Selamat Jalan

Selamat Jalan
3. jurus pokoknya


__ADS_3

Lusanya, “Selamat siang, Bu,” terdengar sapaan di batas pagar. Surtiyah yang sedang menampi beras, mendongak. “Selamat siang,” sahutnya ramah, lalu terkesiap. Tampak seorang dara Cina cantik, matanya yang sipit terlihat sembab. “Cari siapa, Cah Ayu” dia bertanya.


“Maaf, Bu, apa betul di sini ramahnya Mas Nafi?” tanya Sang dara.


Sekejap Surtiyah terkesiap lagi. Benar ternyata dugaannya.


“Betul. Cah Ayu ini siapa?”


“Saya Haryati, dari Banjumari....”


Mendengar itu, Surtiyah pun bergegas membawa tamu istimewa putranya ini masuk ke rumah. Acara menampi berasnya ditunda dulu.


Di dalam rumah...


“Mas Nafi sedang di mana, Bu?” tanya Haryati.


“Sedang di kebun, sama bapaknya. Sebentar, Ibu minta tolong anak-anak kasih tahu ke sana,” ujar Surtiyah. Dia beranjak ke luar, meminta bantuan seorang bocah yang sedang bermain di sekitar situ untuk mengabari ini ke kebun. Si bocah melesat cepat setelah menerima sekeping uang. Surtiyah pun kembali ke rumah.


“Mau minum apa, Cah Ayu?” dia bertanya.


“Terima kasih, Bu. Nanti saja, saya belum haus,” jawab Haryati.


“Ah, nggak enak Ibu. Sebentar ya...,” Murtijyah hendak beranjak lagi.


Tapi, Haryati menahan, “Nggak usah, Bu. Terima kasih.”


Surtiyah yang sudah berdiri itu kembali duduk. Mereka saling memandang, hening pun menyergap.


“Eem..., apa Mas Nafi sudah cerita?” Haryati membuka perbincangan.


Surtiyah mesem, “Katanya pacaran, ya?”


Haryati tersipu, tidak bersuara, tapi “menjawab”. Surtiyah manggut-manggut paham.


“Jam berapa dari Banjumari?”


“Tadi subuh, Bu. Saya tahu alamat sini dari teman Mas Nafi di pabrik tempe Ko AMeng,” jawab Haryati, sekalian lengkap.


Surtiyah manggut-manggut lagi, matanya memandang sayang ke Haryati. Ditatap seperti itu, Haryati menunduk.


“Bapak sama ibunya tahu kalau Cah Ayu ke sini?”


Haryati mengangkat wajah, lalu menggeleng.


“Oo, nggak tahu? Kenapa?” Surtiyah memancing.


Haryati terus menggeleng-geleng pelan, matanya terlihat berkaca-kaca.


“Ya sudah, Nduk, Ibu mengerti kok,” ujar Surtiyah, pelan.


Haryati pun lanjut terisak....


Sebentar berselang, Hanafi muncul bersama ayahnya. Kedua orang tua Hanafi pengertian, segera meninggalkan dua anak muda yang sedang gundah itu. Haryati langsung saja menangis rindu di hadapan sang jaka. Sesaat kemudian, kala tangis Haryati mulai mereda...


“Diajeng...,” Hanafi berujar pelan, “sudahlah, jangan menangis terus.”


Haryati mengangkat wajahnya, tersenyum memandang sang jaka. Senang dia dipanggil “Diajeng”, itulah-sapaan sayang dari Mas Nafinya. Sejak mereka mulai berhubungan, Hanafi memanggil Haryati dengan sebutan Diajeng alias “adik kesayangan”.


Hingga akhirnya Haryati mereda sepenuhnya. Hanafi tersenyum, Haryati juga tersenyum. Senyum-senyumanlah mereka sambil saling memandang. Rasanya, seperti magnet.


“Apa kabar, Mas?” Haryati membuka bincang.

__ADS_1


“Baik. Diajeng gimana?”


“Nggak baik, keberatan rindunya...,” Haryati meringis manis.


Hanafi nyengir, “Kan, jauh di mata dekat di hati?”


“Nggak ah, pengen dekat di mata dekat di hati,” sang dara merajuk manja.


Lalu, mereka saling berbalas senyum lagi.


“Bapak sama Ibu mana, Mas?” tanya Haryati.


“Kayaknya di luar, di samping rumah.”


“Aduh, saya jadi nggak enak nih. Ketemu dulu, yuk.”


Hanafi mengangguk. Mereka pun beranjak ke samping rumah. Benar ternyata, ayah dan ibunya Hanafi ada di situ, duduk bareng di bale-bale bambu. Sang ayah syahdu memutar tasbih sambil merokok kelobot, sang ibu mengunyah sirih. Diam dua-duanya hening di siang bolong.


“Pak,..” Haryati menyapa ayah kekasih. Subagyo dan Surtiyah sama-sama menoleh, lalu barengan pula tersenyum. Membalas senyum sang dara Cina.


Haryati beranjak mendekat, menyalami ayah Mas Nafinya. “Saya Haryati, dari Banjumari,” ujarnya, memperkenalkan diri.


“Iya, iya. Ayu ternyata ya, Bu?” ujar Subagyo, meredakan ketegangan suasana yang ada. Surtiyah mengangguk mesem, Hanafi nyerengeh bangga.


“Ah, Bapak ini...,” timpal Haryati, malu-malu.


“Memang ayu kok. Iya kan, Naf?” Subagyo menggoda anaknya.


Serengahan Hanafi makin lebar kena skak ayahnya. Lalu, mereka tertawa bersama, pelan saja. Selanjutnya, perbincangan pun dimulai. Haryati yang banyak berkisah karena memang diminta oleh yang lain....


“Oo, begitu. Jadi, keluarga di sana tidak setuju?” Subagyo menanggapi kisah Haryati. Sebenarnya, dia sudah menduga ini, mudah ketebaklah.


“Iya, Pak. Terutama ayah dan kakak sulung saya.”


Haryati dan Hanafi saling pandang, saling menguatkan hati. Sang jaka paham bahwa kinilah saat baginya untuk tampil.


“Pak, Bu..., dulu kan Bapak sama Ibu pernah bilang kalau saya ini sudah waktunya. Nah, sekarang calonnya sudah ada. Ya sudah...,” ujar Hanafi, antara gagah dan gugup, lalu kembali nyerengeh lebar.


“Ya sudah, ya sudah..., enak di kamu. Beratnya numplek di Haryati semua,” sambar Surtiyah. Sebenarnya, dia yang keberatan dengan kekristenan sang dara. Tadi Haryati cerita tentang ini. Itu saja beratnya, yang lain tidak ada.


“Nggak kok, Bu. Saya siap,” tukas Haryati, mantap.


Mendengar ini, Surtiyah agak tersengat. Sama “edannya” ternyata cah ayu ini dengan cah baguse ini.


Subagyo tertawa, sekalian mengambil alih bola, “Kalian sudah sama dewasa, sudah cukup umurnya. Dewasa itu artinya bukan anak-anak lagi, dewasa itu punya pemikiran dan keputusan. Jangan cuma bagian enaknya, bagian nggak enaknya juga harus dimengerti. Mudah kalau soal nikah, yang susah menyelaraskan dua hati. Mengurus satu hati saja rumit, apalagi dua, hehehe.... Belum lainnya yang beda-beda di antara kalian ini. Paham, kan?”


Haryati dan Hanafi sama-sama mengangguk.


“Jadi, jangan grasa-grusu, pikirkan dulu baik-baik mumpung masih ada waktu, tapi tetap harus ada keputusannya. Kalau cuma dipikirkan saja tanpa keputusan, sama saja bohong namanya. Terserah, mau A, B, atau C, bagaimana baiknya kata kalian yang akan menjalani; yang tidak ikut menjalani paling banter hanya bisa sumbang saran. Keputusannya ada di kalian sendiri. Jelas?” Hanafi dan Haryati kembali mengangguk. Subagyo tersenyum.


“Sudah, sekarang yang muda punya acara, yang tua juga punya acara. Silakan milih, yang muda mau di sini apa di ruang tamu?” dia bertanya.


“Di sini, Pak,” jawab Hanafi.


“Di dalam saja, Mas,” timpal Haryati, spontan.


“Hehehe...,” Subagyo terkekeh lagi. “Hayo, keputusannya apa?”


Hanafi dan Haryati tersadar, lalu sama-sama mesem. “Ya sudah, di dalam saja,” ujar Hanafi sambil masih tersenyum.


“Benar? Sudah sehati ini?” Subagyo menggoda.

__ADS_1


“Iya, Pak,” jawab Hanafi dan Haryati, pas barengnya.


“Nah, ini baru namanya keputusan. Yang nanti, yang besar-besarnya, juga harus bisa seperti ini, ya?”


Sejoli itu mengangguk-angguk, sambil menebar senyum.


Di ruang tamu, Hanafi dan Haryati kembali berbincang masalah mereka...


“Saya siap, Mas. Saya siap susah asal bareng Mas Nafi,” Haryati meyakinkan kekasih. “Cuma satu tadi, soal agama. Tolong biarkan saya tetap Kristen, Mas Nafi silakan tetap Islam. Itu saja, yang lain bukan persoalan.”


Hanafi menghela napas panjang, terlihat agak merenung.


“Gimana, Mas?” tanya Haryati.


Hanafi memandang kekasih yang juga sedang menatapnya, lalu tersenyum tulus. “Aku mencintaimu. Kalau misalnya Diajeng ini Islam, aku mencintaimu. Misalnya pun Hindu, Budha, atau Kong Hu Cu, aku tetap mencintaimu. Aku tidak sanggup membohongi diriku sendiri tentang perasaan ini.”


Haryati mekar berbunga, “Jadi, gimana, Mas?”


“Ya sudah, sepakat. Soal agama, berjalan menurut keyakinan masing-masing. Soal cinta, kita berdua. Begitu, kan?”


Haryati tersenyum lagi, “Anak-anak nanti?”


“Sama, kita bebaskan menurut keyakinan masing-masing. Agama bukan urusan paksa-paksaan. Setiap orang bebas milih agamanya. Mau nggak beragama pun urusannya sendiri, sebab tanggung jawabnya juga sendiri-sendiri. Nggak ada model tanggung jawab rame-rame di urusan ini.”


Sambil tetap tersenyum, mata Haryati berkaca-kaca syahdu mendengar ucapan kekasih.


“Habis ini pasti ribut, Papa sudah benar-benar mengancam akan membuang saya kalau masih berhubungan dengan Mas. Tapi,seperti saya bilang tadi, saya siap,” sang dara bergumam, setelah hening sesaat.


“Kita hadapi sama-sama, Diajeng. Saya juga siap,” tukas sang jaka.


Haryati menghela napas panjang. “Kalau Bapak sama Ibu kira-kira gimana ya, Mas?” dia lanjut bertanya.


“Nggak tahu. Tapi, seperti Diajeng, apa pun itu, kita jalan terus. Iya, kan?”


Haryati tersenyum, “Cuma jangan pakai ribut ya, Mas. Saya rasa Bapak sama Ibu baik, tidak seperti Papa dan Mama yang nggak mau tahu sama sekali. Main ancam pokoknya-pokoknya terus. Cocok nggak cocok, pokoknya....”


Hanafi meringis tampan. “Pokoknya, kita jalan terus,” dia bergumam.


Haryati tertawa manis, pokoknya manis banget terasanya di pendengaran Hanafi. Seer geleseran madu hutan saat melintas di tenggorokan. Heemh...


Perbincangan muda ini pun terus berlanjut. Haryati berkata, keluarganya pasti datang menjemput ke sini. Pasti tahu, dapat alamat dari Ko AMeng atau teman-teman Hanafi di sana. Entah kapan datangnya, mungkin hari ini, besok, atau lusa. Habis itu, tinggal perangnya di rumah.


“Pokoknya, kita main pokoknya juga,” Hanafi menguatkan hati kekasih.


“Memangnya Mas Nafi sayang banget ke saya, gitu?” pancing Haryati. Sedang pengen digombalin saja, namanya juga cewek.


“Uuh, pokoknya...,” tukas Hanafi, sambil menggeleng-geleng pelan.


“Ah, gombal. Cowok memang begitu,” desah sang dara, manja.


“Tapi, suka, kan?” Hanafi tidak mau kalah.


“Ah...,” sang dara tertawa manja. Pokoknya, paham dia....


Secuil Kopi



Salah satu jenis rokok yang paling banyak dinikmati oleh masyarakat Indonesia. Rokok ini merupakan rokok yang kertas pembungkusnya terbuat asli dari kulit jagung yang telah diolah dengan beberapa cara tertentu. sehingga disebut sebagai klobot


__ADS_1


Tradisi nginang merupakan kegiatan mengunyah kinang yang terdiri dari pinang, sirih, gambir, tembakau, kapur, dan cengkih. Nginang merupakan sebuah tradisi warisan yang dahulu biasa dilakukan oleh orang yang suka memakan kudapan. Kalau saat ini bisa diibaratkan seperti permen atau makanan ringan lainnya


__ADS_2