Selamat Jalan

Selamat Jalan
60. bingung menjelaskan


__ADS_3

Maka, siangnya, sekitar pukul setengah sepuluhan, dia bertandang lagi ke rumah Kyai Khalil. Setiap dua hari sekali, semenjak beliau sakit, Akas memang selalu menjenguk gurunya. Yang kali ini, kalau memungkinkan, hendak sekalian muthalaah atas apa yang dia alami tadi malam.


Ternyata, Kyai Khalil masih sakit. Terlihat banyak penjenguk di situ, tertahan di luar karena dilarang semuanya masuk kamar oleh Kang Iyung, demi kesehatan Kyai Khalil. Cukup diwakili saja. Para penjenguk yang kebanyakan murid itu tentu maklum adanya. Semua tahu kalau Kang Iyung adalah “kuncen” di sini. Sejak balita dia sudah bercokol di sini karena ibunya salah seorang tukang masak keluarga Kyai Khalil.


“Masuk...,” ujar Iyung kepada Akas.


“Saya boleh, Kang?” tanya Akas. Soalnya, tidak sedikit murid tua-tua yang ditahan Kang Iyung. Kalau keamanatan tugas penjagaan seperti ini, Kang Iyung memang layaknya PM. Tegas, tidak pandang bulu. Bulu muda bulu tua, dibabat sama rata. Barangkali dulu sempat pengen jadi tentara, tapi bukan jalurnya.


Iyung mengangguk, “Kyai pesan begitu subuh tadi.”


Akas manggut-manggut, lalu bergegas masuk. Daripada izinnya keburu dianulir oleh sang “PM”. Mungkin saja itu, namanya juga Kang Iyung.


“Asalamu'alaikum," sapanya kepada sang guru.


"Waalaikum salam," sahut Kyai Khalil pelan.


Usai mencium tangan guru dan merapikan selimutnya Akas duduk di kursi samping tempat tidur Kyai Khalil. Terlihat, Kyai Khalil tersenyum...


“Pergilah ke tempat Kyai Zarkasih. Bicarakan dengannya, apa yang mau kamu bicarakan. Sampaikan salam saya buatnya," ujar sang guru.


“Baik, Kyai,” jawab Akas takzim.


Usai beruluk salam, Akas bergegas keluar kamar. Langsung mencari Kang Iyung untuk bertanya alamat Kyai Zarkasih.


“Untuk apa?" tanya Iyung.


“Saya diminta Kyai Khalil ketemu beliau."


Kang Iyung mengangguk-angguk. Dia mengambil selembar kertas, lalu menggambarkan peta alamat Kyai Zarkasih. lumayan jauh, di sebuah kampung perbatasan Magelang-Temanggung. Tidak ada nomornya, tidak ada teleponnya, adanya cuma ciri-ciri. Untung Akas tahu wajah Kyai Zarkasih, sempat sekali berjumpa beliau di sini. Sekali itu saja, tapi hafal. Penampilannya yang tenang dan berwibawa membuatnya mudah diingat. Beliau memang sangat jarang tampak di sini. Kata Kang Iyung, kalau muthalaah, Kyai Zarkasih datangnya selalu menjelang tengah malam. Sendirian dan tidak pakai callingan dulu. Tahu-tahu nongol saja. Untung Kang Iyung paham siapa beliau, jadinya segan juga.

__ADS_1


Beres itu langsung cabut. Kebetulan datangnya tadi naik Verpa, jadi tidak usah balik ke rumah dulu. Namun, busyet..., peta lain fakta. Aslinya, jauh “lebih indah" dibanding gambarnya Kang Iyung. Payah juga Kakang satu itu, petanya tidak pakai skala. Yang garisnya pendek, tahu-tahu jauh. Giliran disangka jauh, nyatanya cuma sejengkal. Jembatan, yang dia sebut-sebut sebagai patokan itu, ternyata hanya jembatan bambu yang mesti dilintasi pelan-pelan. Vespanya dituntun, tidak bisa dinaiki. Meleng sedikit, plung.... Seperti melintasi “titian serambut dibelah tujuh" saja. Tadi Kang Iyung promosi jembatannya mantap berbunga-bunga, jadilah Akas membayangkan serupa Jembatan Merah di Surabaya sana. Tahunya cuma model pring. Mana bambunya sudah pada tua, melenyot rengkah-rengkah....


Tapi, berhasil juga dilintasi. Alhamdulillah. Berarti ini sudah masuk kampungnya Kyai Zarkasih. Sungai tadi adalah perbatasannya dengan kampung tetangga. Selanjutnya, tinggal tanya-tanya ke warga di sini. Adzan zhuhur sayup-sayup berkumandang. Akas mencari arah datangnya “panggilan Allah” itu. Dapat, sebuah surau kecil tepi persawahan. Maka, dia ikut berjamaah di situ. Masbuk, ketinggalan dua rakaat karena tadi ambil wudhu dulu. Sebagaimana lazim, tidak banyak pesertanya. Hanya berlima saja, termasuk sang imam.


Usai dia menuntaskan shalatnya, tinggal berdua di situ. Akas dan sang iman yang sesaat masih tafakkur di tempatnya. Tiga peserta yang lain telah kembali bertebaran di muka bumi. Sebagaimana perintah Allah setelah menunaikan kewajiban. Lalu, kagetlah Akas saat tahu bahwa sang imam ternyata Kyai Zarkasih sendiri. “Assalamu'alaikum,” cepat-cepat dia menyapa.


“Wa alaikum salam,” sahut sang Kyai.


Karena tangannya sudah keburu dipegang Akas, maka beliau membiarkan mantan makmum ini menciumnya. Soalnya, Kyai Zarkasih bukan penggemar gaya tarik cepat. Ada sebagian orang yang kalau salaman suka bikin kaget, tangannya buru-buru ditarik pulang begitu nempel sedikit. Kadang-kadang bahkan belum sempat nyenggol sudah dibetot. Macam khawatir ketularan bakteri mematikan saja. Entah aliran apa itu. Tapi, terserahlah....


“Benarkah Abah Kyai Zarkasih?” tanya Akas, usai bersalaman yang bukan gaya tarik cepat tadi. Untuk penegasan saja.


Sang Kyai tersenyum ramah, lalu mengangguk kecil.


Akas balas tersenyum, “Saya Akas, menantunya Kyai Sanusi.”


“Benar, Bah,” jawab Akas. Pantaslah kalau Kyai Zarkasih ini disapa Abah karena usianya tampak sepantaran Kyai Sanusi.


Kyai Zarkasih tersenyum. “Ada keperluan apa, Ngger?”" beliau bertanya.


“Saya diminta Kyai Khalil ke sini, bertemu dengan Abah. Ada hal yang hendak saya muthalaah-kan dengan Abah.”


“Oo, Anak ini muridnya Kyai Khalil?”


“Iya, Bah.”


Kyai Zarkasih manggut-manggut. Lalu, mengajak Akas ke rumahnya yang ternyata rumah semi permanen persis di sebelah surau ini. Wah, kacau petanya Kang Iyung. Mushala dan sawahnya ini tidak digambarkan. Cuma jembatan pring tadi saja yang gencar disebut. Untung ketemu. Memang sudah ada yang ngatur sih.


Di rumah Kyai Zarkasih, Akas dan murid senior Kyai Khalil ini pun mulai berdiskusi ilmu. Nyaman berbincang dengan beliau yang sudah sampai ilmunya ini. Saat mereka membahas dzikir Qalbi dan kejadian-kejadiannya, nyambung semua. Apa dikata Akas, dibenarkan haqqul yaqin oleh Kyai Zarkasih. Ketika tiba di Kull-Jasad pun demikian....

__ADS_1


“Wa yusabbihuur ra'du bi hamdih, kan?” ujar beliau.


Akas tersenyum cerah, “Betul, Bah. Benar sekali.,..”


Apa yang diucap Kyai Zarkasih itu adalah firman Allah, tercantum dalam Surat ar-Ra'd ayat 13, “Dan guruh pun bertasbih memuji-Nya....” Maha Benar, Akas telah haqqul yaqin atas ayat suci ini. Sebab, pada setiap guruh yang bergemuruh di penghujung musim penghujan ini, nyata-nyata dia mendengar hakikat tasbihnya. Tasbih guruh itu hanya bisa tersadap oleh pendengaran hati, tidak kena kalau sekadar pasang gendang telinga biasa. Disampaikan ini atas nama-Nya. Demi kebenaran, tidak ada dusta di sini.


Perbincangan “guruh” ini tersela sejenak oleh kemunculan Nyonya Zarkasih membawa ubi goreng dan kopi. Akas cepat-cepat bangkit, lalu menyalami cium tangan kepada istri Kyai Zarkasih, usai beliau menaruh hidangan itu di atas meja, Sudah sepuh juga tentu, di atas enam puluh tahunan. Tapi, sisa-sisa kecantikan masih tertera di wajah tua nan ramah ini. Kesimpulannya, Nyonya Zarkasih ini pasti dulunya cantik, sebab sekarang pun masih demikian pada kelasnya. Dan, setia. Semoga Asih bergaris kisah seperti beliau....


Usai itu, diskusi dilanjutkan. Beberapa saat, Kyai Zarkasih masih berkisah tentang tasbih di mana-mana yang luar biasa ini. Segalanya adalah lautan tasbih, riuh saling menyahut. Akas mengimbangi karena mereka sama-sama tahu rasanya. Lalu, pelan-pelan Menantu Haji mengajak beliau nanjak ke tingkatan selanjutnya. Pelan-pelan juga, Kyai Zarkasih mulai banyak termangu. Akas melihat gaya ini, tapi belum sadar. Disangkanya sang Kyai sekadar sedang terpesona karena tahu “ada temannya” dalam memahami Keagungan Allah. Asyik memang kalau punya teman. Soalnya, terus terang tidak banyak yang paham rasanya ini. Mau cerita, nggak nyambung. Salah-salah malah dianggap ngibul. Masih bagus kalau cuma segitu. Lha kalau dibilang kafir, kan sedih? Tapi, peringatannya memang sudah diberi, man lam yadzud lam yadri. Yang tidak merasakan, tidak tahu.


“Jadi, apa sebenarnya dengungan ini, Bah?” tanya Akas. Wajahnya terlihat antusias, sebab dia ke sini memang hendak diskusi tingkatan ini. Maqam Qalbu dan Kull-Jasad sudah pernah dijelaskan oleh Kyai Khalil dulu.


“Dengungan...?” Kyai Zarkasih bergumam.


“Iya, dengung yang tidak putus ini. Nyata kan, Bah?”


Akas nyerengeh. Disangkanya Kyai Zarkasih sekadar belum paham yang dia maksud “dengungkan”. Soalnya, ini memang istilah Akas. Belum sempat dapat “penjelasan resmi” dari Kyai Khalil arau Kyai Zarkasih.


“Dengung apa?" Kyai Zarkasih kembali bergumam pelan.


Akas tersentak. Dengung apa? Bukankah demikian jelasnya? Maka, dia memandang “tidak percaya" ke Kyai sepuh itu. Bercanda kali Abah....


“Dengung seperti apa, Nak?” beliau bertanya lagi.


Kening Akas makin berkerut. “Dengung... yang ini, Bah. Yang begini nyata ini. Apa Abah tidak merasakannya?” dia balik bertanya.


Kyai Zarkasih menghela napas, “Apakah ngeengg..., begitu?"


“Kalau katakanlah dibunyikan, iya. Tapi, aslinya tidak ada bunyi ngeengg itu. Eem, seperti tasbih guruh tadi, Bah. Tapi, yang ini meliput segalanya. Lautan tasbih, digulung jadi satu, bahkan diri saya. Tidak ada saya, tidak ada Abah, tidak ada makna segalanya, kecuali Dia. Tunggal, seakan berdengung tanpa putus," Akas pun jadi bingung menjelaskannya. Kalau saat membahas tasbih guntur tadi, nyaman. Dua-duanya paham, punya rasanya. Tanpa kata-kata pun, hanya dengan saling menatap atau bertutur simbolis, mereka sama-sama mampu menangkap pesan tersirat di dalamnya. Yang ini, macet tampaknya....

__ADS_1


__ADS_2