Selamat Jalan

Selamat Jalan
58. urutan


__ADS_3

Maka, perbincangan pun berlanjut. Masih soal berurutan....


“Berarti, syahadatnya dulu dong yang harus dibenerin?” tanya Amir.


Akas mengangguk, “Yang bengkok-bengkok, diluruskan. Yang cabang-cabang, dipangkas. Syahadat, mestilah lurus selurus-lurusnya. Hanya Satu, tidak ada dua, tiga, empat, atau sejuta. Pokoknya, Dia thok. Titik.”


“Mengucap dua kalimat syahadat kan sudah, Pak Kas?” kejar Munhar.


Akas tersenyum, tidak langsung menjawab.


“Gimana? Sudah, kan?” Munhar memaksa.


“Eem, mengucapnya sih sudah. Pada setiap shalat juga dibaca. Tapi, mungkin penyaksiannya yang belum. Mungkin lho...”


“Maksudnya?”


Akas menghela napas, tidak mudah menjelaskan ini....


“Baiklah, saya coba jelaskan di batas kata-kata. Sebab, sejatinya ini melampaui segala ucapan. Tidak bisa dijelaskan dengan sekedar ucapan. Gimana? Setuju?”


Mengangguk semua.


Akas diam sejenak, lalu bertutur, “Syahadat adalah penyaksian. Dalam hal ini, kita bersaksi atas ketauhidan dan kerasulan, syahadat tauhid dan syahadat rasul. Nah, penyaksian ini haruslah benar. Artinya, kita harus meyakini itu dengan haqqul Yaqin. Kalau tidak...” dia berhenti, bertanya kepada hatinya yang berdzikir, yang hakikatnya bertanya kepada-Nya.


“Kenapa?” kejar Munhar.


Akas menghela napas lagi, “Akang beneran mau tahu?”


Munhar mengangguk mantap, yang lainnya juga. Akas mengangguk-angguk....


“Kalau tanpa haqqul yaqin, berarti penyaksian itu bohong. Dan, bohong di sini sama artinya dengan membohongi Allah dan Rasul-Nya. Tolong dipahami bahwa kata membohongi tadi, bermakna dalam. Tidak sama wujudnya dengan kita membohongi orang misalnya, sebab Allah Maha Mengetahui. Nah, kalau ini dihukumi, maka batal keislaman orang yang berbohong itu. Dalam Qur'an banyak sekali keterangan tentang mereka yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya. Demikianlah.”


Hening menyergap.


“Bahkan, sumpah palsu di tingkat muamalah manusiawi pun diganjar hukuman berat. Apalagi dusta yang ini. A'udzubillahi minasy syaitaanir rajiim...,” Akas menyambung sedikit tuturannya.


Senyap pun semakin menyergap.


“Pulang ah. Diem-dieman lagi, sih,” celetuk Akas, sesaat lewat.


“Jangan, jangan. Belum tuntas ini...,” Munhar kembali menahan.


“Sudah dong. Masak belum? Kalau syahadatnya sudah beres, ya tuntas juga ke sananya, hehehe....”


Munhar mendelik, “Maksudnya gimana lagi ini?”


“Katanya berurutan? Yang paling rumit, urutan pertama. Syahadat tadi. Kalau ini beres, ke sananya tinggal ngikutin.”

__ADS_1


“Alaaah, jangan berbelit. Terus terangnya gimana, nih?” Munhar memaksa.


Akas garuk-garuk kepala. “Allah, Allah, Allah...” begitu terasa dalam hakikatnya. Maka, dia pun tersenyum simpul karena ini.


“Jangan meledek dong,” Munhar protes.


“Hehehe...,” Akas malah terkekeh. Soalnya, Munhar “kedengaran” bertasbih juga. Apalagi sederet kue lapis di keningnya.


“Ee, malah ketawa,” Haji “abidin” kembali protes.


“Nggak, Kang. Bukan ngetawain Akang ini. Cuma pengen ketawa saja.”


Munhar merengut. Soalnya, Akas berkata itu sambil terus nyerengeh. Tampilan luarnya sih boleh jadi terkesan meledek.


“Oke, oke, kita teruskan sedikit. Kata Akang, intinya shalat apa, sih?”


Munhar terdiam berpikir. Lalu, “Apa?” dia malah balik tanya.


“Lho? Masak Kang Munhar nggak tahu?”


“Alaaah, apaan sih?”


“Ya syahadat dong. Katanya tadi berurutan?”


Munhar tercekat, lalu terpekur. Amir juga. Yang lain sama.


Munhar menunduk, Amir menerawang. Yang lain bengong...


Akas tersenyum.


“Begitulah, Kang. Kalau shalatnya sudah benar, yang makna syahadatnya juga sudah benar, barulah syahdu puasanya. Beneran puasa, bukan sekedar menahan perut dan kerongkongan. Satu, dua, tiga, dapat..., lanjut ke empat. Yakin beda nuansa bayar zakat fitrah karena bareng rasanya. Jujur saja nih, kalau tidak dengan rasanya, berapa sih ongkos zakat fitrah? Maaf ya mahalan Dji Sam Soe tiga bungkus. Nah, masak cuma sekedar begitu? Jangan dong, rugi besar kita. Harus bisa sampai melihat rasanya fitrah, yang menembus sejagat alam, hehehe....”


Serentak, segitu orang, memandang Akas semua. Mungkin tertarik oleh rasanya menembus sejagat alam tadi. Yang dipandang sih mesem saja. Soalnya, yang memandang belum sadar kalau mereka pun dipandang. Pandang-memandang....


“Sudah, ya? Sudah cukup, kan?” tanya Akas.


“Yang kelima, mana?” Amir menimpali.


“Sama jalurnya. Setelah satu, dua, tiga, dan empat, benar..., silakan lanjut ke lima. Bagian dalamnya sudah beres tuh, tinggal bagian luarnya. Punya duit, nggak? Sehat, nggak? Dan lain-lainnya. Kalau dua bagian itu sudah siap, berarti telah intan. Belum berangkatnya saja sudah intan, baliknya nanti makin mengkilat pasti. Digosok di Masjidil Haram sana. Lain kalau dari sininya masih kelas batu koral, baliknya dari sana malah tambah nggak keruan. Somplak di mana-mana. Lha koral mau coba-coba digosok di Masjidil Haram. Ya, runyam. Masjidil Haram bukan tempatnya coba-coba, sekedar iseng-iseng berhadiah karena merasa punya duit dan butuh gelar haji atau hajjah demi lain-lain yang selain Allah. Wah, nggak kepake itu....”


“Jadi, Mas Kas belum ke sana karena ini?” tanya Echan.


Akas mesem, lalu mengangguk, “Hakikatnya, semua karena Allah. Di batas syariat, iya. Soalnya syahadat saya masih belum pol, Chan....”


“Berarti belum benar juga dong shalatnya, sama yang lainnya?” Munhar nyodok dari samping.


“Hehehe...,” Akas tertawa pelan. “Hakikatnya, iya. Syariatnya, nggak dong. Nih, Kang Munhar..., karena kita mengaku beragama Islam, ya kena hukum syariat. Maka, kerjakanlah perintah-perintah syariat. Tapi, jangan segitu saja, hakikatnya juga harus dikejar. Syariat dikerjakan, hakikat dicari. Jangan bingung. Sebenarnya, syariat dan hakikat tidaklah terpisah. Pada setiap syariat, ada hakikatnya. Pada hakikat, ada syariatnya. Ini soal luaran dan dalaman, lahir dan batin. Katanya, mohon maaf lahir batin kalau lebaran? Benar, nih? Kompak lahir sama batinnya? Apa bukan sekedar di bibir saja? Soalnya, banyak kejadian belum lama lebaran sudah bertengkar lagi. Bahkan, saat hari lebarannya. Hebat, kan?"

__ADS_1


Munhar terdiam, Amir mengangguk-angguk pelan.


“Terus, gimana caranya meluruskan syahadat?" sang ustadz pun bertanya.


Akas mesem memandang mantan geger stamplas itu. Amir kalau bilang stamplaat, bahasa Belandanya terminal angkutan umum, memang stamplas. Giliran stasiun, jadinya setatsion. PD banget bawaannya. Diterima sajalah, sebab dia beneran mantan jeger dan pribumi Magelang. Anak kolong pula....


“Kuncinya ada di iman, Ustadz. Kalau rukunnya iman, adanya di Rukun Iman. Pasti hafal, kan? Masak ustadz nggak tahu Rukun Iman?" jawab Akas, sekalian menggodanya sedikit.


“Hafal sih hafal. Cuma, gimana ceritanya ini?” kejar Amir.


“Sama kayak tadi. Beresin dulu yang pertama. Kalau sudah dapat, yang lain dijamin oke punya."


“Iman kepada Allah?"


“Iyalah. Emang ada yang lain? Hehehe...."


Sang ustadz terdiam sejenak, lalu nembak lagi, “Caranya gimana?”


“Cara apa?"


“Supaya bisa beriman kepada Allah....”


“Lah, belum gitu?" Akas meringis manis.


Amir mendelik, “Sudah sih. Cuma perlu ditingkatkan, biar lebih bagus.”


Akas terkekeh, Amir juga. Munhar dan lainnya bagian bengong. Terus terang, tidak gampang mengakui bahwa keimanannya yang ada perlu ditingkatkan. Apalagi bagi seseorang yang sudah kepalang disapa ustadz. Gampangan kalau misalnya masih berstatus jeger stamplas.


“Gimana?” Amir menuntut jawaban.


“Caranya, ya carilah jalan untuk mendekat kepada-Nya,"


“Waduh, gimana lagi caranya itu?”


“Innanii anallaahu laa ilaaha illaa ana fa’budnii wa aqimi shalaata li-dzikrii. Sesungguhnya Aku inilah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku. Itu salah satu dalilnya, Ustadz. Perhatian kata li-dzikrii, dzikir. Banyak. banyaklah mengingat Allah....”


Amir mengangguk-angguk, “Setiap habis shalat, ya?"


Akas mesem. “Termasuk. Tapi, kalau cuma habis shalat, rasanya kurang penuh tuh. Tiga kali tiga-tiga, seratus kurang satu, kalau saya sih kurang. Kalau saya Iho. Kalau kata Ustadz itu sudah cukup banyak, ya silakan.”


“Iya, sih. Perasaan saya juga kurang. Jadi, gimana?” Amir minta tambah info.


“Ya, pokoknya sebanyak-banyaknya. Itu yang saya tahu. Silakan Ustadz cari sendiri maknanya.”


“Apa nggak berlebihan, tuh?” Pak Haji “abidin” kembali nyodok dari samping. “Allah tidak suka yang berlebihan, kan?”


“Betul, Kang, kecuali dzikir. Dzikir adalah satu-satunya hal yang tidak kena hukum jangan berlebihan. Allah jelas-jelas menyuruh kita mengingat-Nya dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring. Fadzkuruullaaha qiyaaman wa qu'uudan wa 'alaa junuubikum. An-Nisaa', satu kosong tiga. Di surat al-Anfaal juga ada. Fasbutuu wadz-kurullaaha kasiiran, teguhkan hatimu dan sebutlah Allah sebanyak-banyaknya. Kalau tidak salah ayat empat lima itu. Banyak lagi keterangan lainnya di al-Qur'an. Silakan Kang Munhar periksa sendiri.”

__ADS_1


Munhar pun terdiam. Terus terang, sebenarnya dari tadi dia kaget mengetahui Akas kini banyak tahu dalil. Padahal dulu, begitulah. Pas-pasan modal ayatnya. Paling sekadar tukang protes, atau kreatif bikin gara-gara penyebab kekacauan kalau mereka sedang berkerumun nanggap jin di tempat keramat...


__ADS_2