Selamat Jalan

Selamat Jalan
61. sudah ditandai


__ADS_3

Hening menyergap. Kyai Zarkasih menatap Akas dengan matanya yang telah keabu-abuan tua. Seolah terselip di antara keriput kelopaknya. Lalu, sepasang mata sepuh itu berkejap-kejap pelan. Terlihat jelas bening air mata mengumpul di situ. “Anakku, sudah berapa lamakah kamu dibimbing Kyai Khalil?" beliau bertanya pelan. Hampir tidak terdengar desahannya.


Akas menjawab pertanyaan itu apa adanya.


Kyai Zarkasih terpana, “Subhanallah, alangkah cepatnya. Qad aflaha man zakkaahaa (Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jrwa mu." (QS. asy-Syam :9). Beruntunglah kamu, Anakku. Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepadamu secepat ini. Abah, lebih tiga puluh lima tahun bermujahadah, belum diberi hak mukasyafah seperti yang nyata diberitakan kepadamu. Bagi Abah, maa 'indakum yanfadu wa maa 'indallaahi baaqqi,’(Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. QS. an-Nahi: 9) masih berupa dalil. Bagimu telah menjadi ilmu.”


Akas pun terpekur syahdu....


Lalu, tanpa sungkan Kyai Zarkasih memeluk juniornya dengan bercucuran air mata. Akas balas memeluk. Sama, bercucuran air mata juga. Sampai-sampai Nyonya Zarkasih sempat bingung saat mengintip kelakuan suami dan tamu mudanya. Masalahnya, sudah sekian puluh tahun suami tersayang tidak pernah menangis seperti itu. Adanya, tersenyum terus.


Saat “bermesraan”, Kyai Zarkasih berbisik kepada Akas, "Anakku, kamu sudah bisa membimbing umat. Abah menicipkan dunia.”


Terus terang Akas tercekat. Bagaimana tidak? Bisikan Kyai Zarkasih tadi, uuh....


Demikianlah, hingga kemudian adzan ashar berkumandang dari surau sebelah. Kyai Zarkasih dan Akas pun ke sana. Tanpa sungkan lagi beliau meminta Menantu Haji bersedia mengimami. Tiga peserta lain yang itu-itu juga, sama dengan saat zhuhur tadi, sempat heran melihat Abah meminta orang asing memimpin. Tapi, mereka tidak keberatan karena bahkan Abah pun tidak keberatan. Pasti mengandung sesuatu orang asing ini. Begitulah kira-kira bunyi dalam benak mereka.


Tidak lama setelah itu, Akas mohon diri. Sekali lagi Kyai Zarkasih mengulang pesan “Uuh"-nya tadi. Sekalian kemudian membenarkan arah pulang Akas yang hendak menyusur rute datangnya semula. “Jangan lewat sana, jembatannya sudah rapuh. Lewat sini saja, lebih gampang dan lebih dekat,” ujarnya, disambung memberi arahan yang dianggap perlu.


Dan, benar. Jauh lebih gampang lewat sini. Sebentar saja sudah ketemu jalan raya. Harusnya ya lewat sini tadi, ngapain lewat sana? Akas pun meringis, sadar dirinya dikerjain Kang Iyung. Dan, nyengir lagi saat jumpa pertigaan tempatnya tadi membelok membelah persawahan, hingga harus melintasi “titian serambut dibelah tujuh" untuk sampai ke tempat Kyai Zarkasih. Jarak dari situ ke titik ketemu jalan raya tadi tidak jauh.


Sesaat lewat, hujan merintik turun. Dari tadi memang sudah terlihat mendung. Tidak deras, gerimis sedang. Hujan seperti ini biasanya merata dan lama. Kagok, tembus hujan-hujanan. Sadar kalau jas hujan ketinggalan. Tadinya tidak menyangka bakal sampai ke Kyai Zarkasih segala sih.


Saat memasuki batas kota Magelang, Guurrr...! Guruh bergemuruh syahdu. Akas tersenyum kuyup. Wa yusabbihuur ra’du bi hamdih, nyata terasa olehnya. “Allah, Maha Jalal Engkau...,” desahnya, sambil mengusap wajahnya yang terbasuh percikan Malaikat Mikail itu. Memang berkala harus diusap begitu, macam wiper kaca depan mobil. Namanya juga nunggang Vespa hujan-hujanan, Tadinya mau langsung singgah di rumah Kyai Khalil, tapi karena sudah terlalu kuyup, besok sajalah. Kasihan Kyai Khalil kalau diganggu istirahatnya....


Namun, tidak butuh sampai besok ternyata. Malam ini juga, menjelang tengah malam, Akas merasa dipanggil batin oleh gurunya. Karena ini adalah kejadian pertama, maka perlu sapa tiga kali “SMS" itu berkumandang. Bukan tidak percaya, tapi Kyai Khalil memang telah memberi tahu caranya mengecek khatir. Siapa tahu cuma bersitan hati. Namun, setelah dicek, asli ternyata. Ini benar-benar panggilan batin dari sang guru. Maka Akas pun segera bersiap diri...


“Mau ke mana lagi, Mas?" tanya Asih.


“Dipanggil Kyai Khalil..."

__ADS_1


“Malam-malam gini?"


“He-eh. Kenapa? Mau ikut?”


Asih memandang suaminya, “Beneran, nih?” Akas mengangguk.


“Oo, ya sudah. Nggak apa-apa sih kalau ke Kyai Khalil...”


“Hehehe...,” Akas terkekeh. Sesaat ingat Nyonya Zarkasih yang cantik dan setia itu. Kira-kira gayanya kayak begini juga nggak kalau Kyai Zarkasih mau keluyuran malam-malam ke Magelang? Rasanya sih, mirip deh....


Jalan kaki saja ke rumah Kyai Khalil. Sejuk hawanya sekarang, hujan gerimis tadi sudah reda jam sembilanan. Di depan rumah Kyai Khalil, terlihat Kang Iyung sibuk menstarter motor. Ngadat tampaknya, dipancal-pancal segan nyamber api busi ke bensinnya. Maklum, minim perawatan. Pemiliknya rada malas.


“Ngapain, Kang?” sapa Akas.


Kang Iyung menoleh, agak kaget. “Panjang umur kamu. Mau dijemput ke sana, malah datang sendiri ke sini....”


Akas nyerengeh, “Akang mau ke tempat saya?”


Akas ikut terkekeh, “Kyai sudah sembuh?”


“Lumayan. Tadi habis isya sudah bisa ngobrol sama tamu sebentar.”


“Alhamdulillah. Saya masuk, ya?”


“Monggo, sudah ditunggu di ruang biasa. Eee, sebentar, sebentar, tadi ketemu jembatannya, nggak?”


“Banyak....”


“Gimana, tuh?” Iyung nyerengeh.

__ADS_1


“Tunggu pembalasanku,” sahut Akas, sambil melangkah masuk.


Sang kuncen pun tertawa senang....


Di dalam ruangan itu, Akas terkesima melihat penampilan Kyai Khalil yang berjubah dan bersurban putih. Selama ini, dia belam pernah melihat Kyai Khalil berpenampilan demikian. Paling banter semodel “Pak Haji” yang berkupluk putih atau berpeci saja. Duduk bersila di tempatnya, sang guru terlihat berwibawa sekali. Tidak tampak kalau beliau sedang sakit. Agak di sebelah sana, buhur telah mengharum dalam tungku baranya.


“Duduklah...,” ujar beliau, usai mereka beruluk salam.


Akas pun duduk bersila di hadapan guru hakikatnya itu.


Sesaat hening, belum ada pembicaraan. Kyai Khalil mesam-mesem saja melihat murid Jawanya. Bahagia sekali kelihatannya. Hingga kemudian, “Apa pesan Kyai Zarkasih?” beliau bertanya.


“Abah titip salam buat Kyai, semoga lekas sembuh,” jawab Akas.


“Terima kasih, hehehe.... Yang lain?”


Yang lain? Apa, ya? Akas mengingat-ingat. Lalu, dia memandang gurunya sesaat kemudian. Itukah?


“Ada yang lain, kan?” tanya Kyai Khalil.


Akas pun menceritakan semua kejadian saat di rumah Kyai Zarkasih, termasuk pesan yang diberikan kepadanya.


Kyai Khalil menghela napas, lalu mengangguk-angguk. Hening sejenak, sampai beliau bertanya, “Kamu sudah periksa makna ayat Cahaya?”


Akas agak terkejut. Pantasan, perasaan dari kemarin ada yang “manggil-manggil” minta dilihat, tapi apa? Ternyata ayat Cahaya, an-Nuur 35 itu....


“Sudah diperiksa?”


“Belum, Kyai.”

__ADS_1


“Nah, kalau gitu sekarang saja,” beliau meraih buku tebal di sebelahnya, lalu membuka halaman yang sudah ditandai. “Bacalah....”


Akas menerima kitab itu. Bukan al-Qur'an, sebuah kitab tafsir karangan seorang ulama ternama, namun telah wafat. Di situ, beliau menafsirkan ayat Cahaya dalam sebuah uraian panjang yang kelihatannya dibahas khusus karena halamannya beda sendiri. Pinggir kertasnya diberi corak hiasan macam ukiran. Tintanya pun hijau, bukan hitam sebagaimana lazim.


__ADS_2