Selamat Jalan

Selamat Jalan
30. mau gimana lagi?


__ADS_3

Sekian waktu kembali terlipat. Tidak ada perubahan. Dengan atau tanpa perlawanan terang-terangan dari Akas, tetap saja padat penderitaan Asih tersayang. Sungguh, dengan semua kepenatan hatinya, sang jaka pun akhirnya mengakui bahwa arangnya telah retak, menjelang patah. Maksudnya, apakah lagi yang mesti dia lakukan. “Aku harus bagaimana...?” desahnya sendu.


Arkam menatapnya. Barusan Akas bertanya tentang kabar terakhir Asih. Sakitkah atau bagaimana? Sebab, beberapa hari terakhir dia tidak melihat bidadarinya itu ke masjid. Cuma pengawalnya saja yang melenggang kangkung.


“Ada apa, Kang?” Akas bertanya lagi.


Arkam masih menatap, lalu menghela napas.


“Kang...,” desak sang jaka. Rasanya, ada yang “tidak beres” lagi ini.


“Dibawa ke Jati Alas,” ujar Arkam, pelan.


Mendengar itu, Akas menundukkan wajah. Sudah terduga yang begini-beginian ini. Tapi, di manakah Jati Alas? Kenapa bukan ke Randu Alas lagi? Maka, dia pun kembali bertanya....


“Pesantren Jati Alas, di daerah Pleret, Purworejo. Ke tempatnya Romo Kyai Sayuti Malik,” jawab Arkam.


Oo, tidak jauh ternyata. Di Purworejo, bukan Solo. Maka, Akas memandang Arkam agak lama. Tampaknya sang kakak paham maksudnya.


“Kamu mau ke sana?” dia bertanya.


Akas langsung mengangguk.


Arkam menghela napas. Tampaknya sedang menimbang-nimbang.


“Kang, kasih tahu saja lewat mana. Biar aku yang ke sana....”


Arkam menggeleng-geleng, “Nggak segampang itu. Kyai kenal baik sama Romo Sayuti Malik, dekat juga sama para pengasuh di sana. Aku dengar, Asih dititipkan dengan pesan dilarang menerima tamu dari Magelang yang bukan keluarganya. Kamu nggak bakal bisa ketemu dia.”


Akas langsung menunduk lagi sambil mengusap-usap wajah. Rasanya, terus terang ingin menangis.


“Kas, gimana ya.... Aku paham perasaanmu ke Asih, tapi seperti ini adanya. Jujur-jujuran aku nggak tega melihat kalian berdua. Yang di sini muram, yang di sana nangis hampir setiap saat. Apa iya ini mesti diteruskan? Kalau katamu iya, terserah. Tapi, beginilah adanya. Kayaknya, maaf, nggak ada harapan.”


Akas menatap Arkam sejenak, lalu kembali menunduk.


Hening agak lama di bangku taman alun-alun itu....


“Gimana, Kas? Masih iya?” Arkam memecah senyap.


“Kalau aku, iya. Tapi, aku siap juga kalau tidak,” jawab Akas, pasrah.


“Maksudmu?”

__ADS_1


“Kan harus ditanyakan ke Asih, dia iya apa tidak?”


“Hmm, iya ya...,” Arkam menggumam sambil manggut-manggut.


“Masalahnya di situ, Kang. Aku nggak ada kesempatan bicara dengan Asih. Kemarin waktu di Randu Alas, kami memang nggak ngomongin ini. Cerita yang indah-indah saja. Sejak Asih pulang dan situasinya kayak begini, aku belum pernah bisa ngomong lagi. Boro-boro ngomong, ketemu saja nggak bisa.”


“Jadi, sebenarnya kamu mau bicara juga soal ini ke Asih?”


“Ya iyalah, Kang. Ngerti aku juga kalau persoalan ini harus dibicarakan. Tapi, gimana? Pengawalnya melotot terus. Kudatangi ke rumah, dicuekin. Mau kusikat di kuburan, dipisahin. Mau kukirimi surat, lewat siapa? Lewat si Jimmy? Yakin nggak bakal sampai ke Asih. Pasti dibongkar habis oleh pengawalnya.”


Arkam lanjut manggut-manggut.


“Sekarang, Asih nggak bisa kirim surat dari Jati Alas, kan?”


Arkam memandang Akas, lalu mengangguk, “Kayaknya, iya.”


“Tuh, berarti aku juga nggak bisa kirim surat ke sana, kan?”


Arkam mengangguk lagi, “Nggak terima tamu, nggak terima surat.”


“Nah, aku mesti gimana? Apa harus ngamuk-ngamuk kayak orang gila?” ujar Akas, serak. Rasanya nyereset banget dalam hati. Busyet, sampai sebegininya nasib asmara “Laksamana Cheng Ho” di tanah Magelang.


Lalu, dia membeber sebuah siasat untuk mempertemukan Akas dengan Asih di Pesantren Jati Alas. Ada kemungkinan berhasil karena dia termasuk keluarga Kyai Sanusi dan kenal beberapa pengasuh senior di sana. Tapi, ada syaratnya. Arkam meminta Akas membicarakan kenyataan ini dengan Asih dan dia harus turut menyaksikan. Supaya tidak jadi fitnah katanya. Baiklah, Akas setuju. Gimana nanti sajalah. Pokoknya jumpa dulu dengan Asih tersayang....


Lusanya, mereka pun berangkat. Tiba di sana, Arkam langsung kasak-kusuk ke dalam, Akas menunggu di ruang tamu. Semacam ruang untuk para keluarga yang berkunjung. Ada beberapa keluarga santri di situ. Tidak lama, Arkam muncul sambil agak tersenyum. Sepertinya hawa baik ini.


“Gimana, Kang?” bisik Akas.


“Sedang dipanggil, mudah-mudahan...,” jawabnya. “Awas, ngomong, ya? Aku antar kamu ke sini untuk tahu pendapat Asih. Bukan nemenin kalian pacaran.”


Akas nyerengeh. Duh, gimana, ya? Iyalah.


Tidak lama, hadirlah sang bidadari dari batas pintu. Tanpa sadar, Akas mendelik. Cantik nian Asih, walau terlihat agak pucat dan langsing. Langsing korban perasaan. Sepertinya Arkam nggak ngomong kalau dia datang bersama Akas. Maka, sekejap Asih terkejut, lalu mengembang senyum. “Mas...,” desahnya, serak-serak rintih. Uuh, sang elang pun kelepak-kelepek. Tapi, dia segera menebar senyum terindah yang dimiliki. Langsung main skala pol-polannya.


Untung di pesantren, maka tidak ada acara menari muter-muter gaya bincang film India yang sambil bercilukba ria di tiang listrik itu. Cukup dengan tarian senyum saja. Segini pun sudah luar biasa rasanya.


Lalu, mereka lanjut senyum-senyuman tanpa bersentuhan. Sampai kemudian Arkam mengganggu kemesraan itu. “Ayo...,” ujarnya, agak melotot. Kesal mungkin karena merasa diembekeun. Akas menghela napas, lalu mengangguk.


Tiba juga saatnya....


“Kenapa, Mas?” tanya Asih, mungkin karena melihat raut wajah kekasih yang tiba-tiba menegang setelah senyuman.

__ADS_1


Akas menggeleng, memaksakan sebuah senyuman lagi. Kemudian, hening. Berat mulutnya akan dibuka, serasa dipalang gembok ganda. Arkam menyikutnya lagi. Tanpa suara, cuma matanya saja yang tiga perempat melotot.


“Ada apa, Mas?” Asih bertanya lagi, agak berkerut kening mulusnya.


“Begini, Sayang...,” Akas mendesah, lalu mengalirlah “kisah kenyataan” itu, berikut telaah ilmiahnya. Ditutup dengan pertanyaan, apakah hubungan ini layak dipertahankan?


Maka, Asih yang tadi tersenyum, balik meradang. Wajah putihnya memerah marah, bening air mata seketika mengumpul di bendungan kelopak. Sesaat lagi, pastilah tumpah. “Sabar, Asih, sabar.... Jangan marah...,” Akas gusar.


Arkam juga terlihat cemas. Mungkin dia tidak menyangka bakal sebegini reaksi adik cantik non-kandungnya ini. Tampaknya sang kakak sepupu hendak ikut berpartisipasi menenangkan Asih.


Namun, terlambat....


“Jadi, segini saja, Mas?! Kalau bisanya cuma segini, kenapa nggak bilang dari dulu!” seru Asih. Lalu, menangislah dia sambil berlari masuk.


Akas sekejap terpana. Arkam mengejar dan menenangkan adiknya. Cepat-cepat Akas ikut bergabung. Tapi, bukannya menenang, Asih malah semakin menjadi. Ramelah ruang tamu pesantren itu. Duh, kacau balau ternyata rencana akal yang semula kelihatannya cerdas ini....


“Assalamu’alaikum,” terdengar salam dengan tekanan nada suara yang berat berwibawa.


Jep, sekejap hening ruangan ini. Lalu, “Wa’alaikum salam,” sahut semua. Termasuk Asih, dengan suara serak karena sedang menangis. Ternyata, Romo Kyai Sayuti Malik yang hadir. Para tamu bergantian menyalami beliau, termasuk Akas dan Arkam. Asih juga.


Lalu, tetap hening setelah itu. Hanya terdengar sisa-sisa Asih, belum habis tangisnya. Akas melihat Romo Kyai Sayuti Malik tersenyum ke arah bidadarinya. Asih tidak melihat karena menunduk. Tanpa diduga, beliau balik berpaling arahnya. Akas terkesiap, cepat-cepat menunduk sungkan.


“Hahaha...,” Kyai Sayuti Malik tertawa pelan, menepuk-nepuk pundak Akas. Yang ditepuk, tetap diam. Segan betul rasanya bergerak.


“Arkam, apa kabar Kyai Sanusi?” beliau bertanya ke orang dalam.


“Baik-baik saja, Romo,” jawab Arkam, takzim.


Kyai Sayuti Malik mengangguk-angguk. “Asih masuk...,” ujarnya.


Asih patuh, beranjak masuk. Di batas pintu, dia menoleh ke Akas. Sang elang mengirim sekuntum senyum tulus. Tapi kelihatannya Asih malah seperti akan menangis lagi, buru-bun dia melanjutkan langkah. Akas menatap nanar, serasa jiwanya ikut tercerabut bersama langkah menjauh sang dara.


“Hahaha...,” Romo Kyai tertawa lagi, pelan seperti tadi.


Akas memandang sendu beliau. Terus terang, tatapannya ini berbunyi mohon bantuan. Bantulah saya, Romo. Tolong..., demikian kira-kira.


Kyai Sayuti Malik tersenyum. Entah untuk apa.


“Pulanglah,” ujar beliau, menatap Akas.


Ya sudah, habis acara. Selepas pamitan kepada Romo Kyai Sayuti Malik, mereka pun balik ke Magelang. Di bus sepanjang perjalanan pulang, Arkam jadi pendiam. Hening, gaya penjahat menafakkuri kesalahannya. Penyesalan memang adanya di belakang. Akas pun disentak usai bertanya mengenai langkah selanjutnya. “Nggak tahu!” semburnya cepat, mendelik bulat. Waduh, jadi tidak ilmiah dia, sepulang dari Jati Alas....

__ADS_1


__ADS_2