Selamat Jalan

Selamat Jalan
36. jadi gimana?


__ADS_3

“Saya heran sama Pak Kas...,” ujar Enci, pada suatu ketika.


“Kenapa, Ci?” tanya Akas.


Sejenak Enci tersenyum, “Bukan apa-apa sih, cuma heran saja. Kelihatannya Pak Kas ini setia banget, ya?”


“Wah, setia macam gimana ini?” Akas balas mesem.


“Setia sekali sama pekerjaannya di sini.”


“Hehehe..., maksudnya apa, Ci? Karyawan kan memang harus setia sama pekerjaannya. Apa Enci mau punya pekerja yang nggak setia?”


Enci balas tertawa pelan. “Apa Pak Kas nggak kepikiran mau bikin usaha sendiri?” dia lanjut bertanya.


Kagetlah Akas, “Maksudnya gimana?”


“Nggak gimana-gimana. Ya itu tadi, apa Pak Kas nggak pengen punya usaha sendiri? Bikin usaha seperti ini misalnya? Kan, Pak Kas sudah paham ini-itunya?”


Akas menatap lekat atasannya. Ada apa ini? Aromanya seperti ada yang disembunyikan? Mau main politik habis manis sepah dibuang, kah?


Tapi, Enci malah tertawa lagi...


“Jangan salah sangka, Pak Kas. Saya nggak ada maksud apa-apa, cuma heran saja. Tapi, kalau Pak Kas memang maunya di sini, bagus. Beneran, saya terima kasih sekali,” ujarnya, seolah tahu yang melintas di benak Akas barusan.


Akas menghela napas, lalu tersenyum. Rasanya di, terlalu cepat berburuk sangka tadi. Masak iya Enci yang selama ini baik kepadanya itu punya maksud yang tidak-tidak? Kalau benar ada, kenapa tidak dari kemarin-kemarin saja dibabat? Gampang itu, dia yang punya.


“Eem, terus terang saya tidak paham maksud Enci. Apa, sih?” tanya Akas, menuntaskan penasaran. Sekalian menghapus sisa prasangka.


“Ah, masak Pak Kas nggak paham?”


“lya...,” Akas mengangguk.


Enci manggut-manggut. “Begini, Pak Kas, menurut saya, orang kan normalnya nggak suka jadi bawahan terus. Suatu hati, dia pasti pengen jadi atasan. Bahkan, lebih jauh, pengen jadi pemilik. Ini menurut saya lho, kalau Pak Kas nggak sependapat, ya nggak apa-apa. Itu makanya saya tidak pernah menahan karyawan yang mau mengundurkan diri. Apalagi kalau mundurnya untuk sesuatu yang lebih baik. Lebih bagus jabatannya, lebih tinggi gajinya, atau mau buka usaha sendiri. Banyak bekas karyawan saya yang begitu,” ujarnya.


Akas menyimak....


“Apalagi kalau Cina, Pak Kas. Wah, jarang ada yang mau lama-lama jadi karyawan. Jadi karyawan itu tujuannya belajar. Cari ilmu. Kalau sudah cukup ilmunya, mereka bikin usaha sendiri. Tidak semuanya memang, tapi sebagian besarnya begitu. Termasuk saya dulu, hehehe.... Tuh, si AKim, kapan waktu pasti berlalu. Melepaskan diri dari saya yang jelas-jelas tantenya,” sambung Enci, mesem.


“Ah masak, Ci?”


Enci tertawa pelan. “Pak Kas lihat saja nanti. Itu bukan hal yang salah. Terus terang, saya malah senang kalau AKim berani ambil keputusan begitu. Kalau tidak, ya nggak apa-apa. Cuma, kelasnya biasa-biasa saja, tidak istimewa.”


“Lha kalau Ko AKim bikin pabrik roti juga, apa Enci nggak jadi kesaingan nantinya?” tanya Akas.


“Hehehe..., apa itu kesaingan? Yang masih suka main alasan saingan, berarti belum berjiwa usahawan. Saingan itu..., apa ya? Sesuatu yang sudah begitu adanya. Sesuatu yang tidak usah diributkan lagi. Bukan tidak ada, nyata ada. Cuma saingan terlalu dijadikan beban, terlalu dipikirin. Soalnya alamiah, sudah begitu dari sananya. Coba, ada berapa pabrik roti di sini?”


Akas menyebutkan jumlah pabrik roti yang dia tahu di Magelang.

__ADS_1


“Semua jalan, kan? Saya kenal para saingan itu, mereka juga kenal saya. Tapi, kami nggak lantas musuhan gara-gara saingan, hehehe.... Bisnis ya bisnis, teman ya teman. Tenang-tenang saya karena masing-masing punya bagiannya.”


Akas manggut-manggut. “Kalau gitu, Ko AMeng sama Ci Alin nanti bakal melepaskan diri juga dari Enci?” dia bertanya, menyebut kedua nama anak Enci yang ikut bekerja di pabrik roti ini.


“Salah satunya, iya. Mestinya begitu, atau pabrik ini dibelah dua.”


“Apa nggak bisa diurus bareng-bareng saja?”


“Ada yang bisa, cuma kebanyakan gagal. Biasa, kalau ada dua kepala, malah sibuk patuk-patukan. Bagusnya, satu badan satu kepala. Beberapa badan satu kepala, juga nggak apa-apa. Asal jangan satu badan banyak kepala. Runyam.”


“Tapi, kan nggak semua orang punya bakat bisnis, Ci? Nggak semuanya bisa dagang...,” Akas mengajak debat, biar seru.


“Ah, kata siapa?”


“Lho, iya kan? Banyak contohnya itu. Saya, misalnya....”


“Hehehe..., terserah Pak Kaslah. Cuma, kalau kata saya, sebenarnya semua orang itu pedagang. Memangnya Pak Kas nggak sadar kalau sekarang sedang dagang? Sedang ada bisnis sama saya?”


Akas tersentak, “Dagang apa?"


“Jualan pikiran, tenaga, dan waktu. Saya borong semuanya di depan, bayarnya nanti di akhir bulan, hehehe....”


Akas tersentak lagi. Iya juga, ya? Dirasa-rasa, benar kayaknya ini.


“Tapi, Ci, ini kan bukan dagang kayak Enci?” dia berkilah.


“Jelas beda dong. Yang ini kan nggak ada ruginya?”


“Hahaha...,” si Enci tertawa lepas. Enak sekali terdengar tawanya ini.


“Kenapa, Ci?” kejar sang “manajer”.


“Nggak, nggak apa-apa. Sudah ah, nggak tega saya.”


“Wah, alasan nggak bisa diterima. Kenapa sih, Ci? Memangnya rugi dagang kayak saya ini, ya?”


“Nggak, nggak. Biasa-biasa saja,” Enci nyerengeh lagi.


“Ci...,” Akas menuntut jawaban.


Enci tersenyum sejenak.


“Eem, gimana, ya? Pulang ke pandangannya masing-masing. Cuma, kalau kata saya, jelas Pak Kas yang pegang posisi rugi dalam bisnis kita. Maksudnya, untung gedenya di saya, hehehe.... Tapi, seperti saya bilang tadi, tergantung sudut pandang masing-masing. Ini bukan pandangan umum yang berlaku sama untuk semua orang. Masing-masing bebas memilih. Lagian, saya senang bisnis sama Pak Kas. Beneran. Soalnya, menguntungkan sekali, hehehe....”


Akas tercekat. Sebentar, sebentar..., kayak-kayaknya kok....


“Iya kan, Pak Kas?” Enci mesem menggoda.

__ADS_1


“Rada-rada iya ya, Ci?” jawab Akas, agak bergumam.


Enci lanjut mesem, “Sudah ah, jadi nggak enak saya. Nanti Pak Kas jadi tidak menguntungkan lagi buat saya....”


“Sebentar, Ci. Jadi, yang benarnya gimana ini?”


“Semua benar, karena ini memang bukan tentang benar atau salah. Seperti tadi itu, tergantung bagaimana benarnya menurut masing-masing. Jadi, semua bernilai benar, tidak ada yang salah. Memang bagi kami yang Cina, kebanyakan berpandangan demikian. Mungkin karena orang Cina susah pelamar jadi pegawai negeri, makanya pada jadi usahawan.”


Akas tersenyum sekarang, “Saya juga berdarah Cina.” ujarnya pelan.


“Hah” Enci kaget “Pak Kas ini ada Cinanya’”


Akas meringis, lalu mengangguk, “Ibu Cina, ayah Jawa”


Selama ini, Enci memang tidak tahu asal-usul Akas. Tidak merasa butuh tahu sih. Cukup hanya dengan nama dan bahwa dia direkomendasikan oleh Kyai setengah matang. Sudah, itu saja. Baginya, yang penting kenyataan orangnya. Lain-lain, dianggap sekadar variasi.


“Hehehe.... Pantas ..,” Enci tertawa pelan.


“Pantas kenapa, Ci?”


“Pantas Pak Kas tekun dan ulet seperti Cina. Ibunya Cina asli?”


Akas mengangguk, “Kakek nenek saya dari ibu, Cina dua-duanya. Mereka dagang, punya toko emas. Dulu, ibu saya juga dagang batik.”


“Pantas, hehehe....”


"Pantas kenapa lagi nih, Ci?”


“Nggak ah, nanti tersinggung....”


"Wah, masak pakai tersinggung segala? Kenapa sih, Ci?”


“Beneran?”


Akas mengangguk. Soalnya, penasaran juga.


“Eem, kadang-kadang matanya Pak Kas ini masih kelihatan Cinanya. Apalagi kalau sedang meringis. Jujur, dulu-dulu saya sempat berpikir jangan-jangan. Ternyata, beneran iya.”


Akas tertawa pelan. Teringat Tuan Kasim, ayahnya Arabi, yang sekian tahun lalu pernah bilang seperti ini juga kepadanya


“Jadi, gimana pendapat Cina yang ini?” pancing Enci, sambil mesem.


Akas meringis, “Nggak tahu, Ci. Bingung saya...”


“Hehehe,.,, Silakan diputuskan sendiri, saya nggak ikutan ah. Khawatir disalahin sama Asih,” celetuk Enci, lalu mengelonyor ke luar dari ruang kerja “manajernya” sambil terus terkekeh pelan.


Akas lanyut meringis. Duh, kok tiba-tiba perasaannya jadi pengen bisnis, ya? Pengen punya usaha sendiri, gitu. Tapi apa iya bisa? Apa ada bakat dalam dirinya? Dulu, jualan batik kan terbukti gagal total. Lah kalau sekarang gagal lagi, gimana?

__ADS_1


Entahlah...


__ADS_2