Selamat Jalan

Selamat Jalan
45. proses menjebol


__ADS_3

“Pak, daerah Tegalrejo sama Kali Dawung minta tambahan jatah,” ujar Edi, salah seorang personel “ngampas” di pabrik roti ini. Bagian pengiriman.


Istilahnya memang begitu, “ngampas”. Mungkin ini gara-gara kebiasaan pedagang mengirim barang dagangannya pakai mobil bak berkanvas, kendaraan pick-up yang ditutup terpal. Muncullah istilah “ngampas” tadi. Soal “V” jadi “P”, dimaklumi saja karena Edi orang Sunda. Jamak diketahui bahwa Orang Sunda senang mengubah “F” dan “V” jadi “P”. Tanpa ragu, banyak dari mereka menulis plang nama usaha “Serpis Sepeda Federal” untuk maksud “Servis Sepeda Federal”, begitu. Lalu, segala Yang bersifat kirim-mengirim dagangan disebut “ngampas", walau kirimnya pakai motor atau sekadar naik sepeda jengki.


Akas mengangguk-angguk saja, sambil memijit-mijit kepalanya. Sedang pusing dia. Bukan pusing yang bukan urusan zhahir itu akhir-akhir ini mengencang kembali terasanya.


“Gimana, Pak? Bisa nggak kira-kira?” tanya Edi.


Juragannya meringis, “Mentok, habis.”


“Wuuh, sayang euy. Padahal, jelas-jelas duit itu. Gedein atuh pabriknya, Pak,” dia memberi saran bagus.


Akas lanjut meringis, tidak menjawab. Ini bukan kali pertama dia dapat saran untuk membesarkan skala usahanya. Banyak sudah. Tapi, entahlah, segan rasanya. Bukan pura-pura memang begitu adanya. Perasaan, malas mikirin duit. Situasinya serupa dengan urusan malas makan dan malas tidur itu....


Apalagi belakangan ini, saat entah mengapa pusing yang bukan urusan zhahir itu bergolak lain dari biasanya. Kalau sebelumnya lathif, halus, sekarang permainannya gubrak-gabruk. Seperti bola liar yang mau keluar dari kurungannya. Dan, jelas-jelas mempengaruhi fisik, mempengaruhi aspek zhahir, karena gara-gara ini Akas jadi sering mencucurkan air mata. Bukan menangis, air matanya keluar sendiri gitu. Lalu, kata Asih, sesekali wajahnya tampak memerah dengan urat di tengah kening dan pinggir-pinggirnya tampak menonjol. Tampilan luar, seperti orang sedang marah. Padahal, tidak, cuma sedang merasakan pusing luar biasa.


Maka, seminggu lalu Akas melapor kepada Kyai Khalil perihal perubahan ini. Seperti biasa, sang guru tersenyum saja. “Tidak apa-apa. Sabarlah,” ujarnya.


“Tapi, rasanya ini kena ke zhahir juga, Yai? Pusingnya luar dalam...”


“Iya, memang begitu. Awalnya zhahir takluk ke zhahir, batin takluk ke Allah. Lalu, zhahir dan batin sama-sama takluk ke Allah. Sadar atau tidak, rela atau terpaksa, semua takluk kepada-Nya. Segalanya, Dia.”


Akas mengangguk-angguk sambil menahan denyutan di kepala.


“Selanjutnya, saya mesti gimana, Yai?” dia bertanya.


“Teruskan. Masih ingat cerita menembus barzakh?” jawa Kyai Khalil, sekalian langsung bertanya.


Akas mengangguk. Ingat sekali dia kisah itu.


Kyai Khalil tersenyum lagi. “Insya Allah, barzakhmu yang pertama akan segera tertembus. Tapi, ingat, tabir itu berlapis-lapis. Ini, katakanlah baru lapis pertama. Nurun alaa Nuurin, Cahaya di atas Cahaya. Cahaya yang berlapis-lapis.”


Akas terpana. Benarkah?


Kyai Khalil mengangguk-angguk pelan. Tahu suara yang terlintas dalam benak muridnya. “Intinya, teruslah berdzikir. Kalau bisa, buatlah kamar khusus untuk ini. Berdzikirlah di situ dengan semua bentuk kepasrahan yang ada padamu saat ini. Tidak apa-apa kalaupun pasrahmu sekarang masih pasrah aqli. Awalnya, semua juga begitu. Main akal dulu, baru kemudian dengan hati dan rasa. Dorong semua akalmu ke jalan taqarrub. Kalau perlu, paksa. Karena, si akal ini memang cenderung suka akal-akalan. Maunya menang sendiri, mau enak sendiri. Tapi, itulah seninya. Kalau tidak ada akal, nggak rame dunia. Lempeng semua, hehehe....”


Akas meringis paham.

__ADS_1


“Akal, itulah barzakh pertama. Martabat akal manusiawi yang cenderung suka akal-akalan, penuh dengan khayalan. Bayangkan jika kesukaan ini tidak dibarengi ilmunya, tidak disertai dengan iman hakiki, maka... ya mungkin seperti yang banyak terpampang sekarang ini. Wajah-wajah al-munaafiqun, hehehe.... Lain di bibir, lain di hati. Malu, barang langka kini.”


Akas mengangguk-angguk.


“Pahami, menembus bukan berarti menghilangkan. Melintas bukan berarti meniadakan. Melintas barzakh bermakna menyucikan atau menyelaraskan pembatas itu terhadap martabat Kesempurnaan. Sesungguhnya setiap manusia adalah sempurna, maka mereka ditugaskan untuk kembali kepada martabat Kesempurnaan. Yang membuat seolah tidak sempurna adalah barzakh-barzakh tadi, tabir-tabir penghalang. Maka tabir-tabir ini harus disucikan agar tidak lagi dalam posisi menghalangi kesempurnaan terhadap Kesempurnaan, melainkan menghantarkannya....”


Akas yang tadi mengangguk-angguk, sekarang melongo.


Kyai Khalil tersenyum, “Masih bingung, ya?”


“Iya, Yai. Agak-agak ketangkap, tapi belum utuh."


“Ya iyalah, kan belum tembus? Makanya, sekarang tembus dulu. Nanti, kalau sudah dapat rasanya, kamu yang jelaskan ke saya maksudnya melintas ini. Soalnya, saya sudah tua. Sudah capek bibir kalau disuruh ngoceh. Gimana, bisa?”


Akas nyengir.


“Bisa, nggak?”


Akas pun mengangguk, sambil masih nyengir.


Kyai Khalil pun tertawa pelan. Kedengaran, nadanya senang....


“Terasa lagi, Mas?” tanya Asih, saat jumpa suaminya di batas kamar.


Akas mengangguk sambil meringis. Sang istri yang sudah diberi tahu tentang apa yang sedang terjadi itu, balas meringis sayang. Meringis-meringisanlah mereka, lalu Akas beranjak masuk setelah cukup serengehannya.


Asih menghela napas saat pintu kamar ditutup dan dikunci dari dalam. Kalau sudah begitu, seolah suaminya melenyap dari alam fana. Tidak makan, tidak minum, dan tidak ada suaranya. Pernah Asih mengintip dari celah jendela, terlihat suaminya sedang duduk bersila di atas sajadah memutar tasbih. Badan dan kepalanya mengangguk-angguk cepat, kadang memutar. Apa tidak tambah pusing itu? Terus terang, sekiranya Asih tidak tahu kalau suaminya sedang berguru kepada Kyai Khalil, tentulah dia khawatir. Jangan-jangan sedang main “ilmu hitam”. Namun, sebelah mana hitamnya Kyai Khalil? Beliau sih asli putih semua. Bahkan, ayahnya pun muridnya juga.


Demikianlah, keadaan ini berlangsung hingga hampir sebulan...


Dua hari terakhir, Asih gelisah karena suaminya tidak juga keluar dari dalam kamar itu. Benar-benar tidak keluar sejak masuknya kemarin dulu selepas zhuhur. Biasanya masih ada ke acara luar masuknya, ganti-gantian gitu. Tapi, yang dua hari ini suaminya manteng terus di dalam sana. Diintip, sama seperti yang lalu-lalu, sedang duduk bersila bergoyang kepala dan badan. Hanya saja, yang sekarang terlihat raut wajah sang suami lebih ngerenyit. Tampaknya lebih pusing dari sebelumnya. Untung pabrik bisa jalan sendiri, sebab ada wakilnya, ada orang kepercayaan Akas yang bisa mengemban tugas managerial kalau sang juragan berhalangan.


Tidak tahan, Asih melapor kepada ayahnya. Sekalian menceritakan apa yang terjadi pada suaminya selama hampir sebulan terakhir. “Kata Mas Kas, disuruh begitu sama Kyai Khalil...,” ujarnya.


Kyai Sanusi menghela napas. Sebenarnya dia terkejut, tapi bisa menyembunyikan keterkejutannya. Kenapa? Sebab, bahkan dirinya belum mengalami keadaan seperti yang sekarang terjadi pada menantunya. Pusing sih pusing, tapi masih pusing yang lathif itu. Belum sampai seperti yang diceritakan Asih bahwa suaminya Sering mencucurkan air mata dan wajahnya memerah.


“Jangan diganggu. Biar Bapak tanyakan dulu ke Kyai Khalil,” ujarnya.

__ADS_1


Asih mengangguk.


Lalu, berangkatlah Kyai Sanusi ke rumah kolega, adik ipar, sekaligus gurunya itu. Di sana, langsung laporan tentang apa yang sedang berlaku pada diri menantunya. Kyai Khalil tersenyum saja, “Tidak apa-apa, Haji. Memang begitu,” ujarnya.


Kyai Sanusi manggut-manggut. “Pengaruh dzikir Cahaya itu, Kang?”


Kyai Khalil mengangguk, terus senyum-senyum.


“Kok saya tidak begitu?” tanya Kyai Sanusi.


“Bagiannya masing-masing...,” Kyai Khalil tertawa, pelan saja.


“Maksudnya?”


“Yaa, bagian masing-masing itulah. Peta sama, kendaraan sama, rambu sama, tapi dapatnya memang bisa saja beda-beda. Hak Allah itu, terserah Yang Punya kasih jatah. Saya dikasih apa, Akas dikasih apa, Haji juga dikasih apa, suka-suka Dia. Hakikatnya begitu. Syariatnya, tergantung mujahadah masing-masing. Derajat perjuangan tiap-tiap manusia dalam taqarrub ilallah kan berbeda-beda.”


Kyai Sanusi menghela napas, lalu agak menunduk.


“Sudahlah, Haji. Biarkan saja, menantumu tidak apa-apa. Sedang menunggu jebol, hehehe.... Kapan waktu lalu, dia janji mau cerita ke aku kalau sudah dapat rasanya. Coba, nanti kita dengar sama-sama ceritanya. Pengen tahu aku, mampu nggak itu anak Jawa ngocehin rasa, hehehe....”


Kyai Sanusi pun terkekeh. Cuma, rada-rada kecut nadanya.


Tidak lama kemudian, dia kembali pulang ke rumahnya. Di sana, Kyai Sanusi melarang Asih “menggoda” suaminya yang sedang mengurung itu. “Tunggu sampai keluar sendiri. Jangan diketuk-ketuk,” ujarnya.


“Tapi, Pak, kalau ada apa-apa, gimana?” Asih protes. Iyalah, dia kan sayang banget sama suaminya itu. Wajar kalau khawatir terjadi apa-apa atas kangmasnya.


“Nggak, nggak. Kata Kyai Khalil, nggak apa-apa.”


“Kok bisa nggak apa-apa? Kan, sudah dua hari nggak makan? Kalau nanti jadi sakit, gimana?” Asih terus menyanggah ayahnya.


“Yee, kamu ini. Mulai lagi keras kepala kayak dulu. Sudah, kata Kyai Khalil nggak apa-apa. Kalau katanya nggak apa-apa, ya nggak apa-apa. Hayo, mau ngomong apa lagi?” Kyai Sanusi melotot sayang ke putri bungsunya yang sudah menghasilkan empat generasi penerus itu.


Manyunlah Asih, gara-gara ditegur “Pangeran Diponegoro”.


“Tapi, ngintip boleh kan, Pak?” dia masih berusaha nembak balik.


“Ah, terserah kamulah. Asal jangan mengganggu...,” ujar sang ayah, pasrah, lalu beranjak sambil mengulum senyum.

__ADS_1


Beliau maklum. Sebab, pasangan anak-menantu yang ini memang paling akur di antara pasangan anak-menantu lainnya. Kadang-kadang mereka kepergok masih bertingkah seperti zaman pacarannya dulu, yang rada-rada nyebelin itu. Padahal, sudah punya tiga Power Rangers dan satu Barbie.


Maka, setelah “Pangeran Diponegoro” berlalu, Asih bergegas mengintip lagi kondisi suaminya, yang dua hari terakhir ini “salah kamar”. Siapa tahu sedang gimana gitu, sedang tergeletak pingsan atau apa. Namun, ternyata baik-baik saja. Maksudnya, masih sama seperti tadi. Wajah sang suami tampak meringis-meringis hebat sambil mengangguk-angguk dalam, lalu muter kencang sebentar, sebelum kembali angguk-anggukan. Di celah jendela, Asih pun geleng-geleng kepala....


__ADS_2