
Sejenak, Kyai Khalil membawa muridnya “turun gunung”. Ngobrol ringan dulu, memberi kesempatan bagi Akas menenangkan diri, usai tersengat ayat akhir surat at-Tiin tadi. Tertawalah beliau mendengar kisah muridnya yang dikerjain Kang Iyung saat menuju tempat Kyai Zarkasih. “Macam-macam saja Iyung, gimana kalau orang jadi celaka?” ujarnya di sela tawa.
“Nanti, itu diminta pertanggungjawabannya juga nggak, Kyai?"
“Hehehe...,” mereka pun tertawa-tawa lagi, pelan saja.
Setelah dirasa cukup, Kyai Khalil pun kembali mengajak muridnya “naik-naik ke puncak gunung”. Balik ke level perbincangan kelas berat tadi.
“Anakku, tampaknya telah tiba saat bagi saya untuk melepaskanmu. Syariatnya, tugas saya sebagai pembimbing ruhaniahmu telah dicukupkan. Kamu sudah punya taraf keimanan haqqul yaqin kepada-Nya. Tidaklah akan goyah, baik oleh rayuan maupun ancaman. Setiap pembimbing ruhaniah hanya ditugaskan mengantar manusia sampai gerbang makrifat pertama. Selanjutnya, Dia langsung yang akan membimbing menuju-Nya."
Akas tercekat, “Maksudnya gimana, Kyai?"
“Syariatnya, tugas saya selesai. Lanjutkan, perjalananmu atas bimbingan-Nya. Dia-lah Sang Maha Mursyid, Dia-lah Sang Maha Pembimbing. Nanti kamu akan paham sendiri bagaimananya. Jangan dipertanyakan sekarang. Sungguh, ini tidak bisa dijelaskan, bahkan dengan isyarat. Aqrabu ilaihi min hablil wariid itu, bukankah telah kamu rasakan dengan sebenar-benarnya?”
Akas mengangguk mantap. Demikianlah kebenaran adanya.
“Nah, itulah Dia....”
Walaqad khalaqnal insaana wa na'lamu maa yuwaswisu bihii nafsuh, wa nahnu aqrahu ilaihi min hablil wariid. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya (QS. Qaaf: 16).
Hening sejenak....
“Hadits Nabi, awwalu diini makrifarullah, awal beragama adalah mengenal Allah. Secara hakikat, demikianlah. Di batas akal pun bisa dipahami. Tanpa mengenal-Nya, lantas menyembah apa? Namun, ini dalam tataran hakikat. Janganlah kamu memaksakan pengertian ini kepada mereka yang tidak membutuhkannya. Sebab, zhalim hukumnya. Tapi, jangan juga ditutup dari mereka yang benar-benar membutuhkannya. Sama, zhalim juga. Biarlah Allah yang menentukan siapa di antara hamba-Nya yang berwaris arif dan siapa yang abid. Siapa yang ahli makrifat, siapa yang ahli ibadah. Kedua golongan ini adalah hamba-Nya, pada tingkatan masing-masing.”
Akas mengangguk-angguk.
“Makrifatullah itu sendiri berlapis-lapis, bertingkat-tingkat. Tapi, jangan dibayangkan macam lapisan-lapisan yang berderet, ya? Misalnya kamu melihat satu titik cahaya dari sini, maka benar jika dikatakan bahwa kamu telah makrifat kepada titik cahaya itu dari posisimu sekarang. Lalu, anggaplah kamu berjalan mendekat ke arah titik cahaya itu. Pada setiap taraf kedekatan yang baru, ada tingkatan makrifat lagi, bukan? Yang lebih dekat dibanding sebelumnya....”
Akas kembali mengangguk-angguk.
Kyai Khalil tersenyum, “Seperti itulah gambarannya. Ingat, ini sekedar gambaran. Hingga pada suatu taraf, jarakmu dengan titik cahaya tadi telah sedemikian dekatnya. Lalu..., tiba-tiba kamu telah tiada, tenggelam bersama lautan...,” beliau menatap syahdu muridnya. “Bisakah ini dipahami?”
Akas menghela napas, “Bisa, Kyai. Jelas sekali.”
“Bismillaahi waamin bismillaah. La ilaha illallah...,” desah Ama Khalil. “Apakah kamu hafal surat at-Taubah ayat dua puluh?”
“Yang gimana pertamanya, Kyai?”
Kyai Khalil pun melantun bagian awal ayat itu, lalu Akas menyambungnya. Alhamdulillah, Allah telah memudahkan baginya untuk menghafal ayat-ayat suci al-Qur'an, berikut terjemahannya, walau tidak sampai taraf hafizh.
Alladziina aamanuu wa haajaruu wa jaahaduu fii sabiilillaahi bi-amwaalihim wa anfusihim a'zhamu darajatan 'indallaahi, wa ulaaika humul faa-izuun. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan (QS. at-Taubah: 20).
__ADS_1
“Nah, di ayat tadi Allah telah menjelaskan hubungan antara iman, hijrah, dan jihad. Sebelum hijrah dan jihad, yang harus ada imannya dulu. Jika iman sudah terbentuk, secara alamiah seseorang akan berpindah atau berhijrah. Hanya, banyak yang memaknai hijrah ini secara lahiriah saja. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain, macam pindahan rumah,” ujar Kyai Khalil.
Akas menyimak, sekalian pikirannya terbang ke al-Hikam, kitab karangan Syekh Ibnu Atha'illah Ra. Di sana, ada bagian yang membahas soal hijrah.
Kyai Khalil tersenyum, “Apa kaca Syekh Atha'illah tentang ini?”
Akas kaget sekejap, lalu meringis. Sudah muklum atas “kesaktian” gurunya. Sudah sering kejadian tebak tepat macam ini sebelumnya.
"Apa kata beliau?" Kyai Khalil bertanya lagi.
“Eem, jangan berhijrah dari satu keadaan ke keadaan lain. sebab, kelakuan itu seperti keledai penggilingan," jawab Akas, lanjut nyengir.
“Hehehe.... Mestinya gimana?”
“Berhjrahlah dari suatu keadaan ke yang bukan keadaan.”
“Nah, itu baru aslinya. Kamu paham yang dimaksud beliau dengan ungkapan yang bukan keadaan tadi?"
Akas mengangguk.
“Apa?”
“Apa lagi? Adakah yang lainnya?”
“Hijrah selalu bersama jaahaduu fii sabiilillaah-nya. Tidak ada makna hijrah tanpa jihad di jalan Allah. Dan, tidak ada makna jihad kecuali dengan fii sabiilillaah-nya. Kalau tanpa fii sabiilillaah, namanya bukan jihad. Itu sekedar kerusuhan duniawi saja. Perang rebutan harta, tahta, atau wanita. Tidak lebih,” lanjut sang guru.
Akas menyimak.
“Jadi, nyatalah bahwa aamanuu, haajaruu, dan jaahaduu fii sabilillaah, adalah satu kesatuan syarat. Iman, hijrah, dan jihad, tidak terpisahkan. Selanjutnya, akan ada pengorbanan dengan harta benda atau bahkan diri pelaksananya. Tidak mudah, bukan? Kata siapa berpindah itu gampang?” Kyai Khalil tersenyum.
Akas meringis garuk-garuk kepala.
“Tapi, jangan khawartir. Sebab, Allah akan melimpah ikhlas kepada para pejuang-Nya. Mereka yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan-Nya, dijamin ikhlas oleh-Nya. Walau katakanlah harta bendanya habis, atau mari syahid sekalipun. Ikhlas ini, bukan hal sembarangan. Bukan cerita ikhlas-ikhlasan. Manusia tidak akan bisa ikhlas tanpa diberi haknya. Ikhlas adalah hak Allah, bukan hak makhluk. Janganlah kamu berkata ikhlas, janganlah kamu berkata sabar, dan jangan kamu berkata iman, tanpa makrifatullah. Batil! Demikian diwejangkan oleh Sulthan Auliya Syekh Muhyiddin Abdul Qadir Jailani radhiallahu anhum,” tutur Kyai Khalil.
Akas menghela napas, menunduk, lalu mengangguk-angguk.
“Siapa tahu...,” ujar Kyai Khalil. “Siapa tahu garismu mirip-mirip saya....”
Akas mengangkat wajah, memandang gurunya.
“Tua-tua begini, saya kan putra mahkota, hehehe...," sang guru terkekeh.
__ADS_1
Maka, sang murid pun tersenyum....
Jamak diketahui oleh sebagian muridnya, bahwa Kyai Khalil adalah seorang pangeran. Bukan sembarang pangeran karena beliau berkedudukan putra mahkota, bakal pewaris raja sebuah kerajaan yang kini masuk wilayah Kalimantan Barat. Saat mudanya, beliau menanggalkan hak singgasananya itu atas nama “hijrah”. Melintas daratan, melanglang lautan. Hingga tertambat di Magelang, yang entah sebelah mana kerajaannya. Tidak pernah disandang, namun para murid seniornya tahu kalau beliau bergelar “Gusti”, yang sama dengan “Raden” kalau di kerajaan Jawa. Ada surat keterangan asli silsilahnya, yang dibuat oleh penguasa kerajaan saat itu. Kabarnya, sekian puluh tahun dicari-cari keberadaan putra mahkota yang “hilang” ini, sebelum akhirnya kepanggih di Magelang. Tidak sengaja juga ketemunya. Soalnya, Kyai Khalil tidak mau ngontak ke sana, cuek saja. Akas tahu kisah dari Kyai Sanusi. Sekalian sang mertua memperlihatkan kopi surat silsilah itu....
Masjid-masjid mulai “bangun” menjelang subuh. Kyai Khalil menatap syahdu murid Jawanya itu. “Mari, kamu harus berbaiat talqin,” ujarnya.
“Baiat apa itu, Kyai?”
“Baiat penutup. Dengan itu, maka saya melepaskanmu atas nama-Nya. Ibarat, sumpah wisudawan,” Kyai Khalil tersenyum.
Akas manggut-manggut paham.
Lalu, baiat talqin pun dilaksanakan. Tiga gemuruh guntur mengiringi baiat ini. Di awal, di tengah, dan di ujungnya. Kebetulan atau bukan, demikian adanya. Usai itu, Kyai Khalil menyerahkan bungkusan yang sedari awal ada di sebelahnya.
“Ini untukmu. Bukalah,” ujarnya.
Akas menerima dan membukanya. Ternyata sepotong pakaian dan sehelai sarung. Jelas bukan baru karena tampak sudah agak lusuh namun bersih. Kelihatannya perkakas tua.
“Dulu, baju dan sarung itu menemani perjalanan ruhani saya. Usianya jelas lebih tua dari usiamu. Terimalah sebagai tanda ijazah. Sekalian ini...,” Kyai Khalil menyerahkan sebuah buku kecil bersampul cokelat. “Ini adalah petunjuk tata cara baiat. Kelak jika ada manusia yang butuh kebenaran datang kepadamu, baiat saja. Jangan takut dan jangan ragu. Kalau ada yang meragukanmu, ajak dia bersumpah di bawah Qur'an. Apa yang kamu pegang ini adalah kebenaran. Nash-nya jelas hingga kepada Rasulullah Muhammad salallaahu alaihi wa salam, melalui Syekh Muhyiddin Abdul Qadir Jailani radiallahu anhum. Bukan ilmu tanpa dasar."
Akas menghela napas, lalu mengangguk-angguk takzim.
“Jangan sengaja dicari. Yang ada hak, akan datang dengan sendirinya. Kamu tidak perlu memberi tahu orang-orang tentang ini, pasang pengumuman, atau semacamnya. Jangan, zhalim itu. Ini tataran hakikat, melampaui syariat. Bagian ilmumu ini menembus batas peribadatan. Bagianmu adalah jalan kesempurnaan, jalan menuju al-insan al-kamil. Bukan bahasan pahala, dosa, surga, dan neraka. Maka, memang bukan untuk semua. Hanya bagi mereka yang diberi hak oleh-Nya. Paham?”
“Iya, Kyai.”
“Jangan tinggalkan syariat. Melampaui batas syariat bukan bermakna meninggalkannya. Kerjakan syariat dengan hakikatnya. Islam adalah utuh, meliput lahir dan batin. Udkhuluu fis silmi kaaffah. Jangan setengah-setengah. Kafah yang sesungguhnya, demikian. Bukan sekedar mengenai hukum zhahir dan tara caranya saja."
Akas kembali mengangguk-angguk.
Yaa ayyuhal ladziina aamanuud-khuluu fis silmi kaaffah wa laa tattabi'uu khuthuwaatisy syaithaan innahuu lakum 'adawwum mubin. Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan, sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu (QS. al-Baqarah: 208).
“Oo iya, satu lagi, hampir kelupaan...,” Kyai Khalil tersenyum. “Dengungmu itu adalah Sirr as-Sirr, Rahasia dari Rahasia. Suatu martabat dzikir sangat rahasia. Hanya Allah dan rasa sejati diri hamba-Nya yang terlibat di sana. Hamba-Nya yang diberi karunia atas ini oleh-Nya. Rasa sejati diri adalah ruhnya ruh, inti sejati diri manusia. Bahkan, Jibril alaihi salam tidak berhak menembus tabir ini.”
Akas lanjut mengangguk-angguk....
Diriwayatkan, ketika Nabi Muhammad Saw. bersama Malaikat Jibril As. mi'raj, hingga pada suatu tahapan atau batasan, Jibril tidak diizinkan naik melebihi langit ketujuh. Ia berkata, “Sampai di batas ini saja aku menemanimu, wahai Muhammad. Jika bergerak selangkah lagi, aku akan hangus.” Kemudian, Nabi melanjutkan perjalanannya seorang diri.
Demikianlah. Hingga kemudian Akas mohon diri, usai mereka menunaikan shalat subuh berjamaah di ruangan itu. Saat melangkah kaki meninggalkan rumah Kyai Khalil, segumpal guruh bergemuruh syahdu. Lalu, satu lagi menggema saat tibanya dia di rumah. Wa yusabbihuur ra'du bi hamdih demikian nyata, mengiring dengung nan suci ini....
***
__ADS_1
Tiga bulan berselang, Kyai Khalil berpulang ke Rahmatullah. Tidak sakit menerus, beliau sembuh selepas malam itu, hingga tiga harian menjelang ajalnya. Di penghujung waktu, Kyai Khalil kembali sakit serupa lalu. Diiringi khusyuk melantun asma-Nya, “Allah, Allah, Allah...,” beliau pun wafat dengan tenang Senyum terlihat pada garis bibirnya. Selamat jalan Syekhuna....