Selamat Jalan

Selamat Jalan
28. jalur sutera


__ADS_3

Hari terus berganti. Urusan itu, gelap gulita. Belum ada pencerahan....


“Pos...!” terdengar seruan dari depan rumah.


Akas yang sedang menerawang di ruang tamu pun tersadar dan segera beranjak ke luar. Lalu, mereka saling meringis. Ternyata, tukang pos muda itu si Jimmy, temannya di masjid Nama aslinya Asep, tapi dia maunya dipanggil Jimmy atas dasa mengaku fans beratnya Jimmy Hendrik, sang gitaris kelas dunia. Dia bukan anak Kaum, tapi betah nongkrong lama di Masjid Agung. Soalnya, sekalian ngekerin yang bening. Teman-temannya Asih itu. Apa pun, mudah-mudah termasuk “calon penghuni surga” juga. Katanya, dia rela kalau pun hanya kebagian selapak emperannya di pojok belakang istana agung yang dijanjikan itu.


“Apa, Jim?” sapa Akas.


“Oo, Akas kamu, ya? Aku kira siapa. Ini, ada surat dari cewekmu,” ujar Jimmy, sambil memilih dari tumpukan surat di genggaman tangannya.


“Ah, sok tahu kamu. Emang siapa cewekku?”


“Nggak tahu, tapi pasti cewek karena amplopnya pink,” Jimmy teras mencari surat itu. “Mana, ya? Nah, ini...,” dia menyodorkannya.


Akas kaget. Beneran merah muda ternyata. Kok bisa? Asihkah? Dan, benar, Ada inisial “AH” di sisi belakangnya. Wuh, wajah sang jaka langsung membulan purnama di siang bolong. Senyumnya pun gaya bulan sabit telentang....


“Hoei, tetap sadar dong,” tegur Jimmy, bercanda.


“Hehehe... makasih, Jim, Makasih banget.”


“Ah, ini kan sudah tugasku. Ada angpao-nya, nggak? Hehehe...”

__ADS_1


“Waduh, sedang krisis, Jim. Nanti kalau aku kaya, kukasih kamu. Janji.”


“Benar, ya? Kutagih janjimu sampai alam barzakh.”


Akas nyerengeh, “lya.”


Beres tambahan haha-hehe sedikit, Jimmy melanjutkan tugas pengantarannya yang mulia itu. Akas pun bergegas menunaikan tugasnya. Melesat bagai kilat masuk ke kamar, pasang kunci slot, lalu telentang di kasur sambil deg-degan menatap mesra Asih. Eh, suratnya ding...


Ternyata, sudah hampir dua mingguan ini Asih dikembalikan ke Pesantren Randu Alas, Solo. Pantas tidak kelihatan ke masjid sekian hari terakhir untuk jamaah shalat Maghrib dan Subuh. Tadinya Akas menyangka prosedur pemingitan Asih di balik tembok besar Cina semakin diperketat. Ternyata, memang tidak ada di sini. Entah ke sananya itu dalam rangka mesantren lagi atau sekadar disembunyikan dari incaran rajawali.


Lewat suratnya, Asih berkata bahwa dia rindu sekali. Sama, Akas juga. Bayangkan, sudah berapa lama mereka tidak bersua kata? Padahal, dekat nian. Sambil lanjut membaca, Akas meringis. Ternyata, Asih tahu kalau kekasihnya “gatot” alias gagal total menembus ujian gundul-gundul pacul gembelengan. Tahu juga aksi koboi Akas yang bengok-bengokdi batas pagar. “Mas, teruslah menyayangiku,” demikian pesannya di akhir surat. Stempel love always legendaris tidak kelupaa. Sekalian Asih mengingatkan kekasih tentang kewajiban stempel keramat itu pada surat balasan. Akas tersenyum haru, “Tentu, akan aku persembahkan berapa banyak pun dikau mau, Sayang...,” desahnya.


Sorenya, bakda ashar, Akas langsung nembak Kang Idung soal kenapa tidak bilang kepadanya kalau Asih di Randu Alas. Ternyata, Kang Idung kaget, dia tidak tahu. “Mas sih?” begitu bunyinya. Lepas maghrib, giliran Arkam ditembak. Sama, dia pun kaget. “Masak, sih?” senada bunyinya. Berarti ini dirahasiakan, sengaja disembunyikan, maka mereka bertiga sepakat hati-hati. Sebab, kata Akas inilah satu-satunya jalur komunikasi dengan Asih untuk sementara ini. Kedua sekutu paham dan maklum adanya.


“Aku lihat, makin hari tambah cerah saja wajah yang satu ini,” Idung mencandai Akas. “Nggak bluwek lagi kayak dulu, hehehe....”


Akas tertawa, happy dia diledek begitu oleh pamannya. Semakin cerah? Iyalah, ada penyaluran. Memang jauh di mata tapi nyecep di hati, dalem nancapnya. Walau hanya lewat lembaran kertas bertulis kata-kata semi pujangga, indah nian. Sampai sampai Mbak yang bagian menjual prangko di Kantor Pos pus hafal wajah cerah yang rutin nongol setiap minggu untuk berkirim surat ke Pesantren Randu Alas, Solo. Kayaknya dia tahu bahwasanya itu surat cintrong, walau amplopnya “paravion” biasa. Maklum, bercahaya wajah pengirimnya.


Heemhh..., Asih, Asih....


Namun, belum empat bulanan kecerahan ini berlangsung, Akas kembali resah. Dua surat terakhirnya tidak dibalas. Ada apa? Mengapa? Lalu, resahnya makin membuncah saat surat ketiga pun bernasib sama. Tidak lain tidak bukan, pasti ada apa-apa. Apakah jalur komunikasi rahasia ini terdeteksi “Kopkamtib”? Duh..

__ADS_1


“Ada apa ya, Kang?” Akas bertanya ke Arkam, di sela penantian maghrib.


Arkam mengerutkan kening. “Belum tahu, nanti kulihat,” katanya.


Lusanya, datanglah laporan dari sekutu baik itu. Seperti dugaan Akas, jalur sutra ini terbongkar....


Ceritanya, tanpa tendensi apa-apa, seorang pengasuh pondok bercerita kepada Kyai Sanusi yang sedang menengok putri bungsunya. Dia bilang, Asih selalu makin cantik kalau habis terima surat dari Magelang. Pengasuh itu tidak bermaksud buruk, sekadar menyampaikan apa yang dia anggap bagus. Dia mengira surat beramplop “paravion” yang pinggirnya belang merah-biru itu dari keluarga Asih. Soalnya, Akas juga kebangeten sih, kelebihan semangat. Cucune elang Batu Raden itu mencatut nama “Nyi Mas Badriyah” sebagai pengirim.


Tapi, maksudnya baik, sekadar supaya lancar. Akas berani sumpah, tidak ada tujuan politis apa-apa di balik pencatutan nama baik kakak sulungnya Asih yang dikenal kereng itu. Semata-mata ini soal perasaan cinta seputih kapas. Kalau dia tulis terang-terangan “Akas” atau “cucune elang Batu Raden”, kan rawan? Ternyata, pakai “Nyi Mas Badriyah” apalagi....


“Kamu ini, Kas, ada-ada saja. Kenapa tidak sekalian Nyi Blorong?” ujar Arkam, sambil mesem kecut.


Harusnya, Akas balas mesemlah. Tapi, susah, bibirnya menolak ditarik membulan sakit telentang. Keukeuh, maunya telungkup terus. Yo wis, dia lanjut merengut saja. Soalnya, Akas tidak sanggup mengingkari kerusuhan hatinya gara-gara kenyataan ini.


“Terus gimana, Kang?” Akas minta pandangan sekutu.


“Yaa, paling kamu sabar saja....”


“Waduh berat, Kang. Gimana kalau aku ke Randu Alas?”


“Jangan,” tukas Arkam, tegas. “Malah nambah masalah.”

__ADS_1


Akas menghela napas. Jadi, gimana? Arkam kembali be menggeleng-geleng. Sementara ini, tampaknya tidak ada ide bagus. Adanya, peluru sabar saja. Terpaksa, suka atau tidak, Akas menelannya. Uuh, pahit nian, seperti brotowali dicampur sayuran pare. Sampai matanya berkejap-kejap basah....


__ADS_2