Selamat Jalan

Selamat Jalan
66. debat hakikat


__ADS_3

Tapi, acara belum tamat ternyata. Besoknya, selepas isya, Wa Ustadz menghadang Akas sepulangnya dari masjid. Di-cut di tengah jalan. Suaminya Asih itu nyengir. “Ada apa, Wa?" dia bertanya usai saling membalas salam.


“Begini, kalau mau ngomong hakikat, jangan sama Soleh. Sama saya...,” ujarnya, sambil nyengir juga. Nyengir yang berkesan merendahkan.


Maklum, mereka memang saling mengenal walau tidak akrab. Lucunya, sampai sekarang Wa Ustadz tidak tahu kalau Akas adalah murid Kyai Khalil. Padahal, dulu dia takut banget ketemu Kyai Khalil. Kabarnya, oleh Kyai Zarkasih pun sering ditekekan, diberi tahu yang benar. Tapi, ya gitu, nggak kapok-kapok. Masih juga demen ngibul hingga kini.


"Apa hakikat bisa diomong-omongkan, Wa?”


“Ya bisalah."


“Oo, ya sudah. Terus, gimana?”


“Mari kita debat hakikat. Kapan ada waktu?”


Akas meringis. Pantas Soleh jadi tambah antik karena gurunya juga biang antik. Antik yang salah-salah. Masak ada debat hakikat? Gimana caranya debat rasa? Gimana caranya debat kenyataan? Gimana caranya debat kebenaran? Tapi, ya itulah. Mungkin maksudnya ngadu bako, debat dalil. Ini pun bukan dalilnya yang diperdebatkan, paling sekadar lomba banyak-banyakan hafal. Sebab dalil itu sendiri adalah benar pada tarafnya sebagai resep, walau resep bukanlah rasa. Resep martabak bukanlah rasa martabaknya. Gitu aja kok repot....


“Gimana, bisa nggak?” dia kembali menantang.


“Baik, dengan dua syarat....”


“Apa?”


“Waktunya malam, kalau siang saya rada sibuk.”


Wa Ustadz setuju, “Yang kedua?"


“Kita berdua saja, jangan ada orang lain.”


“Soleh ikut...,” dia langsung menawar.

__ADS_1


Akas nyerengeh, “Boleh, tapi jangan yang lain.”


Wa Ustadz menyanggupi, “Enaknya di mana?”


“Terserah Uwa.”


Wa Usradz mikir sebentar, lalu menyebut rumahnya. Akas setuju, bagus begitu daripada di rumah orang lain. Apalagi sang calon tuan rumah telah menjamin bahwa di sana layak untuk maksud ini. Deal. Besok malam, sekitar pukul setengah sembilan, mereka akan debat hakikat. Wuh.


Besok malamnya, sesuai jadwal, Akas bertandang ke sana. Ternyata ada Dores juga di situ. Dia maksa ikut setelah tahu adiknya akan menghadiri debat hakikat yang digelar gurunya. Soalnya, Soleh kasih pengumuman bahwa peserta debatnya adalah Wa Ustadz lawan Pak Akas, yang kemarin dulu nyerang bahasa pohon di tapal batas kuburan. Baik Soleh maupun gurunya tidak tuhu kalau Dores muridnya Akas, sebab dia nggak ngomong. Tapi, kasihan juga, leseh kakaknya Soleh ini dikeroyok adik dan gurunya. Dicekokin dalil beraneka ragam. Dores tidak melawan, namun saja tetap saja leseh. Sumpek, gitu. Maka, gembiralah dia melihat kemunculan sang guru. Ceritanya, sekutu datang....


Dan, tidak butuh lama-lama lagi. Setelah beruluk salam, basa-basi ala kadarnya, acara pun dimulai. Tanpa sungkan, Soleh ambil posisi duduk di samping kanan gurunya. Duduknya model sila jawara itu. Tadinya Dores mau ambil posisi netral, tapi karena melihat gaya adiknya, dia pun ikutan menggeser ke samping sang guru agak di belakangnya sedikit. Lalu, teng..., debat hakikat itu pun dibuka. Wa Ustadz langsung nyerang duluan. Sejurus dalil tingkat tinggi dilayangkan ke lawan yang cengengesan. Tapi, jangan salah, jurus cengengesan ini aslinya buerat buanget karena mengandung tasbih “tak terkira”. Sejagat alam pun lewat.


Maka, dalil apa pun yang dilontarkan Wa Ustadz, dipukul balik oleh Akas kepada yang melontar dengan muatan rasanya. Pada pukulan pertama pun sudah goyah gurunya Soleh itu kehantam rasa. Tapi, belum langsung kapok. Dia kirim dalil lagi, ditepuk balik lagi berikut rasanya. Terus begitu, hingga akhirnya kelenger sendiri yang mengirim. Ibarat dua orang berkisah Jakarta, yang seorang tinggal di sana, yang lain “tahu” Jakarta dari peta. Maka, penyampaian yang ber-KTP Jakarta pasti lebih hidup daripada yang sekadar membaca peta Jakarta. Seperti itu gambaran bandingan Akas terhadap Wa Ustadz.


Dalam hal ini, Akas tidak mendalil sama sekali. Dia tidak hendak membenturkan “kebenaran dengan kebenaran”. Janganlah mengira dalil-dalil itu terpisah-pisah atau berdiri sendiri-sendiri, hingga bisa “diadu”. Jujur-jujuran, salah total pandangan demikian. Semua dalil agama, baik dari ayat-ayat suci al-Qur'an maupun hadits shahih, memuat kebenaran sesuai batasnya. Muatan-muatan kebenaran ini menyusun satu Kebenaran Mutlak.


Kalau dimisalkan rumah, maka dalil-dalil itu adalah batanya, pasirnya, semennya, kayunya, gentingnya, besinya, catnya, dan sebagainya. Pokoknya, unsur-unsur yang menyusun rumah tadi. Terlihat bahwa setiap unsur itu mengandung “kebenaran pada batasnya terhadap kenyataan rumah”. Maka, bagaimana membenturkan “unsur-unsur kebenaran" tadi di antara “segumpal kebenarannya”? Mereka tidaklah bertentangan, masing-masing memuat “kebenaran bagiannya”.


Demikian, di batas isyarat dan iktibar....


Maka, bergeser kedudukan skornya sekarang. Dores senyum-senyum simpul, sementara di sana Soleh dan gurunya gantian leseh. Akas lanjut cengengesan yang buerat buanget itu. Sudah dari sananya martabat rasa melebihi sekadar resep. Mana ada resep martabak lebih enak dari martabaknya, bukan?


“Gantian saya yang nanya ah, dari tadi ditanyain terus nih,” ujar Akas kalem. “Boleh?”


Wa Usradz menghela napas, belum menjawab.


“Gimana? Boleh nggak?”


“Yaa, silakanlah,” jawab Wa Ustadz, gentar nadanya.

__ADS_1


Akas mesem, “Gini, Wa ..., dari tadi kan kita ngomong hakikat, apakah hakikat kita?”


Percaya nggak percaya, gurunya Soleh yang dari tadi ngoceh hakikat itu, tidak mampu menjawab pertanyaan “mudah” ini. Bengong dia menatap Akas. Ujung-ujungnya malah nanya, "Emangnya apa?”


Yah....


Dores nyerengeh menang, Soleh menggeleng-geleng pelan, Wa Ustadz masih bengong menatap Akas. Sementara, yang ditatap lanjut tersenyum.


“Emang, apa hakikat kita?” kembali Wa Ustadz bertanya.


“Cari sendiri, Wa. Bukan saya nggak mau bilang, tapi justru pencariannya itu yang dibutuhkan oleh Uwa. Kalau dalilnya, Wa Ustadz sudah kebanyakan tahu. Lebih dari cukup. Sekarang tinggal rasanya, rasanya dalil-dalil tadi, yang hanya bisa didapat lewat perjalanan ruhaniah. Nggak bisa ketemu kalau hanya baca kitab atau menjiplak ucapan orang. Kalau mau rasanya, maka Uwa harus merasakannya sendiri. Nggak ada yang jual di sejagat alam....”


Dan, berhubung sudah jelas tidak ada lagi yang layak diperdebatkan, mengingat ternyata Wa Ustadz pun belum kenal dirinya sendiri, maka Akas undur diri. Saat bersalaman dengan Soleh, iseng dia menggoda, “Tuh, dengar nggak apa kata pohon ini barusan?” ujarnya, sambil menunjuk tanaman hias daun-daunan dalam pot di sebelah murid “Sunan Kalijaga" itu.


Soleh mendelik sekejap, lalu menyendu menatap penggodanya.


Akas mesem, “Tenang, Leh. Katanya, kamu ganteng, hehehe....”


“Hahaha...,” kakaknya ikut tertawa renyah. Sementara, orang yang mengaku sering disusupi “Sunan Kalijaga” menunduk diam. Tidak kuat buka mulut, sebab memang tidak ada dari Lautnya bahwa waliyullah sekaliber Kanjeng Sunan Kalijaga sibuk begituan. Itu sih modalnya jin sontoloyo. Jangan ketipeng ah....


xxx


Besok sorenya, Soleh terlihat di Masjid Agung. Namun, tidak beraksi macam biasanya. Duduk bengong saja menatap Akas dari arah belakang bakda ashar. Akas tahu, sejak datangnya tadi dia sudah melihat keberadaan Soleh. Tadi pagi kakaknya sudah laporan bahwa semalam, usai debat hakikat itu, dia nekekan adiknya sampai puas. “Cuma, saya terpaksa bilang kalau saya berguru ke Bapak. Habisnya Soleh maksa sih,” ujar Dores. Akas tersenyum saja.


Karena alasan itu, Akas bertahan di masjid hingga lepas isya. Namun, Soleh belum kuat mendekatinya. Sekadar ngeker-ngeker jarak jauh saja. Masih segan mungkin, hehehe.... Besoknya, begitu lagi. Sudah lumayan yang ini. Dia berani ambil posisi di sebelah incengannya saat ashar, maghrib, dan isya. Cuma, belum ngomong. Maka, Akas juga hening, diam sambil mesam-mesem.


Besoknya lagi, demikian pula. Namun, akhirnya dia berujar juga bakda isya. “Pak, saya pengen belajar ngaji Allah yang benar,” pelan. Maka, Akas pun tersenyum mendapati kenyataan bahwa bersamaan dengan itu, “bola bekel” di atas kepala Soleh demikian berkilaunya.


Demikian sekelumit kisah para “anak-anak hati”, yang pertama. Beberapa orang yang lain pun bergabung setelah Soleh. Bermujahadahlah mereka menjalankan apa yang diarahkan gurunya. Dengan cerita warna-warninya masing-masing, mereka berjuang “menempelkan” dzikir Cahaya pada sejati dirinya. Memang begitu awalnya, begitulah perjuangannya, karena sungguh tidaklah mudah “menempelkan” ini. Jangan dibayangkan segampang mengelem prangko ke amplop surat. Namun, kelak jika hak rasanya tiba, tidaklah ada sebenarnya “menempel-menempel” tadi. Sebab, apa ditempel apa? Atau, siapa menempel siapa?

__ADS_1


__ADS_2