Selamat Jalan

Selamat Jalan
42. kenal dulu


__ADS_3

Usai itu, Kyai Kholil memberi waktu sejenak kepada Akas untuk mengendalikan dirinya. Akas menundukkan kepala, menghela napas berkali-kali untuk meredakan gejolak jiwa, yang serasa habis dikucek tangan raksasa ini.


“Bagaimana, sudah tenang?” tanya beliau, sesaat kemudian.


“Belum, Kyai. Sebentar...,” jawab Akas, sambil masih ngos-ngosan.


Kyai Kholil mesem, lalu memperpanjang jatah penenangan, sampai benar-benar Akas terlihat tenang. Kira-kira butuh sepuluh menitan lagi itu.


“Sudah, Yung, terima kasih. Tolong dikemasi ini,” pintanya kemudian.


Iyung mengangguk, lalu mengemasi perkakas pembaiatan itu.


“Terima kasih, Kang,” ucap Akas, saat Kang Iyung hendak beranjak.


“Sama-sama,” balasnya, mengirim senyum. Bukan lirikan maut lagi.


Sepeninggal Kang Iyung, dalam keadaan kamar tertutup rapat, Kyai Kholil berwejang, “Akas, sekarang kamu adalah manusia yang berbaiat kepada Allah. Kamu telah menyatakan sumpah kepada-Nya, untuk siap menempuh perjalanan ruhaniah menuju sifat kesempurnaan, al-insan al-kamil. Sungguh bukan perjuangan yang mudah, tapi tidak lantas berarti mustahil. Buktinya, ada. Untuk itu, kamu akan menerima tiga rahasia semesta yang sangat terlarang dibuka kepada siapa pun yang belum berbaiat. Berlaku untuk siapa pun yang belum bersumpah kepada-Nya. Siapa pun adalah siapa pun, tanpa pandang kecuali. Apakah kamu siap mengemban ini?”


“Siap, Kyai,” jawab Akas, mantap. Memang mantap rasa hatinya.


Kyai Kholil tersenyum, “Baiklah, mendekatlah kemari....”


Akas mendekat. Kyai Kholil memintanya terus mendekat sampai “ketemu dengkul”, seperti saat dengan Mbah Bagyo dulu. Diawali ucapan, “Allah...,” beliau membisikkan ketiga rahasia itu ke telinga kanan Akas. Sekali jalan saja, tidak ada siaran ulangan. Tapi, jelas bagi Akas. Apa yang dibukakan Kyai Kholil barusan terekam olehnya, walau susunan kalimatnya berbahasa puitis. Bersimbol-simbol, rada-rada abstrak.


Akas memang tidak langsung paham makna simbolis yang ada, tapi dia merekamnya dengan baik dalam benak. Aneh juga, terasa gampang baginya menghafal kalimat puisi itu. Sekali dengar, langsung nempel. Hafalnya lho, bukan mengertinya. Ini dulu, pahamnya nanti dikejar sambil jalan.


“Gimana? Jelas?” tanya Kyai Kholil.


“Jelas, Kyai. Tapi, itukah...?”


Kyai Kholil mengangguk, tersenyum, “Itu tapak-Nya, di situlah kebenaran-Nya. Mulai sekarang, jangan biarkan ragu mengganggumu tentang ini. Kalau ia datang, pukul dengan dzikir Cahaya. Hantam yang keras. Pahamilah, sifatmu tidak lepas dari zatmu. Sifat Akas, menempel pada Akasnya. Di mana ada kamu, dengan sifatmu,” beliau bersiloka lagi.


Akas menunduk dalam, mengangguk-angguk pelan, lalu mbrebes mili lagi tanpa diminta. Matanya kembali berlinang. Bagaimana tidak? Kabar, “yang lebih dekat dari urat leher” itu kini terasa kebenarannya walau masih di batas pengertian. Yang, “Aku tempat bergantung segala sesuatu”, pun demikian. Ini bukan seolah-olah. Martabat hubungan langsung antara sifat dengan zatnya.


Seperti manis dengan gulanya, asin dengan garamnya, atau cahaya dengan lampunya.

__ADS_1


“Sudah, jangan menangis. Harusnya gembira, kan?” Kyai Kholil mesem.


Akas pun tersenyum, di tengah derai air mata, “Terima kasih, Kyai.”


“Bersyukurlah kepada Allah. Berterima kasihlah kepada-Nya. Dia yang membawa kamu ke sini. Bukan saya, bukan juga yang lainnya.”


Akas mengangguk-angguk, sambil menyusut air matanya.


“Mulai sekarang, berdzikirlah dengan ruhmu. Gunakan dzikir Ruh atau dzikir Cahaya itu. Sejati jumpa sejati, semu bergulung semu. Kamu sudah pegang petanya, kamu punya kendaraannya, dan kamu tahu rambunya. Maka, berjalanlah menuju-Nya dengan sejati dirimu. Jangan menunggang yang semu. Paham?”


“Iya, Kyai....”


“Untuk sementara ini, tutup semua kitabmu. Tawakuf-kan (diam untuk merenungkan dan meresapi) dulu. Jangan terlalu banyak menelan pengertian, dalil-dalil. Sekarang, kejar ilmunya. Kalau sudah dapat itu, barulah pantas membaca kitab,” Kyai Kholil lanjut berwejang.


“Eem, termasuk al-Our'an, Kyai?”


Kyai Kholil tersenyum, lalu mengangguk.


“Apalagi itu, kitab yang paling mulia. Dibutuhkan ilmu untuk membaca Ilmu. Sebab, Ilmu tidak bisa dibuka dengan nafsu. Kalau masih bergulung nafsu, tidak akan tertangkap makna hakikinya. Kecuali sekedar bacaan saja,” ujarnya.


“Ayat pertama surat al-Fajr, tahu?” tanya Kyai Kholil.


Akas mengangguk. “Wal fajri, demi fajar....”


Kyai Kholil mesem lagi, “Nah, apa maknanya fajar di situ?"


Akas berpikir sejenak. “Yaa, fajar yang pagi hari itu,Ma....”


“Hehehe..., tidak salah. Secara lahiriah, benar. Yang pagi hari itu, disebutnya fajar juga. Tapi, masak Allah Yang Maha Kekal bersumpah atas nama sesuatu yang bakal musnah? Bukankah kelak, fajar yang pagi hari itu tidak ada lagi?”


Akas tersentak. Benar!


“Jadi, fajar yang mana maksudnya, Kyai?" dia bertanya.


Kyai Kholil tertawa lagi, pelan saja.

__ADS_1


“Itulah. Misalnya dijelaskan sekarang, kamu belum bisa paham. Sebab, harus dengan ilmunya. Jangan hanya harfiahnya saja. Yang pasti, secara hakiki, bukan fajar menyingsing pagi hari itu yang dimaksud Allah dengan wal fajri. Saya berkata ini dengan kebenaran rasanya, haqqul yaqin. Dan, suatu ketika kelak, kamu pun paham kalau sudah dapat ilmunya.”


“Ilmunya itu apa sih, Ma?”


“Ya ini, yang akan kamu tempuh. Ilmunya adalah iman. Iman yang sebenar-benarnya iman, iman hakiki. Bukan iman-imanan yang plintat-plintut itu. Iman yang teguh, yang tidak goyah oleh ancaman maupun rayuan.”


Akas mengangguk-angguk.


“Untuk sampai ke situ, minimal kamu harus mengenal-Nya. Bagaimana bisa disebut beriman kalau tidak kenal? Kalau cuma dengar cerita atau membaca kitab, itu bukan iman hakiki. Paling tinggi iman dalil, atau bahkan sekedar iman taqlid.”


Akas meringis. Ingat pelajaran “kebo” dengan kakeknya dulu.


“Kenapa?” tanya Kyai Kholil, karena melihat ringisan itu.


“Nggak, Kyai. Dulu, Mbah Bagyo pernah bilang tentang taqlid-taqlidan....”


“Oo, apa katanya?”


Akas pun menceritakan kisah “melu-melu kebo” itu. Kyai Kholil terkekeh. “Itulah, tuturut munding kalau kata orang Sunda,” ujar beliau. “Kamu jangan mau jadi munding, ya? Marah nanti Allah. Susah-susah dijadikan manusia, malah mengubah diri jadi kerbau, hehehe....”


Akas pun ikut tertawa. Pelan saja.


“Jadi, perjalanan ruhani ini adalah untuk mendapatkan keimanan hakiki. Iman yang ini tidak bisa dibeli, tidak bisa juga didapat hanya dari dengar cerita atau sekedar baca kitab, walau yang dibaca adalah al-qur'an. Kenapa? Sebab, harus sampai dirasakan kebenarannya, bukan cuma diomongkan. Tolong pahami ini dengan hati, jangan pakai nafsu. Bukan saya melarang membaca al-qur'an, tapi bacalah dengan ilmunya. Sehingga, Kitab Yang Terang itu benar-benar menerangi, benar-benar jadi petunjuk yang nyata....”


Akas mengangguk-angguk.


“Oo iya, jangan main bola lagi...,” Kyai Kholil lanjut berwejang.


Akas kaget, “Nggak boleh main bola, Kyai?”


“Hehehe..., bukan. Kamu jangan keluyuran lagi kesana kemari mencari Allah seperti yang sudah-sudah. Allah itu Maha Dekat. Salah-salah keluyuran, malah kejeblos musyrik nantinya. Paham?”


Akas nyengir, “Iya, Kyai.”


“Bagus. Sekarang istiqamahkan dzikir Ruh-mu, dzikir Cahaya. Ingatlah Dia lewat sejati dirimu. Man arafa nafsahu fagad arafa Rabbahu, yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya. Dalam hal ini, tidak bisa mengenal tanpa mengingat. Ingatan langgeng, ingatan yang tidak terhalang ruang dan waktu. Gunakan dirimu, sejati dirimu untuk mengingat-Nya. Jangan memakai lain-lain yang sifatnya semu. Sebab, sampai kapan pun kesemuan tidak bisa menguak tabir kesejatian. Yang semu, tidak mampu melintas barzakh. Pahamilah ini baik-baik.”

__ADS_1


Sang murid mengangguk-angguk....


__ADS_2