Selamat Jalan

Selamat Jalan
9. balon pengembala


__ADS_3

Hari menjelang siang. Akas, kakek, dan neneknya sedang berbincang santai di bale-bale bambu samping rumah. Ngatijo ikutan nimbrung. Dia pemuda desa sini yang sejak balita dipungut Subagyo, maka orang-orang menganggapnya anak Mbah Bagyo. Kini “anaknya” Mbah Bagyo jadi dua, ketambahan Akas. Satu-satunya yang asli sudah berpulang setengah tahunan lalu.


“Selamat siang...,” terdengar sapaan dari batas pagar.


Akas melongok ke depan, dan langsung mengenali tamu yang datang. Pendeta Joshua, gembala umat Kristiani di gereja Sedayu. Gereja yang dulu biasa dia sambangi bareng ibu dan segenap kakaknya kalau hari Minggu.


“Selamat siang, Pater,” sambut Akas dengan senyum, langsung menyalami dan mencium tangan sang gembala.


Pendeta Joshua balas tersenyum, “Apa kabarmu, Akas?”


“Baik, Pater. Mari...,” Akas mengajak beliau ke samping rumah, untuk dikenalkan kepada kakek neneknya, berikut Ngatijo.


Di Sedayu, Pendeta Joshua akrab disapa Pater. Maksudnya Father, sapaan khas pendeta Nasrani di negeri barat. Dimaklum saja kalau jadinya Pater karena lidah lokal jarang yang kuat melintir Inggris dengan baik dan benar.


“Ini rumah kakekmu, kan?” tanya Pater Jo, sambil melangkah.


“Iya, saya tinggal di sini sekarang.”


Pater Jo manggut-manggut. Tampaknya dia hendak bertanya, sesuatu lagi, tapi sudah keburu sampai di samping rumah.


“Ini kakek saya, Mbah Bagyo...,” Akas memperkenalkan kakeknya yang sedang merokok klobot sambil melintir tasbih itu.


Pater Jo tersenyum seraya mengulurkan tangan ke Subagyo, yang juga balas tersenyum. Mereka pun saling memperkenalkan diri. Lanjut ke Surtiyah. Ngatijo tidak kelihatan, entah melenyap ke mana.


“Ada keperluan apa, Pater?” Subagyo bertanya, sekalian membuka forum. “Dengan saya atau dengan Akas?”


Pater Jo tersenyum lagi. “Tepatnya, dengan Akas kalau Mbah Bagyo tidak keberatan,” ujarnya.


“Hehehe..., ya nggaklah. Apa sih yang diberatkan?”


Pater Jo ikut tertawa pelan.


“Ayo, Bu..., Pater ada perlu sama Akas,” Nur mengajak istrinya beranjak, memberi waktu dan tempat kepada sang gembala.


Surtiyah mengangguk. Kedua sepuh itu pun beranjak masuk ke dalam rumah. Pater Jo memandangi langkah mereka sambil mengangguk-angguk kecil, lalu terdengar menghela napas panjang.


Setelah mereka lenyap ditelan rumah, Pater Jo kembali memandang lekat anak bungsu Haryati ini. “Akas, Akas...,” ujarnya, menggeleng-geleng sayang. “Kalau lihat kamu, aku langsung ingat ibumu,” lanjut beliau sambil menebar senyum ramahnya yang khas itu.


Akas meringis, menggaruk-garuk belakang kuping.


“Kamu kerja apa sekarang?” tanya sang pendeta.


“Nggak ada, Pater. Bantu-bantu Mbah saja mengurus kebun.”


“Sekolah?”


Akas menggeleng.


“Masih selalu ke gereja, kan?”


Akas terdiam, lalu menggeleng.


“Kenapa?”


Si bungsu masih diam. Kenapa, ya? Perasaan, nggak tahu tuh....


“Kenapa?” Pater Jo bertanya lagi.


“Emm, mungkin karena ibu saya sudah nggak ada, Pater,” jawab Akas, sekenanya.

__ADS_1


Kening Pater Jo tampak agak berkerut.


Hening sejenak.


“Tapi, keimananmu tetap Kristen, kan?” Pater Jo bertanya hati-hati.


Akas mengangguk. Sama sajalah.


Senyum pun mengembang kembali di wajah ramah sang pendeta.


“Sebentar, Pater, saya ambilkan minum,” Akas berdiri, hendak beranjak mengambilkan minum.


“Nggak usah, nggak usah, gampang itu. Ini yang penting....”


“Ada apa sih, Pater?” si bungsu terpancing.


Pater Jo memandangnya....


“Begini, sekarang sedang dibuka program. Aku sengaja datang ke sini karena teringat kamu yang anaknya Haryati. Ibumu salah seorang jemaatku yang baik,” ujar sang pendeta, sambil terus memandang si bungsu.


“Program apa, Pater?”


“Perekrutan calon pendeta,” jawab Pater Jo, pelan.


“Maksudnya, gimana?”


Pater Jo menghela napas, wajahnya terlihat sedikit menegang.


“Kalau kamu mau, kamu bisa masuk sekolah kependetaan. Gereja kita punya jatah calon. Aku timbang-timbang, sepertinya kamu cocok,” ujar sang pendeta.


Akas melongo. Sekolah pendeta? Wuih, belum pernah kebayang itu.


“Maksudnya gimana, Pater?” dia bertanya lagi, antusias.


“Yaa, sekolah untuk bisa jadi pendeta....”


“Seperti Pater?”


Pater Jo mengangguk, senyumnya yang tadi belum habis.


Akas manggut-manggut, lalu terpekur.


“Kenapa? Kok jadi diam?” Pater Jo memecah senyap.


“Saya nggak punya ijazah SMA....”


“Tapi, kamu bisa baca, tulis, dan berhitung, kan?”


Akas mengangguk.


“Maka ijazah tidak dibutuhkan, hehehe....”


“Oo, nggak perlu syarat ijazah?” Akas kembali antusias.


“Kalau lewat jalur biasa, harus. Ini kan jalur khusus. Kalau mau, berarti kamu terpilih. Tinggal masuk, belajar yang baik, terus lulus jadi pendeta. Selanjutnya, membimbing umat. Prinsipnya, semua ditanggung gereja.”


Wuih, Akas mendelik senang. Pater Jo pun makin lebar senyumnya.


“Gimana? Mau nggak?” sang pendeta mengedip mata.

__ADS_1


Si bungsu nyerengeh riang. Rasanya, kalau nggak mau kok goblok banget, ya? Bayangkan, modal badan doang. Tapi..., kan ada Mbah Bagyo dan Mbah Surti yang jadi orang tuanya sekarang. Adabnya mesti ngomong dululah. Masak nggak?


“Gimana?” Pater Jo menggoda lagi.


“Menarik sekali Pater, beneran. Cuma saya harus bilang dulu ke Mbah Bagyo sama Mbah Surti. Nggak enak kalau tidak nggak minta izin.”


Pater Jo mengangguk-angguk, lalu menghela napas.


“Iya, aku paham. Memang kamu harus bilang dulu sama Mbah, nggak sopan namanya kalau nyelonong. Tapi, Kas... sebenarnya keputusan akhirnya ada di kamu. Bukan di saya, buka di Mbah, bukan juga di siapa-siapa. Adanya di kamu sendiri. Terkadang, tidak mudah...,” Pater Jo memandang lekat Akas. “Bukan kadang-kadang, sering malahan. Makanya, perlu keteguhan hati dan kesiapan berkorban jika memang harus. Ingat, tujuannya adalah membimbing umat. Tugas sangat mulia itu dan tidak semua orang diberi kesempatan oleh Tuhan untuk memanggulnya. Sungguh sayang kalau disia-siakan. Jadi, keputusannya ada di kamu.”


Akas menunduk dalam. Rasa-rasanya dia paham maksud yang disampaikan Pater Jo barusan. Mengerti arahnya ke mana. Saat mengangkat wajah, matanya bertemu dengan tatapan sang pendeta yang teduh mendayu itu. Maka, Akas pun kembali menunduk sungkan.


“Hahaha...,” Pater Jo tertawa pelan. “Akas, kamu jangan jadi bingung gini, ah. Ayo gembira, dikasih kabar gembira kok sedih?”


Mendengar itu Akas tersenyum, lalu mengangkat wajahnya.


“Nah, gitu dong. Ini baru calon gembala namanya, hahaha...,” Pater Jo tertawa lagi, pelan saja.


Akas pun ikut tertawa. Sama, pelan-pelan juga.


“Yah, kurasa cukup. Ini saja yang mau aku beritakan ke kamu. Sekarang tinggal menunggu keputusanmu, kan?” tukas sang pendeta.


“Mohon maaf kalau saya belum bisa memutuskan sekarang, Pater.”


Pater Jo mengangguk-angguk. “Tidak ada yang harus dimaafkan, kamu tidak salah. Malah salah kalau nggak bilang ke kakek nenekmu. Cuma, ingat pesanku tadi. Keputusannya ada di kamu, bukan di siapa-siapa. Itu saja.”


“Baik, Pater. Saya akan ingat.”


Pater Jo mengangguk-angguk lagi sambil menepuk-nepuk pundak Akas. “Sudah, aku mau pamit ke Mbah Bagyo....”


“Waduh, saya buatkan minum dulu, ya?” sambar Akas, baru sadar kembali kalau tamu istimewanya ini belum disuguhi.


“Nggak usah, terima kasih.”


“Beneran nggak apa-apa, Pater? Saya jadi nggak enak, nih.”


Pater Jo tertawa. “Urusan kecil itu, yang penting keputusanmu. Awas...,” ujarnya sambil melotot sayang kepada “balon” gembalanya; bakal calon.


Akas pun tersenyum.


Dia merasa Pater Jo memang sayang kepadanya. Kalau tidak buat apa jauh-jauh ke Baturaden? Di Sedayu pun berserak baka calon, banyak yang mau sekolah gratisan begitu. Untuk jadi pendeta pula, yang jelas-jelas tugas mulia di mata Tuhan. Dulu saat Akas kecil ke gereja bareng ibunya, Pater Jo hampir selalu menyempatkan diri menyapa secara khusus. Bahkan, Akas kecil itu sering diayun-ayun atau didudukkan lama di pangkuannya. Maklum, Haryati memang salah seorang jemaat favorit sang pendeta. Rajin banget sih ke gerejanya, tidak kenal kata bolos, kecuali kalau sedang tidak berada di Sedayu. Lagi sakit pun, asal masih kuat bangun, Haryati akan datang ke misa mingguan Pendeta Joshua. Bagaimana tidak terpilih jadi salah seorang jemaat kesayangan?


Setelah berpamitan dengan Subagyo dan Surtiyah, Pendeta Joshua balik ke Sedayu. Akas mengantar beliau sampai pinggir jalan raya, sekalian menemani hingga sang pendeta dapat bus. Sesaat sebelum naik ke bus, Pater Jo melotot sayang lagi kepadanya. “Awas...,” dia berujar sambil menggerak-gerakkan telunjuk tangan kanan, lalu tersenyum lebar.


Akas balas tersenyum, tapi tanpa melotot.


Maka, sepanjang sisa hari itu si bungsu senyum-senyum terus. Kakeknya tidak bertanya, neneknya juga. Ngatijo yang gigih mendesak....


“Ada apa sih, Kas?” kejarnya, minta tahu.


“Nggak ada apa-apa,” Akas cengengesan.


“Alaah, kamu ini. Kalau bukan cucunya Mbah, kuhajar kau.”


“Berani apa?” tantang si bungsu, bercanda.


“Ya nggaklah, hehehe....”


Mereka pun tertawa-tawa. Lalu, “Apa sih, Kas?” dia mulai lagi.

__ADS_1


“Oo, kuhajar beneran,” Akas menjitak saudara angkatnya.


Ngatijo aduh-aduhan mengamankan kepalanya, lalu berhasil juga melepaskan diri dari cengkeraman lawan dan langsung ngacir ke dapur tanpa menghiraukan Akas yang barusan sukses menganiayanya. Mungkin sudah terlalu lapar, mau makan siang. Si bungsu lanjut tertawa di atas bale-bale. Rasanya, inilah bahagianya yang pertama sejak sang ibu meninggal dunia.


__ADS_2