Selamat Jalan

Selamat Jalan
20. AM PM


__ADS_3

“Hati-hati, Le...,” ujar Surtiyah, setelah mencium kening cucu. “Di sana nanti kamu jangan bingung lagi, ya?” lanjutnya.


“Insya Allah tidak, Akas sudah tahu kok,” Bagyo menimpali, sambil tersenyum kepada sang cucu yang hendak merantau itu.


Surtiyah memandang suaminya, “Sudah tahu apa, Mas?”


“Nggak tahu. Pokoknya sudah tahu, hehehe....”


Seperti biasa, sang istri manyun sebentar gara-gara jawaban mengambang tadi. Lalu, kembali memandang cucunya, tersenyum tanpa berkata-kata lagi.


Akas pun balas tersenyum.


Hari ketiga setelah kedatangan surat Rani, Akas berangkat ke Magelang. Weselnya sudah diuangkan kemarin di Kantor Pos Batu Raden. Sesuai petunjuk kakaknya, Akas pergi ke Terminal Purwokerto dulu. Dari situ naik bus jurusan Jogja, minta turun di Magelang. Kakek-neneknya mengantar sampai terminal. Ngatijo tidak ikut, sedang meriang badannya.


Tiba di Terminal Purwokerto sekitar pukul setengah tujuh pagi. Berangkatnya dari Batu Raden selepas subuh. Tidak sulit didapat bus jurusan Jogja di terminal ini. Dia pun naik salah satu bus yang tersedia, setelah dapat jaminan dari kondekturnya, bahwa bus ini melintasi kota Magelang.


Tidak lama kemudian, bus itu pun berangkat....


“Mau turun di mana Magelangnya?” tanya kondektur, saat narik ongkos.


“Di yang paling dekat dengan kantor Akademi Militer (AM),” jawab Akas sambil memberikan uang. Lumayan juga kondektur ini, masih ingat dia ke calon penumpang yang tadi tanya-tanya Magelang.


“Oo, dekat itu. Nggak jauh dari bunderan,” ujarnya, disambung kisah singkat tentang kedekatan kantor AM Magelang dengan bunderan. “Nanti bus ini ngelewatin bunderan itu....”


“Kalau sudah dekat sana, kasih tahu saya, ya?” pinta Akas.


Kondektur yang sepantaran dengannya itu mengangguk, lalu melanjutkan tugasnya menarik ongkos.


Sambil agak melamun, pelan-pelan Akas tersenyum sendiri. Ceritanya, biarpun misalnya kondektur tadi panjang lebar berkisah tentang kedekatan kantor AM Magelang dengan bunderan, tetap saja sejatinya Akas belum paham karena dia memang belum pernah ke sana. Karena belum pernah ke sana, berarti dia belum mengenal dengan sebenar-benarnya, apa yang disebut kantor AM dan bunderan itu. Semacam ini mungkin ecek-eceknya yang dimaksud “rasa” oleh Mbah Bagyo. Kisah kondektur, ibarat dalilnya. Karena Akas belum punya rasa kantor AM dan rasa bunderan, walau katakanlah mampu menghafal dalil kedekatannya dari cerita yang dituturkan kondektur, tetap saja hakikatnya dia belum paham. Iya, kan?


Menjelang pukul empat sore, sampailah bus di Magelang. Kondektur menurunkan Akas di bunderan yang tadi disebut-sebut dalam dalilnya. Makrifatlah Akas dengan si bunderan, dapat rasanya. Tapi, belum dengan kantor AM-nya Ternyata beneran dekat, jalan sedikit langsung ketemu. Sekarang, dia sudah punya kedua rasa. Maka, kini Akas bisa berkata haqqul yaqin bahwa dalil kedekatan yang dikabarkan kondektur tadi benar. Selanjutnya, tinggal cari makrifat dengan sang kakak ipar. Mudah-mudahan belum pulang....


“Selamat siang, Pak,” sapanya ke petugas jaga.


“Selamat siang,” sahut seorang anggota AM. “Anda siapa, dari mana, dan ada keperluan apa?” dia langsung nembak duluan.


Busyet, tegas nian....


“Saya Akas, dari Batu Raden. Minta izin bertemu Pak Sutomo.”


“Letnan Sutomo?”


“Iya, Pak.”


“Ada keperluan apa?”


“Keperluan keluarga. Saya adik iparnya.”


“Anda adik ipar Letnan Sutomo?”

__ADS_1


“Iya, Pak.”


“Silakan duduk, tunggu sebentar.”


Petugas AM bertubuh tinggi besar ini bergegas masuk ke kantor yang kesannya “dingin” itu. Akas duduk di kursi tamu pos penjagaan. Petugas AM satunya cuek banget, tidak pakai tanya-tanya. Pokoknya, pandangan lurus ke depan. Memang begitu harusnya mungkin.


Tidak selang lama, petugas tadi muncul lagi. “Mari,” ajaknya. Akas pun bersiap mengikutinya, mengangguk dulu ke petugas yang cuek itu. Eh, dibalas angguk ternyata. Baik juga dia, lumayanlah.


Di ruang kerjanya, sang kakak ipar jaim nian. Wajahnya dipasang merengut, pokoknya lebih nyebelin dibanding AM di luar tadi. Akas yang sudah jauh-jauh datang dari kaki Gunung Slamet ini cuma dilirik secuil, lalu suami kakaknya itu lanjut menyimak “bisik-bisik” petugas jaga yang intinya melaporkan bahwa inilah tersangka dari Batu Raden yang mengaku adik ipar sang letnan. “Kembali ke tempat,” ujar Sutomo, usai terima “bocoran”.


“Siap!” jawab sang petugas. Dia menghormat, lalu beranjak ke luar ruangan sekalian menutup pintu.


Tinggallah kini “tersangka” dan kakak iparnya...


Ee, sudah gitu, Sutomo malah menteleng ke adik istrinya. Mungkin kebawa lelah setelah menempuh perjalanan jauh Akas balas melotot dengan gagah berani. “Biarin, aku bukan siswa AM, aku adiknya Mbak Ani. Mau kulaporkan ke mbakku yang ayu? Hayo? Kalau pegatan, nyesalnya dijamin seumur hidup,” celotehnya dalam hati, bernada kesal. Soalnya, Akas tahu persis kalau kakak kedua ini paling cantik di antara tiga kakak perempuannya. Paling plek wajahnya dengan Dewi Kwan Im yang terayu se-Sidareja itu.


Lalu, “Hahaha...,” Sutomo ngakak. Dia bangkit dari kursi, berjalan ke arah adik ipar, dan langsung memeluknya.


Terus terang, Akas agak kaget. Maklum, dia belum sempat kenal dekat dengan kakak iparnya ini. Usai menikah, Sutomo dan Rani memang sempat mampir ke Batu Raden, tapi cuma sebentar karena sang petugas harus kembali bertugas. Sudah, sekali itu saja pertemuan Akas dengannya sebelum ini.


“Kenapa kamu melotot? Berani sama aku?” tanya Sutomo. Jawanya belum reda, masih bersisa sedikit.


Akas nyerengeh, “Lha, Mas Tomo yang duluan....”


“Duluan apanya?”


“Kan, Mas Tomo yang duluan menteleng?”


Akas meringis. Untung bukan penjahat....


“Ayo duduk, duduk.... Mau minum apa?” tanya Sutomo.


“Apa saja, Mas, yang penting air.”


Sutomo terkekeh lagi, lalu minta dibuatkan teh manis lewat “halo-halo” yang menempel di dinding ruang kerjanya. Katanya, alat “halo-halo” itu namanya interkom. Termasuk perkakas mewah, belum banyak kantor instansi pemerintah dilengkapi ini, baru kalangan militer. Maklum, akhir tahun ‘90-an.


Selanjutnya, ngobrol ringanlah mereka. Kata Sutomo, untuk sementara mereka menyewa kamar paviliun di sebuah hotel. Sudah beli rumah, tapi sekarang masih dirapikan. “Mbakmu sedang isi, kasihan kalau tinggal di rumah yang lagi didandanin begitu. Banyak debu,” ujarnya.


Akas nyerengeh. Ceritanya, sebentar lagi jadi om nih. “Enak tinggal di hotel, Mas?” dia lanjut bertanya, iseng-iseng.


“Ya enak, wong ditanggung negara. Kalau bayar sendiri baru terasa nggak enaknya, hehehe. ...”


Akas ikut terkekeh. Pantas, gratisan rupanya.


Obrolan terus berlanjut, sampai masuk seorang anggota AM, melapor bahwa apel sore telah siap dilaksanakan.


“Tunggu sebentar, ya? Anggota harus apel dulu kalau mau bubaran,” ujar Sutomo ke adik iparnya, usai terima laporan.


“Iya, Mas. Tapi, nggak apa-apa aku di sini?”

__ADS_1


“Jelas terlarang, kalau kamu bukan adikku, hahaha...,” Sutomo terbahak, lalu melangkah ke luar sambil membenahi posisi pistol di pinggangnya.


Akas cengengesan. “Kok bisa Mbak Ani yang lembut gitu dapat tentara kayak gini, ya? Bukan sekedar tentara, polisinya tentara malah. Busyet...,” celotehnya dalam hati. Maklum, Akas tidak tahu prosesnya. Tahu-tahu saat mereka datang ke Batu Raden dulu sudah menikah. Rani cuma bilang kalau ketemunya di Jogja. Terus, jadian deh. Lanjut sampai sekarang.


Sekitar lima belas menit kemudian, “Ayo,” ajak Sutomo yang telah usai apel. Akas mengikutinya berjalan ke sektor belakang kantor ini. Di sana, Sutomo meminta adiknya naik ke Jeep PM yang putih itu. Wuh, segan juga, tapi Akas naik karena jelas-jelas disuruh kakaknya. Saat melintas depan pos penjagaan, dua petugas jaga berdiri menghormat. Beberapa, anggota PM yang ada di sekitar situ, juga menghormat. Pastinya, bapak-bapak polisinya tentara ini menghormat kepada Letnan Sutomo, tapi Akas serasa “aku seorang kapiten” juga deh Boleh, kan? Dalam hati kok serasanya. Nggak ada yang tahu..


Rani gembira menyambut kedatangan adik bungsunya. Dia memeluk erat Akas.


Malamnya, usai makan malam, Akas membuka, identitas keislamannya kepada Rani. Daripada nanti-nanti jadi salah pengertian. Namun, ternyata Rani sudah tahu tentang ini.


“Tahu dari siapa, Mbak?” tanya Akas.


“Mas Tono yang kasih kabar, dia tahu langsung dari Pater Jo. Katanya, kamu menolak tawaran sekolah pendeta, ya?” Rani tersenyum.


Akas meringis. “Aku ikut kata hati, Mbak. Bukan soal mau atau nggak mau. Mbah Bagyo sama Mbah Surti juga tidak melarang. Memang ada ngomong-ngomong soal agama, tapi ini benar-benar keputusanku sendiri.”


Rani lanjut tersenyum. “Mbak paham kok. Buat Mbak, nggak ada masalah. Maksudnya, urusan ini hak masing-masing. Lha, Mbak sendiri juga nekat nikah sama orang Islam,” ujarnya sambil melirik sang suami.


Yang dilirik nyerengeh, “Soalnya yang kayak aku ini langka susah didapat. Sudah PM, perwira, hitam, gagah, Islam lagi hahaha....”


Akas ikut nyerengeh. Rani mencibir sayang.


“Lho, iya kan, Ni? Sudahlah, mengaku saja,” goda Sutomo.


Rani menepuk manja lengan kekar suaminya. Akas tersenyum, mesra tampaknya sepasang kakaknya ini. Semoga.


Obrolan pun berlanjut. Kata Rani, karena Akas tidak bersedia masuk sekolah pendeta, maka kakak sulung yang menggantikan. Seperti Akas, Haryono ditawari langsung oleh Pendeta Joshua, dan menerimanya sepenuh hati.


“Oo, gitu ya, Mbak?” Akas terpana, karena memang baru tahu soal ini. Lebih dua tahun terakhir, sejak sang ayah meninggal, entah kenapa kakak sulungnya itu tidak pernah main ke Batu Raden. Sulis dan Wati masih ada munculnya. Rani, datang suratnya. Bisa dimaklumi kalau kakak kedua tidak bisa hadir karena sibuk mengurus polisi tentara yang susah didapat ini. Sekarang baru jelas, ruapanya Ping Haryono sedang kuliah....


“Mas Yono minta supaya kita jangan ngomong soal ini ke kamu. Itu makanya aku, Sulis, sama Wati, nggak cerita. Tapi, maksudnya baik kok, percayalah. Kamu jangan salah sangka, ya?” pinta Rani.


“Nggak, Mbak. Aku malah senang dengar ini,” sahut Akas, bersungguh-sungguh. “Cuma, rindu aku sama Mas Yono. Sekolahnya di mana, sih?”


Rani menyebut nama kota lokasi sekolah theologia tempat Haryono belajar untuk jadi pendeta. Akas manggut-manggut. Jauh lokasinya kota kecil itu, kira-kira di tengah-tengahnya Jawa Timur.


“Wis, urusan Mas Yono beres. Sekarang urusanmu. Gimana, kamu mau lanjut sekolah, nggak?” tanya Rani, memecah hening yang sesaat menyergap di situ.


Akas menyeringai manis.


“Maksudnya, mau?” Rani tersenyum.


“Yaa, terserah Mas sama Mbak saja. Aku manut, hehehe...”


Sutomo ikut terkekeh. Rani lanjut tersenyum. Lalu, perdebatan soal sekolah apa yang cocok untuk si bungsu pun dimulai. Sutomo pengen SMA, Rani SMEA, Akas manut saja...


Setelah diputuskan SMEA, Akas mesem. Bahagia rasanya bakal kembali bersekolah.


Tiga hari setelah itu, dia diterima melanjutkan sekolah di sebuah SMEA negeri di kota Magelang. Peraturan kala itu tidak seketat sekarang soal kutu loncat, juga soal usia. Maklum, masih terhitung zaman susah. Bisa sekolah saja sudah bagus, karena masih dianggap kebutuhan mewah. Apalagi yang mengurus perwira PM, gagah dan hitam. Islam lagi. Ya sudah, tembuslah...

__ADS_1


Tidak ada masalah di sekolah. Akas bisa menyesuaikan diri. Memang awalnya lumayan keselek juga. Maklum, dia Yang kelas satunya SMA, tiba-tiba naik kelas dua SMEA. Tapi, secara umum tidak ada masalah. Beneran.


__ADS_2