
Besoknya. “Akas, kamu ke ruang BP” ujar Pak Wali Kelas.
“Iya, Pak,” jawab tersangka, meringis pasrah.
Teman-temannya terkekeh. Mereka tahu pelarian Akas kemarin, tahu juga maksud dan tujuannya. Barusan, mereka nuntut kisahnya.
“Maju tak gentar, membela yang merah jambu,” salah seorangnya menyanyi nyaring tanpa diminta.
Riuhlah kelas oleh suara tawa. Hampir semua tahu sih. Biasa, MLM, mulut lewat mulut. Kemarin sebelum kabur, Akas memang bicara ke beberapa teman. Tahu-tahu, sekarang banyak yang tahu “dengan sendirinya”. Ajaib juga.
Singkat cerita, jadilah sang elang disetrap Pak BP yang “PM” nya sekolah ini. Dihukum berdiri di tengah lapangan basket, sampai ada pemberitahuan selanjutnya. Halah, halah, lumayan juga. Tapi, Akas sudah siap, dari kemarin pun telah siap. Tidak apa-apa, dia terima hukumannya dengan lapang dada karena sadar kesalahan. Lagian, dibanding Asih, kecil beginian mah...
Sekarang, sekitar pukul setengah sembilan pagi. Dengan gagah berani, Akas berjalan memasuki bunderan di tengah-tengah lapangan basket. Garis bunderan itu memang sengaja diadakan untuk sarana penghukuman siswa, baik yang badung maupun yang sebenarnya tidak badung, jika ketahuan melanggar peraturan sekolah. Kecuali kebelet pipis, jangan coba-coba ke luar dari garis bunderan sempit itu. Soalnya, bakal dapat tambahan masa hukuman tanpa peluang remisi.
Pertamanya, adem-ayem saja. Matahari masih nangkring di timur. Akas tinggal menghadap ke barat supaya kenanya ke punggung. Ya, panas-panas dikitlah, panas matahari pagi yang kabarnya baik untuk kesehatan itu. Godaan gadis-gadis dari kelas sebelah sana, dia tanggapi dengan serengehan khas Jawanya yang kata mereka berkualifikasi menggoda. Beneran, Akas mendengar sendiri mereka berkata itu kapan waktu lalu. Manis Jawa kan legit....
“Akas sayang, kita-kita juga mau dong...,” seru salah seorang gadis dari lubang jendela. Disambut cekikikan teman-temannya.
Wah, menyebar sampai ke kelas lain ternyata berita kekaburannya kemarin. Pasti sekalian kisah sebab-musababnya karena satu paket. Heemh....
Tembus pukul sembilan, aman. Menjelang pukul sepuluh, Akas tersenyum. Biasanya hukuman nangtung macam begini jarang melampaui jam istirahat pertama yang jam sepuluh itu. Teng teng teng..., lonceng berbunyi. Serengehan terpidana pun melebar, selesai nih. Soalnya, sudah mulai panas. Magelang kan aslinya panas. Panasnya, menyengat. Boleh dicoba.
Namun, sampai Teng teng teng... lagi, yang artinya kembali masuk kelas, ternyata dia belum dibebaskan. Busyet, kenapa? “Apa pelanggaranku kemarin termasuk kelas berat? Perasaan tidak. Kan, bukan berkelahi?” Akas bergumam dalam hati. Semua siswa sini tahu, pelanggaran berat adalah berkelahi di lingkungan sekolah atau bentuk kekerasan lainnya. Dia kan cuma kabur Sehari? Di mana-mana, di seluruh dunia, membolos itu lazimnya tidak dianggap tindakan pidana. Sekadar perdata saja, urusan administratif. Lalu, kenapa begini?
Selanjutnya, terus terang tidak ringan lagi. Sinar matahari menyembur hampir tepat ke ubun-ubun. Baju seragam Akas kuyup seperti usai direndam. Sebelah atas celana panjangnya pun basah semriwing, menahan keringat yang meluncur turun. Teman-temannya juga merasa ada yang nggak beres. Nada prihatin terpancar dari wajah-wajah di sana. Bingung mereka, sama seperti sang elang.
Lonceng pun kembali berdentang untuk istirahat kedua, jam dua belas siang. Akas menunggu dalam panas, beberapa karibnya mendekat.
“Kenapa, Kas? Kamu simpan rahasia, ya?” tanya salah seorang. Maksudnya, mungkin ada kesalahan lain yang dilakukan Akas tapi belum mereka ketahui, namun ketahuan oleh Pak BP yang “PM” itu.
Akas menggeleng, “Kemarin, itulah. Tidak lebih, tidak kurang.”
“Terus, kenapa begini?”
“Nggak tahu juga aku. Tahuku, panas euy. Busyet....”
Akas mengibas-ngibas bukaan kancing atas bajunya. Keringat pun bermuncratan.
Untungnya, Pak Kepsek menghampiri. Rupanya beliau memperhatikan ketidakbiasaan yang sedang berlangsung di bunderan lapangan basket.
“Ada apa ini?” dia bertanya.
Melihat peluang, Akas membeberkan kasusnya. Sama persis dengan apa yang dia bilang ke Pak BP tadi pagi.
Pak Kepsek manggut-manggut, agak mesem. “Ya sudah. Sekarang kamu balik ke kelas,” ujarnya.
Akas menyeringai lega, teman-temannya juga.
__ADS_1
“Terima kasih, Pak,” ujarnya.
Pak Kepsek mengangguk, kemudian berlalu sambil tertawa pelan.
Heemh....
Ternyata, kemarin Pak BP pulang mendadak. Anaknya yang sakit harus segera masuk rumah sakit. Karena terburu-buru, dia lupa menitipkan “korbannya” yang sedang disetrap. Kewenangan Guru BP kala itu boleh dikata hampir absolut. Mungkin bisa diibaratkan kewenangan Ketua MA di suatu negara. Tidak ada pihak lain di sekolah yang merasa berhak ikut campur dalam urusan bimbingan dan penyuluhan, alias hukum-menghukum. Jadilah Akas seperti kambing guling, matang terjemur panasnya terik Magelang. Namun, Pak BP gentle meminta maaf, dan joko Jowo tidak hendak memperpanjang masalah. “Tidak apa-apa, Pak. Mungkin ini bagian dari perjuangan saya,” ujarnya, tersenyum. Soalnya, serasa Asih di sana sedang mesem juga kepadanya. Untung nggak lihat kejadian imut-imut itu....
* * *
Hari berganti. Hubungan Akas dengan Asih terjaga lewat jalinan surat-menyurat. Setiap minggu, Akas mengirim surat ke Randu Alas, dan setiap minggu pula dia menerima surat dari sana. Awal-awal agak slip juga. Akas yang sedang mendidih, mengguyur Asih dengan surat beruntun. Di sana, Asih pun sama, menyiram Akas dengan sekian surat berenteng. Jadinya, nggak nyambung ceritanya. Sepenggal-sepenggal, serasa cerpen bukan novel. Untung situasi kurang enak ini bisa dienakkan. Mereka sepakat masing-masing seminggu satu. Kirim satu, terima satu. Enak begitu, seperti berbalas pantun.
Dan, gara-gara rutinitas ini, Rani jadi tahu....
“Pacarmu ya, Kas?” dia bertanya.
Awalnya Akas meringis saja, tidak mau menjawab. Tapi, tidak mungkin terus begitu karena surat Asih datangnya ke rumah. Kakaknya yang terima karena dia sedang sekolah. Ya Sudah, mengaku sajalah.
Rani mesam-mesem mendengar kisah adiknya. “Oo, ‘AH’ itu Asih Hayati, to? Kirain Aden Haji,” ujarnya menggoda. “ Sempat gugup Mbak ini, kirain sebangsa laki-laki, hehehe...”
Akas mendelik. Sialan, masak laki-laki? Gila apa?
“Cewek mana? Di mana kenalannya?” tanya Rani lagi.
“Dari dekat sini, Mbak..”
Akas mengangguk, sambil cengengesan.
“Siapa?”
Akas menggeleng.
“Kas, siapa?” desak kakaknya. Melotot sekarang, penasaran tampaknya.
Seperti tadi, Akas berusaha bertahan. Bukan apa-apa, sadar resikonya. Tapi, jangankan dia, wong Mas Tomo yang perwira PM saja luntur ditatap mata Cina Mbak Rani. Soalnya, seperti milik Dewi Kwan Im. Susah nolaknya, kan? Maka, Akas pun membuka, karena sang kakak teguh memaksa....
“Anaknya Kyai Sanusi?” Rani terlihat kaget lagi. “Yang mana”
“Yang bungsu,” jawab Akas, pelan.
Rani terdiam, tampaknya sedang mengingat-ingat anggota keluarga ulama kondang yang rumahnya tidak berapa jauh dari sini. “Berarti, adiknya Mbak Riyah, kan?” dia bertanya kemudian.
Akas mengangguk. Nyi Mas Riyah adalah kakak sulung Asih. Setelah ibunda wafat, dialah pengganti ibu di keluarga Kiai Ahmad Sanusi. Semua adik, laki maupun perempuan, tunduk kepada titahnya. Akas dapat bocoran info ini dati Asih lewat surat. Katanya, sang kakak itu galak euy....
“Yang mana?” Rani bertanya lagi, lalu menyebutkan saudara perempuan Nyi Mas Riyah yang dia tahu. Tersebut semua, kecuali putri merah muda.
“Bungsunya, Mbak. Nggak ada di sini. Kan, sedang mesantren di Solo?”
__ADS_1
Rani manggut-manggut, memandang adik bungsunya.
“Kenapa, Mbak? Dijamin ayu kayak Mbak. Percayalah, hehehe...” Akas terkekeh.
“Percaya kalau soal ayune. Mbak Riyah sama adik-adik perempuannya kan cantik, yang laki-laki ganteng. Cuma, kamu yakin?”
“Yakin dong. Seribu satu derajat Celsius panasnya.”
“Kamu ini, diajak ngomong serius malah cengengesan,” gerutu Rani.
“Serius aku, Mbak. Yaqin,” Akas menirukan gaya yaqin Mbah Bagyo dulu, yang jakunnya naik turun itu.
Rani tersenyum, memandang lekat adiknya, lalu menghela napas.
“Terserah kamulah, sing hati-hati saja,” ujarnya.
“Tenang, Mbak, aku kan cucune Mbah Bagyo....”
“Apa urusannya Mbah Bagyo sama ini?” Rani mendelik sayang.
“Lho? Berarti Mbak Rani juga belum mengenal Mbah Bagyo dengan sebenar-benarnya, ya? Sama seperti dulu, waktu belum mengenal aku sepenuhnya,” Akas nyerengeh.
“Mengenal, apa?” Rani tambah mendelik, semakin cantik.
“Beneran belum tahu?”
“Apa?”
“Mbah Bagyo kan elange Batu Raden,” Akas nyengir.
“Oo, jadi kamu ini merasa cucunya elang?”
“Lha iya, kan? Mbak Rani perempuan, aku lanange, hehehe....”
Rani ikut tertawa. “Sudah, pergi sana. Pusing aku dekat-dekat elang bondol. Sukanya ngincar anak gadis orang.”
“Bukan bondol, Mbak, rajawali aku ini,” tukas Akas, membalas canda.
“Terserahlah, sama-sama burung.”
“Nggak bisa, lain cetakannya. Bondol hitam, rajawali putih.”
“Memangnya kamu putih, apa?” Rani mendelik lagi.
“Iya, kata Asih agak-agak demikian, hehehe....”
Dengan gemas, Rani meraih sandalnya. Akas cepat-cepat kabur ke luar rumah sambil lanjut terkekeh.
__ADS_1