
“Secara muamalah, rumah ini memang bagian Mbak Yati. Warisan dari suaminya. Kalau dia jual, ya itu haknya. Kita tidak layak ikut campur,” tukas Akas, saat berbincang dengan istrinya soal rumah ini yang ternyata telah dijual diam-diam oleh istri almarhum Said Jubair.
Gara-gara ini, terjadilah rame-rame antara Yati dengan anak-anak almarhum Kyai Sanusi. Bermacam argumen. Intinya, anak-anak Kyai Sanusi kesal bahwa rumah ini dijual “begitu saja” kepada orang lain, tanpa menyertakan mereka. Yati memang tidak pakai kulo nuwun, main jokul saja. Beres itu, baru kasih pengumuman.
Kesallah mereka karena rumah kenangannya dipindah tangankan ke orang lain oleh “orang luar”, tanpa restu bersama jajaran “orang dalam”. Bahasa gaulnya, “Enak saja! Emang lu siapa?” Tapi, Yati tidak kalah garang. Meradang macam macan betina ditinggal lakinya. “Kalau bilang, pasti nggak boleh!" semburnya. “Emang siapa yang mau kasih makan anak-anaknya Kang Said?” Nah, lieur sudah kalau sampai pada maklumat “siapa yang kasih makan”. Emangnya siapa?
Lalu, para kakak pun memprovokasi adik bungsu mereka. Neken supaya Asih jangan mau meninggalkan “rumahnya”. Lagu lama ini, sejak zaman Nabi Ibrahim As. sudah dikenal. Dulu, Edi juga pernah menerapkannya untuk perkara “dana Yayang”. Uniknya, tidak seorang pun kakak yang memprovokasi Akas. Segan mungkin. Mereka tahu kalau suami si bungsu ini membimbing sesuatu yang bersifat ruhaniah. Kurang jelas apa, pokoknya lumayan muridnya. Hampir tembus tiga puluh orang. Namun, Asih tidak kena dibegitukan. Dia kan sudah pengalaman dibisikin Edi. Lagian, Aisyah Ra. pun pasti bilang ke suami, sekiranya beliau terhadang persoalan semacam ini. Maklum, sejak zaman ABG-nya, Asih memang nge-fans berat kepada pendamping Rasulullah Saw. itu. Maka, melaporlah dia....
“Terus, langkah selanjutnya gimana, Mas?” dia bertanya.
Wuih? Akas spontan terkekeh ditembak langkah selanjutnya. Aya-aya wae istri tersayang ini. Emangnya sedang main catur?
“Mas...?”
“Langkah selanjutnya, ya skak-ster sajalah, hehehe....”
“Ah, Mas ini. Serius dong...."
“Iya, iya. Nanti aku tanyakan ke rumput yang bergoyang. Soalnya, belum tahu juga nih langkah selanjutnya,” Akas menjawab sambil masih mesem.
__ADS_1
Dikasih “rumpur bergoyang” begitu, Asih manyun seperti biasa.
“Jangan marah, Say. Bercanda. Nanti aku pikirin, ya?"
Diganti “aku pikiran”, cemberut Asih pun memudar. Senang Mungkin dengar jagoannya mau memikirkan. Soalnya, sang jagoan sering berujar, “Kehidupan ini di luar jangkauan akal. Segalanya telah diatur sesuai takaran tepatnya. Maka, jangan dipikirin.” Nah, gimana coba? Untung, sekarang mau mikir....
“Oo iya, Mas, tadi Mbak Yati ngasih ini,” dia menaruh sejumlah uang di atas meja. “Sudah saya hitung. Delapan ratus lima puluh ribu."
Akas nyerengeh, “Alhamdulillah. Bahkan belum sempat dipikirin.”
Mendengar gejala ini, Asih sigap menyergap “Emang cukup? Kontrak rumah minimal satu setengah juta sekarang. Kost-kostan dua ratus lima puluh ribu sebulan. Gimana?” Asih menatap suaminya.
“Sesuai takarannya. Yang menakar Allah, yang memberi Allah. Masak nggak cukup? Dari Allah semuanya, termasuk ini. Mbak Yati hanya sababiah-nya saja, kisah kejadiannya. Itu pun, Allah juga. Kalau tidak pakai cerita, tahu-tahu jreng ada, kaget nanti orang-orang. Mending kalau kagetnya membuat jadi lebih beriman, Iha kalau tambah bingung kan runyam? Padahal, lahir batinnya alam semesta ini pun jreng langsung ada. Kun! kata Allah. Lima bulanan lalu juga gitu. Jreng, tahu-tahu muncul Laras. Gimana ceritanya, tuh?" Akas meringis.
“Terus, gimana?” dia kembali nyerbu setelah diam sekejap.
“Shalat yuk...,” Akas menggandeng mesra tangan istrinya.
Kali ini Asih tersenyum. Selain gandengan suaminya terasa mesra nian, tiba-tiba dia juga teringat bahwa selain ucapan “membingungkan” tadi, sang suami pun sering berujar, “Berpikirlah dengan iman," kepada para muridnya. Nah, yang ini lebih jelas rasanya, tidak begitu pabaliut. Walau, sama saja sebenarnya....
__ADS_1
Malamnya, dalam tafakkur, kesadaran aras ini pun datang. Ternyata, sababiah-nya diminta hijrah lahir batin oleh-Nya. Batinnya sudah, kini lahirnya. Sebagaimana dulu pernah disampaikan oleh Kyai Khalil. Bahwa, 'aamanuu, haajarun, dan, jaahadu fii sabiilillaah merupakan satu kesatuan syarat. Iman, hijrah, dan jihad, tidak terpisahkan. “Carilah tempatmu!” demikian dzauq diterima dengan kebenarannya. Maka, jelaslah bagi Akas.
Besoknya, dia pun menyusur untuk mencari tempatnya. Dilepaskan saja iman membawa kakinya melangkah ke mana. Hingga tiba di sebuah lahan kosong bekas kebun sayuran di Kampung Pakuncen. “Sinyalnya" berdenyut di sini. Maka, setelah dapat keterangan siapa pemilik tanah itu, Akas mendatanginya. Alhamdulillah, dimudahkan. Pemilik mempersilakan tamunya yang meminta izin untuk numpang tinggal di tanahnya ini tanpa banyak kata-kata.
Selanjutnya, dibantu ketiga anak laki-lakinya, Akas membuat rumah di lahan itu. Strateginya jelas, tidak boleh melebihi anggaran delapan ratus lima puluh ribu itu. Alhamdulillah bisa, bahkan tidak semua anggaran terpakai. Kalau disebut gubuk, demikian adanya. Yang mereka bangun ini sekadar rumah bilik bambu beratap rumbia. Jadilah istana itu dalam tiga hari kerja full time. Tidak ada listrik tentu, tapi ada sumber airnya. Ada sumur di lahan itu dengan kualitas air memadai. Cukuplah, yang lainnya tinggal menyesuaikan. Ada tidak ada, inilah adanya.
Setelah dianggap siap, malam itu Akas membawa keluarganya pindah ke rumah baru. Tidak banyak repot karena hanya bawa badan, selembar kasur kapuk, dan beberapa perkakas dapur. Barang-barang rumah lainnya sudah dilipat diam-diam selama ini. Biasa, disulap jadi kangkung untuk menopang perut keluarga. Namanya juga urusan jasad. Kalau ruh, tidak butuh makanan lahiriah seperti itu. Butuhnya dzikir, mengingat Allah.
“Pindah ke mana?" tanya Yati, saat Akas menyerahkan kunci rumah.
“Ke Pakuncen, Mbak.”
“Oo, ngontrak?”
Akas mengangguk, biar cepat urusannya. Susah menjelaskan perihal istana itu. Nanti malah jadi bahan polemik baru.
Yati manggut-manggut, “Salam buat Asih."
Akas mengangguk, "Nanti saya sampaikan...”
__ADS_1
Cukup. Setelah beruluk salam, Akas bergegas kembali ke keluarganya yang menunggu di istana. Setibanya di sana, dia tertegun melihat kenyataan bahwa keluarganya bisa demikian ikhlas menerima keadaan yang jelas tidak enak itu. Asih terlihat senyum-senyum sambil menina-bobokan Laras. Wulan ada di dekatnya, memperhatikan adik yang mengambil posisi bungsunya. Sementara, ketiga “anak burung” bercanda lepas sambil nangkring di atas sebongkah batu besar di situ. Tidak ada yang tampak tertekan. Santai saja. Padahal, “normalnya” kan minimal stres, bahkan bisa kejang ayan. Lalu, bablas sekalian.
Terngianglah ucapan Kyai Khalil tentang ini kala itu, “Allah akan melimpahkan ikhlas kepada mereka yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan-Nya. Walau katakanlah harta bendanya habis, atau syahid sekalipun. Ikhlas ini, bukan hal sembarangan. Bukan ikhlas-ikhlasan. Manusia tidak akan bisa ikhlas tanpa diberi haknya. Ikhlas adalah hak Allah, bukan hak makhluk.” Maka, Akas pun menghela napas panjang. Benarlah ini....