Selamat Jalan

Selamat Jalan
16. ibarat kue


__ADS_3

“Benar, yang penting memang hatinya...,” Bagyo menjawab pertanyaan sang cucu tentang “segumpal daging”. “Kalau itu apik, kebawa bagus nilai perbuatannya. Kalau jelek, ya kebawa jelek, walau mungkin kelihatannya bagus.”


Akas manggut-manggut.


Demikianlah. Sesuai pengarahan kakeknya, Akas belajar membaca dan mengaji al-Qur’an. Belajar bacanya di masjid, diajari Ustadz Jamil. Kalau ngajinya, dibimbing langsung oleh sang kakek. Bagyo memberi cucunya itu kitab terjemahan al-Qur’an. Akas senang, sebab ada bahasa Indonesianya. Jadi, bisa “lebih mudah” dipahami. Bentuknya juga bagus, kecil ringkas semodel Injil. Sang kakek juga memberinya buku kumpulan hadits sebagai pelengkap.


Sejak itu, sedikit demi sedikit, Subagyo mulai memberi wejangan-wejangan Islam ke cucunya. Awalnya Akas belum menyadari, tapi lama-lama terasa juga kalau fokus penyampaian kakeknya berbeda dengan yang disampaikan Ustadz Jamil di sela belajar membaca al-Qur’an. Pak Ustadz banyak membahas tata cara, kalau kakeknya lebih kepada hal-hal yang bersifat batiniah. Ibarat, Ustadz Jamil membahas matematika, Mbah Bagyo mengupas sastra.


“Kok beda ya, Mbah?” Akas pun bertanya.


Bagyo tertawa pelan, “Tidak beda, dua-duanya ajaran Islam Yang diajarkan Pak Ustadz, disebutnya syariat. Yang ini, namanya hakikat, tapi baru teorinya. Belum jadi yang dimaksud. Eem, apa ya? Belum hidup, gitulah.”


“Maksudnya gimana?”


“Hehehe..., ya begitulah. Syariat itu lahiriahnya Islam. Peraturan, tata cara, hukum, dalil, dan semua yang bersifat zhahir. Caranya shalat, caranya puasa, caranya zakat, caranya haji, dan yang lain. Kalau hakikat, bagian batiniahnya, ********** syariat. Urusan hati....”


Akas memandang kakeknya, agak terpana. Urusan hati ternyata.


Lalu, tanpa mengabaikan aspek syariat, ke sananya Akas lebih tertarik urusan hati. Soalnya, pertama jalan juga urusan hati yang menjadi alasan baginya saat memilih Islam. Kebetulan, kakeknya penggemar tirakat, jarang tidur malam, maka Akas mengejar pemahaman “urusan hati” ini hampir setiap malam. Subagyo sama sekali tidak keberatan, malahan senang. Ngatijo ceritanya nggak mau kalah, ikutan juga dia. Tapi, ya gitu, ngantukan. Sebentar saja sudah angop berkali-kali, terus pelan-pelan nggelosor di tikar. Bablas....


“Biarpun seseorang hafal dalil-dalil al-Qur’an atau hadits, sekalian fasih berbahasa Arab, kalau hatinya kosong ya tetap saja batil hukumnya. Bohong,” Bagyo berwejang pada suatu kesempatan.


“Kenapa, Mbah?” tanya Akas.


“Sebab, dia tidak tahu kebenaran hakiki dari dalil-dalil itu.”


“Lho, kok nggak tahu? Kan, hafal?”


“Hehehe..., beda sekali hafal dengan tahu itu, Le. Kalau kamu hafal, belum tentu tahu. Kalau kamu tahu, pasti hafal. Hafal di sini jangan dilihat seperti hafalan biasa, ya? Hafal, maknanya paham atau mengerti. Karena kamu mengerti, maka tahu. Karena kamu tahu, pastinya mengerti. Seperti itu. Bingung, nggak?”


“Kayak bolak-balik ya, Mbah?”


“Memang. Bolak-balik, itu juga, hehehe. ...”


Kening Akas berkerut. Apa yang itu-itu juga? “Lha, kalau yang nggak tahu? Yang cuma hafal saja, gimana?” dia lanjut bertanya.

__ADS_1


Bagyo terkekeh lagi. “Ya nggak bisa bolak-balik, macet. Coba bayangkan, hafal tapi nggak tahu maknanya..., apakah itu? Judulnya, ya nggak tahu. Tahu apa? Hafalannya? Kata-katanya? Nggak pakai hafal kata-katanya juga nggak apa-apa, tinggal baca saja. Kan, ada kitabnya? Yang lebih penting adalah paham maknanya.”


Akas menghela napas...


“Memang nggak gampang urusan bolak-balik ini, Kas. Apalagi kalau sudah lewat bolak-baliknya, hehehe..., lenyap.”


“Lho, apanya yang lenyap?”


Maka, Bagyo lanjut terkekeh. “Sudah, segitu dulu. Susah ini, karena aslinya tidak bisa diomongkan. Bukan Mbah nggak mau, nggak bisa.”


“Kenapa nggak bisa, Mbah?”


“Ya iyalah. Gimana bisa ngomong kalau nggak ada yang diomongkan? Mau ngomong apa kalau bolak-balik lenyap? Hehehe....”


Akas pun geleng-geleng kepala. Bingung dia.


“Sudah, sekarang kita bahas bab berpasangan saja, ya? Soalnya, yang lenyap-lenyapan susah,” Bagyo kembali mesem. “Jadi, lahir dan batin mestinya jalan seiring. Ya lahirnya, ya batinnya. Ya syariatnya, ya hakikatnya. Jangan dipisah-pisah. Sebab, berpasangan itu sunnatullah. Lahir-batin, dunia-akhirat, siang-malam, terang-gelap, laki-perempuan, syariat-hakikat, dan lain-lain. Jangan diributkan, wong begitu maunya Allah. Kanjeng Nabi Muhammad pun jelas-jelas mengajarkan syariat dan hakikat, dua-duanya. Tapi, banyak yang belum menyadari ini. Disangka, Kanjeng Nabi hanya mengajarkan syariat saja. Dipikirnya, Islam itu hanya bentuk lahiriah semata. Padahal, Islam itu luar dalam.”


Akas manggut-manggut. Terus terang, belum paham.


“Apa taklid-taklidan tadi, Mbah?”


“Iman taklid itu, kalau kamu percayanya ke Gusti Allah cuma ikut-ikutan saja. Ikut-ikutan orang, walau katakanlah orang yang diikuti itu paham agama.”


“Oo, melu-melu kebo yo, Mbah?”


“Iya, hehehe....”


Akas mengangguk-angguk. Belum termasuk iman yang benar ternyata kalau hanya “ikut-ikutan kerbau” saja. Iya juga sih, masak benar yang begitu?


“Kalau iman dalil, tahu nggak?” tanya sang kakek.


Akas menggeleng.


“Iman dalil lebih baik dari yang kebo tadi, tapi tetap belum benar. Iman dalil itu, kalau kamu percaya Gusti Allah sebatas dalil-dalilnya saja. Ceritanya, kamu baca al-Qur’an atau hadits, terus percaya dalil-dalilnya. Tapi, segitu saja.”

__ADS_1


“Oo, masih salah juga?”


“Ya iyalah.”


“Tapi, kan memang begitu, Mbah? Percaya dalilnya dulu, terus dicari....”


“Nah, kui sing bener, hehehe.... Masak percaya Gusti Allah cuma sampai dalilnya? Ya belum benarlah. Harus sampai ketemu rasanya. Kalau misalnya kue atau roti, dalil itu resep, rumusnya bikin kue. Bukan kuenya. Kalau resepnya yang dimakan, pasti nggak enak, hehehe.... Kalau mau kuenya, ya dibikin dulu menurut resep tadi. Kalau sudah matang, baru dimakan. Dapat rasanya. Nah, terserah yang merasakan, enak apa nggak kue itu. Yang tidak merasakan, dilarang berkomentar karena tidak tahu. Gimana tahu kalau belum merasakan? Ngarang ah, hehehe....”


Akas ikut nyerengeh. Dirasa-rasa, benar juga “kue” ini.


“Begitu, Le. Iman itu harus sampai seperti yang diibaratkan kue tadi. Namanya iman hakiki, atau iman tauhid. Tauhid yang hakiki lho, bukan tauhid kitabi. Kalau tauhid baca buku, ya sama saja dengan iman dalil tadi. Apalagi, kalau cuma katanya orang. Wah, nggak kepake. Dijamin ora payu di sana, hehehe....”


Akas lanjut manggut-manggut.


“Iman tauhid yang hakiki itu, kalau kamu punya ‘rasa bersama’ dengan Gusti Allah. Bukan diaku-aku, dan bukan juga artinya jadi Gusti Allah. Awas, lho! Tapi, ini benar-benar ‘rasa bersama’ dengan-Nya. Eem..., termasuk tidak bisa diomongkan ini, harus dirasakan. Kalau belum merasakan, nggak bakal tahu biar dibrebkan sampai pojok dunia. Man lam yadzud lam yadri. Yang tidak merasakan, tidak tahu.”


Akas terdiam, lalu menguap.


Kakeknya tersenyum. “Sudah, cukup malam ini. Kalau kebanyakan jadi kekenyangan, terus bawaannya ngantuk. Iya, kan?”


Akas yang barusan jelas-jelas angop itu membantah, “Nggak ah, siapa yang mengantuk? Perasaan, aku masih mau makan kue.”


“Sudah tutup toko kuenya, hehehe.... Ayo, tidur sana.”


Akas nyengir. “Tapi, nanti aku diajarin supaya bisa merasakan rasanya kue tadi ya, Mbah,” pinta sang cucu.


“Lha ini kan sedang? Pelajaran TK-nya.”


“Woo, masak TK?”


“Hehehe.... TK juga belum lulus.”


Akas garuk-garuk kepala. Sudah lumayan aneh-aneh ayak gitu, belum lulus TK ternyata.


Haduh....

__ADS_1


__ADS_2