
“Akas, dengarkan ini, yang lebih benar adalah batin-lahir, bukan lahir-batin. Hakikat-syariat, bukan syariat-hakikat. Kanjeng Nabi Muhammad itu, paham hakikatnya dulu, baru dikenai hukum-hukum syariat. Beliau, ‘berjumpa’ dulu dengan Allah, makrifat dulu, kemudian barulah turun perintah shalat. Iya, kan? Itu sebabnya, satu rakaat shalatnya Nabi, kata hadits, lebih berat dibanding seribu rakaat shalatnya kita. Jangankan seribu, sejuta rakaat juga tetap beratan serakaat shalatnya Nabi. Tapi, jangan lantas gampang berkilah, itu kan Nabi..., kita manusia biasa nggak bisa kayak Nabi. Wah, ya susah kalau sukanya bikin pagar duluan seperti itu. Kanjeng Nabi juga manusia. Beliau di-maksum, disucikan oleh Allah untuk dijadikan teladan bagi umat manusia. Manusia yang lain, disuruh mencontoh manusia terpilih ini. Buat apa disuruh mencontoh kalau contohnya tidak bisa dicontoh?”
Akas menatap kakeknya. Wah, makin seru ini....
“Meneladani Nabi, bukan artinya jadi nabi. Gombal mukiyo kalau ada yang mengaku-aku nabi. Nabi terakhir, ya Kanjeng Nabi Muhammad. Titik, nggak pakai koma-komaan. Kita, umatnya, disuruh Gusti Allah mencontoh beliau, meneladani. Mencontohnya, ya semuanya. Kabeh, luar dalam. Jangan milih-milih. Enak men boleh milih-milih, hehehe.... Memangnya milih duren? Termasuk, soal hakikat-syariat tadi. Batinnya dulu diberesin, barulah lahirnya bisa dibereskan.”
Akas nyerengeh sebencar soal duren, lanjut melongo lagi...
“Itu bedanya. Kanjeng Nabi, hakikat dulu baru syariat. Kita syariat dulu baru disuruh mencari hakikat. Piye carane? Dengan mencontoh contohnya yang sudah disediakan. Tapi, jangan cum, lahiriahnya, batiniahnya juga harus disimak. Justru bagian batin inilah hakikatnya. Kalau cuma luarannya, keenakan nanti Arabi sama Tuan Kasim, hehehe.... Dari lahir jenggotnya sudah lebar wong turunan Arab. Tinggal dirapikan sedikit, gagah. Yang lokalan agak repot, sebab bulunya cuma sepuluh lebih selembar.”
Akas terkekeh....
“Tapi, bukan maksudnya dilarang lho. Kalau kamu mau pelihara jenggotmu yang pas-pasan itu, ya nggak apa-apa, yang penting bareng sama hatinya. Nah, jelas kan hubungannya hakikat dengan makrifat?” tanya Bagyo.
“Belum, Mbah. Gimana itu?”
“Oo, belum kelihatan, ya? Begini, makrifat itu hasilnya hakikat. Tidak ada makrifat tanpa menembus tabir hakikat. Hakikat itu wujudnya rasa-rasa, kumpulan rasa. Rasa-rasa itu nantinya terasa hanya satu rasa, yaitu ‘kebersamaan’. Rasa kebersamaan bersama-Nya, itulah makrifat. Gambaran mudah begitu, tapi aslinya tidak segampang ini. Kenapa? Karena makrifat bertingkat-tingkat, tidak ada batasnya, dan bukan hak manusia. Pasti kamu bingung. Iya, kan?”
“Nggih, Mbah,” sahut sang cucu, cepat.
“Nggak apa-apa. Banyak kok temannya di dunia, hehehe. Terima saja dulu, nanti kalau sudah ada rasamu, baru kamu tahu.”
Akas manggut-manggut. Dulu Mbah Bagyo sudah pernah menjelaskan soal “rasa-rasa” yang nantinya jadi “satu rasa” itu. Katanya, harus dirasakan dulu, baru tahu rasanya. Tidak terasa kalau cuma diceritakan. Dirasa-rasa, iya juga...
Bagyo menaburkan lagi serbuk tadi ke tungku bara arang di depannya. Harum pun menyebar. “Akas,” desahnya pelan. “Balik ke depan lagi, yang lebih utama itu batinnya, hakikatnya. Tanpa ini, syariatnya tidak akan benar. Kalau batinnya sudah benar, maka syariatnya akan terbawa benar.”
__ADS_1
Sambil agak menunduk, Akas mendengarkan.
Hening sejenak, Bagyo menatap cucunya....
“Diterima dari bapakku, buyutmu, Mbah Dirjo bin Kuntowijoyo, sebuah pengetahuan untuk membuka hakikat agama. Bapakmu, Hanafi, belum sempat menerima pengetahuan ini, baru cerita-ceritanya seperti yang kamu tahu sekarang. Masmu Haryono, Kristen. Jadi, Mbah akan menurunkan pengetahuan ini kepadamu. Apa kamu mau?” tanya Subagyo.
Akas terpana, lalu mengangguk.
Bagyo menghela napas. “Alhamdulillah,” desahnya sambil mengangguk-angguk. “Kalau kamu mau, ayo dimulai. Kita hadiahan dulu ya, baca al-Faatihah.”
Akas mengangguk.
Lalu, hadiahan itu pun dilaksanakan. Kepada Kanjeng Nabi Muhammad, sahabat empat, beberapa syekh, dan terakhir Mbah Buyut Dirjo bin Kuntowijoyo.
“Akas, itulah kuncinya,” ujar sang kakek pelan, beberapa saat kemudian. “Tapi, itu baru kuncinya, kamu masih harus mencari pintu yang cocok dengan kuncimu. Dibalik pintu itulah, kumpulan rasa. Bisa dipahami?”
“Iya, Mbah. Cuma, kenapa nggak sekalian sama pintunya?”
“Hehehe..., masing-masing sesuai jatah. Bagiannya Mbah sampai kunci, ada kekasih lain yang bagian pintunya.”
“Kekasih? Apa itu, Mbah? Perempuan?”
Subagyo terkekeh lagi. “Bisa laki, bisa perempuan. Seseorang yang telah melintas barzakh. Sudah melebur, lenyap.”
Akas melongo. Melintas barzakh? Apa maksudnya? Menembus alam barzakh? Alam penantian sesudah mati itu? Ah..,, maka dia pun bertanya tentang ini. Tapi, kakeknya nyerengeh saja, tidak hendak menjawab.
__ADS_1
“Sudahlah, simpan pertanyaanmu karena ini memang bukan bagiannya tanya-jawab. Tidak ada pertanyaan, tidak ada jawaban. Adanya hanya rasa. Yang penting, jaga kuncimu, terus cari pintunya sampai ketemu. Kalau tidak cocok dengan kuncinya, jangan berguru kepada orang itu, biar pun sehebat apa kelihatannya. Percuma, Mbah yakin dia tidak tahu hakikat agama. Tahunya sekedar dalil-dalil hakikat, atau syariat yang dihakikat-hakikatkan. Sebenarnya, hakikat dan syariat satu geluntungan tidak terpisah. Kalau kelapa, syariat itu sabutnya, hakikat itu minyaknya, lewat daging buahnya. Sebab, hakikatlah yang membentuk syariat. Jangan dibalik. Hakikat adalah kebenaran atas keseluruhan akhirnya.”
Akas mengangguk-angguk.
“Apa yang barusan kamu terima, termasuk aurat ilmu. Pengetahuan yang dilarang dibuka sembarangan tanpa hak. Jadi, sebelum kamu ketemu dengan jodohnya kunci itu, jangan bicara kepada siapa pun. Misalnya, kamu jumpa dengan orang yang ngomongnya hakikat-hakikat atau makrifat-makrifat, tapi tidak kena dengan kuncimu, tetap jangan bicara ke dia. Paham?”
“Iya, Mbah,” jawab Akas. “Lha, kalau ketemu yang cocok, gimana?”
Bagyo tersenyum. “Buka sasmita-nya ke dia. Kalau kena, mohonlah kepadanya untuk berguru. Selanjutnya, terserah gurumu itu. Mau apa dia bilang, patuhi.”
“Kalau ternyata sasmita-nya nggak nyambung, gimana?”
“Jangan diteruskan, dia bukan gurumu.”
Akas manggut-manggut. Hening sejenak.
“Mbah, guru saya itu di mana, sih?” dia bertanya lagi.
Bagyo nyerengeh. “Yang pasti masih di jagat fana ini,” jawabnya kalem sambil memandang lekat cucunya.
“Waduh, kegedean itu, Mbah. Di mana, sih?” rayu sang cucu.
“Hehehe...,” Bagyo terkekeh saja, tidak menjawab. “Sudah, habis semua kata-kata. Ayo, siap-siap shalat Subuh.”
Akas meringis garuk-garuk kepala. Dari arah masjid, sayup-sayup adzan subuh lanjut berkumandang. “Ash-shalaatu khairum minan nauum....” Lebih baik shalat daripada tidur. Benar, apalagi kalau yang tidur hatinya....
__ADS_1