
“Kenapa, Mas?" Asih membuyarkan lamunan suaminya.
“Hem?” Akas menoleh.
“Mas ini lho, kenapa? Kok, senyum-senyum sendiri sambil keringatan?”
“Oo, anu..., kamu cantik kalau masih pakai daster, hehehe....”
“Ah, gombal...,” sahut Asih, seraya beranjak masuk.
Akas tahu, mantan pacarnya itu tersipu sambil berlalu. Soalnya, garis senyum di ujung bibir sang putri jelas terlihat.
Sendirian lagi sekarang. Akas pun kembali merenung...
“Kyai Kholil? Benarkah? Kyai Abdul Kholil yang senyap itu? Masak, sih? Tapi, tadi Bapak jelas-jelas bilang, ilmunya Kyai Kholil adalah ilmu ingat. Masak beliau bohong? Memangnya, ilmu apa yang kucari selama ini? Itu, kan?” Maka, Akas pun mendesah, “Allah...,” sambil merembes air mata.
Siangnya, sekitar pukul sepuluh, setelah memberi pengarahan kepada para karyawannya, Akas langsung melesat ke rumah Kyai Kholil tanpa sepengetahuan mertua. Di sana dia jumpa Kang Iyung, yang biasa mengiring Kyai Kholil.
“Ada apa?” dia bertanya.
“Kyai ada, Kang?” Akas balik bertanya.
“Ada. Ada apa?” Iyung bertanya lagi.
“Saya perlu jumpa dengan beliau.”
“Oo, tunggu di sini. Saya tanyakan dulu ke Kyai, ya?”
Akas mengangguk, duduk menunggu. Tidak lama, Kang Iyung muncul. “Ayo,” ajaknya. Akas mengangguk, lalu mengikutinya masuk ke dalam rumah yang terhitung luas ini. Sekian tahun melanglang Magelang, baru sekarang dia berkunjung ke rumah Kyai Kholil. Padahal, mertuanya adalah kakak kandung istri kedua Kyai Kholil. Jadi, Asih dan dia terhitung keponakan walau tidak langsung. Akas tahu info ini setelah menikah. Namun, sebatas itu saja.
“Ini kamarnya Kyai. Kamu ketuk sendiri, ya?” ujar Iyung.
Akas mengangguk, “Makasih, Kang.”
Iyung balas mengangguk, lalu beranjak ke ruangan lain.
Akas menenangkan diri sejenak. “Bismillah...,” ucapnya dalam hati, lalu pintu kamar itu dia ketuk pelan. “Assalamu'alaikum,” salamnya dari luar.
“Wa'alaikum salam,” terdengar sahutan dari dalam. “Masuk...."
Akas pun masuk. Terlihat Kyai Kholil duduk bersila di atas sajadah, tersenyum ke arahnya. Akas balas tersenyum, lalu cepat-cepat sungkem.
“Hehehe.... Ada apa, Menantu Haji?” beliau bertanya.
Akas meringis dipanggil “Menantu Haji” oleh beliau. Maksudnya, menantu Kyai Haji Ahmad Sanusi yang kakak iparnya itu. Sesaat, dia belum menjawab, hanya memandang lekat sang sepuh....
“Ada apa?” Kyai Kholil berujar lagi.
“Begini, Yai. Eem..., apakah Kyai mengajarkan ilmu untuk bisa ingat terus kepada Allah?” tanya Akas. Langsung pada sasarannya.
__ADS_1
“Hehehe...,” Kyai Kholil kembali terkekeh. “Siapa yang bilang?”
“Bapak,” jawab Akas, singkat. Lalu, menceritakan perbincangannya tadi pagi dengan mertua.
Kyai Kholil menyimak sambil mengangguk-angguk kecil.
“Begitulah, Yai. Apakah ini benar?” tanya Akas, sambil menatap penuh harap ke arah salah seorang sepuh Magelang yang berdarah campuran Bugis, Dayak, dan Aceh ini.
Kyai Kholil tersenyum. “Memangnya, kenapa?” beliau balik bertanya.
“Soalnya begini, Yai...,” Akas pun menceritakan kisah amanat kakeknya, sampai ke kisah pencarian guru yang telah belasan tahun terakhir.
Kyai Kholil pun kembali tersenyum. “Pelintas barzakh," gumamnya pelan. Pelan sekali, hampir tidak terdengar.
Akas terkesiap. Pelintas barzakh? Bukanlah dulu Mbah Bagyo pernah mengucap ini. Maka, dia menatap Kyai Kholil dengan tatapan bulat bundar.
“Kenapa?” beliau bertanya, pasti karena tatapan elang itu.
“Eem, Mbah Bagyo menitipkan sasmita kepada saya. Saya diminta membuka itu kepada siapa yang saya yakini kena dengan patokannya. Mohon izin....”
“Silakan. Kakekmu berpesan apa?”
Maka Akas pun membuka sasmita itu kepada Kyai Kholil. Sasmita adalah semacam pertanyaan sandi, yang harus dijawab dengan sandi juga. Seperti sandi piket militer. Misalnya, sandi piket malam ini, “kuda dijawab ayam”. Semua anggota diberi tahu sandi itu. Kalau nanti ada yang ditanya “kuda” oleh petugas jaga lalu tidak menjawab “ayam”, maka boleh langsung ditembak. Sebab, yang tidak bisa menjawab, dipastikan musuh. Demikian kurang lebih gambarannya.
Dan, Akas pun terkapar “ditembak” Kyai Kholil. Bagaimana tidak, jawaban beliau sama persis dengan yang diberitahukan kakeknya. Tepar, sampai ke urutan kata-katanya. Sasmita ini memang bukan sekadar sepatah kata seperti contoh tadi, melainkan seuntai kalimat yang harus dijawab dengan kalimat juga.
“Sudah, sudah...,” Kyai Kholil menepuk-nepuk pelan pundak tamunya.
Tapi, Akas lanjut menangis. Rasanya, belum hendak berhenti. Hingga akhirnya berhenti sendiri beberapa saat kemudian. Dia mengangkat wajah. Terlihat Kyai Kholil tersenyum. Akas membalas senyum itu dengan semua tulus yang tersedia, sambil menyusut sisa mutiara air matanya....
“Nah, sekarang bagaimana?” tanya Kyai Kholil.
“Mohon saya bisa diterima menjadi murid Kyai,” jawab Akas, cepat.
Kyai Kholil mengangguk-angguk, “Tentu kamu sudah tahu bahwa perlu dibaiat untuk ini, kan?”
“Iya, Yai. Saya siap disumpah atas nama-Nya.”
“Bagus,” Kyai Kholil kembali manggut-manggut. “Yung...” ujar beliau pelan.
Akas bengong. Kalau maksudnya memanggil Kang Iyung, pelan sekali? Apa bisa kedengaran di sana?
“Inggeh, Yai...!” terdengar sahutan nyaring dari arah luar.
Wuh, sampai ternyata. Kok bisa? Tapi, Akas tidak hendak tanya-tanya, segan banget rasanya.
Sebentar kemudian, Iyung muncul. “Apa, Yai?”
“Yung, tolong disiapkan pembaiatan,” pinta Kyai Kholil, kalem.
__ADS_1
Iyung tidak langsung menjawab, seperti agak bingung. Lalu, menatap Akas dengan kening berkerut.
“Tolong disiapkan,” pinta Kyai Kholil lagi.
“Iya, Yai. Sekarang?”
Kyai Kholil mengangguk.
Iyung balas mengangguk, lalu beranjak ke luar kamar. Di batas pintu, dia melirik Akas. Kepalang tanggung, Akas pun balas meringis. Soalnya Kang Iyung main lirik-lirikan terus. Kyai Kholil terkekeh pelan, entah untuk apa.
Sambil menunggu penyiapan yang dilakukan Iyung, tidak ada perbincangan di antara mereka. Kyai Kholil senyap, memutar pelan tasbihnya penuh perasaan. Akas pun ikutan, tasbihnya terputar syahdu di jemari tangan kanan. Dengan mara terpejam, Kyai Kholil kembali tersenyum. Entah kepada siapa, atau karena apa.
Beberapa saat kemudian, Kang Iyung masuk membawa tungku bara kecil. Lalu, keluar lagi sebentar. Kembalinya membawa al-qur'an dan sebuah kitab kecil bersampul cokelat, sekalian dengan sekotak buhur. “Sudah, Yai...,” ujarnya.
“Terima kasih. Kamu di sini, jadi saksi,” pinta Kyai Kholil, sambil masih memejamkan mata. Iyung mengangguk. Kyai Kholil membuka matanya, menghela napas, lalu meminta Akas maju mendekat.
“Akas, kamu siap?” beliau bertanya kepada calon muridnya.
“Siap, Kyai.”
Kyai Kholil mengangguk-angguk, “Ayo, Yung....”
Kang Iyung mengangguk, lalu bergeser ke belakang Akas. Dengan posisi berlutut, dia memegangi al-Our'an di atas kepala sang calon murid.
“A'uudzubillaahi minasy syaithaanir rajiim. Bismillaahir rahmaanir rahiim. Anakku, kamu ikuti semua kata-kata saya, ya...,” pinta Kyai Kholil.
“Iya, Kyai,” jawab Akas.
Kyai Kholil meraih tangan kanan Akas, jempolnya dipegang dengan agak ditekan seperti ijab kabul nikah.
“Astaghfirullah, innahun kaana ghaffaar...," ucap Kyai Kholil, memulai sumpah suci itu. Akas mengikutinya.
Maka, prosesi pembaiatan ini pun dilaksanakan....
Jiwa Akas bergetar saat mengikuti ucapan sumpah suci yang dipandu Kyai Kholil. Bagaimana tidak? Dia bersumpah atas nama-Nya, di bawah kitab suci-Nya. Dari kalimat-kalimat yang dia ucapkan, Akas sadar bahwa ini adalah sumpah langsung kepada-Nya. Kyai Kholil bertindak syariatnya saja. Sejatinya, bukan perantara dirinya dengan Tuhan. Ini, “siaran langsung”.
“Demikian aku bersumpah kepada-Mu,” ucap Kyai Kholil.
“Demikian aku bersumpah kepada-Mu...,” Akas mengikuti.
“Laknat-Mu langsung kepadaku, jika aku melanggar sumpah ini,” ucap Kyai Kholil lagi.
“Laknat-Mu langsung kepadaku, jika aku melanggar sumpah ini...,” Akas mengikuti. Seeerrr, darahnya mendesir saat mengucap kalimat “mengerikan” itu. Sekiranya terselip niat main-main, siapa yang tidak ngeri? Orang ateis sekalipun pasti jerih di lubuk batinnya, walau lahiriahnya mampu berakting tidak.
“Alhamdulillah,” ucap Kyai Kholil.
“Alhamdulillah...,” sahut Akas, sambil memejamkan mata.
Lalu, Kyai Kholil menutup baiat ini dengan seuntai doa yang terdengar asing di telinga Akas. Selama ini, dia belum pernah mendengarnya. Penekanan berulang pada kata Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim dalam bait-bait doa ini, benar-benar menggetarkan hati. Serasa, membobol jiwanya....
__ADS_1