
Kegiatan pedzikiran di Pakuncen berlangsung lancar. Awalnya tentu masyarakat sekitar bertanya-tanya. Namun, setelah mendapat penjelasan, mereka pun mendukung penuh. Terlebih setelah tahu bahwa yang bikin gara-garanya adalah menantu bungsu Kyai Sanusi. Kenallah mereka dengan almarhum Kiai Ahmad Sanusi, malah banyak yang mengaku murid beliau dalam kajian fiqh. Salah seorang warga bahkan rela membentang kabel dari rumahnya guna menghantarkan listrik ke istana ini untuk sekadar penerangan. Gratis pula bilangnya. Alhamdulillah.
Lalu, tambah hari masyarakat sekitar semakin tenteram dengan adanya dzikir yang mengalun hampir setiap malam dari situ. Soalnya tadinya serem kalau malam-malam mesti melintasi kawasan ini. Maklum, tanah kosong yang gelap. Belum lagi kabar “ini itu” yang katanya sesekali menampakkan diri. Wallahu a'lam. Mungkin benar ada, tapi faktanya tidak mengganggu. Allah berfirman lewat hadits Qudsi, “Aku bersama mereka yang mengingat-Ku.” Nah, berani?
Yang jelas ada, beberapa orang di sini ikut bergabung bersama mereka yang datang dari tempat lainnya. Tidak ada pengumuman tidak pula pemberitahuan resmi, namun mereka tetap berdatangan lewat sababiah-nya masing-masing. Salah seorang ikhwan yang masuk di angkatan Pakuncen adalah Agis. Runyam juga kisahnya dia ini. Biasa, morfinis. Morfinis? Betul sekali....
Secara lahiriah, dia berasal dari kalangan selebriti Magelang. Ayahnya dulu Lurah Magelang. Jangan salah, beliau adalah lurah warisan awal kemerdekaan yang mesti jawara itu. Tidak ada ceritanya orang bisa jadi lurah di sini kalau bukan jagoan. Berpuluh tahun beliau menjabat, sejak zaman Bung Karno hingga masa Pak Harto. Soalnya, turunnya jika dan hanya jika ada yang mengalahkan kanuragannya atau sang lurah meninggal dunia. Selama belum terkalahkan atau belum meninggal, ya terus saja menjabat. Bupati datang silih berganti, Lurah Magelangnya tetap. Tidak ada yang iseng mengutak-atik, salah-salah kota Magelang bisa jadi lautan api seperti Bandung baheula. Maka, lebih bijaksana ditunggu saja sampai meninggal. Demikian mungkin policy bisik-bisiknya. Mungkin.
Barangkali karena faktor itulah, maka si bungsu Agis ini pun tumbuh membadung. Berandalan Magelanglah. Kerjanya petantang-petenteng, berkelahi, mabuk, dan sejenisnya. Aman sentosa saat sang ayah masih ada. Jangan kata polisi, tentara pun segan kepada ayahnya. Setelah sang ayah meninggal, pengaruhnya masih terasa. Tetap saja si bungsu Agis ini “kebal hukum”. Namun, mulai bosan tampaknya dia di Magelang, sudah kekecilan skalanya. Jogja, kedekatan jaraknya. Maka, pergilah si badung itu ke Bali atas ajakan temannya. Kabarnya, di sanalah aslinya duplikat surga. Tersedia barang berbagai rupa, asal kuat duitnya.
Maka, terjerumuslah dia dalam jaringan peredaran obat-obatan terlarang. Jelas bukan skala ecek-ecek karena melibatkan orang-orang antar-bangsa. Selain pengedar, pemakai juga. Bukan sekadar sabu atau ekstasi yang kala itu memang belum naik daun, adanya ya morfin atau sekelasnya. Awal-awal, “cukup” sekali sehari nyepet-nya. Lalu, nanjak dua, tiga, empat, hingga berkali-kali dalam sehari. Keringlah dia, bahkan sempat dua kali hampir bablas gara-gara OD, over dosis.
__ADS_1
Suatu ketika, setitik sadar terbit saat dia melihat langsung kematian tragis beberapa temannya sekaligus akibat kelewat batas itu. Dia pun tiba pada taraf jenuh atas gaya hidup yang mulai bangun sampai tidurnya lagi sekadar nyepet doang itu. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, pulanglah dia ke Magelang untuk niat bertaubat. Katanya, susah taubat kalau masih bercokol di mabes, mesti pergi jauh. Dan, tempat terbaik adalah kembali ke kehangatan keluarga. Skenarionya begitu. Namun, tidak hangat juga ternyata, bahkan setelah dipeluk oleh semua keluarganya. Adanya malah makin edan kebetot sakaw. Mana barangnya tidak ada pula di sini....
Sekian upaya rehabilitasi atas dirinya, gagal total. Yang ilmiah gagal, yang alternatif sama saja. Terlalu berat mungkin cengkeramannya karena hampir delapan tahun disiram morfin kelas “Kolombia”, kualitas prima. Ujung-ujungnya, keluarga pun menyerah. Entah mesti dibagaimanakan si bungsu ini.
Hingga pada suatu hari, di tengah sakaw yang sudah tidak bisa tersalurkan lagi dengan sekadar mengamuk tanpa alasan, dia mendatangi temannya yang mewarisi usaha dagang farmasi dari orang tuanya. Gampangannya, mau minta obat boat, obat-obat keras daftar “G" yang sangat harus memakai resep dokter itu. Dari pengalamannya di mabes, Agis hafal mati judul-judulnya obat itu.
Namun, teman sedari kecil yang diam-diam pemakai juga selain pedagang resmi obat-obatan ini ternyata banyak kilahnya. A-i-u-e-o-lah. Padahal, dulu kalau dia datang untuk fly di sana, Agis yang menyervis sepenuh hati. Giliran sekarang, ngajak main lidah. Maka, Buk! Satu pukulan dilayangkan oleh anak bungsu almarhum Pak Lurah. Belum puas, lanjut bak bik buk sampai sang teman terkulai di lantai. Beres itu, bebaslah Agis mencomot obat-obat daftar “G” yang ada di gudang farmasi ini sebelum balik pulang. Berikutnya, ngeboat sendirian di kamar. Ketukan pintu bernada prihatin dari ibu dan saudara-saudaranya, tidak dia hiraukan.
Tidak semua buruk di dalam sel tahanan, paling tidak bagi Agis. Sebab, saat di sanalah tercetus tekad hati untuk “mati dengan benar”. Entah bagaimana “benar” ini, yang pasti yang sekarang dia jalani tidaklah benar. Pasti tidak benar karena menyusahkan banyak orang dan dirinya sendiri. Bayangkan, sakaw dua harian sekali dalam sel tanpa mampu berbuat apa-apa. Mau minta, minta ke siapa? Mau ngamuk, ngamuk ke siapa? Bisa-bisa malah dirinya yang dipermak seluruh penghuni. Jadinya dia hanya layak menggigil hebat di pojokan sel. Atau, kalau sedang greng sekali, kejang-kejang seperti ayan di lantai sambil membuih mulutnya.
Kini, di rumah, dia berusaha menebus tekadnya itu. Namun, sungguh bukan perkara gampang. Sungguh, tidaklah mudah melepaskan diri dari cengkeraman neraka akibat tapak “bedak surga” delapan tahunan. Hingga pada suatu titik, dia menimbang rencana untuk mengakhiri hidupnya. Sederhana pemikirannya, dia memilih mati saat tidak sedang sakaw. Inilah pilihan “mati dengan benar” yang paling mungkin di antara berbagai ketidakmungkinan. Masalahnya, kalau ditunggu mati sendiri, bawaannya nggak mati-mati. Mesti dimatikan, biar cepat. Untungnya, saat pisau telah tergenggam siap di tangan, keluarganya keburu tahu. Maka, bisalah digagalkan satu upaya setan mengaburkan makna perjuangan menjadi seolah kesia-siaan.
__ADS_1
Lalu, di tengah kekalutan situasi, kakaknya yang telah berbaiar membawa sang adik yang hampir sukses men-terminate hidupnya ini ke Pakuncen. Sebenarnya, sang kakak sendiri masih bertanya-tanya dalam hati, apakah tepat membawa adiknya ke sana? Dalam rangka apa? Namun, demikian kejadiannya....
“Seperti itulah, Pak,” sang kakak mengakhiri riwayat singkat adiknya. “Saya bawa ke sini, mudah-mudahan bisa dinasihati Bapak. Kalau kami yang ngomong, sudah nggak tembus. Mental semua.”
Akas tersenyum. Kalau situasinya sudah “semerah" ini, memang bukan lagi bagiannya kata-kata bijak. Dia butuhnya tindakan, bukan nasihat.
“Jadi, kamu maunya gimana, Gis?” Akas bertanya kepada pemuda yang aslinya tampan, namun sementara ini mengurus kusut gara-gara boat.
Agis diam, belum menjawab. Matanya saja yang menatap garang namun kuyu ke arah pembimbing ruhaniah kakaknya itu.
“Jawab, Gis...,” timpal sang kakak.
__ADS_1
Agis masih diam, tampilannya seperti orang siap-siap marah.