
Dan, benar ternyata, tidak tunggu besok atau lusa. Menjelang maghrib, sebuah sedan Chevrolet hitam berhenti tepat di depan rumah. Liow Chou dan dua kakak laki-laki Haryati turun dari mobil itu. Sang dara yang sedang berbincang dengan Hanafi dan kedua orang tuanya di ruang tamu melihat kedatangan mereka. Wajah ayu sang dara langsung memucat, seketika matanya berkaca-kaca. Hanafi merengkuh tangan Haryati, menenangkannya.
Subagyo beranjak ke luar. Menyambut tamu Cina yang bisa ketebak siapa, sekalian maksud dan tujuannya.
“Tenang, Cah Ayu. Jangan menangis,” ujar Surtiyah.
Haryati mengangguk, tersenyum miris dengan mata membasah.
“Diajeng, pokoknya...,” Hanafi ikut menguatkan.
Haryati makin tersenyum. Namun, air mata yang sesaat tadi masih terbendung, kini malah bergulir lepas dari kelopak. Hanafi menghela napas, rengkuhan tangannya mengetat. Maka, butir-butir air mata itu semakin menderas. Tapi, cepat-cepat dihapus oleh Haryati pakai sapu tangan putih bermotif bunga yang dipegangnya.
“Diajeng...,” Hanafi mendesah, ikut resah.
“Nggak apa-apa, Mas. Saya sudah siap,” ujar sang dara.
“Aku juga siap. Kita siap,” balas sang jaka.
Sang ibu, yang mendengar tekad siap-siapan itu, menghela napas panjang.
Dari arah dalam, terlihat Subagyo dan Liow Chou berbincang agak kaku di teras depan. “Jadi, betul di sini rumahnya Hanafi?” tanya Liow.
“Benar, saya ayahnya,” jawab Subagyo.
“Oo...,” Liow manggut-manggut.
“Mari, silakan duduk,” Subagyo mengajak tiga tamunya ke bale-bale bambu samping rumah. Maksudnya, memberi waktu kepada Haryati untuk bersiap diri.
“Terima kasih, biar di sini,” Liow menolak tawaran. “Maaf, Pak, langsung saja, apa anak perempuan saya di rumah Bapak?” dia lanjut nembak, tendangan penalti dua belas pas.
“Maksud Ko Liow, Haryati?” Subagyo balik tanya, basa-basi saja.
“Iya,” Liow mengangguk.
“Ada, menjelang siang tadi tibanya di sini.”
Liow manggut-manggut lagi, yakin Haryati ada di sini. Di mana lagi? Sepatunya pun terlihat di batas teras, dekat posisinya berdiri. “Kami ke sini mau menjemput dia, Pak Subagyo,” lanjutnya.
“Iya, iya, saya paham. Tunggu sebentar,” jawab Subagyo, lalu hendak beranjak ke ruang tamu. Tapi, ternyata Haryati sudah keluar duluan, diiringi Hanafi dan Surtiyah. Cah ayu bermarga Liow itu menyalami dan mencium tangan Subagyo.
“Saya pulang dulu, Pak,” ujarnya serak, dengan mata sembab.
“Iya, Nduk. Pulanglah,” jawab Subagyo, tersenyum “ayah”.
Haryati balas tersenyum perih. “Bu, saya pamit dulu,” ujarnya ke Surtiyah sambil mendekap tangan di dada. Salamannya sudah di dalam tadi.
Surtiyah mengangguk-angguk, tersenyum “ibu”.
“Mas...,” desah Haryati ke kekasihnya.
Hanafi pun mengangguk. Tersenyum juga seperti ibunya, tapi senyum “kekasih”. Haryati membalas dengan senyum “kekasih” yang setara. Lalu, dia ngeloyor melintas depan ayahnya tanpa menoleh. Setelah pakai sepatu, Cah ayu Banjumari ini lanjut berjalan ke mobil dengan kepala menunduk.
Sedangkan Liow Chou pamitan kepada Subagyo dan istrinya, kemudian beranjak menuju mobilnya. Saat melintas depan Hanafi, ayahnya Haryati ini melengos. Hanafi tidak mau kalah, balas nyerengeh mengejek. Subagyo dan Surtiyah geleng-geleng kepala. Ampun memang kalau anak muda sedang digulung cinta. Hanafi masih berdiri di tempatnya sampai Black Chevy lenyap di tikungan depan. Selepas itu, barulah dia ngeloyor pergi tanpa bicara apa-apa.
“Nafi, mau ke mana?” seru Surtiyah.
“Ke sungai, Bu, sumpek!” sahut sang putra sambil terus melangkah.
Kelihatannya Surtiyah hendak mencegah, tapi ditahan oleh suaminya. “Biarkan saja, nggak apa-apa,” ujarnya pelan.
Surtiyah menghela napas, lalu mengangguk.
Ada sungai kecil di kampung ini, dekat kaki bukit sana....
* * *
Besok malamnya, bakda isya, Hanafi ditanya-tanya orang tuanya perihal Haryati dengan lebih mendetail. Seharian tadi dia melenyap lagi dari rumah sejak pagi, nongkrong bengong dibatu ceper pinggir sungai kecil itu.
__ADS_1
“Nggak ada kurangnya Haryati. Cuma, agamanya...,” ujar Surtiyah.
Hanafi menunduk diam. Subagyo memandang anak tunggalnya yang sedang gundah gulana ini.
“Gimana? Apa sudah kamu pikirkan?” tanya Surtiyah lagi.
Hanafi menghela napas. “Apa yang bisa saya pikirkan, Bu? Yang saya tahu, saya ini jelas-jelas mencintai Haryati. Sudah itu saja, pikiran lain nggak ada. Saya juga nggak tahu dari mana datangnya perasaan ini.”
Surtiyah agak berkerut kening. Suaminya manggut-manggut.
“Lha, terus gimana?” kejar sang ibu.
“Saya sudah ngomong sama Haryati. Kami sudah bahas panjang lebar soal beda agama ini, sejak masih di Banjumari dulu. Kesimpulannya, agama itu urusan masing-masing. Yang barengan, cintanya,” jawab Hanafi pelan.
“Maksudmu?”
Hanafi terdiam sejenak, lalu berkata, “Minta restu Bapak sama Ibu, kami akan menikah. Haryati tetap Kristen, saya tetap Islam. Saya mencintai dia, kami saling mencintai. Cintanya yang diurus bareng. Soal keimanan, masing-masing...”
“Nggak bisa begitu,” Surtiyah langsung menyerang.
“Sabar, Bu, sabar...,” ujar suaminya.
“Sabar, sabar, gimana to Mas Subagyo ini? Ini kan soal iman?” sanggah Surtiyah, nada suaranya meninggi.
“Lha iya, sabar itu mencakup semuanya. Justru di masalah seperti ini harusnya kita lebih sabar. Iya kan, Bu?” Subagyo kembali menenangkan istrinya.
Surtiyah menghela napas panjang, lalu diam.
Hening sejenak di situ. Hanafi masih terus menunduk. Bayangan tekanan batin yang sedang mendera Diajengnya di Banjumari sana terus berkelebat dalam benak. Kalau bisa, ingin rasanya dia terbang ke sana untuk membela.
“Nafi,” Subagyo berujar pelan.
Hanafi mengangkat wajah, memandang ayahnya.
“Jadi, kamu mencintai Haryati?” tanya Subagyo.
“Bukan Bapak kurang jelas...,” ujar sang ayah, seolah tahu suara yang melintas dalam benak anaknya. “Kamu jawab lagi, jawaban yang sekarang yang Bapak pegang. Apa kamu mencintai Haryati?” Subagyo mengulang pertanyaannya.
Hanafi menghela napas, “Iya, Pak.”
Subagyo mengangguk-angguk, “Apa Haryati juga mencintaimu?”
“Iya, Pak.”
“Yakin?”
“Yakin sekali, Pak. Sumpah....”
Subagyo meringis sedikit dengar sumpah anaknya. Melihat ringisan ayahnya, Hanafi jadi ikutan nyengir. Ibunya tetap manyun diam.
“Jadi, kamu sadar kalau Haryati itu turunan Cina?” Subagyo bertanya lagi.
“Sadar, Pak. Sadar sekali,” jawab Hanafi, sambil masih agak nyengir.
Terpaksa Subagyo kembali meringis, sementara Surtiyah tambah tebal manyunnya.
“Kamu juga sadar kalau orang tuanya tidak setuju?”
“Oo iya, Pak. Jelas banget itu, hehehe...,” Hanafi sudah mulai bisa terkekeh.
“He, he, he...,” Surtiyah menggerundel, mengikuti gaya tertawa anaknya.
Maka, ayah dan anak ini jadi terkekeh beneran. Soalnya, lucu dengar gerundelan sang ibu rumah tangga. Tahu kalau dua lanang kesayangan menertawai dirinya, bibir Surtiyah serta-merta maju tiga senti. Manyun berat. Melihat ini, makin riuhlah para lanang kesayangan.
Perbincangan pun berlanjut dalam suasana yang tidak terlaly tegang. Hanafi kembali menegaskan tekadnya untuk bersanding dengan Haryati, sekalian merayu restu dari orang tua. “Kalau Bapak dan Ibu sayang sama saya, yang anak satu-satunya ini, tolong kami direstui. Soalnya, saya sama Haryati sudah siap banget. Rasanya sudah geregetan gitu,” ujar sang jaka sambil nyerengeh.
Ayahnya terkekeh, ibunya geleng-geleng kepala. Geregetan, katanya.
__ADS_1
“Lha, cucuku nanti gimana?” Surtiyah mencoba upaya terakhir.
“Oo, ya baik-baik saja, Bu. Bapaknya kan nggak jelek, ibunya jelas-jelas ayu. Ya sudah, insya Allah hasilnya bagus. Masak jelek, sih?” tukas Hanafi, nyerengehnya masih belum habis.
“Masak jelek, masak jelek..., urusan agamanya gimana?” kejar Surtiyah.
“Kalau soal itu, balik lagi ke keputusannya masing-masing. Cucu-cucunya Ibu nanti kan manusia juga. Berhak memutuskan pilihannya sendiri.”
“Tidak bisa, di mana-mana yang namanya anak nurun bapaknya,” sanggah Surtiyah. “Garis turunan itu dari bapaknya, bukan ibunya.”
“Benar, kalau soal silsilah. Tapi, lain kalau soal agama, nggak bisa digitukan, Bu. Keyakinan beragama tidak boleh dipaksa-paksa. Masak keyakinan datangnya dari paksaan? Kalau dipaksa, judulnya perkosaan....”
Subagyo tersenyum mendengar argumen anaknya. Boleh juga.
“Iya kan, Pak?” Hanafi minta dukungan.
“Pada dasarnya benar...,” jawab Subagyo. “Agama harus berlandaskan keikhlasan penganutnya. Agama memang bukan paksaan. Di Islam sudah jelas, lakum dinukum waliyadin, untukmu agamamu untukku agamaku. Tapi, bukan artinya dilepas begitu saja, kamu tetap wajib memberitahukan Islam ke anak-anakmu kelak. Supaya mereka tahu dan bisa memilih. Gimana bisa milih kalau nggak tahu? Iya, kan?”
Hanafi manggut-manggut, ibunya menghela napas.
“Tapi, Mas, kalau Nafi kalah sama istrinya, gimana?” Surtiyah masih mencoba bertahan pada detik-detik terakhir.
“Ibu ini lho, masak lanange kalah?” tangkis Hanafi, sambil nyengir lebar.
“Lho, banyak itu! Jangan anggap enteng perempuan. Di sini kalah, di sana kalah. Di mana-mana banyak yang kalah,” Surtiyah nyerang balik.
“Itu kan orang lain. Kalau saya, nggaklah.”
“Nggak apanya? Wong sekarang saja wajahmu sudah Haryati semua...”
Hanafi mendelik lalu terkekeh, ayahnya sama. Karena ketawanya agak lama, pelan-pelan sang ibu pun terbawa tawa. Mengompaklah mereka.
“Jadi, bagaimana nasib kami ini?” tanya Hanafi, sesaat usai tawa mereda.
Subagyo memandang istrinya, “Gimana, Bu?”
“Terserah bapake sajalah. Laki-laki memang susah dikasih tahu,” jawab Surtiyah. Rada ngomel, tapi disercai senyuman “sayang ibu” buat anaknya.
Hanafi nyerengeh. Paham kalau ibunya telah meluluh.
Subagyo menghela napas, lalu mengangguk-angguk.
“Cinta itu karunia-Nya, sama seperti segala yang ada. Datang tidak diminta, pergi tidak tertahan. Kenyataannya, di tengah segini banyak perempuan Jawa, anak kita mencintai putri Cina anaknya Ko Liow Chou. Jadi, mereka ini ceritanya memang mau dibeginikan oleh Yang Punya cerita. Ya sudah, masing-masing sesuai perannya. Jangan merasa berhak mengatur peran orang lain,” ujarnya.
Surtiyah terlihat agak menunduk. Anaknya, yang sedang digulung api asmara, nyerengeh geregetan. Subagyo tersenyum.
“Jangan senang berlebihan dulu, Naf. Restu itu urusan mudah asal sudah ada kenyataannya. Sekarang kan belum? Siapa tahu malam ini, di Banjumari sana, Haryati sedang bareng jaka Cina,” Subagyo mencandai anaknya geregetan itu.
Hanafi yang sesaat tadi nyerengeh, langsung ganti mendelik bundar.
“Iya kayaknya itu...,” sang ibu nambah-nambahin.
“Ah, Ibu ini. Nggaklah, nggak mungkin,” sambar Hanafi.
“Lho, apanya yang nggak mungkin? Iya kan, Mas?” giliran Surtiyah sekarang meminta “dukungan” suami.
“Sudah, sudah, hehehe.... Tidak ada ujungnya ini kalau diteruskan. Sekarang tenang, lebih baik berdoa kepada Allah. Mohon perlindungan atas apa pun yang Dia kehendaki. Sebab, perlindungan itu kehendak-Nya juga. Nanti Bapak cari waktu untuk ke Banjumari, bicara soal ini dengan ayahnya Haryati.”
“Jangan lama-lama nyari waktunya, Pak?” Hanafi buru-buru memohon.
“Oo, kamu ini. Sudah dikandani bapakmu, masih ngotot juga,” sergap ibunya, dengan nada ngedumel sayang.
“Lho, bukan ngotot, Bu. Ini namanya usaha...,” sang anak mengelak.
Surtiyah melotot, Hanafi nyerengeh nyebelin.
Subagyo terkekeh maklum. Paham dia rasanya geregetan. Dulu, dia juga begitu saat memaksa ayahnya untuk segera melamarkan Surtiyah, kembang desa tetangga. Tidak gampang juga perjuangannya. Kalau yang sekarang kepentok “tembok Cina” dan beda agama pula, yang dulu taruhannya ketanggor centeng Meneer dan mortir Belanda.
__ADS_1
Maklum, zaman perang....