
“Gimana, Mbah?” Akas merayu neneknya. Barusan dia menceritakan maksud dan tujuan kedatangan Pater Jo kemarin.
Surtiyah termenung, memandang cucunya, lalu kembali terpekur.
“Gimana, Mbah?” Akas mengulang rayuannya.
Sang nenek menghela napas. “Ya sudah, bilang sana sama Mbah Bagyomu,” ujarnya, bernada gundah.
“Justru itu masalahnya, Mbah...,” Akas garuk-garuk kepala.
“Masalah apa? Kamu kan bilang ke Pater Jo, mau minta izin dulu ke Mbah Bagyo. Ya sudah, bilang sana.”
“Alaah, Mbah ini, belum ngerti juga. Gini lho Mbah, Mbah Murti yang bilang ke Mbah Bagyo. Biar enak, gitu. Masak saya?” Akas kembali merayu.
“Lho, kok Mbah? Yang mau jadi pendeta itu lho, siapa?” tangkis neneknya.
Akas geleng-geleng kepala. Repot ternyata merayu mantan pejuang kemerdekaan, walau tanpa tanda jasa secuil pun. Susah diajak kompak, maunya main lurus-lurusan terus. Padahal, kadang perlu juga bermanuver demi tercapainya tujuan. Iya, kan? Masak terobos badak semuanya?
Masalahnya begini, Akas segan bilang langsung ke kakeknya. Tepatnya, gentar. Entahlah, kemarin perasaan baja tahunya sekarang jadi krupuk. Pakai acara maju mundur segala. Itulah kenapa dia butuh bantuan nenek untuk membuka pembicaraan soal ini kepada kakeknya. Sekalian dukungan moril tentu. Namun, ternyata sang nenek modelnya begitu pula. Susah di-calling...
Bagaimanapun, Akas sadar kakeknya Islam. Kalau tiba-tiba cucu satu-satunya yang masih kelihatan ini bilang mau jadi pendeta Kristen, naga-naganya bakal novel, minimal cerbung. Tidak mungkin sekadar cerpen. Walau sang kakek kelihatannya, setipe dengan ayahnya yang tidak memaksa anggota keluarganya, memeluk Islam, tapi perasaan Akas bilang kalau Mbah Bagyo tidak akan tinggal diam kali ini. Soalnya, sisa dia satu-satunya cucu yang masih bernuansa campuran. Segenap kakaknya sudah Kristen sepenuhnya. Maka, dalam pikiran Akas, yang tersisa ini pastilah wajib “diselamatkan”. Begitu, kurang lebih bunyinya.
Jadi, gimana? Entahlah....
Selama tiga hari selanjutnya, Akas sibuk menimbang-nimbang sendiri. Gentar masih menyertai untuk bicara langsung kepada kakeknya. Sementara, “dukungan logistik” yang diharapkan dari sang nenek, terhambat. Belum menembak tampaknya nenek kesayangan itu ke suaminya. Habis, sang kakek terlihat santai-santai saja, tidak bereaksi “sebagaimana mestinya”. Duh, macet dah.
Malam keempat, saat dia bengong menatap langit-langit kamar yang terbuat dari anyaman kulit bambu itu, ucapan Patet Jo mengingang-ngiang lagi dalam benaknya. “Keputusan akhirnya ada di kamu. Bukan di saya, bukan di Mbah, bukan juga di siapa-siapa. Adanya di kamu sendiri....” Maka, Akas menghela napas panjang. Wejangan Pater Jo itu bukan baru sekali ini terngiangnya, kemarin-kemarin sudah banyak. Cuma yang barusan tadi neken betul rasanya.
“Kelihatannya mesti demikian. Jadi, apa keputusanku?” Akas membatin, lalu kembali menghela napas dan merenung lama. Dalam pelamunannya, terbayanglah yang indah-indah. Dia melihat dirinya mengenakan seragam calon pendeta, belajar di ruang kelas yang luas dan bagus. Tidak pakai pusing-pusing mikirin biaya karena semua sudah ditanggung gereja. Lalu, pada saatnya, dia bertugas membimbing umat. Berdiri di podium gereja, menabur pencerahan jiwa. Jemaatnya mengangguk-angguk dengan wajah terbawa cerah. Uuh, tidak ada yang tidak indah pelangi bayangannya. Bisa dikata beautiful semua.
Jadi, gimana?
Akas menghela napas beberapa kali, lalu mengangguk-angguk. “Baiklah, aku mau jadi pendeta,” ucapnya dalam hati. Maksudnya, dia menerima tawaran Pater Jo untuk belajar di sekolah pendeta itu. Istilah Jawa kasarannya, guoblok tenan kalau nggak mau. Terus terang, perasaannya seolah terbang setelah mampu mandiri mengambil keputusan penting ini. Eh, bukan, bukan terbang, melayang lebih benar. Seperti layang-layang....
Apa pun-lah. Pokoknya palu sudah diketuk, keputusan telah ada. Besoknya, pagi-pagi, dia minta izin ke kakeknya mau main ke Sedayu. Berani kalau cuma bilang begitu, sekalian minta ongkosnya. Padahal...
“Mau apa?” tanya Bagyo.
__ADS_1
“Kangen sama teman-teman, Mbah,” jawab Akas, berpolitik.
Sang kakek manggut-manggut, lalu kasih ongkos yang diminta cucu. “Pulang hari ini. Jangan menginap,” ujarnya kalem.
Akas agak tercekat, tapi segera mengangguk. Mesti lincah, kan?
“Mau ke mana, Kas?” neneknya yang baru muncul, urun bertanya.
“Eem, anu..., pengen main sebentar ke Sedayu. Kangen sama teman-teman,” jawab Akas. Lincah juga.
Sang nenek memandang cucunya sejenak, lalu mengangguk-angguk.
“Pulang hari ini, ya?” pinta kakeknya lagi.
“Nggih,” Akas menyambar, lalu cepat-cepat kabur dari situ...
Singkat cerita, sampailah dia di Sedayu. Langsung menuju rumah Pendeta Joshua di pusat kota kecamatan itu. Perasaannya terus terang masih seperti layang-layang. Tapi, maju tak gentarlah membela yang indah...
“Hoei, Kas! Mau ke mana?” terdengar seruan ke arahnya.
Akas menoleh. “Rab!” dia balas berseru, sambil nyerengeh.
“Mau ke mana kamu?” tanya Arabi, usai kangen-kangenan.
“Ada perlu,” jawab Akas, mengambang.
Arabi nyerengeh. “Ada perlu, ada perlu..., mau ke mana?”
Akas balas nyerengeh, tidak menjawab.
“Mau ke rumah Pater Jo, ya?” tembak si Arab putih.
Tersentak juga Akas. Kok dia bisa tahu? Mungkin sekadar menebak dan kebetulan benar, sebab arah jalannya memang menuju rumah sang pendeta. Tentu Arabi tahu persis kalau sahabatnya ini bernuansa campuran salib dan bulan bintang, dengan kecenderungan lebih ke Kristen.
“Iya, kan?” Arabi menuntut jawaban.
Akas lanjut nyerengeh....
__ADS_1
“Nggak ada Pater Jo, tadi kulihat pergi,” ujar Arabi tanpa diminta.
“Pergi ke mana?” tanya Akas, tanpa sadar.
“Nah, benar, Kamu mau ke sana, kan?” Arabi melotot kali ini.
Serengehan Akas melebar. Sialan, kejebak. Terpaksalah mengangguk karena sudah ketahuan.
“Halaah, kamu ini. Mau jadi pendeta?” tembak Arabi.
“Kok kamu tahu?”
“Hoo, ya tahulah. Apa yang aku nggak tahu di sini? Aku kan turunan penguasanya Sedayu, hehehe....” Lalu, dia bercerita, katanya kabar perekrutan calon pendeta ini sudah menyebar di Sedayu. Butuhnya empat, sudah siap tiga. “Kamu ke sini ini, pasti dalam rangka yang keempat. Iya, kan?”
Akas mengangguk.
“Sedang nggak ada Pater Jo-nya, tadi pagi kulihat pergi. Kita ke rumahku saja, yuk. Ada kue enak di sana,” ajak sang karib.
“Ah, ngarang kamu,” sanggah Akas.
“Yee, nggak percaya. Tuh, tanya sendiri ke Tumo,” tangkis Arabi, sambil menunjuk seseorang di seberang jalan.
Di sana terlihat Turibius Permono, salah seorang aktivis gereja sini. Akas menghampirinya untuk konfirmasi soal pengarangannya Arabi barusan. Benar ternyata, Pater Jo sedang ke luar kota. Tidak ngibul si Arab putih berbulu lebat itu. Tapi, dari dulu anaknya Tuan Kasim ini memang termasuk anak yang jujur. Tidak banyak-banyak perngibulannya, kecuali kepepet banget, hehehe....
“Gimana?” tanya Arabi, saat Akas balik ke posisi semula.
“He-eh, sedang ke luar kota,” jawab si bungsu, rada lemes.
“Hehehe..., nggak percaya sama penguasanya Sedayu,” Arabi nyengir.
Terpaksa Akas ikut meringis. Sialan.
“Yuk, ke rumahku,” ajaknya lagi.
“Di sini sajalah. Biar bisa lihat Pater Jo kalau pulang.”
Arabi memandang karibnya sejenak. “Oke,” ujarnya.
__ADS_1
Mereka memilih posisi di bawah pohon randu besar tepi lapangan bola. Ada bangku kayu ala kadarnya di situ. Kalau nanti Pater Jo pulang, pasti kelihatan dari sini. Sebelum lanjut, makan bakso dulu. Arabi yang traktir....