan tipenya.


Vira bangkit dari kursinya lalu menyantelkan ransel ke pundaknya.


“Gue ke kantin dulu Din, pusing kepala gue. Makan bakso dulu yuk! ajak Vira. Kan elu ambil komunikasi gender juga bareng gue. Barengan aja ke kelasnya abis kita ngebakso.”


“Bayarin tapinya ya?” rajuk Dini manja.

__ADS_1


“Udah ngebandingin gue sama pacarnya Kak Kosa eeh pake minta dibayarin lagi baksonya. Tekor dua kali ini sih namanya,” seloroh Vira pura-pura kesal.


“Udah sih nasib pacaran sama darling-nya angkatan kita. Terima aja!” gelak Dini yang membuat Vira ikutan tertawa kecil.


__ADS_2