Selamat Jalan

Selamat Jalan
39. Ono ono wae


__ADS_3

“Jangan sewa, Mas. Ngapain?” sanggah Asih.


“Lha, terus gimana? Beli?” tanya suaminya.


Mereka sedang berbincang tentang lokasi bagi pendirian sarana fisik rencana usaha itu. Tadinya Akas hendak menyewa lahan, tapi ternyata Asih punya ide yang lebih cemerlang.


“Kita bikin saja di tanahnya Bapak, gimana?”


“Emangnya boleh?” Akas balik bertanya.


“Kita tanyakan saja, yuk....”


Malamnya, mereka menghadap beliau. Kagetlah Kyai Sanusi saat tahu kalau menantu kesayangannya ini sudah tidak on job di pabrik roti. Dan, tambah terpana saat dengar rencana mereka yang akan membuat usaha roti sendiri.


“Memangnya kamu bisa?” tanya sang ayah.


“Insya Allah, Pak. Bisa atau tidak, ya harus dicoba. Nggak pernah tahu kalau tidak pernah mencoba, kan?” jawab Akas, kalem.


Kyai Sanusi manggut-manggut, lalu memandang putrinya.


Asih membalas tatapan sang ayah, sambil tersenyum manis bernada merajuk manja. Tidak ada suaranya, tapi kalau boleh disuarakan, kira-kira senyuman manis ini berbunyi, “Ayo dong, Yah. Please dong, ah....”


Jelas sulit bagi sang ayah untuk menahan senyuman maut si bungsu yang dulu sempat bikin geger keluarga ini.


“Ya sudah, pakai saja. Tapi, ada syaratnya...,” ujar Kyai Sanusi.


Akas dan Asih sama-sama memandang beliau.


“Syaratnya, kalian juga tinggal di sini lagi,” lanjutnya.


Maka, Rama dan Shinta sama-sama tersenyum. Soalnya, ini tidak termasuk syarat. Memang rencananya, kalau urusan pinjam tempat ini tembus, mereka akan lanjut nembak urusan lain yang berbunyi, “Bolehkah kami sekalian kembali ke sini?” Bukan apa-apa, dalilnya kan jelas, “Dengan usaha sekecil-kecilnya, dapat untung yang sebesar-besarnya,” hehehe.... Bukan, bukan, mereka berniat hemat saja. Memang ada tambahan modal dari Enci, tapi tetaplah bijak jika tidak dihamburkan pada pos yang masih mungkin bebas bea. Begitulah.


“Gimana?” Kyai Sanusi bertanya lagi.

__ADS_1


“lya, Pak. Terima kasih sekali,” jawab Akas, cepat.


Senyum Asih pun semakin manis, tapi tidak ikutan ngomong. Soalnya, istri yang baik nurut sama suami, kan?


Alhamdulillah, beres urusan tempat. Langsung dua-duanya, tempat usaha dan tempat tinggal. Tentang skala usaha, Akas tidak melambung tinggi. Dia merancang usaha skala mikro, yang lebih kecil dari skala kecil. Kira-kira seperdua puluh lima pabrik rotinya Enci. Dasar pemikirannya simple saja, Akas hanya butuh gajinya kembali. Maksudnya, berharap keuntungay bersih sejumlah itu dari usaha ini. Dihitung-hitung, untuk bisa dapat segitu, skala usahanya cukup seperdua puluh lima pabrik roti milik Enci. Demikian prakiraannya.


Maka, sebulan setelah masa konstruksi dan instalasi perkakas masak-memasak roti itu selesai, pabrik mungil ini pun beroperasi. Sebulan pertama dipakai Akas untuk uji coba, sekaligus pelatihan singkat bagi dua karyawannya. Ehem, punya karyawan dia sekarang, walau hanya sepasang. Boleh juga.


Lalu, Enci, AKim, AMeng, dan Alin pun menjenguk. Dan, langsung nyerengeh serempak saat melihat “kecanggihan” pabrik ini. Entah kagum entah meledek. Cuma, kalau AKim jelas ngeledek. Soalnya si tengil itu nyeletuk, “Bagus, Pak Kas. Seperti dapur umum zaman perang kemerdekaan, hehehe....”


Akas ikut terkekeh. Sialan.


Tapi, lain keponakan dengan tantenya. Enci bertanya, “Kenapa bentuk oven-nya begini, Pak Kas?”


Akas yang sedang terkekeh, ganti tersenyum. Lalu, menjelaskan kenapa oven-nya nyentrik begitu. Oven itu memang dia rancang sendiri, bikin di bengkel las-lasan. Sengaja dia tidak membeli yang sudah siap pakai. Alasannya, yang barusan dia jelaskan ke Enci. Intinya, tentang efisiensi bahan bakar.


Enci terlihat kaget mendengar penjelasan ini. AMeng dan Alin juga. “Ada kertas? Coba dijelaskan lagi pakai gambar,” pintanya.


Akas mengangguk, mengambil beberapa helai kertas, lalu mulai menggambar apa yang tadi dia maksud dengan efisiensi bahan bakar. Mereka bertiga serius menyimak. Lain dengan si tengil yang masih asyik menertawai oven “zaman perang kemerdekaan” di sebelah sana. Terpisah dia dari kerumunan ini.


Enci menghela napas, lalu mengangguk-angguk.


“Berapa banyak penghematannya, Pak Kas?” dia bertanya.


“Pastinya belum ketahuan, masih kurang datanya. Kalau sekedar dari hasil uji coba kemarin, hitungan saya dua puluh persen. Lima belas, pasti dapat.”


“Lima belas?” Enci tersentak kaget.


Akas mengangguk. “Apalagi kalau dibeginikan,” dia menggambar sket lagi. “Tapi, di sini nggak bisa, kurang tinggi bangunan tempatnya.”


Enci terbelalak, lekat dia memandang mantan karyawannya itu.


“Kenapa, Ci?” Akas mesem.

__ADS_1


“Dulu, kenapa Pak Kas nggak mau bilang ke saya?”


“Bukan nggak mau, Ci. Kalau yang di sana dibeginikan, berarti harus membongkar semuanya dong? Yang di sana kan dipasang permanen?”


Enci menghela napas lagi, lalu mengangguk-angguk.


“Kalau Enci mau bikin pabrik lagi, mungkin bisa dipakai model begini. Kalau yang sekarang ada itu dibongkar, jatuhnya terlalu mahal. Malah jadi salah.”


“Iya, iya...,” Enci manggut-manggut. “AMeng, Alin, kalian paham nggak?”


Kedua anaknya itu mengangguk. Enci pun lanjut mengangguk-angguk.


Lalu, datang si tengil itu sambil masih cengengesan. “Pak Kas, kalau ditambah lampu disko, bisa jadi diskotik di sini, hahaha....”


“AKim! Kamu ini!” sembur Enci. Lalu, wek wek wek..., sang tante pun lanjut menyiramnya pakai semprotan mandarin.


Akas, AMeng, dan Alin nyengir menahan tawa.


AKim bengong....


Demikianlah. Pabrik roti mungil itu lanjut berputar. Pada pukulan pertama, dia sudah mampu menggaji Akas lebih dua kali lipat dari harapan. Padahal, baru digenjot seperempat kapasitas terpasang. Meleset ternyata perkiraannya, enak ini. Jangan lupa, masih ada tiga perempat power menanti digoyang. Ketambahan lagi, kalau kelak butuh pengembangan lahan kosong milik Kyai Sanusi masih luas. Tinggal yang punya, hehehe... Soalnya, beliau sekarang sang elang. Terang-terangan bilang ke orang-orang kalau Akas adalah menantu kesayangannya. Bisa muter begitu, ya? Namun, apa pun itu, sujud dan syukur mereka senantiasa terpanjat ke hadirat-Nya.


***


Waktu tiga tahun kembali tergulung. Alam luar baik-baik saja, yang ripuh dimensi dalam. Bayangkan, sampai sekarang pemahaman Akas tentang hakikat belum bergeser dari sekadar yang dulu disampaikan kakeknya. Sang guru yang dicari dan sangat dinanti itu belum juga kunjung menyapa. Kalau boleh mengeluh, lelah teramat batinnya. Lelah yang teramat sangat. Seolah menyusur harapan ada namun hampa. Ada, tiada. Ada, entah di mana....


Saking bingungnya, sampai-sampai Akas terlibat juga ke dalam dunia pergaiban. Ceritanya, tidak lama setelah mendirikan usaha roti, dia curhat ke seorang teman perihal ini. Awalnya ngobrol-ngobrol biasa, lalu nyambung ke situ. Tidak blak-blakan tentu, Akas hanya berkata bahwa dia menanggung amanat mencari guru spiritual. Segitu saja, tidak lebih. Sang teman menyarankan bertanya ke gaib. Maksudnya, bertanya ke sosok-sosok gaib. Katanya, urusan cari-mencari macam ini lebih afdhal tanya ke “bangsa tidak kelihatan”. Dijamin lebih efisien, daripada dicari manual dengan cara-cara manusiawi.


Namun, Akas tidak langsung mengiyakan. Masak iya, sih? Cuma lama-lama, setelah tidak juga ketemu, dia pun goyah. Siapa tahu iya? Kalau memang bisa, kenapa tidak? Tujuannya kan baik, sekadar hendak bertanya di manakah sang guru. Bukan mau yang lain-lain.


Maka, mulailah dia terlibat. Bersama beberapa teman, Akas ikut dalam acara menghadirkan sosok-sosok gaih. Lokasi-lokasi keramat pun dia ziarahi, berharap ada petunjuk dari sana. Semacam wangsit atau apalah judulnya. Pokoknya info tentang keberadaan sang guru “urusan hati” itu.


Namun, setelah sekian banyak tempat dia sambangi, tidak datang juga infonya. Malah nyebelin, sementara teman-temannya seru mengaku kalau mereka melihat atau mendengar ini-itu, Akas tidak kebagian apa-apa. Boro-boro melihat atau mendengar, di-toel pun nggak. Padahal, selalu paling gede nyumbangnya untuk modal acara ini. Maklum usahawan, walau skala mungil.

__ADS_1


Daripada tidak dapat apa-apa, Akas request ke teman-temannya. Minta agar urusannya tolong ditanyakan ke para gaib yang kabarnya hadir itu. Wajar, masak pemegang saham tidak kebagian deviden? Namun, jawaban yang datang jauh dari harapan. Bagi Akas, terus terang tidak masuk akal sekalian juga tidak keterima hati. Entah jawaban itu beneran dari dunia gaib atau sekadar karangan teman saja. Masak katanya sang guru bermukim di Afrika? Afrika apa dan di mana alamatnya, tidak disertakan. Busyet.... Ini sih, Afrika mbahmu! Kenapa nggak sekalian saja bilang sedang mancing paus putih di kutub utara? Ono-ono wae-lah....


__ADS_2