Selamat Jalan

Selamat Jalan
15. Islam


__ADS_3

Selepas urusan dengan Pendeta Joshua, Akas singgah ke toko Tuan Kasim mencari Yamani. Ceritanya, mau proklamasi sekalian curhat sedikit. Bagi-bagi rasa karena Yamani ikut “bertanggung jawab”. Walau bisa dikata berakhir baik, tapi tidaklah ringan tekanan batin yang dialami Akas di rumah Pater Jo tadi.


Namun, memang sedang tidak ada ternyata si Arab putih itu. Kata ayahnya, dia sedang pergi ke Jepara untuk urusan bisnis.


“Kalau gitu, saya pamit, Tuan,” ujar Akas ke Tuan Kasim, godfather-nya mafioso meubel Sedayu ini.


“Pamit mau ke mana?” tanya Kasim.


“Pulang....”


“Lho, capek-capek turun gunung ini kamu cuma butuh ketemu Yamani?”


“Iya, sebagiannya.”


“Sebagian yang lain?”


“Jadi sudah ketemu Pater Jo di rumahnya.”


“Oo? Ada kejadian apa di sana?”


“Nggak ada apa-apa, Tuan. Cuma ngobrol biasa.”


“Sini, sini...,” Kasim menarik Akas masuk ke tokonya.


Yang ditarik jelas kebetot dengan mudah. Tuan Kasim kan tangannya segede gada, berbulu keriting-keriting pula....


“Duduk,” ujarnya lagi sambil menunjuk kursi-kursi di situ.


Akas patuh, soalnya percuma menentang kehendak godfather. Yamani yang sama-sama berbulu saja KO. Dulu, kalau lagi sebal ke ayahnya, si Arab putih itu menjuluki ayah kesayangannya ini Al Capone, hehehe....


“Iyem! Bikin minum dua, bawa kuenya juga!” Tuan Al Capone berseru entah kepada siapa. Banyak orang di situ. “Ayo cerita,” pintanya ke Akas.


“Cerita apa, Tuan?”


“Cerita kejadian apa di rumah Pater Jo tadi.”

__ADS_1


“Nggak ada kejadian apa-apa, Tuan. Cuma ngobrol saja.”


“Ya itulah. Kejadiannya ngobrol apa?”


Duh, nggak bohong Yamani. Rumit juga Tuan Al Capone ini. Akas pun terdiam sejenak. Apa harus diomongkan pembicaraan dengan Pater Jo tadi?


“Akas, bapakmu adikku, ibumu juga adikku. Jadi, kamu ini masih termasuk anakku walau nggak pati mancung, hahaha....”


Terpaksa Akas ikut tertawa. Sialan, nggak terlalu mancung katanya.


“Ayo, gimana ceritanya tadi?” pinta Kasim. “Kalau nggak mau ngomong, aku pecat kamu jadi anakku.”


Akas meringis garuk-garuk kepala. Dilihat-lihat, tidak ada celah untuk melarikan diri. Ya sudahlah, terpaksa....


Akas pun berkisah. Mulai dari kedatangan Pater Jo ke Baturaden, ditatar Yamani di bawah pohon randu, berbincang dengan kakeknya, sampai ketemu Pendeta Josuah di rumahnya tadi. Sepanjang cerita, Tuan Kasim sama sekali tidak menyela atau bertanya. Dia hanya mendengar dan mendengar. Pendengar yang baik ternyata beliau ini. Kelewat baik, malahan. Tidak gampang itu, terus terang gampangan jadi pengomong daripada pendengar.


Begitu usai, tanpa basa-basi, Tuan Kasim langsung memeluk anak nggak pati mancungnya. Busyet, penyet Akas. Soalnya ayah Yamani itu jangkung besar lazimnya Arab. Gendut pula. Sesaklah dada Akas kegencet perut gentong sang godfather. Untung “penganiayaan” ini tidak pakai lama-lama.


“Kamu benar, Nafi, hehehe...,” gumam Kasim sambil kembali duduk.


Tuan Kasim tidak menjawab, lanjut terkekeh saja.


“Benar apa, Tuan?” Akas bertanya lagi, penasaran.


“Nggak, nggak apa-apa.”


“Tuh, kan? Giliran Tuan, nggak mau cerita,” si bungsu protes.


“Hehehe...,” Kasim terkekeh lagi. “Minum dulu,” ujarnya.


Seorang pembantu membawakan minum dan kue-kue yang tadi diminta juragan. “Makasih, Bu,” ucap Akas. Pembantu perempuan empat puluh tahunan itu membalas senyum sebelum beranjak balik. Kasim manggut-manggut, memperhatikan anak bungsu “adiknya” ini.


“Ayo minum,” ajaknya. Akas mengangguk.


Mereka pun menikmati sejenak suguhan yang tersedia....

__ADS_1


“Jadi, apanya yang benar, Tuan?” Akas kembali bertanya, sesaat setelah menikmati hidangan.


“Hem?” Kasim menatap tamu mudanya.


“Tadi kata Tuan, bapak saya benar. Benar apanya?”


“Hahaha...,” Kasim tertawa keras.


“Wah, nggak fair permainan. Kalau Tuan nggak mau cerita, saya pulang sekarang,” Akas mengancam. “Sudah kenyang ini....


“Huahaha...,” malah tambah keras tawa Tuan Al Capone itu.


Terpaksa Akas ikut nyengir. Lalu, “Tuan...,” dia menggertak lagi sembari membulatkan matanya.


“lya, iya...,” ujar Kasim, seiring mereda tawa. “Aku ingat bapakmu. Dulu, aku pernah menegur bapakmu soal anak-anaknya yang Kristen semua. Bapakmu bilang tidak, sebab yakin salah seorang anaknya bakal Islam. Terus terang, Hanafi menyebut kamu, Akas, dan benar ternyata.”


Akas terpana senang, “Iya gitu, Tuan?”


Kasim mengangguk sambil tersenyum.


Akas balas tersenyum. Bening hangat yang tiba-tiba menyeruak naik ke pelupuk matanya, dia tahan kuat-kuat agar tidak tumpah di sini.


“Kenapa saya, Tuan?” dia bertanya. “Mungkin bapak bilang alasannya?”


Tuan Kasim menggeleng. “Bapakmu nggak ngomong, cuma bilang yakin saja kalau kamu bakal jadi Islam. Kalau kataku, karena kamu ini memang paling banyak miripnya dengan bapakmu, dibanding para kakakmu. Matamu saja yang agak Haryati, hahaha.... Sudah nggak sipit memang, tapi tetap ada nada-nada Cinanya.”


Akas meringis.


“Nah, kalau sedang nyengir begitu, kelihatan jelas modalnya Haryati,” sambar Tuan Al Capone, lalu kembali terbahak.


Akas ikut terkekeh. Sialan. Tapi, nggak apa-apa ding, sebab Akas tahu persis kalau mata ibunya seindah berlian....


Itulah sebagian bincang-bincang si bungsu dengan Tuan Kasim. Dari beliau dia tahu kalau ayahnya telah menduga bahwa sambil lalu, Akas tidak hendak memungkiri itu memperkukuh keyakinannya atas pilihan ini.


Islam....

__ADS_1


__ADS_2