
^Aku Tidak Akan Menyerah
Vira merasa Pak Faisal seperti sedang melakukan plonco terhadap dirinya sebagai mahasiswa magang baru. Prasangkanya sungguh negatif atas apa yang terjadi barusan. Ada rasa kesal yang tidak mungkin disampaikan secara literal dan hanya bisa digantikan dengan senyuman penuh rasa maklum.
“Mohon maaf Bu, jadi saya harus bagaimana” tanya Vira kepada perempuan yang duduk di meja dekat pintu.
“Hubungi Pak Faisal saja dulu ya! Urusan mahasiswa magang memang harus lewat Staf Ahli. Saya di sini bagian administrasi,” saran perempuan itu.
“Kalau boleh tau, Ibu namanya siapa ya?” tanya Vira dengan sungkan.
“Panggil saya Bu Fatmah saja,” jawabnya tersenyum.
“Bu Fatmah, mohon maaf, kalau boleh tau kantin di sini di mana ya?” tanya Vira yang sepertinya sudah tidak sanggup dirongrong bunyi suara perutnya.
“Di lantai satu ada Cafetaria, tapi kalo mahasiswa biasanya suka ke Kantin Pujasera atau di Risanti banyak pilihan dan murah. Nanti kamu turun ke bawah trus tanya saja sama satpam di Lobby,” terang Bu Fatmah.
“Terima kasih Bu. Saya izin dulu ya Bu, mau sarapan dulu, tadi gak sempat,” ucap Vira meminta izin yang dijawab dengan senyuman Bu Fatmah.
Tidak susah mencari kantin Pujasera yang letaknya tidak jauh dari parkiran motor. Ada banyak kedai yang buka dengan berbagai pilihan. Mata Vira malas menjelajah karena bunyi di perutnya sudah semakin menjadi. Langsung saja Vira memesan lontong sayur Padang dan es teh manis yang pertama kali dilihatnya. Sepertinya menu ini bisa mengembalikan energinya yang surut karena berjibaku dengan perjalanan yang melelahkan tadi.
Disantapnya kuah bersantan merah dengan sedikit potongan sayur nangka, kacang panjang, dan daun pakis. Dengan tambahan telur balado dan kerupuk sagu merah membuat semangat Vira muncul kembali. Peluh di wajahnya mulai menetes akibat perpaduan yang ditimbulkan oleh rasa yang pedas dan udara kantin yang panas.
Selesai makan diseruputnya es teh manis yang menetralisir rasa pedasnya dan mengurangi peluhnya. Nikmat sekali.
Vira lalu mengeluarkan ponselnya dari tas rajut berwarna coklat. Ada notifikasi dari beberapa aplikasi yang terpasang di ponselnya. Vira membuka pesan chat-nya terlebih dahulu. Ingin mengabarkan apa yang baru saja dilalui kepada Kosa. Namun ternyata matanya tertumbuk pada pesan dari Pak Faisal yang sudah ada sejak lima belas menit lalu.
Kamu kemana? Saya tunggu dari tadi malah menghilang
Vira langsung bergegas kembali menuju Lobby Gedung Nusantara dan mengurus kembali izin masuknya. Dengan setengah berlari Vira melewati ruang rapat dan menuju lift ke lantai atas. Beberapa orang melihatnya dengan tatapan aneh. Seperti orang yang sedang mengejar pesawat saja.
Vira mengatur napasnya baik-baik sebelum mengetuk pintu. Mengelap pelan wajahnya yang berkeringat dengan tisu kering dan merapikan sedikit baju kemeja biru mudanya yang dimasukkan ke dalam celana katun hitamnya. Vira mengetuk pintu dan langsung masuk ke kantor Pak Herman, anggota Komisi 3.
“Loh, Mba Elvira koq ke sini? Tadi Pak Faisal pesan Mba Elvira disuruh ketemu di Cafetaria lantai satu,” ujar Bu Fatmah yang kaget dengan kedatangan Vira lagi.
“Oh, siap Bu, saya ke sana!” sahut Vira dan segera berbalik langkah. Namun seketika terhenti.
“Bu Fatmah, boleh tanya gak? Pak Faisal itu mukanya yang kayak gimana ya?” ucap Vira malu-malu.
“Saya takut salah orang nanti,, soalnya foto di WA-nya Pak Faisal itu foto anak kecil dua orang,” sambungnya.
Bu Fatwah tertawa geli mendengarnya.
__ADS_1
Diambil salah satu pigura foto dari meja yang terletak di ujung dekat jendela dan pintu dari ruangan yang tertutup. Vira menduga bahwa itu ruang Pak Herman.
“Ini yang namanya Pak Faisal. Masih muda, anaknya sudah dua, jagoan semua,” tunjuk Bu Fatmah ke foto seorang lelaki berkulit bersih yang sedang memeluk dua orang anak lelaki dengan senyum yang lebar.
Vira tersenyum. “Terima kasih Bu Fatmah. Siap. Saya segera menemui Pak Faisal di bawah!”
Sepertinya Vira sudah mulai merasa menjadi bagian dari gedung ini. Belum sampai siang, dirinya sudah turun naik dua kali. Melihat orang yang lalu lalang dengan pakaian formil. Memegang berkas dokumen, saling mengobrol atau sibuk dengan gadgetnya. Pemandangan yang sedikit berbeda dengan suasana di kampusnya.
Vira mendapati sosok lelaki yang mirip dengan foto yang ditunjukkan Bu Fatmah sedang duduk menikmati secangkir kopi berwarna coklat muda sambil memainkan ponselnya.
“Selamat pagi Pak Faisal. Perkenalkan saya Elvira Kinanti, mahasiswa magang yang akan bekerja dengan Bapak Herman Sasongko,” sapa Vira.
Lelaki muda yang ternyata lebih tampan dari fotonya tersenyum. “Silahkan duduk Mba Elvira. Saya Faisal Harahap, Staf Ahli Pak Herman Sasongko.”
“Maaf Pak Faisal, tadi saya kira Bapak ke Bandara mengantar Pak Herman, makanya saya turun ke bawah buat sarapan. Mohon maaf Pak!”
“Oh, tadi itu saya cuma ke depan saja karena Pak Herman mau ke Yogyakarta, minta dokumen perizinan dan ada beberapa yang harus ditandatangani Bapak.”
“Pak Faisal gak ikut ke Yogya sama Pak Herman?” tanya Vira.
“Kalau masa reses pasti ikut, tapi ini untuk keperluan pribadi aja. Pak Herman memang rajin ke Yogya sebulan sekali,” jelas Pak Faisal.
Vira tesenyum mengangguk-angguk mendengarnya. Sepertinya dugaan tentang sosok Pak Faisal yang dipikirkannya sejak semalam dan tadi berubah drastis.
“Belum Pak!” jawab Vira dengan nada malu karena memang menunjukkan ketidaksiapannya.
“Pak Herman itu politisi senior. Periode lalu Bapak yang jadi Ketua Komisi 3 tapi sekarang mau lebih santai saja. Punya firma hukum tapi sekarang diurus sama rekannya. Pengusaha juga tapi sekarang bisnisnya dipegang sama anak pertamanya yang perempuan. Anaknya ada tiga. Nomor dua sekarang lagi kuliah bisnis di Inggris, dan yang ketiga di UI sama kayak kamu, anak teknik dan baru lulus semester kemarin.”
Vira mendengarkan dengan seksama. Dalam hatinya bertanya mengapa Pak Faisal menceritakan tentang keluarga Pak Herman padahal Vira kan hanya magang di kantor.
“Pak Herman itu baik sama staf-nya. Suka diajak ke acara keluarganya juga nanti kita. Istrinya, Bu Ruth itu suka bikin kue-kue enak, suka kirim ke sini juga. Jadi nanti kamu akan kenal keluarganya juga!” jelas Pak Faisal seolah menjawab pertanyaan Vira yang hanya terungkap di dalam hati.
“Kalau tugas-tugas saya di sini bagaimana Pak?” tanya Vira memastikan.
“Kamu sudah terima job description-nya kan? Ya, gak jauh-jauh dari itu lah. Santai aja. Nanti kamu kerja bareng staf administrasi Bu Fatmah, nanti ada anak IISIP yang di Lenteng Agung yang juga magang di sini. Tapi dia baru bisa masuk minggu depan. Staf ahlinya Pak Herman sebenarnya ada dua, saya sama Mba Putu. Tapi kemarin Mba Putu cuti melahirkan. Jadi tinggal saya sendiri. Kebetulan kamu datang, jadi nanti bisa ngerjain tugas-tugas yang biasa dikerjakan Mba Putu. Bisa kan?”
“Siap Pak, saya bisa!” ucap Vira dengan penuh semangat.
“Kamu bisa mulai magang hari ini?” tanya Pak Faisal menanyakan kesiapan Vira.
“Siap Pak, saya bisa!”
__ADS_1
“Kamu bawa dokumen magang yang dibutuhkan?” tanya Pak Faisal lagi.
“Kamu butuh itu buat pembuatan kartu magang dan izin masuk sini. Selesai dari sini, kamu urus di Setjen ya, nanti tanya aja lokasinya sama satpam di lobby depan. Setelah urusan kelar kamu ke kantor Pak Herman lagi.”
“Siap Pak, segera saya kerjakan!”
____________________________
Hari ini Vira sungguh capek luar biasa. Perjalanan pulang menuju Depok sama melelahkannya dengan perjalanan pergi pagi hari. Bis kota yang menyusuri sepanjang Gatot Subroto penuh sesak dan berjalan lamban bersama dengan mobil-mobil pribadi yang memenuhi jalan. Kereta commuter line menuju Depok pun padat dengan orang-orang berkemeja yang pulang kerja.
Vira tiba di Stasiun UI jam tujuh malam. Perutnya lapar luar biasa. Sepertinya Vira akan mampu menghabiskan dua porsi pecel ayam Cak Wit favoritnya.
Tampak di luar Stasiun UI, Kosa sedang duduk di Vespa abu-abu tua miliknya, sedang menunggunya.
“Ih Abang tepat waktu, kereeen,” puji Vira dengan memberikan senyum terbaiknya.
“Apa sih yang enggak buat kesayangan Abang?” sahut Kosa dengan gombalannya.
“Makan yuk Bang! Vira lapar banget nih. Dari tadi perut bunyi terus,” ajak Vira yang langsung duduk di jok belakang setelah memakai helmetnya.
“Mau sekalian ajak Mirna gak?” tanya Kosa sambil menyalakan mesin motornya dan mulai berjalan pelan menyusuri arah ke Fakultas Psikologi menuju pintu keluar motor di depan Fakultas Teknik
“Ah gak mau. Ketemu Mirna di rumah aja. Males kalo ketemu, yang ada malah minta ditraktir bawaannya. Abang kan tau sendiri Mirna makannya banyak banget.”
“Kamu koq gitu sih sama adik sendiri. Mirna itu makan banyak karena kamu kakaknya.”
“Maksud Abang?”
“Eh, mau makan di mana?” tanya Kosa mengalihkan pembicaraan.
“Abang koq gak jawab pertanyaan Vira sih. Maksudnya apa?”
“Abang yang traktir deh hari ini. Vira bebas pilih makan di mana aja.”
“Beneran?”
“Iya, beneran dong buat kesayangan Abang.”
“Vira mau makan di pecel ayam di Cak Wit. Mau dua porsi. Tapi benar ya ditraktir Abang?” tanya Vira kembali meyakinkan jawaban Kosa.
“Iya,” jawab Kosa yang disertai dengan tawa renyah. Suara tawa yang menghampiri telinga Vira karena dibawa hembusan angin malam yang dingin. Namun, dinginnya tak mampu menembus kehangatan yang melingkupi hati Vira hari ini.
__ADS_1
Hari yang luar biasa. Ada pengalaman baru yang diberikan dengan tantangan berbeda dan Vira yakin akan bisa menjalaninya dengan baik.
Dipeluknya lelaki yang sedang mengendarai motor di depannya. Vira menyandarkan kepalanya di punggung lelaki itu. Tercium olehnya wangi sabun mandi dan aroma vanilla dan musk yang pernah dirasakan hidungnya beberapa waktu lalu. Begitu menenangkan.