
Namun, berat ternyata perasaan Akas selama di Kutoarjo. Bukan karena ini atau itu, dia teringat terus kepada ayahnya. Seolah sang ayah berputar-putar siang malam dalam benaknya, tidak bisa dihentikan. Sudah sembuhkah? Atau, malah semakin parah?
Maka, saat liburan kenaikan kelas, Akas berkata ke pamannya kalau dia mau pulang ke Baturaden. Sang paman oke-oke saja awalnya, lalu jadi tidak oke lagi setelah tahu bahwa maksud keponakannya adalah pulang permanen. Dia mau tetap di sana menemani ayahnya. Seperti alasannya dulu.
“Kenapa? Kamu nggak betah di sini?” tanya AKim.
“Betah sekali, Paklik. Tapi, saya ingat Bapak terus...,” jawab Akas.
AKim terdiam, memandang keponakannya.
“Terus, sekolahmu gimana?”
Gantian Akas yang terdiam. Iya, gimana?
“Akas, aku mengerti perasaanmu. Kalau kamu mau pulang dulu, nggak apa-apa, tapi nanti balik ke sini lagi. Sayang sekolahmu. Percaya sama Paklik, bakalan susah hidupmu kalau nggak pintar, nggak punya ijazah. Mau kerja apa? Mau dagang? Kata siapa orang dagang boleh bodoh? Tetap saja harus pintar. Kalau nggak, ketipu terus nanti jadinya.”
Akas lanjut terdiam, entahlah. Hening agak lama....
“Ya sudah, kamu pulang dulu, mumpung sekarang sedang liburan. Tapi, nanti balik ke sini lagi, ya?” pinta AKim.
Akas mengangguk cepat. Daripada nggak jadi pulang?
“Perlu diantar?” tanya AKim.
“Nggak usah, Paklik. Saya bisa pulang sendiri.”
AKim mengangguk-angguk, lalu memberi uang lebih dari cukup buat ongkos. Ongkos PP sekalian lebih-lebihnya buat jajan. Siang itu juga, setelah pamitan dengan buliknya, Akas langsung meluncur ke Baturaden....
Dan, tidak meleset firasatnya. Sakit sang ayah semakin parah. Kakek neneknya pun tampak telah pasrah atas kondisi kesehatan anak tunggal mereka ini.
“Pak...,” sapa Akas, di samping tempat tidur ayahnya. Bibir sang ayah terlihat kering pecah-pecah, matanya terpejam, wajahnya pucat pias. Kurus, jauh lebih kurus dibanding saat Akas berangkat ke Kutoarjo empat bulanan lalu.
Hanafi membuka mata, lalu tersenyum memandang si bungsu.
“Anakku, kapan kamu datang?” dia bertanya.
Akas balas tersenyum. “Barusan, kangen aku sama Bapak....”
Sepertinya Hanafi tertawa, tawa bahagia tentu karena anaknya datang menjenguk. Tapi, tidak terdengar jelas suaranya, hanya seperti ******* napas saja.
__ADS_1
“Gimana paklikmu?” dia bertanya lagi.
“Baik, Pak. Bulik juga baik-baik saja,” jawab Akas sekalian.
Hanafi mengangguk-angguk lemah. “Sekolahmu?”
“Aman. Sekarang sedang libur kenaikan kelas.”
“Naik?”
“Iyalah, Pak. Masak nggak?” Akas nyengir.
Maka, sang ayah pun kembali tersenyum. Si bungsu membalasnya tulus.
Hening sejenak....
“Pak, mbok Bapak ini sehat lagi kayak dulu,” desah Akas, memecah senyap. “Sedih aku lihat Bapak nggak sembuh-sembuh. Ibu juga pasti sedih....”
“Hehehe...,” Hanafi tertawa, terdengar suaranya sekarang, walau tipis. “Yang mau sakit itu siapa? Bapak juga maunya sembuh, biar bisa ngurusin kamu lagi. Tapi, lha nggak sembuh-sembuh, gimana?”
“Ya, diusahakan gitu lho, Pak. Dibawa happy...”
“Siapa happy?”
“Oo, artinya kuno?” Hanafi nyerengeh. Entah serius, entah bercanda.
Akas geleng-geleng kepala, “Bahagia, Pak, bahagia....”
“Oo, bahagia to. Lha, sekarang kan sedang bahagia lihat kamu?”
Akas seketika tersenyum mendengar pengakuan ayahnya barusan.
Sang ayah balas tersenyum....
Demikianlah. Namun, hingga masa liburan itu habis, sang ayah tak juga kunjung menyembuh walau telah dibahagia-bahagiakan. Sungguh, Akas tidak tega meninggalkannya lagi. Lanjut saja dia di Baturaden. Ayah dan kakeknya tidak tahu kalau si bungsu ini mestinya sudah kembali bersekolah, disangka masih libur. Hingga, AKim datang menyusul ke sana.
“Jadi, mestinya kamu sudah masuk?” tanya sang kakek.
Akas mengangguk pelan.
__ADS_1
“Lha terus, kenapa masih di sini?”
Akas diam, agak menundukkan kepala sambil melirik ayahnya. Tampak sang ayah memejamkan mata sambil berbaring di tempat tidur. Walau belum sampai bergulir jatuh, setitik bening jelas terlihat di masing-masing sudut matanya.
Hening sejenak.
“Anakku, maumu gimana?” tanya Hanafi, terdengar getar pada suaranya.
Akas menghela napas, belum menjawab.
“Sudah, terserah kamu. Maumu gimana?” sang ayah bertanya lagi.
“Aku mau di sini bareng Bapak,” jawab Akas, lalu kembali menunduk.
AKim menggeleng-geleng pelan sambil menghela napas panjang. Subagyo memandang lekat cucunya.
Hening lagi.
“Jadi, kamu nggak mau sekolah?” sang kakek bertanya kemudian.
“Bukan, Mbah. Beneran, bukan saya nggak mau sekolah. Tapi, perasaan saya nggak bisa ninggalin Bapak,” Akas menjawab jujur.
Bukan sekadar dalih ini. Kalau dipaksakan, Akas yakin tidak akan bisa konsentrasi menyimak pelajaran karena pikiran dan perasaan akan selalu hingga di ayahnya. Saat pergi yang pertama saja sudah susah, apalagi sekarang? Saat kondisi ayahnya jauh lebih mengkhawatirkan.
AKim kembali menggeleng-geleng, tapi tidak berkata apa-apa.
“Paklik, saya minta maaf. Benar-benar bukan menolak, tapi saya nggak bisa ninggalin Bapak sekarang. Kalau saya pergi, pasti nggak bener juga bawaannya. Pikiran saya bakal kesini-kesini lagi,” ujar Akas, memohon pengertian.
AKim mengangguk-angguk sekarang, tersenyum sedikit, tapi tetap tidak berkata apa-apa. Entah mengerti, entah kecewa.
Suasana kembali hening, lama. Sampai kemudian Hanafi berkata dengan suara parau bergetar, “Akas, Anakku..., kalau kamu memang mau di sini menemani Bapak, di sinilah. Temani Bapak....”
Akas memandang ayahnya. Terlihat, setitik bening yang tadi menggantung di kedua sudut mata Hanafi, kini bergulir jatuh. Tapi, cepat-cepat dihapus dengan ujung lengan bajunya. Akas beranjak mendekat, lalu memeluk ayahnya. Hanafi balas memeluk dengan luapan kasih yang sulit diungkap lewat kata-kata.
Begitulah, maka si bungsu putus sekolah lagi.
Dan, tidak sampai seminggu berselang, Hanafi meninggal dunia. Belum genap dua tahun berpulang sang dara Cina, jaka Jawanya pun menyusul ke alam sana....
Selanjutnya, Akas tinggal bersama kakek neneknya. Paklik AKim tidak pernah ngomong-ngomong lagi soal sekolah. Jadinya, si keponakan pun segan tanya-tanya. Tapi, Akas mengerti bahwa pamannya ini pasti punya alasannya sendiri, entah apa. Mungkin dia berpikir kalau keponakannya sebenarnya tidak sreg sekolah di sana, tidak betah tinggal bersamanya, atau perkiraan lain. Padahal, tidak ada itu dalam diri Akas, asli tidak ada. Berani sumpah, katanya.
__ADS_1
Maka, Subagyo pun berujar, “Anakku tunggal, cucuku lima..., yang empat berpencar. Tinggal kamu satu yang masih kelihatan. Ya sudah, kamu tinggal di sini saja, ya? Gantian menemani Mbah.”
Akas mengangguk, karena neneknya juga mengangguk-angguk. Maka, di sinilah dia. Di Baturaden permai.