
Akas merasa tubuhnya diguncang pelan. “Kas, bangun, Le...,” terdengar suara kakeknya dekat telinga. Si bungsu pun terbangun.
“Ada apa, Mbah?” gumamnya sambil mengucek-ucek mata.
Ngatijo masih melungker ngorok di dipan sebelah.
“Mbah perlu sama kamu. Ayo, bangun...,” pinta kakeknya.
Akas beranjak bangkit, duduk di tepian tempat tidur sambil menguap. “Ada apa to, Mbah?” dia bertanya lagi.
Bagyo mesem, “Bangun, wudhu. Mbah tunggu di mushala.”
Akas mau bertanya lagi, tapi di-cut duluan oleh kakeknya. “Sudah, ayo cepetan. Nanti saja tanya-tanyanya di sana.”
Akas mengangguk, lalu berjalan limbung ke kamar mandi sambil angop beberapa kali. Mbah Bagyo beranjak duluan ke ruang shalatnya.
Bakda isya tadi, setelah tercapai kesepakatan tentang Magelang, Akas langsung beranjak tidur. Penat badan setelah siangnya membantai singkong. Ngatijo sudah berangkat melungker duluan. Sekarang, menjelang pukul satu dini hari, ada apakah? Tumben kakeknya memaksa bangun seperti ini. Maka, setelah wudhu dan memakai sarung berikut kopiah, dia menuju ruang shalat. Tampak Mbah Bagyo duduk bersila di situ. Di depannya ada tungku kecil berisi bara arang.
“Assalamu'alaikum,” sapa Akas.
“Wa'alaikum salam,” sahut Bagyo. “Duduk, Le....”
Akas pun duduk bersila, berhadapan dengan kakeknya. Tungku bara arang, yang ada di antara mereka, mengeluarkan asap harum setelah ditaburi semacam serbuk oleh kakeknya. Akas tidak tahu serbuk itu, tapi jelas bukan kemenyan. Kalau kemenyan dia tahu, wanginya tajam nyegak. Yang ini lain, harumnya semilir lembut. Terus terang, magis terasa suasana jadinya.
Subagyo tersenyum melihat “kemagisan” sang cucu....
“Akas,” dia membuka pembicaraan. “Dirasa-rasa, hidupmu ini lumayan berwarna, ya? Bapakmu Jawa, ibumu Cina. Bapakmu Islam, ibumu Kristen sekalian semua kakakmu. Cuma kamu sendiri yang Islam. Sekarang sudah yatim piatu. Aku sama Mbah Surti yo wis maghrib. Tapi, Gusti Allah itu ada, Le. Nyata adanya, bukan seolah-olah,” ujar Bagyo, pelan namun tegas.
Akas menyimak, belum jelas arah pembicaraan ini.
Bagyo membuka-buka kitab terjemahan al-Qur'an milik Akas yang ditaruh di mushala ini. “Coba kamu baca,” pintanya, menunjuk surat Fushilat, ayat 54.
Akas membacanya dalam hati, “Ingatlah, bahwa sesungguhnya mereka dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu,” Akas pun menghela napas setelah membaca ayat ini. Apa maksudnya?
__ADS_1
“Mengerti, Kas?” tanya sang kakek.
“Tidak,” jawab cucunya.
Bagyo tersenyum lebar. “Nggak apa-apa kalau sekarang belum mengerti. Tapi, kamu percaya, kan?”
Akas langsung mengangguk.
“Lumayan, iman dalil, hehehe....”
Mendengar itu, Akas ikut terkekeh. Teringat pelajaran “iman dalil” yang dulu, yang luwih apik daripada melu-melu kebo itu.
“Pertemuan...,” Bagyo mendesah. “Kata Allah, banyak yang ragu tentang pertemuan dengan-Nya. Ada yang percaya, tapi nanti katanya. Nanti di alam akhirat, kalau manusianya sudah mati. Padahal, Gusti Allah itu sami mawon. Dulu ada, sekarang ada, nanti ya tetap ada. Sama saja, wong Maha Ada.”
Akas sigap hendak bertanya, tapi ditahan ole kakeknya.
“Jangan tanya, percuma, karena kamu belum tahu rasanya. Yang Mbah sampaikan ini, terima dulu untuk bekalmu nanti mencari rasanya. Bukan Mbah nggak mau cerita, tapi piye carane cerita rasa? Rasa, ketemunya ya sama rasa lagi. Kalau sudah ada rasamu, baru kita bisa ngerasani rasa. Mengerti, Kas?”
Akas terdiam sejenak, lalu mengangguk. Dulu kakeknya sudah pernah membahas sedikit tentang “rasa-rasa” ini.
Akas membacanya seperti tadi, dalam hati, “Dan sesungguhnya, kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya,” lalu terkesiap menatap sang kakek.
“Hehehe..., benar-benar ingkar, tidak percayanya bundar. Kebanyakannya lagi, bukan yang sedikitnya. Nah, kamu jangan sampai termasuk mereka yang benar-benar ingkar itu, ya? Awas, hati-hati...,” ujar Bagyo, kalem.
Akas mengangguk cepat. Siapa yang mau? Emang ada yang mau?
“Ayo, terusin. Sekarang yang ini,” Bagyo kembali menunjuk dalil al-Qur’an. Surat al-Insyiqaaq ayat 6.
Terbaca, “Hai manusia, sesungguhnya kamu harus berusaha dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, sehingga kamu menemui-Nya,” Si bungsu pun manggut-manggut sekarang. Perasaan, rada-rada ngerti deh....
“Kita disuruh berusaha, ya? Berusaha dengan sungguh-sungguh. Nah, seperti itu harusnya. Kita, para manusia, jelas-jelas diperintah oleh Gusti Allah untuk menuju kepada-Nya. Menuju kepada-Nya ini, maksudnya mengenal Dia. Kalau bahasa Arabnya, makrifatullah. Jangan dibayangkan kayak kamu pergi ke Sedayu ketemu Pater Jo dulu, ya? Sebab, Gusti Allah tidak tinggal di suatu tempat. Allah itu laisa kamisylihi syai‘un, tidak serupa dengan apa pun. Jangan disamakan dengan segala yang bisa dibayangkan oleh akal. Jangan pernah.”
Maka, Akas pun melongo. Rada mengerti, apanya?
__ADS_1
Laisa kamisylihi syai‘un, wahuwas samit‘ul bashiir. Tidak ada Sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS. asy-Syuura :11).
“Kamu tahu bedanya shalat Nabi dengan shalatnya kebanyakan kita?” sang kakek kembali bertanya, bakda hening sejenak.
Akas menggeleng.
“Pak Ustadz belum sempat memberi tahu tentang ini?”
Akas merenung, lalu mengangguk. Seingatnya, memang iya. Pak Ustadz mengajarkan tata cara shalat, tapi tida pernah bilang “bedanya” dengan shalat Nabi. Adanya malah bilang seperti itulah shalatnya Nabi. Bagaimana ini?
“Memang ada bedanya, Mbah?”
“Ada, hehehe..., nyata sekali. Satu rakaat shalatnya Nabi lebih tinggi nilainya dari seribu rakaat shalatnya kebanyakan kita. Kenapa? Karena Nabi shalat dengan makrifatnya, dengan mengenal kepada yang disembahnya. Benar-benar kenal, bukan kenal-kenalan. Itu sebabnya dalam riwayat Isra Mi’raj, dikisahkan bahwa Nabi Musa meminta Kanjeng Nabi Muhammad untuk naik lagi memohon keringanan atas jumlah shalat fardhu. Bahkan, ketika shalat fardhu tinggal lima waktu dari awalnya yang lima puluh waktu. Umatmu di akhir zaman tidak akan mampu, kata Nabiyullah Musa alaihi salam. Apanya yang tidak mampu? Tata caranya? Bacaan dan gerakannya? Ah, nggak mungkin, mudah kalau cuma soal itu. Lha, kamu saja sekarang sudah pintar melaksanakan tata cara shalat, bukan?”
Akas mengangguk.
“Jadi, apanya yang tidak mampu itu?”
“Eem, makrifatnya mungkin ya, Mbah?”
“Hehehe..., itulah. Nabi shalat dengan makrifatnya. Lha, kita? Boro-boro kenal, wong ingat saja nggak. Shalatnya kebanyakan kita itu, lahiriahnya saja yang bagus. Tertib gerakannya, fasih bacaannya, kalau perlu sekalian pakai cengkok Arab yang yaqun itu, hehehe....”
Akas ikut terkekeh. Soalnya Mbah Bagyo bilang yaqunnya pakai gaya yaqun yang pentolan jakun di lehernya naik-turun.
“Bukan salah pakai yaqun tadi, silakan saja kalau memang mantapnya begitu. Tapi, jangan yaqun lahiriahnya saja, hatinya juga harus yaqun. Percuma kalau cuma luarnya, sebab shalat itu sejatine urusan dalam.”
Akas pun merenung....
“Sudah, cukup dulu kata-katanya. Nanti jadi iman kata-kata kalau kebanyakan, hehehe.... Kalau kamu mau cari dalilnya di al-Qur’an dan hadits, akeh. Banyak yang menegaskan tentang pertemuan dengan-Nya. Pertemuan ini, jangan selalu dipandang nanti. Kenapa harus nanti? Sekarang saja, wong sekarang juga ada. Yang nanti itu hasilnya sekarang. Kalau sekarang bisa, nanti lebih bisa. Kalau sekarang nggak bisa, ya nggak tahu nantinya bisa apa nggak. Mengerti, Kas?”
“Agak-agak, Mbah....”
Bagyo tersenyum. “Lumayan, daripada nggak ada, hehehe....”
__ADS_1
Cucunya meringis.