Selamat Jalan

Selamat Jalan
47. misteri denyutan


__ADS_3

Sepulang dari masjid, Kyai Sanusi sibuk melirik-lirik menantunya lagi. Lebih intensif sekarang dibanding berangkatnya tadi. Iseng-iseng, Akas pun kembali bertanya ada apa.


“Nanti di rumah,” jawab sang kiai. “Buka semuanya. Biar puas,” lanjutnya.


Mendengar itu, Akas tertawa lepas.


“Kenapa?” sang mertua menatap dari arah samping.


“Nggak, Pak. Memang nggak enak kalau nggak puas hehehe....”


Kyai Sanusi terdiam sekejap. Lalu, “Ah, kamu ini. Diajak ngomong ke mana, ngelantur ke mana,” semburnya.


“Hahaha...,” Akas tertawa lagi.


Lalu, pelan-pelan, sang mertua kesayangan pun ikut tertawa. Kayaknya, sudah nyambung ini. sama versi walau beda tahun keluaran, jadi sama-sama tidak melantur ke mana-mana lagi....


Selanjutnya, di ruang tamu, Akas terhenyak dengar kabar bahwa dirinya hampir tiga hari penuh berada dalam kamar itu. Kalau dihitung, kurang setengah hari saja dari pol-polan 3x 24 jam, sejak awal masuk yang bakda zhuhur itu.


“Masak, sih?” gumamnya, sambil geleng-geleng.


Asih dan ayahnya yang duduk di situ pun ikut kaget. Ternyata, si pelaku tidak sadar waktu. Dia kira sekadar zhuhur ketemu subuh.


Hening sejenak setelah itu.


“Apa yang terjadi di dalam sana?” Kyai Sanusi memecah senyap.


Akas mengangkat wajah, memandang mertuanya, dan akan menjawab. Namun, ternyata tidak bisa. Akas tidak mampu menyusun kata-kata untuk menjelaskan rasa yang dia alami. Dicari-cari, tidak tersedia kosakatanya.


“Gimana? Apa yang terjadi?” Kyai Sanusi kembali bertanya.


Akas terus memandang mertuanya dengan tatapan bingung.


“Kenapa kamu?” Kyai Sanusi mengerutkan kening.


Asih juga....


“Saya nggak tahu gimana ngomongnya, Pak. Beneran ini susah sekali menggambarkan itu. Kayaknya sih memang nggak mungkin,” Akas menggumam.


Kerut di kening Kyai Sanusi pun merapat. Apa maksud menantunya?


“Masak nggak mau nyeritain, Mas?” Asih maju menuntut.


“Bukan nggak mau, nggak bisa. Beneran, nggak bisa diceritain ini kayaknya,” ujar sang suami sambil menggeleng-geleng pelan.


Kyai Sanusi menghela napas, lalu mengangguk-angguk. Teringat ucapan Kyai Khalil kemarin dulu, saat dia ke sana melaporkan menantunya yang “terjebak” di dalam kamar. “Kamu nggak bisa menceritakan rasanya?” beliau bertanya.


Akas yang sesaat itu sedang menunduk, langsung mengangkat wajah. “Iya, Pak. Itulah. Saya nggak mampu bilang rasanya. Paling, pokoknya sangat-sangat luar biasa. Sudah, begitu saja.”

__ADS_1


Kyai Sanusi kembali menghela napas, lalu mengangguk-angguk, “Kalau gitu, apa yang masih bisa kamu katakan, coba ceritakan. Bapak pengen dengar.”


Akas terpekur lagi sebentar, lalu mulai bertutur...


“Saya melihat cahaya-cahaya, bermacam cahaya. Seperti..., seperti apa, ya? Pokoknya, cahaya-cahaya gitulah. Lalu, datang bintik-bintik rapat dan halus seperti berjuta-juta lebah. Semua yang kelihatan jadi bintik-bintik. Cahaya-cahayanya hilang, tinggal satu yang menyambar-nyambar. Sudah gitu, Jlab...! Lenyap bintik-bintiknya, tinggal Cahaya yang satu tadi, tapi tidak menyambar-nyambar lagi. Adanya seperti hamparan tidak ada ujungnya. Semuanya hamparan Cahaya itu. Terus, kepala rasanya seperti jebol...,” sampai di sini Akas tidak mampu berkata-kata lagi. Serasa ada yang mengunci lidahnya. Maka, diamlah dia....


Gara-gara takjub dengar jebol-jebolan tadi, tanpa sadar Asih lompat mendekat ke suaminya. Lalu, dengan sigap memeriksa bagian yang diberitakan jebol itu dengan ekspresi cemas sungguhan. Akas yang tidak menyangka akan dapat perlakuan mesra di depan mertua, langsung tertawa. Kyai Sanusi Juga. Sang putri yang sesaat seperti melayang itu pun tersadar. Cepat-cepat balik ke posisi duduk semula dengan wajah merona.


“Kirain beneran jebol...,” ucapnya malu-malu meong.


“Hahaha...,” ayah dan suaminya lanjut terbahak.


Ditunggu sebentar, tidak kunjung mereda. “Sudah ah...” Asih ngeloyor pergi sambil mengulum senyum. Sialnya, sepasang pria kesayangan beda tahun keluaran itu malah makin menjadi...


***


Agak siangan, sekitar pukul sembilan, setelah beres urusan pabrik, Akas hendak muthalaah ke gurunya. Kyai Sanusi yang sejak pagi nginceng terus itu mendekat. “Mau ke mana?” beliau bertanya.


“Ke Kyai Khalil,” jawab sang menantu.


“Bapak ikut....”


Akas menatap mertuanya, “Cuma ke Kyai Khalil kok, Pak”


“Iya, Bapak ikut. Ayo,” ujarnya, maksa.


“Kata Kyai, dari segini banyak, mudah-mudahan ada satu yang jadi...,” Iyung bercerita tentang ucapan Kyai Khalil kemarin sore.


“Jadi apa, Yung?” tanya Kyai Sanusi.


“Nggak jelas, Yai. Ngomongnya begitu saja Kyai Khalil.”


Kyai Sanusi manggut-manggut. Akas juga, tapi terus terang kurang menyimak karena sedang sibuk menafakkuri kejadian semalam. Sekalian merasakan kepalanya yang ringan, dan meresapi denyutan halus di dada kiri bawah. Denyutan dada ini, semakin nyata adanya dalam kelembutan dan kesyahduannya.


Obrolan mereka pun berlanjut, ngalor-ngidul, sampai kemudian para tamu itu mohon diri. Tibalah giliran mereka. Usai beruluk salam, Kyai Khalil tersenyum lebar menyambut kedatangan sang murid Jawa yang diantar mertuanya. Dan, terus senyum-senyum mendengar kisah cahaya-cahaya dan bintik-bintik itu....


“Begitulah, Yai, yang masih bisa saya kata-katakan,” ujar Akas, menutup sesi pertama.


“Hehehe..., rasanya?” tanya Kyai Khalil.


“Itulah, Yai. Tadi padi waktu Bapak nanyain, saya nggak bisa ngomongnya. Tadi di luar, coba-coba dirangkai lagi, tetap saja nggak bisa.”


Kyai Khalil tertawa lagi, “Tapi, ada, kan?”


“Oo, iya. Terasa banget ini, cuma nggak bisa diomongkan. Bukan saya nggak mau, nggak bisa. Gimana ngomonginnya?”


Kyai Khalil pun tersenyum.

__ADS_1


“Itulah maksud man lam yadzud lam yadri, Haji, yang tidak merasakan tidak tahu,” ujarnya agak bergumam. “Sedangkan sekedar rasa manis, pahit, asin, kecut, panas, dingin, dan sejenisnya pun tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, apalagi yang ini. Pantaslah kalau Akas macet. Yang lain pun, yang punya rasa itu, sama macetnya. Apa yang masih bisa dikata-katakan, hanyalah isyarat atau iktibarnya saja. Seolah-olahnya, aslinya tidak begitu.”


Kyai Sanusi mengangguk-angguk paham.


“Nah, Akas, rasa yang ada padamu, sepenuhnya bagianmu. Kamu yang mencicipi, kamu yang tahu. Seperti apa? Ya seperti apa adanya dalam rasamu. Itulah kebenarannya bagimu. Itulah hakikatnya,” Kyai Khalil lanjut berwejang.


Akas menghela napas sambil manggut-manggut. Memang agak membingungkan, tapi dia paham maksudnya. “Rasa yang di saya, sama nggak dengan rasa yang ada di Kyai?” lanjut menyusur.


“Bagian yang mana, nih?” Kyai Khalil balik bertanya, agak mesem.


“Eem, yang bintik-bintiklah....”


Kyai Khalil tidak menjawab, hanya menatap lekat muridnya itu sambil terus menebar senyum. Sesaat, Akas tampak agak tercekat, lalu nyerengeh. Selanjutnya, mereka terkekeh bareng. Tampaknya, sama rasanya itu.


Apa boleh buat, Kyai Sanusi geleng-geleng kepala melihat adegan ini. Beliau paham kalau guru dan menantunya itu sedang “bicara rasa bintik-bintik”, yang entah seperti apa. “Sejati ketemu sejati. Sejati tidak tergapai oleh kesemuan,” sang guru pernah berujar itu kepadanya dulu. Serupa dengan sekarang. Rasa ketemu rasa. Rasa, tidak terkejar oleh untaian kata-kata. Itulah pokok perbincangan mereka. Dan, tidak bisa lama-lama karena datang lagi serombongan tamu jauh. Kyai Khalil yang senyap kalau di masjid, ternyata berlimpah tamunya. Bermacam orang, berbagai keperluan. Dari sekadar silaturahmi sampai yang mohon bimbingan spiritual. Dari yang datang berbunga senyum, hingga yang meraung berperut buncit kesambat teluh atau sebangsanya. Namun, keriuhan ini hanya di rumah beliau, tidak dibawa-bawa ke luar. Itulah mengapa Akas perlu waktu berbelas tahun untuk menemukannya.


Sepulang dari sana, sampai menjelang maghrib, Akas merasa ada hal yang mengganjal. Apaan, gitu? Serasa ada sesuatu yang telah direncanakan, tapi apa? Ingat-ingat, bakda maghrib. Rupanya, denyutan hati itu. Tadi siang lupa disampaikan kepada sang guru. Padahal, sepanjang sisa hari sepulang dari rumah Kyai Khalil, denyut inilah yang diresapi oleh Akas. Agak aneh memang, tapi itulah adanya. Maka, usai jamaah shalat Maghrib, dia langsung melesat lagi ke sana. Sendirian sekarang, tidak bareng mertua.


Kyai Khalil baru pulang dari masjid saat Akas tiba, jamaahan di masjid dekat rumahnya. “Kenapa? Ada yang kelupaan, ya?” sapanya tersenyum, usai menjawab salam.


“Iya, Yai,” jawab Akas, mesem juga.


Kyai Khalil lanjut tersenyum. “Ayo masuk,” ajaknya.


Mereka pun masuk ke ruangan yang biasa dipakai Kyai Khalil menerima para muridnya. Bukan ruangan yang tadi siang. Yang tadi siang itu ruang untuk menerima tamu umum. Di situ, Akas membeber soal denyutan hari. Sang guru menyimak dengan saksama....


“Selain denyutannya, apa lagi yang kamu rasakan?” beliau bertanya.


Akas terdiam sejenak. “Eem, cuma denyutan lembut itu, Kyai. Kayaknya nggak ada yang lain.”


Kyai Khalil tersenyum, “Ada, ah....”


“Apa, Yai?”


“Nggak tahu, hehehe....”


Akas mendelik sekejap, lalu ikut terkekeh. Maklum kalau gurunya sedang memancing penasaran. Supaya dikejar rahasianya, gitu.


“Bagus, bagus. Apa yang terjadi pada kamu ini, sebagaimana harusnya. Sekarang, carilah yang ada dalam denyutan itu. Ada di situ dan itulah adanya,” Kyai Khalil menggoda lagi.


“Minta petunjuk dikit dong, Yai...,” Akas balik merayu.


“Perlu? Boleh. Petunjuknya, jangan berharap dan jangan diharap-harap.”


“Wah, kok gitu? Perasaan, kurang jelas tuh.”


“Masak? Perasaan jelas banget ini. Pas, tidak lebih tidak kurang. Dan, tidak ada duanya, hehehe....”

__ADS_1


Akas pun garuk-garuk kepala....


__ADS_2