
Akas lanjut tersenyum melihat kemunculan “tanda” pada diri pemuda yang kabarnya ingin bertaubat dari dunia pernyepetan ini. Boleh jadi tampilan luarnya seperti orang akan marah, namun pada itu tertangkap juga sinyal “tandanya” dalam pandangan lathif. Belum sebekel, masih sekelereng....
“Terserah kamu, Gis. Setiap manusia sejatinya sendiri-sendiri. Datangnya sendiri, pulangnya sendiri. Tanggung jawabnya juga sendiri-sendiri. Jadi, kalau misalnya kamu mau berubah, pertamanya harus datang dari dirimu sendiri. Nggak bisa datang dari yang lain,” Akas memancing “di air keruh”.
“Sudah dari saya, Pak. Tapi susah...,” sahut Agis, rada ketus.
“Oh ya? Alhamdulillah, berarti syarat pertamanya sudah beres. Ini yang paling susah, kan?” Akas mesem.
Agis menggeleng, “Niat sih gampang, ngejalaninya yang susah.”
“Masak? Setahu saya, yang susahnya justru membulatkan niat itu. Selanjutnya lebih mudah, tinggal istiqamah saja, hehehe....”
Agis tetap menggeleng, tidak sepakat tampaknya.
“Kalau begitu, apa niatmu?” tanya Akas sambil masih nyengir.
“Saya ingin tobat, Pak,” sambar Agis, matanya menatap tajam namun kuyu.
Uniknya, Akas malah menggeleng-geleng dengan bibir disetel mencibir gaya tidak percaya.
“Lho, beneran ini...,” sergap Agis. “Bapak nggak percaya?”
“Hehehe..., lagu lama itu mah, Gis. Banyak sudah orang ngecap bilang ingin tobat, tapi nggak tobat-tobat. Susah katanya, seperti kata kamu tadi. Pantaslah susah karena bahkan makna tobat pun belum dipahami dengan benar. Disangkanya, ingin tobat itu serupa dengan ingin permen. Enak saja.”
Maka, Agis pun bengong. Sementara kakaknya manggut-manggut.
“Jadi, harusnya gimana?” kejar sang penerbang.
“Apanya?”
“Soal tobat tadi....”
Akas nyerengeh, “Susah ah, hehehe....”
“Nggak bisa gitu, Pak. Saya kan penasaran.”
Mendengar ini, Akas lanjut terkekeh sebentar. Memang tujuannya untuk memancing rasa penasaran pemuda ini. Tujuan antara, bukan tujuan utama.
“Gimana, Pak?” Agis memaksa.
Akas menghela napas, mengakhiri tawanya.
“Tobat buahnya iman. Iman buahnya makrifat. Iman sejati datang dari kenalnya terhadap yang diimani. Begitu. Bisa dipahami, nggak?”
__ADS_1
Agis menggeleng, “Apa makrifat?”
“Itu tadi, kenal atau mengenal. Dan, untuk bisa dikata kenal, berarti harus tahu rasanya. Kalau cuma baru tahu namanya, berarti belum kenal. Judulnya baru kenal-kenalan. Contohnya begini, kemarin kamu suka apa?”
“Suka apaan, Pak?”
“Yang katanya disuntik-suntik itu?"
Agis meringis. “Morfin,” ucapnya pelan.
“Oo, namanya morfin, ya? Kayak gimana sih barangnya?”
Kaget juga Agis disodok pertanyaan begini. Maksudnya apa? Maka, dia tidak menjawab, diam menatap sang penanya. Akas tersenyum.
“Seperti itu, Gis. Tentang morfin, saya baru tahu namanya. Karena baru tahu namanya, maka sebenarnya saya belum kenal barangnya. Karena belum kenal, maka bagaimana saya beriman kepadanya? Lalu, karena belum beriman, ya nggak ada hubungan apa-apa antara saya dengan barang itu. Iya, nggak?”
Agis mengangguk-angguk.
“Nah, karena tidak ada hubungan apa-apa, maka tobat apaan?”
“Lho, kan justru saya ini mau tobat dari morfin, Pak? Jelas banget ada hubungan antara saya dan morfin, kan?”
“Hehehe..., itu tadi ibaratnya, Gis. Bahwa, kamu ini mengenal morfin dalam makna yang sebenarnya. Kenapa? Karena tahu rasanya, paham juga akibatnya. Nah, sekarang saya mau tanya lagi, berhubung kamu kenal baik dengan si morfin ini, pastilah tahu cara melepaskan diri darinya, bukan?”
“Gimana itu?”
“Harusnya kembali kepada Tuhan. Cumanya, susah....”
Akas tersenyum, “Kenapa susah?”
Agis terdiam, mikir kelihatannya.
“Hayo, kenapa?”
"Mungkin karena saya belum beriman....”
"Kok bisa dibilang begitu?”
Agis menunduk sejenak, lalu mengangguk-angguk sendiri.
"Kenapa, Gis?”
“Saya belum kenal, Pak. Saya baru tahu nama-Nya....”
__ADS_1
Maka, Akas kembali tersenyum sambil menghela napas panjang. Itulah susahnya. Pasti susah ketika seseorang diminta beriman, sementara dia belum kenal dengan yang harus diimani itu. Bisalah di batas akal, tapi jelas sulit ditelan. Akhirnya, terpaksa main paksa. Nah, yang terpaksa macam ini dijamin tidak teguh menghadang badai. Ketika cuaca tenang, bolehlah penampilannya. Namun, kala badai menerjang, langsung njeblak pada tiupan intronya. Belum masuk aslinya badai. Diancam takut, dirayu nurut. Bahkan, ada yang bisa ditukar sepaket mi instan menjelang kedaluwarsa, tambah telur tiga dan beras secukupnya. Tapi, yang seperti itu memang bukan iman, kecuali sekadar iman-imanan. Sebab, sejati iman, tauhid hakiki, tidak terjangkau oleh sejagat alam. Bahkan melampaui surga dan neraka. Dia....
“Eem, katanya kamu punya tekad, Gis?” Akas memecah senyap.
Agis yang sesaat agak melamun itu tersadar, “Tekad apa, Pak?"
“Sebentuk tekad...,” Akas menatap tamunya.
Sejenak mereka saling memandang, lalu Agis pun mengangguk-angguk. “Iya, Pak,” ujarnya.
“Gimana itu?”
“Saya ingin mati dengan benar....”
Akas mesem, “Ingin benar-benar mati atau mati di jalan yang benar?”
“Mati di jalan yang benar, Pak.”
“Oo...,” Akas lanjut tersenyum. “Kapan mati, biarlah Allah berkehendak. Yang dibutuhkan kita sekarang ini adalah menemukan kebenaran yang sebenar-benarnya. Sebenarnya, kebenaran yang sebenar-benarnya ini pun tidak ke mana-mana. Jangan mengkhayal jauh-jauh, karena pada setiap diri manusia bersama kebenaran yang sebenar-benarnya tadi. Hanya, nggak gampang urusan ini, Gis....”
“Nggak gampangnya, gimana?”
“Kamu mau tahu?”
Agis mengangguk cepat, matanya menatap harap.
“Beneran siap?”
“Siap, Pak.”
“Siap mati? Hehehe....”
Agis terdiam sekejap. Bukan urusan matinya, tapi karena hehehenya. Serius nggak, sih? Tapi, kemudian dia menjawab mantap, “Siap!”
“Alhamdulillah. Mari, saya temani kamu mematikan diri sebelum mati. Buang segalanya. Dia yang menulis, Dia yang menghapus. Kita tidak bisa menulis, pun tidak mampu menghapus. Dia, hanya Dia. Tidak ada lainnya....”
Maka, Akas pun membaiat pemuda yang masih sangat bertapak morfin ini karena “tandanya” telah cukup. Tentu, syariatnya Akas tidak paham morfin, tidak pula mengerti secara medis tata cara menangani morfinis dari sisi ketergantungannya terhadap dadah “Kolombia” itu. Yang dia paham, bahwa Dia yang menulis dan hanya Dia yang mampu menghapusnya. Itu saja. Sekadar dia memberitahukan kepada Agis jalan untuk kembali kepada-Nya. Apa dan bagaimana selanjutnya, terserah Sang Maha Pemilik. Bersabda Rasulullah saw., “Sungguh, api neraka akan berseru kepada orang mukmin: Hai orang mukmin, cepatlah berlalu karena cahayamu memadamkan bara apiku.”
Taufik, milik Allah. Hidayah, milik Allah. Saat taufik dan hidayah Allah telah ada, maka apalah cerita yang sanggup menahannya? Ibarat kemarau setahun, disiram hujan sehari. Tidak butuh waktu bertahun, tidak pula berbulan-bulan tanpa khatam. Hanya dengan berminggu, pergeseran “dari sebuah keadaan ke yang bukan keadaan” telah menampak nyata pada diri seorang Agis luar dalam. Tarian sakaw beratnya hanya bertahan tidak lebih dari tiga minggu pertama bakda baiat. Ke sananya tidak ada lagi acara kejang-kejang ayan, paling sekadar menggigil. Lalu, joged menggigil ini pun meluntur cepat. Hingga, kira-kira lima bulan kemudian, lenyap habis. Bahkan, bercanda, Agis sudah berani “menyangkal” kalau dirinya mantan penerbang. “Apa itu morfin?" ujarnya sambil tersenyum syukur.
Selanjutnya, jadilah dia salah seorang dari tiga murid yang dijuluki kuncennya Pakuncen. Bail, Soleh, dan Agis. Sebab, mereka bertiga hampir selalu ada di Pakuncen menemani sang guru, sendirian maupun bersama. Siang bisa, malam boleh. Maka, tidak mengherankan jika ketiga kuncen ini lebih menonjol kemajuan taraf ruhaniahnya dibanding para murid lainnya. Qalbu adalah “rumah” yang tidak muat untuk dua penghuni. Allah berfirman dalam hadits Qudsi, “Wahai hamba-Ku! Jika kamu ingin memasuki Majelis-Ku, maka janganlah kamu tumpukan perhatianmu pada dunia ini, kepada alam malaikat, atau alam yang lebih tinggi dari itu pun!"
Tegas nian....
__ADS_1