Selamat Jalan

Selamat Jalan
17. surat mbak


__ADS_3

Waktu lanjut berputar. Proses pembelajaran Islam ini terus berlangsung dalam diri Akas. Kalau sore di masjid, kalau malam di ruang shalat kakeknya. Lumayan, kini dia sudah bisa baca al-Qur’an walau masih ndet-ndetan, dan makin banyak tahu pengertian dasar “urusan hati” dalam berislam.


Hari ini, sekitar jam sembilan pagi....


“Assalamu'alaikum, Mbah!” terdengar seruan dari depan rumah.


“Wa'alaikumsalam,” sahut Bagyo dari belakang rumah. Dia dan cucunya sedang menyiapkan perkakas kebun. Rencananya hari ini mau panen singkong. “Kas, coba kamu lihat,” ujar sang kakek.


Akas mengangguk dan segera beranjak ke depan rumah. Ternyata, Pak Roso, upasnya desa ini. Dia nyerengeh melihat Akas. Yang dapat cengiran, balas meringis juga.


“Selamat pagi Pak Upas yang dimuliakan Allah, ada yang bisa saya banting?” sapa Akas, bercanda. Pak “Upas” Roso ini orangnya suka bercanda, model-modelnya seperti Ngatijo. Tengil bin jahil.


“Lho? Mbah Bagyo kembali muda? Kok malah jelek, hehehe...,” balasnya.


Tuh, benar, kan? Maka, Akas pun ikut terkekeh.


“Ada surat buat kamu. Tapi, mana Mbah Bagyo?” tanya Roso, usai mereda tawanya.


“Ada di belakang. Mana suratnya, Pak?”


“Nggak, harus ke Mbah Bagyo,” Roso mulai meringis lagi.


“Lho, suratnya kan buat saya?”


“Nggak, pokoknya Mbah Bagyo, hehehe....”


Akas mendelik....


“Soalnya sekalian ada weselnya ini, mengandung keuangan. Kalau yang menerima orang jelek, kan gawat? Hahaha....”


Akas pun tambah mendelik. Tapi, itulah Pak Roso, jangan dimasukkan hati sebab dia juga nggak punya hati, hehehe.... Dia sendiri yang bilang gitu kapan waktu lalu. Maksudnya, mari kita tertawa saja.


“Ada apa, So?” Bagyo muncul di arena, karena merasa sang cucu kok lama balik kembalinya ke belakang.


“Lha, ini baru Mbah Bagyo asline, yang itu palsune, hehehe...,” Roso bikin gara-gara lagi sambil melirik Akas.


Bagyo terkekeh, Akas melotot.


“Ono opo, So?” Bagyo bertanya lagi.


“Ini, Mbah, ada surat buat orang jelek, tapi saya kasihkan Mbah saja. Soalnya, mengandung duit. Kalau nanti duitnya dipakai yang nggak-nggak sama orang jelek, kan saya ketempuhan, hehehe....”


Bagyo terkekeh lagi sambil menerima surat dan wesel itu. Akas yang barusan usai melototnya, terpaksa langsung ganti nyengir.


“Ya sudah, Mbah. Saya pamit, masih ada tugas,” ujar Roso, sesaat lewat.


“Iya, iya. Makasih, So,” jawab Bagyo.

__ADS_1


Setelah beruluk salam, Pak “Upas” Roso pun bersiap mancal sepeda jengki dinasnya. Caranya, sepeda jengki itu didorong dulu sambil agak berlari, kalau sudah dapat percepatan, baru ditunggangi pakai gaya koboi nunggang kuda. Agak melompat ke sadelnya. Di sini, teknik mancal pertamanya sepeda jengki memang begitu. Kalau langsung dikayuh dari posisi diam, tarikannya berat.


Tepat saat sang upas melompat ke sadel, Akas berseru, “Pak! Bannya!”


Roso kaget. Buru-buru dia ngerem mendadak pakai “rem kaki”, lupa mungkin narik rem tangan karena terkejut. Kakinya sibuk menekan jalanan tanah yang agak menurun. Akibatnya, sepeda pun oleng, ngepat-ngepot kiri kanan. Untung bisa berhenti sebelum nyungsep ke selokan.


“Muter...!” Akas lanjut berseru, lalu ngakak. Kakeknya juga terkekeh.


Di sana, sambil memegangi secang jengkinya, Roso gantian mendelik ke Akas. Lalu, pelan-pelan ikut tertawa. Sadar dia kalau barusan kena dikerjain balik oleh orang jelek yang sedang belajar urusan hati.


“Oww... cah edyan! Awas koe.” canda Roso.


Begitulah kejadian paginya....


Setelah menyimpan surat dan wesel itu di lemari kamar, Bagyo segera mengajak cucunya ke kebun. “Dari Rani di Magelang. Nanti saja kamu baca kalau sudah dari kebun, ya?” pintanya. Akas mengangguk. Mudah itu, tinggal baca saja, kan? Soal, nya, hari ini mereka mau panen singkong. Nggak enak sama cukongnya kalau dia kelamaan nunggu. Sudah janjian sih sebelumnya.


Karena keasyikan mengurus singkong bareng Ngatijo yang nyusul belakangan usai mengantar Mbah Surti ke pasar, Akas lupa surat tadi. Habis, singkongnya gede-gede, jadi semangat mereka mencabutinya. Acara panen ini berakhir menjelang ashar. Balik dari “ladang pembantaian”, langsung berangkat lagi ke masjid untuk memperlancar baca al-Qur’an seperti biasa.


Malamnya, selepas isya, Bagyo memanggil cucunya....


“Apa, Mbah?” tanya Akas, sambil duduk di bale-bale samping rumah seperti biasa. Ada neneknya juga di situ.


“Ini suratmu tadi,” Bagyo menyerahkan surat Rani itu.


“Oo iya, lupa aku...,” Akas nyerengeh senang. Pantas dari tadi rasanya seperti ada yang kurang, ternyata ini.


Akas menghela napas usai membacanya, sambil mesem. Urusan sekolah lagi ternyata?


“Gimana, Kas?” tanya kakeknya.


Akas tahu kakek neneknya sudah membaca surat ini. Amplopnya sudah terbuka saat diberikan kepadanya tadi. Tapi tidak masalah, wajar itu, namanya juga orang tua. Lagian, Rani kan cucu juga. Lain mungkin kalau surat ini dari pacarnya Akas yang belum pernah ada, hehehe....


“Gimana? Kamu mau sekolah di sana?” Bagyo bertanya lagi.


“Eem, gimana baiknya kata Mbah sajalah. Saya manut,” jawab sang cucu. Bukan basa-basi ini, terus terang Akas betah di sini walau katakanlah tidak ada apa-apa. Maksudnya, mereka bukan orang berada, gitu.


“Baiknya jangan, biar Akas di sini saja,” ujar Surtiyah.


Akas menoleh. Oo, tidak setuju tampaknya sang nenek yang mantan pejuang kemerdekaan ini. Kenapa?


“Sudah susah-susah diajarin Islam, nanti balik Kristen lagi,” lanjut Surtiyah, dengan nada menggerutu. Bibir keriputnya langsung manyun.


Suaminya terkekeh, Akas meringis.


Ceritanya, biar sudah sepuh, Mbah Surti kan perempuan juga. Jadi tetap berhak cemberut sebagaimana lazimnya wanita.


“Surti, Surti..., Allah itu segalanya. Kok bingung-bingung?” celetuk suami tersayang, yang juga mantan pejuang kemerdekaan.

__ADS_1


“Bukan bingung, Mas. Tapi, Rani lak Kristen, nanti kalau Akas jadi melu-melu ke gereja lagi, gimana?” timpal Surtiyah, tidak mau kalah.


“Hehehe..., ya itu termasuknya bingung. Gerejanya punya siapa? Masjidnya punya siapa? Aku punya siapa? Kamu punya siapa? Ngatijo punya siapa? Rani punya siapa? Akas punya siapa? Kristen sama Islam juga punya siapa? Hayo...? Hehehe. ..,” Bagyo terkekeh lagi usai nembak serenteng “punya siapa”.


Surtiyah makin manyun disentil mesra begitu oleh suaminya. Tapi, lain dengan Akas, dia tercekat.


“Memangnya punya siapa, Mbah?” terloncar tanya.


“Lho, Mbah juga nggak tahu,” Bagyo nyerengeh.


“Halaah, Mbah ini. Punya siapa, sih?”


Namun, kakeknya itu tetap menggeleng. Dipaksa oleh sang cucu, teguh tidak mau bilang. “Nanti kamu cari tahu sendiri.Kalau sudah tahu, jangan lupa kasih kabar Mbah, ya?” ujarnya, Sambil tersenyum rahasia.


Akas garuk-garuk kepala. Kok malah muter balik gini? Sudahlah, susah maksa mantan pejuang kemerdekaan yang sekarang kompak nyerengeh itu. Surtiyah yang tadi manyun, sekarang ikutan menertawai sang cucu. Ceritanya, sudah seirama lagi dengan Mas Subagyonya yang dulu tampan itu. Mungkin.


Balik ke soal tawaran Rani....


“Ya itu tadi, Mbah. Saya manut saja apa kata Mbah,” Akas menjawab pertanyaan ulangan ketiga dari kakeknya mengenai ini.


Bagyo manggut-manggut. Surtiyah pasrah.


“Sekolah jelas penting,” ujar Bagyo, setelah sejenak hening. “Tapi, bukan hanya karena itu Mbah setuju kamu ikut Rani. Kelihatannya, tempatmu memang di sana,” lanjutnya, sambil memandang lekat sang cucu.


“Maksudnya apa, Mbah?” Akas menanyakan maksud ucapan “tempatmu memang di sana” barusan.


“Mbah setuju kamu ke sana, biar bisa lanjut sekolah.”


“Anu, Mbah, maksudnya tempatmu memang di sana itu, apa?”


“Oo, kalau nyatanya kamu ke sana, berarti tempatmu memang di sana, kan?” Bagyo tersenyum simpul.


Tapi, Akas tidak langsung yes, sebab senyum sang kakek terasa mengandung unsur rahasia seperti tadi. “Mbah, ada apa, to?” kejarnya.


“Ada apa, apanya?”


“Kok Mbah Bagyo mesemnya beda?”


“Heh? Apanya yang beda? Surti, senyumku sekarang beda, ya? Hehehe...”


Sang istri terkekeh, sampai sirihnya lepas. Lalu, kedua sepuh itu kompak tertawa. Akas meringis garuk-garuk kepala. Repot memang kalau dua belahan hati sepuh berpadu. Yang lain silakan lenyap....


Secuil Kopi



ISTILAH jengki berasal dari Bahasa Inggris “yankee”, yang berarti orang baru. Di era setelah kemerdekaan, kata itu digunakan orang Indonesia menyebut berbagai hal-hal berbau asing. Misalnya rumah jengki, celana jengki, dan sepeda jengki.

__ADS_1


Uniknya, bila mendengar kata jengki, ingatan orang Indonesia selalu mengarah ke sepeda keluaran Cina. Di periode 1970an hingga menjelang tahun 2000, berbagai merek sepeda dari Negeri Tirai Bambu pernah mewarnai kehidupan masyarakat dari beragam lapisan. Saking populernya, apapun merek sepeda produksi Cina yang beredar seperti Phoenix, Flying Piqeon, Butterfly, dan Peacock; semuanya disebut jengki.


__ADS_2