Romansa Di Makara Jingga

Romansa Di Makara Jingga
Old Chhomrong versus New Chhomrong


__ADS_3

Pendakian hari ke empat. Sandeep mengatakan bahwa trek kali ini akan melewati pemukiman penduduk yang terakhir. Jadi ada beberapa sekolah, lahan pertanian yang dilewati, anak-anak, dan hewan ternak yang lalu lalang. Seperti halnya kemarin, hari ini ada dua gunung yang harus dilalui untuk sampai ke Chommrong.


Vira terlihat bahagia mendengar penjelasan Sandeep. Dua trek terakhir Vira hanya melihat orang lokal saat di restoran dan lodge saja. Sesekali ada lelaki muda yang membawa dua ekor keledai yang penuh berisi barang sembako yang memlewati mereka.


Tempat istirahat pertama mereka ada di lapangan depan kantor pemerintahan setempat. Mas Une, Mas Cokro dan Dody terlihat tidur-tiduran di atas rumput hijau yang membentang luas. Menikmati matahari pagi.


“Obi, Vira, sini,” panggil Mas Une, menyuruh mereka berbaring seperti dirinya.


Tampak beberapa pendaki asing juga sudah melakukan hal yang sama. Berjemur menikmati hangatnya matahari Nepal.


Sandeep mengingatkan agar mereka tidak terlalu lama beristirahat. karena masih banyak spot menarik untuk dilihat sepanjang trek ini karena sekarang musim panen dan anak-anak diliburkan dari sekolah untuk membantu orang tua memanen hasil ladangnya.


Benar kata Sandeep. Vira banyak memotret anak-anak yang membantu mengangkut hasil panen di pundaknya. Perempuan-perempuan berwajah India yang sedang meyabit barley.


Mas Une, Mas Cokro, dan Mas Dodi tampaknya tidak terlalu suka memotret aktivitas penduduk lokal seperti halnya Vira. Dengan jejak langkah yang panjang, mereka sudah hilang dari pandangan mata.


Sandeep bercerita ada beberapa lelaki Nepal di sini meninggalkan keluarga untuk bekerja di Dubai dan Malaysia sebagai pekerja bangunan. Meninggalkan perempuan dan anaknya yang mengurus ladang keluarga.


Setelah melewati sekolah dan melintasi jembatan besar yang menghubungkan dua gunung, Mereka berjalan menuju hutan. Kali ini bukan pohon Rhododendron tapi hutan hijau dengan pohon besar yang rapat sehingga menutupi sinar matahari yang masuk ke dalam.


Udara menjadi terasa lebih dingin dan lembab.


“Sandeep, I think I’m a little bit scare now [Sandeep, kayaknya gue mulai takut nih!],” ujar Vira.


Lalu Vira mulai mempercepat jalannya menyusul Sandeep dan Bobby yang berada dua puluh meter di depannya dan tidak menyadari ada batu yang mencuat di jalan setapak yang dilaluinya. Vira terjatuh dan terkilir.


“Aaaaaah, sakiiiiit,” erang Vira mengaduh kesakitan


Sontak suara erangan Vira membuat Bobby dan Sandeep menoleh. Bobby lalu berlari menuju Vira.


“Kenapa Vir? Kaki lu sakit?” tanya Bobby sambil melihat ke arah pergelangan kaki yang sejak tadi dipegang Vira.


“Kayaknya gue terkilir deh Bi,” ucap Vira sambil meringis.


“Gue periksa ya!” ucap Bobby.


Dengan hati-hati Bobby melepaskan sepatu Vira. Tangannya mulai memijit-mijit di daerah pergelangan kakinya. Entah apa yang dilakukan Bobby membuat Vira berteriak kesakitan. Namun, rasa sakit itu berangsur menghilang dan menyisakan cenut-cenut yang saja.


“Bi, koq bisa sih? Jago deh lu,” puji Vira.

__ADS_1


“Siapa dulu, Obiiiiiiii……………”


Sandeep yang sedari tadi hanya memperhatikan serius kini mulai tersenyum.


“Bisa jalan gak Vir? Apa perlu gue gendong? Gue kuat koq,” tanya Bobby


“Hahaha, becanda aja lu Bi, lagi gini juga.”


“Serius gue, Vir!”


“Au ah. Udah buruan bantuin gue berdiri. Masih bisa jalan koq!” sahut Vira.


Dengan dibantu Bobby dan Sandeep, Vira mulai berdiri dan berjalan pelan di tempat. Tidak terlalu sakit seperti tadi.


“Tuh kan Bi, udah gak sakit lagi, cuma sedikit cenat cenut doang,” kata Vira meyakinkan Bobby agar tidak perlu khawatir.


Perjalanan menuju restoran untuk makan siang memerlukan waktu lebih lama karena Vira berjalan sangat pelan.


Bahkan yang sedikit mengesalkan Bobby awalnya adalah ketika dirinya dan Vira dikalahkan oleh Mr. Kim, pendaki asal Korea yang berusia 75 tahun.


Bobby kaget ketika Sandeep mengatakan bahwa banyak orang Korea Selatan dan Eropa yang berusia 60 tahun ke atas ikut dalam ekspedisi menuju Annapurna Base Camp ini.


Sontak Bobby dan Vira langsung mengajak Mr. Kim berfoto bersama. Entah berapa banyak foto yang dijepret Vira untuk memotret Bobby dan Mr. Kim dan tampaknya Mr. Kim tidak berkeberatan dengan hal ini. Bahkan Bobby meminta tanda tangan dan alamat e-mail Mr. Kim agar dapat mengontak beliau.


Mr. Kim kemudian berlalu lebih cepat meninggalkan mereka bertiga. Bobby tertawa gembira dan berulang kali mengucapkan bahwa terkilirnya kaki Vira membawa berkah buat dirinya.


Ini membuat Vira tersenyum, setidaknya mengurangi perasaan bersalahnya karena memperlambat pendakian.


Sesampainya di restoran ternyata ada pesan dari Mas Une yang ditujukan untuk Bobby dan Sandeep.


Mas Une bersama Mas Cokro dan Mas Dody pergi lebih dulu dan tidak bisa menunggu mereka di restoran karena terlalu lama. Mas Une juga membayar uang makan untuk Sakar dan Satya, porter mereka jadi Sandeep tidak perlu membayar lagi.


Selepas makan, Bobby pesan ke Sandeep kalau dirinya mampir ke toko souvenir yang terletak di dekat restoran. Tadi saat melewatinya, Bobby memperhatikan ada beberapa gelang dan kalung tali dengan motif unik. Sandeep sendiri kemudian justru pergi ke toilet tanpa memberitahu Vira terlebih dahulu.


Vira yang sedang asyik dengan gadget-nya menyadari ketidakhadiran Bobby dan Sandeep. Dicarinya Bobby dan Sandeep di seputaran restoran ternyata tidak ketemu.


Vira mulai gelisah. Akhirnya memutuskan bahwa dirinya akan melanjutkan perjalanan sendiri. Vira yakin jika dirinya duluan yang berangkat toh akan tersusul juga dengan sendirinya. Atau jika dirinya yang ditinggal, pasti nanti akan ditunggu oleh Bobby dan Sandeep.


Vira kemudian melangkah ke arah jalan setapak yang terbuka yang ada di sebelah restoran. Ada papan bertuliskan Old Chhomrong dengan tanda anak panah menuju atas.

__ADS_1


Beberapa anjing ras murni Nepal berukuran besar menemaninya berjalan sepanjang jalan menuju Old Chhomrong. Tampaknya mereka jinak karena sudah sering bertemu dengan banyak orang asing.


Setelah Vira berjalan sekitar satu kilo, samar terdengar suara-suara yang memanggil namanya dari arah bawah. Vira yakin sebentar lagi Bobby dan Sandeep akan segera menyusulnya. Vira tetap berjalan dengan kakinya sudah tidak terasa sakit lagi.


Langkah Vira terhenti. Ternyata ada kerumunan sapi yang menghalangi jalan setapak yang akan dilaluinya. Sapi-sapi yang berderet memanjang dan memenuhi jalan hanya menyisakan sedikit ruang di sisi kanan yang bersebelahan dengan jurang.


Vira menunggu sekitar sepuluh menit tapi sapi-sapi tersebut tidak ada yang bergerak sedikit pun. Vira menunggu pendaki lain yang akan lewat jalan ini tapi tidak terlihat satu pun. Suara-suara yang memanggilnya pun sudah tidak terdengar lagi.


Terpaksa Vira kembali dan pergi ke salah satu rumah penduduk. Hendak meminta bantuan untuk mengusir sapi-sapi yang mungkin milik mereka.


“You chose the wrong way; this is an old way. You should go back upstair and choose the path downward [Kamu salah pilih jalan, ini jalan lama. Kamu harus balik ke atas lagi dan pilih jalan yang menuju ke bawah],” jawab salah satu anak muda yang merupakan penduduk lokal.


Vira beruntung bertemu penduduk lokal yang bisa berbahasa Inggris dengan baik.


Vira terpaksa harus turun satu gunung lagi. Memang lebih cepat. Ini berarti Vira harus melewati restoran tadi. Ternyata di sana sudah menunggu beberapa orang dari pegawai restoran yang menyapanya.


“Are you Vira from Indonesia? You better hurry and go this way, please [Apakah kamu Vira dari Indonesia? Kamu harus cepat menyusul dan silakan lewat arah sini].”


Vira mengikuti arah salah satu pegawai ke sisi sebelah kanan dari jalan setapak yang tadi dilaluinya.


Ternyata ada dua jalan, hanya yang jalan menurun tidak terlihat dengan baik. Bahkan tulisan New Chhomrong dengan anak panah menuju ke bawah juga tidak terlihat jelas dari atas. Pantas saja dirinya tersesat, rutuknya dalam hati.


Jalanan di bawah lebih landai tanpa harus naik turun. Sepanjang perjalanan sepi tanpa ada pendaki lainnya. Tampaknya semua sudah tiba di lodge dan hanya dirinya yang tersisa di jalur pendakian ini.


Dalam sunyinya pendakian, Vira teringat dengan Kosa. Apakah Kosa sedang memikirkannya? Sudah tiga hari ini dirinya tidak bisa mengirim dan menerima kabar dari Kosa.


Ternyata, di ujung jalur terpecah menjadi dua bagian dan tidak ada satu pun tanda-tanda jalur apa yang harus dilalui oleh pendaki menuju New Chhomrong. Vira terdiam. Membiarkan dirinya duduk dan hanya menunggu saja. Lebih dari setengah jam tanpa ada kepastian dirinya akan memilih jalur yang mana.


Tetiba ada penduduk lokal, seorang lelaki tua yang membawa karung berisi rerumputan dan juga memegang arit. Sepertinya habis menyabit rumput untuk pakan ternak.


Lelaki tua yang datang dari jalur kanan itu melambai pada Vira dan mengajaknya untuk mengikutinya menuju jalur kiri. Vira sama sekali tidak bisa memahami bahasa yang digunakan. Meskipun memegang arit tapi Vira mempercayai untuk berjalan mengikutinya.


Setelah sekitar setengah jam berjalan, terlihat ada tanjakan batu dan beberapa lodge dan bahkan rumah penduduk mulai terlihat.


Tampak samar dua orang yang dikenalnya menunggu di atas tanjakan. Sakar dan Satya. Wajah Vira berubah sangat bahagia.


Diucapkannya terima kasih berkali-kali kepada lelaki tua yang baik hati itu. Bahkan Vira mengajaknya berselfie sebagai kenangan bersama penyelamatnya ini.


Sakar membantu mengambil ransel dari dirinya meskipun isinya ringan. Satya memberikan senyum luar biasa. Mereka menuntun Vira menuju lodge.

__ADS_1


Ternyata di sana ada banyak orang menyambutnya. Bukan cuma Sandeep yang menghampirinya. Bobbi memeluknya erat dalam sekejap. Mas Une dan Mas Dody yang mengelus kepalanya. Bahkan Mas Cokro tersenyum lega kepadanya. Pendaki lain pun memberikan semangat bahwa mereka senang melihat Vira datang ke lodge dengan selamat. Ini mengharukan.


__ADS_2